Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negatif atau Positif
Pov Zara Ayleen
“Mbak dan mas nya suami istri?” Ucap sang dokter wanita, ia bertanya kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas.
Aku dan Pak Arsyad lantas mengangguk berbarengan, rasa mual masih mengaduk-aduk perutku, tapi masih bisa aku tahan.
“Kapan terakhir kali kalian berhubungan suami Istri?” Ah… aku tidak mau mengingat kejadian kelam malam itu. Tanganku bergetar dan rasa takut menyelimutiku, jika benar aku hamil apakah aku akan siap menjadi seorang ibu?, dan setelah itu apakah aku sanggup berpisah dengan darah dagingku, sepertinya akan lebih sulit jika ini terjadi. Ya Allah tolong Zara, semoga hasilnya negatif bukannya zara tidak mau mempunyai anak. Tapi bukan ini yang zara harapkan.
“Dua minggu yang lalu?” Pak Arsyad yang menjawab. Tegas begitu saja mengalir dari mulutnya.
“Oke, untuk lebih jelas nya. Mbak Ayleen boleh cek dulu, silahkan kamar mandinya disebelah sana. Boleh dibantu sama mas nya juga.
Aku mengangguk berjalan pelan menuju kamar mandi, ternyata pak Arsyad mengikutiku dari belakang. Alat tes kehamilan kini berada pada tanganku, tanganku bergetar dan air mata mulai mengalir dari pipiku. Ya Allah Zara mohon, Zara tidak mau dalam keadaan seperti ini.
“Jangan ikut masuk!” Pak Arsyad menatapku bingung, ia mengandarkan tubuhnya pada tembok depan kamar mandi.
Aku menutup pintu kamar mandi.
Tanganku bergetar, belum berani melihat hasilnya. Apakah garis dua atau garis satu. Aku membuka pintu Pak Arsyad masih berada disana menungguku dengan kedua tangan berada disaku celana pendek selututnya.
“Apa hasilnya?” Pak Arsyad menaikan Alisnya.
Aku mengegeleng, sambil menyerahkan tespek kearah pak Arsyad.
“Garis satu, hasilnya megatif.” Ucapnya enteng, ada sedikit lega dihatiku, tapi belum sepenuhnya lega karena bisa jadi hasilnya belum akurat.
“Baik disini hasilnya negatif ya mas mbak. Oke saya catat dulu tanggalnya, oh ya ini masih belum pasti ya mas mbak bisa jadi di minggu kemudian baru bisa terdeteksi dengan jelas, jadi jangan berkecil hati dulu jika hasilnya negatif. Oke baik nanti kita jadwalkan untuk pertemuan berikutnya,” benar, hatiku tidak benar-benar lega. Masih mengganjal.
“Silahkan mbal Ayleen untuk tidur disana dulu, saya akan periksa.”
Dokter mulai memeriksa kondisi tubuhku, mengangkat bajuku sampai terlihat perutku terekpos, disampingku Pak Arsyad juga menyaksikan itu semua. Dasar pria mesum, bisa-bisanya cari kesempatan dalam kesempitan seperti ini, aku tidak bisa mengelak karena dokter masih memeriksaku, dan menepuk-nepuk perutku.
“Bagian ini terisa sakit ga mbak?” Ucap dokter sambil menekan pelan bagian tengan perut di bawah dada.
“Sedikit dok, mungkin tadi bekas muntah jadi terasa sakit.” Ucapku.
“Mbak Ayleen ada darah rendah juga ya?”
“Engga bu, kalau lagi setres banyak tekanan iya, kepala sering keleyengan.”
“Biasa ya mbak penyakit gen Z, tapi kan sekarang sudah punya suami. Makanya apapun masalahnya ceritakan pada suami, dan mas nya belajarlah menjadi pendengar yang baik untuk istrinya.” Ucap dokter yang kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Oh ya mbak ayleen di sini ada magh sama darah rendah ya, untuk sekarang saya bantu resepkan obatnya dan nanti silahkan dibeli di apotik terdekat. Oh iya mbak Ayleen jangan sampai telat makan ya!”
Aku hanya mengangguk lemah, rasa mual kembali bereaksi, perutku terasa diaduk-aduk lagi.
***
Ketika akan menaiki mobil, “howekk howekk.” Aku kembali memuntahkan isi perutku, hanya cairan yang keluar karena mungkin semua makananku sudah dikeluarkan semua.
Aku sedikit terdiam, kala ada pijatan halus ditengkuk, ternyata Pak Arsyad tidak sedingin yang aku bayangkan, dia cukup bertanggung jawab.
“Mau balik lagi kerumah sakit?”
Aku menggeleng pelan, ets… dan kini tanganku digenggam oleh tangannya. Dan menuntunku untuk memasuki mobil.
Mobil mulai melaju pelan, membelah kemacetan jalanan kota, walaupun sudah malam begini dan kondisi diluar hujan cukup deras tapi diluar sana masih banyak sekali orang-orang yang beraktifitas. Apakah mereka tidk merasakan capek.
Aku menyandarkan tubuhku pada kursi mobil, rasa lemas sampai mataku terasa berat. Tapi aku berasa untuk terus terjaga. Mobil terhenti dipinggir jalan, pak Arsyda turun dan mengunci mobilnya, aku terkunci didalam mobil.
“Tunggu!” Ucapnya sambil berlalu berjalan cepat menuju sebuah apotik, lagi-lagi aku cukup tertegun dengan perhatian yang dilakukan oleh pria bermata elang itu.
Tidak lama, pria itu kembali dengan membawa kantung obat yang tadi sudah diresepkan oleh dokter.
“Minum obatnya sekarang!” Ucapnya sambil memberikan sebotol air mineral kepadaku.
Aku hanya bisa mengangguk lagi. Dan dengan tangn yang lemas dan sedikit gemetar air dalam botol hampir saja tumpah.
“Cekc, selain penakut kamu juga ceroboh.” Ucapnya sambil mengambil alih botol. Pria itu bantu memegangi botol, sementara aku mulai memasukan obat kedalam mulut. Cukup susah kala menelan obat, tapi aku paksakan, akhirnya dua pil obat itu menyerah dan segera turun kebawah pencernaanku.
Mataku mulai terasa sangat berat, sampai tidak sadar sudah tertidur didalam mobil.
***
Aku mengerjapkan mata, ternyata sudah ada didalam kamarku, dengan selimut tebal membungkus tubuhku. Jadi semalam aku tidur didalam mobil, jadi… tadi malam pria itu yang mengangkat tubuhku kesini, apa dia macam-macam padaku. Apa dia menyentuh daerah terlarang dari tubuhku. Dia kan pria mesum.
Perlahan aku bangkit, kepalaku berdenyut efek kurang darah baru bereaksi.
Deg…..
Pak Arsyad tidur terlentang di atas sofa, ngapain dia disini. Apa dia yang menjaga ku, dan tidak mau terjadi apa-apa denganku.
Gak, tidak boleh aku tidak boleh terbawa perasaan. Pria didepan sana penuh dengan tipu daya, Zara kamu hanya istri sementar jadi jangan twrbawa perasaan.
“Pak…” aku menepuk bahunya pelan, pria berhidung mancung itu tidak bergeming, masih tertidur pelan.
“Pak….” Aku menepuk bahunya lagi, ia bergerak pelan.
Set…
Pria itu menarik tanganku, kepalaku tepat katuh didepan wajahnya. Sangat dekat.
“Zara….” Berguman pelan. Zara?, perasaan pak Arsyad memanggilku dengan sebutan Ayleen bukan Zara. Siapa zara?, apakah wanita lain yang mengisi hatinya.
Aku menatap wajahnya lekat, sorot matanya yang tajam itu kini hilang, wajahnya teduh jika pria ini memejamkan matanya.
Tangan besarnya merah kepalaku, mengelusnya pelan. Apakah pria ini sedang merindukan wanitanya?.
“Kamu dimana ra?” Deg, benar sepertinya pria ini sedang kehilangan wanita yang dia cintai.
*
*
Hayolo Ayleen, jangan sampai kamu terperangkap dengan pesona pria yang memiliki mata elang itu.
Jangan lupa like, komen dan vote ya. Jangan lupa kasih bintan⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️, dukungan kecil dari kalian bikin author semangat terus dalam menulis.
Love you READERS….💗