NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 – Cemburu yang Tidak Diakui

Pagi itu, Alya sengaja bangun lebih awal.

Bukan karena tidak mengantuk.

Justru sebaliknya.

Ia hampir tidak bisa tidur semalaman.

Bayangan kejadian di dapur terus-menerus terlintas dalam benaknya.

Tatapan Raka.

Suara rendah pria itu.

Dan jarak yang nyaris hilang di antara mereka.

Alya kembali menutupi wajahnya dengan bantal.

“Mengapa hidupku jadi seperti drama…”

Ia akhirnya menyerah dan bangkit dari tempat tidur sebelum pikirannya semakin kacau.

Namun begitu membuka pintu kamar—

Alya seketika berhenti.

Raka sedang berdiri di lorong.

Pria itu tampak baru keluar dari ruang kerjanya dengan kemeja putih rapi dan beberapa dokumen di tangan.

Dan, mau tak mau—

Tatapan mereka langsung beradu.

Suasana mendadak terasa kaku.

Sangat kaku.

Karena keduanya jelas mengingat apa yang hampir terjadi semalam.

“Pagi,” sapa Alya buru-buru, terlalu buru-buru.

Raka mengangguk kecil.

“Pagi.”

Hening.

Dan Alya mulai membenci keheningan sekarang.

Karena setiap momen hening di dekat pria ini terasa begitu sarat makna.

“Aku akan ke rumah sakit pagi ini,” katanya sekenanya untuk memecah keheningan.

“Saya antar.”

“Aku bisa sendiri.”

“Saya tetap antar.”

Jawaban otomatis itu membuat Alya sedikit terdiam.

Dulu ia mungkin akan protes.

Tapi sekarang…

Perhatian kecil semacam itu justru mulai terasa nyaman.

Dan itu masalah besar.

---

Perjalanan menuju rumah sakit diliputi keheningan yang aneh.

Bukan dingin.

Bukan pula sepenuhnya kaku.

Lebih mirip dua orang yang sama-sama sedang memikirkan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.

Alya diam-diam melirik Raka yang fokus menyetir.

Pria itu terlihat setenang biasanya.

Terlalu tenang.

“Mengapa menatap saya?” tanya Raka tiba-tiba tanpa menoleh.

Alya seketika salah tingkah.

“Aku tidak menatapmu.”

“Kamu menatap saya sejak lampu merah tadi.”

Alya buru-buru memalingkan wajah ke jendela.

Menyebalkan.

Bagaimana pria ini bisa terus menyadari?

“Aku hanya berpikir.”

“Berpikir tentang?”

Alya terdiam beberapa detik.

Lalu, sebelum sempat menahan diri—

“Semalam.”

Tangan Raka di kemudi seketika sedikit menegang.

Dan itu satu-satunya tanda bahwa pria itu ternyata tidak setenang yang terlihat.

Suasana di dalam mobil mendadak berubah.

Terasa lebih berat.

“Alya.”

Nada suara Raka kini terdengar rendah.

Namun Alya buru-buru menggeleng kecil.

“Tidak usah dibahas.”

Karena kalau dibahas…

Ia takut semuanya akan menjadi terlalu nyata.

Raka tidak memaksa lagi.

Namun sejak itu, keheningan di mobil terasa jauh lebih berbahaya.

---

Begitu sampai di rumah sakit, Alya langsung menuju ruang rawat ibunya.

Dan untungnya—

Kondisi ibunya terlihat jauh lebih baik pagi ini.

Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya.

“Ibu!”

Ibunya tersenyum kecil begitu melihat Alya masuk.

“Kamu datang pagi sekali.”

Alya langsung duduk di samping ranjang.

“Tentu saja.”

Sementara Raka berdiri tidak jauh dari pintu seperti biasa.

Tenang.

Diam.

Namun kehadirannya entah mengapa selalu terasa memenuhi ruangan.

Ibunya memperhatikan mereka bergantian selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Kalian bertengkar?”

Alya langsung tersedak kecil.

“Hah? Tidak!”

“Mengapa jawabannya begitu cepat?” goda ibunya lemah.

“Aku hanya terkejut.”

Namun wanita itu justru tertawa kecil.

“Kalau sudah menikah, bertengkar itu biasa.”

Alya seketika melirik Raka dengan cepat.

Dan nahasnya—

Pria itu juga sedang menatapnya.

Jantung Alya kembali berdebar salah tingkah.

“Aku akan membeli buah dulu ya, Bu,” katanya cepat seraya berdiri.

Padahal buah sudah ada banyak di meja.

Namun Alya membutuhkan alasan untuk keluar sebentar sebelum dirinya benar-benar kehilangan akal sehat.

“Saya ikut.”

Suara Raka seketika terdengar.

Alya hampir mengeluh.

“Tentu saja kamu ikut…”

---

Mereka berjalan berdampingan di lorong rumah sakit.

Keheningan kembali menyelimuti.

Dan Alya mulai menyadari bahwa ia kini jauh lebih gugup di dekat Raka dibandingkan saat awal menikah dulu.

Ironis sekali.

Dulu ia takut karena pria itu dingin.

Sekarang ia takut karena pria itu mulai terasa terlalu dekat.

“Alya.”

“Hm?”

“Semalam…”

Alya langsung menegang.

“Tadi katanya tidak usah dibahas.”

“Saya tetap ingin bicara.”

Mereka berhenti di dekat mesin penjual otomatis yang cukup sepi.

Tatapan Raka kini lurus padanya.

Serius.

Dan Alya seketika merasa dirinya kembali dalam bahaya.

“Apa yang hampir terjadi semalam…” suara Raka terdengar rendah, “…tidak akan saya anggap sebagai sebuah kesalahan.”

Jantung Alya langsung berdetak keras.

“Apa?”

“Saya tidak menyesalinya.”

Kalimat itu membuat napas Alya tercekat.

Pria ini benar-benar tidak tahu cara membuat orang tetap tenang.

“Atau mungkin…” Alya mencoba tersenyum gugup, “Anda hanya terbawa suasana.”

Tatapan Raka berubah menipis.

“Dan kalau bukan?”

Alya kehilangan jawaban.

Karena bagian paling menakutkan adalah—

Ia juga mulai merasakan hal yang serupa.

Belum sempat suasana menjadi semakin genting, suara lain tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Alya?”

Keduanya menoleh bersamaan.

Dan wajah Alya langsung berubah.

Dimas.

Pria itu berjalan mendekat seraya membawa beberapa berkas pasien.

Namun kali ini, tatapannya seketika menangkap suasana janggal di antara Alya dan Raka.

Terutama cara mereka berdiri terlalu dekat.

“Oh.” Senyumnya sedikit memudar. “Aku mengganggu?”

“Tidak,” jawab Alya dengan cepat.

Namun Dimas tampaknya tidak terlalu percaya.

“Saya hanya ingin memberitahu bahwa hasil pemeriksaan ibumu bagus.”

“Syukurlah,” jawab Alya lega.

Dimas tersenyum kecil.

Lalu tatapannya kembali tertuju pada Alya sedikit lebih lama dari semestinya.

“Kamu sudah makan?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Raka seketika terdiam.

Namun auranya berubah.

“Aku belum,” jawab Alya.

“Kantin rumah sakit sekarang cukup enak,” kata Dimas santai. “Kalau mau, nanti saya temani.”

Hening.

Sangat hening.

Alya seketika bisa merasakan suasana berubah drastis di sampingnya.

Dan saat ia melirik Raka—

Tatapan pria itu sudah jauh lebih dingin.

“Saya rasa tidak perlu.”

Suara Raka terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Namun Alya mulai mengenali nada suara itu sekarang.

Bahaya.

Dimas menoleh pada Raka.

“Mengapa?”

“Karena dia bersama saya.”

Jawaban itu langsung membuat udara di lorong terasa menegang.

Dimas tersenyum tipis.

Namun kali ini senyumnya jelas menyiratkan sedikit tantangan.

“Saya hanya menawarkan makan siang.”

“Dan saya menolaknya.”

Alya seketika ingin menghilang.

Mengapa mereka tiba-tiba terdengar seperti dua pria yang memperebutkan pasangan dalam sebuah drama?

“Aku bisa makan sendiri,” katanya cepat mencoba menenangkan suasana.

Namun kedua pria itu seolah tidak mendengarnya.

Tatapan mereka saling beradu.

Tenang.

Tajam.

Dan sarat akan sesuatu yang Alya tidak ingin definisikan.

Sampai akhirnya Dimas tertawa kecil lebih dulu.

“Baiklah.” Ia mundur satu langkah. “Saya tidak ingin membuat suami Anda semakin marah.”

“Saya tidak marah.”

Jawaban Raka terlalu cepat.

Dan justru itu membuat Dimas tersenyum lebih lebar.

“Kalau begitu bagus.”

Pria itu akhirnya pergi meninggalkan lorong.

Namun suasana janggal tadi masih terasa jelas tertinggal.

Alya perlahan menoleh pada Raka.

Dan begitu melihat ekspresi pria itu—

Ia seketika menyadari sesuatu.

Raka benar-benar cemburu.

Dan yang lebih berbahaya—

Sebagian kecil dari dirinya justru senang melihatnya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!