NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Keluarga yang Tidak Lagi Sama

“Kamu bakal tahu siapa yang sebenarnya membunuh keluargamu.”

Kalimat Adrian terus terngiang di kepala Nadira.

Bahkan setelah pria itu pergi dari café.

Bahkan saat mereka kembali ke mobil.

Bahkan saat Arsen terus memanggil namanya pelan sejak tadi.

“Nadira.”

Tak ada jawaban.

“Nadira, lihat aku.”

Perlahan Nadira menoleh.

Wajahnya pucat.

Matanya kosong.

Dan itu membuat Arsen mulai khawatir.

“Aku nggak ngerti…” suara Nadira lirih, “apa maksud dia?”

Arsen menggenggam tangannya erat.

“Jangan percaya semua omongan Adrian.”

“Tapi dia tahu soal kecelakaanku.”

“Iya.”

“Dia juga tahu aku mulai ingat.”

Tatapan Arsen mengeras.

“Itu yang bikin dia berbahaya.”

Nadira memejamkan mata pelan.

Namun semakin ia mencoba tenang…

Semakin banyak potongan ingatan muncul.

Malam hujan.

Jeritan.

Dan seseorang menangis.

Bukan dirinya.

Perempuan.

Suara perempuan.

Deg.

Tubuh Nadira langsung menegang.

“Aku dengar suara Mama…”

Arsen langsung menoleh cepat.

“Apa?”

“Di mobil itu…”

Napas Nadira mulai memburu.

“Mama ada di sana.”

Mobil mendadak berhenti di pinggir jalan.

Arsen langsung memegang kedua pundak Nadira.

“Pelan-pelan.”

“Mama bilang waktu itu aku cuma sama supir…”

Tatapannya mulai panik.

“Kenapa aku dengar suara Mama?”

Arsen diam.

Karena sekarang semuanya mulai terasa aneh.

Sangat aneh.

“Nadira.”

“Hm?”

“Kita pulang dulu.”

“Aku nggak mau pulang.”

“Kenapa?”

Tatapan Nadira perlahan berubah takut.

“Kalau Mama juga bohong gimana?”

Deg.

Dan untuk pertama kalinya…

Arsen tidak punya jawaban untuk menenangkannya.

Sesampainya di penthouse, suasana langsung terasa berat.

Papanya berdiri dari sofa begitu melihat mereka masuk.

“Kalian ke mana?!”

Tak ada yang menjawab.

Tatapan Nadira langsung jatuh ke arah mamanya.

Wanita itu terlihat pucat.

Lelah.

Namun sekarang…

Nadira mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Rasa takut.

“Mama.”

Suara Nadira pelan.

Namun membuat semua orang langsung diam.

Mamanya menoleh perlahan.

“Iya sayang?”

Deg.

Biasanya panggilan itu membuat Nadira hangat.

Sekarang justru terasa asing.

“Waktu kecelakaanku…”

Napas wanita itu langsung tertahan.

“…Mama ada di mobil itu nggak?”

Sunyi.

Hening total.

Dan jawaban itu terlihat jelas bahkan sebelum mamanya bicara.

Air muka wanita itu langsung berubah.

Papanya buru-buru berdiri.

“Nadira, jangan mulai lagi.”

“Jawab aku.”

“Nadira…”

“MAMA ADA DI SANA ATAU NGGAK?!”

Bentakan Nadira membuat semua membeku.

Mamannya mulai menangis.

Dan itu cukup menghancurkan sisa harapan Nadira.

“Ada…”

Deg.

Jantung Nadira terasa seperti jatuh.

“Apa…?”

“Aku ada di mobil itu.”

Ruangan mendadak terasa sesak.

“Kalian bohong lagi…”

Suara Nadira mulai pecah.

“Kenapa?!”

Mamannya menangis lebih keras sekarang.

“Karena kami takut…”

“Takut apa?!”

Papanya memalingkan wajah frustrasi.

Sedangkan Nayla hanya berdiri diam di sudut ruangan dengan wajah pucat.

“Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa,” bisik mamanya.

“Aku tahu.”

“Dan setelah kejadian…”

Wanita itu mulai gemetar.

“Ada seseorang yang ngancam keluarga kita.”

Deg.

Nadira langsung teringat Adrian.

“Dia?”

Mamannya menutup wajah sambil menangis.

Papanya akhirnya bicara pelan,

“Adrian.”

Ruangan kembali sunyi.

Dan nama itu sekarang terasa seperti racun.

“Aku sama Adrian dulu sahabat.”

Papanya duduk pelan sambil memijat wajah lelahnya.

“Dia bantu bangun perusahaan keluarga kita.”

“Terus?”

Tatapan pria itu berubah gelap.

“Dia jatuh cinta sama mama kalian.”

Deg.

Nadira langsung membeku.

Mamannya langsung menangis lebih keras.

Sedangkan Nayla terlihat shock.

“Apa…?”

“Awalnya kami semua baik-baik aja.”

Papanya tertawa kecil pahit.

“Sampai Adrian mulai obsesif.”

Arsen menyipitkan mata.

“Obsesi seperti apa?”

“Dia nggak bisa nerima Mama kalian nikah sama aku.”

Suasana makin berat.

“Lalu kecelakaan itu…” suara Nadira melemah, “dia sengaja?”

Papanya diam beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Dia mau bunuh aku.”

Deg.

Tubuh Nadira langsung dingin.

“Tapi malam itu Papa nggak jadi ikut meeting.”

Mamannya mulai menangis lagi.

“Jadi yang ada di mobil cuma aku, kamu, dan supir.”

Kepala Nadira langsung sakit lagi.

Potongan ingatan muncul makin jelas.

Mamanya berteriak.

Suara tabrakan keras.

Dan Adrian berdiri di tengah hujan sambil menatap mobil mereka.

“Ya Tuhan…”

Tubuh Nadira gemetar hebat.

Arsen langsung duduk di sampingnya.

“Tarik napas.”

Namun Nadira justru mulai menangis.

“Dia mau bunuh Mama…”

Mamanya langsung memeluk Nadira erat.

“Maafin Mama…”

“Kenapa semua disembunyiin…”

“Karena setelah itu Adrian hilang.”

Papanya bicara pelan.

“Kami pikir semuanya selesai.”

“Terus kenapa aku lupa?”

Mamannya memegang wajah Nadira dengan tangan gemetar.

“Karena kamu lihat semuanya.”

Deg.

“Kamu lihat Adrian narik Mama keluar mobil.”

Napas Nadira tercekat.

“Kamu teriak histeris malam itu.”

Air matanya mulai jatuh lebih deras.

“Dan setelah itu…”

Mamanya menangis lagi.

“Kamu nggak pernah sama lagi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Tidak ada yang tahu harus bicara apa.

Karena kenyataannya terlalu berat.

Nadira akhirnya tahu kebenaran.

Dan ternyata masa lalunya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

“Kamu bilang Adrian bunuh keluarga kita.”

Tatapan Nadira perlahan berubah kosong.

“Tapi nggak ada yang mati malam itu.”

Papanya langsung menegang.

Deg.

Arsen juga menyadarinya.

Ada sesuatu yang belum selesai.

“Apa lagi yang kalian sembunyiin?”

Mamannya langsung memejamkan mata.

Sedangkan papanya terlihat sangat lelah sekarang.

“Ada satu orang lagi di mobil itu.”

Jantung Nadira langsung berhenti sesaat.

“Siapa?”

Sunyi.

Lalu—

“Adik kalian.”

Deg.

Dunia Nadira langsung runtuh.

“Apa…?”

Nayla membeku total.

Mamannya mulai menangis histeris.

“Kalian punya adik laki-laki.”

Air mata Nadira langsung jatuh tanpa suara.

Tubuhnya dingin.

Kepalanya kosong.

“Tidak…”

“Kalian masih kecil waktu itu…”

Papanya bicara dengan suara pecah.

“Dan kami nggak pernah cerita karena kalian trauma berat.”

“Dia…”

Suara Nayla gemetar.

“Dia meninggal?”

Tak ada jawaban.

Namun tangisan mamanya sudah cukup.

Nadira langsung mundur pelan.

Kakinya lemas.

“Aku punya adik…”

Potongan ingatan muncul tiba-tiba.

Anak kecil tertawa.

Memanggil namanya.

“Kak Nadira!”

Kepala Nadira langsung terasa seperti dihantam sesuatu.

Ia memegangi kepalanya sambil gemetar.

“Ahh…”

“Nadira!”

Namun semuanya terlambat.

Karena ingatan yang selama ini terkunci akhirnya mulai terbuka.

Malam hujan.

Mobil terbalik.

Adrian menarik mamanya keluar.

Dan seorang anak kecil terjebak di kursi belakang.

Menangis ketakutan.

“Kakak…”

Air mata Nadira jatuh deras.

Karena sekarang ia ingat semuanya.

Ia mencoba membuka pintu mobil.

Mencoba menyelamatkan adiknya.

Namun api mulai muncul.

Dan seseorang menahannya.

“Jangan masuk lagi!”

“TAPI ADIKKU MASIH DI DALAM!”

Jeritan itu menggema di kepalanya.

Tubuh Nadira langsung limbung.

Dan dunia mendadak gelap.

Saat Nadira sadar…

Ia sudah berada di kamar.

Lampu redup.

Kepalanya masih sakit.

Dan Arsen duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangannya.

Begitu melihat Nadira membuka mata, pria itu langsung mendekat.

“Kamu gimana?”

Nadira menatap kosong ke langit-langit.

Air mata perlahan jatuh lagi.

“Aku inget semuanya…”

Suara itu kecil sekali.

Arsen menggenggam tangannya lebih erat.

“Kamu nggak sendirian.”

“Aku gagal nyelametin dia…”

“Nadira.”

“Aku ninggalin dia…”

Tangisnya pecah.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…

Arsen benar-benar terlihat panik.

Karena Nadira menangis seperti seseorang yang kehilangan alasan hidup.

“Aku kakaknya…”

Tubuh gadis itu gemetar hebat.

“Harusnya aku bisa nolong dia…”

Arsen langsung menarik Nadira ke pelukannya.

Kuat.

Hangat.

Dan penuh hati-hati.

“Itu bukan salah kamu.”

“Tapi aku dengar dia manggil aku…”

Suara Nadira hancur total sekarang.

“Dia takut…”

Arsen memejamkan mata pelan.

Lalu mengusap kepala Nadira lembut.

“Kamu masih lima belas tahun waktu itu.”

“Tapi aku ninggalin dia…”

“Kamu juga hampir mati.”

Nadira menangis semakin keras.

Dan Arsen hanya memeluknya lebih erat.

Membiarkan gadis itu hancur malam ini.

Karena mungkin…

Setelah bertahun-tahun menyimpan semuanya sendiri…

Nadira akhirnya tidak kuat lagi.

Di luar kamar…

Nayla berdiri diam sambil mendengar tangisan saudara kembarnya.

Matanya merah.

Tubuhnya lemas.

Ia bahkan tidak tahu mereka pernah punya adik laki-laki.

Dan sekarang…

Ia mulai sadar betapa rusaknya keluarga mereka selama ini.

Papanya duduk di sofa dengan wajah hancur.

Sedangkan mamanya masih menangis sejak tadi.

“Kita salah…”

Suara mamanya pecah.

“Kita terlalu lama nyembunyiin semuanya…”

Papanya memejamkan mata.

Namun sebelum siapa pun bicara lagi—

Ponsel Arsen tiba-tiba berbunyi dari dalam kamar.

Beberapa detik kemudian pria itu keluar dengan wajah dingin.

“Ada apa?” tanya Nayla cepat.

Tatapan Arsen gelap.

“Seseorang baru aja masuk rumah lama keluarga kalian.”

Deg.

“Siapa?”

Arsen menatap mereka satu per satu.

Lalu berkata pelan,

“Adrian.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!