NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB EMPAT BELAS

Rakha menatap layar itu beberapa detik, senyum samar terukir di bibirnya. Tatapannya dingin, seolah ia sudah menunggu momen ini. Dengan gerakan santai, ia menekan tombol hijau, menyandarkan punggung ke kursi kulit hitamnya.

Suara Reza langsung meledak dari seberang, terburu-buru, tercekik panik.

"Pak Rakha! Maaf, saya... saya tidak tahu harus menghubungi siapa lagi! Situasi sudah di luar kendali! Wartawan memadati halaman hotel, blitz kamera menyilaukan, mereka teriak-teriak nama Maharani! Ada yang nekat manjat pagar, bahkan mencoba memaksa masuk lewat lobi! Satpam kewalahan, polisi belum juga datang-dan... dan sekarang kami dapat email, ancaman baru. Mereka bilang besok ada video lain yang akan disebar. Saya sudah coba tahan, saya sudah coba redam, tapi... Maharani makin tertekan, Pak. Dia hampir pingsan! Tolong, saya mohon... jangan biarkan dia hancur seperti ini!"

Suara Reza pecah di ujung kalimat, napasnya memburu, seperti orang yang berlari tapi tetap tak menemukan jalan keluar. Rakha tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong pada bayangan dirinya di kaca jendela yang menjulang, membiarkan hening beberapa detik menekan dada Reza lebih dalam.

Perlahan, ia bangkit. Suara sepatu kulitnya beradu dengan marmer, bergema di ruangan luas yang hanya diterangi lampu temaram. Ia mendekat ke jendela, menyingkap tirai, menatap kilau lampu kota di kejauhan.

Ketika akhirnya berbicara, suaranya begitu tenang-terlalu tenang.

"Saudara Reza," katanya, seakan baru memulai percakapan santai. "Saya bisa merasakan beban yang Anda pikul malam ini. Saya tahu betapa gentingnya keadaan Maharani. Tapi ingatlah... ia tidak akan menghadapi semua ini sendirian."

Reza mencoba menyela, suaranya hampir pecah, "Pak, saya... saya sudah kehabisan cara. Wartawan itu... ancaman itu... saya takut sesuatu terjadi pada Maharani. Tolong, saya benar-benar butuh bantuan Bapak sekarang."

Rakha memejamkan mata sebentar, lalu mengembuskan napas panjang, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat-padahal di dalam kepalanya, rencana berjalan persis seperti yang ia kehendaki.

"Malam ini juga," ucapnya akhirnya, pelan tapi tegas, "saya akan mengirim tim khusus. Mereka akan mengamankan hotel, mensterilkan area dari orang-orang yang mencoba masuk, dan mengendalikan akses. Tak seorang pun bisa mendekat tanpa izin saya. Maharani akan berada dalam perlindungan penuh."

Di seberang, terdengar suara Reza tercekat lega, bercampur sisa panik. "Terima kasih, Pak... terima kasih. Saya-saya tidak tahu harus bagaimana kalau Bapak tidak turun tangan."

Rakha tersenyum samar, menatap pantulan matanya sendiri di kaca jendela-mata seorang pria yang tahu benar, justru di saat orang lain panik, dialah yang semakin kuat.

Reza menarik napas panjang, suaranya terdengar sedikit lebih lega, meski masih penuh kegelisahan.

"Apakah... apakah Bapak benar-benar sanggup menangani ini, Pak? Saya takut... kesalahan sekecil apa pun bisa membuat segalanya runtuh. Reputasi beliau, karier, bahkan keselamatan. Kami sudah kehabisan cara. Kami tidak punya siapa pun lagi."

Rakha menatap langit malam Jakarta dari balik kaca. Suara kota terdengar jauh, redup. Ia mengangkat cerutunya, mengisap perlahan, lalu menghembuskan asap dengan ekspresi penuh kendali.

"Reza, justru dalam situasi seperti ini dibutuhkan kepala yang dingin dan langkah yang terukur. Anda telah mengambil keputusan tepat dengan menghubungi saya. Mulai malam ini, biarkan saya yang memegang kendali. Saya pastikan Maharani akan mendapatkan perlindungan terbaik, baik secara hukum maupun secara personal."

Hening sejenak, lalu suara Reza terdengar parau.

"Baik, Pak. Saya akan percayakan ini kepada Bapak. Mohon segera kirimkan tim. Lokasinya masih sama. Saya hanya berharap tidak ada celah sedikit pun, Pak."

Rakha tersenyum tipis, seakan tersentuh. Nada suaranya lembut, meyakinkan.

"Tenanglah. Tim saya bergerak lebih cepat daripada yang Anda bayangkan. Dan tolong sampaikan pada Maharani... ia harus tetap tegar. Katakan padanya, saya berdiri di pihaknya."

Panggilan terputus.

Rakha menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya kembali di atas meja marmer. Senyum samar masih menghiasi wajahnya. Dari luar, ia terdengar penuh empati, seolah menjadi pelindung. Namun di dalam hatinya, sesuatu yang jauh lebih gelap bergaung.

Ia kembali berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkelip. Dalam batinnya ia bergumam, semakin dalam Maharani terperosok, semakin besar pula nilai yang dapat ia tagih dari keluarganya. Namun untuk saat ini, topeng pengacara yang penuh kepedulian harus tetap melekat.

Rakha mengangkat gelas bourbonnya, bersulang dengan bayangan samar Maharani di kaca.

Dalam diam, ia menegaskan pada dirinya sendiri: permainan ini baru saja dimulai, dan dialah satu-satunya pemain yang memegang kendali penuh.

***

Lorong hotel yang biasanya penuh cahaya hangat dan langkah tamu kini terasa asing, lengang, dan penuh bayangan. Pintu darurat di ujung lorong terbuka sedikit, udara malam merembes masuk membawa aroma aspal basah. Dua pria berbadan tegap berpakaian hitam berjalan cepat sambil mengapit Maharani, langkah mereka mantap, berisik oleh hentakan sepatu bot.

Tubuh Maharani gemetar hebat. Air mata masih menetes, pipinya basah, matanya sembab. Siska berada di sisinya, tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Sesekali Siska membisikkan kata-kata yang berusaha menenangkan, tetapi semua suara itu seperti hilang tertelan kegaduhan di dalam kepalanya.

Begitu pintu darurat didorong, hawa malam langsung menerpa. Di area parkir belakang, sebuah mobil hitam berlapis kaca gelap sudah menunggu, mesin menyala tenang, lampu depan diredupkan agar tidak menarik perhatian.

"Sikahkan masuk ke mobil, nona Maharani ," suara berat salah satu pengawal memecah malam.

Maharani hampir kehilangan keseimbangan, langkahnya seperti ditarik paksa. Siska buru-buru menopangnya hingga akhirnya mereka masuk ke kursi belakang. Pintu ditutup rapat, bunyinya keras, seolah memisahkan mereka dari kekacauan dunia luar.

Suara bising wartawan, teriakan, dan kilatan kamera kini hanya samar terdengar. Di dalam mobil, keheningan menekan. Maharani langsung meringkuk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan. Tangisnya pecah lagi, tersendat-sendat, bahunya berguncang.

Siska mendekat, memeluknya erat, berusaha memberi kehangatan. "Tenang, Rani... kita sudah keluar. Kamu aman sekarang. Tidak ada yang bisa masuk ke sini," bisiknya dengan suara bergetar.

Namun bagi Maharani, rasa takut itu tak hilang. Bayangan kamera yang mengintai, kata-kata ancaman dalam pesan singkat, dan skandal yang entah bagaimana bisa menjeratnya terus menghantui.

Di kursi depan, seorang pria bersetelan hitam duduk tegak, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Ia mengangkat ponsel, berbicara dengan suara tegas dan terukur.

"Pak, nona Maharani sudah bersama kami. Kami berhasil mengeluarkannya lewat jalur darurat. Kondisinya masih sangat terguncang, tapi sudah aman. Saat ini kami menuju lokasi sesuai instruksi."

Maharani mendongak sejenak, menatap punggung pria itu dengan mata penuh kecemasan. Dalam hatinya ia tahu, panggilan itu hanya ditujukan pada satu orang: Rakha Adiwangsa Wiratama. Nama yang baru ia dengar beberapa jam lalu, kini seolah menjadi satu-satunya tali yang mengikat nasibnya.

Tubuh Maharani bergetar. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, tangisnya pecah lirih.

"Aku takut, Sis..." suaranya patah-patah, nyaris tertelan oleh isak. "Semua orang... semua mata ke aku. Seolah... aku ini penjahat."

Siska menghela napas panjang, lalu merangkulnya lebih erat. Tangannya mengusap pelan punggung Maharani, mencoba jadi tembok buat badai yang lagi menggerogoti sahabatnya.

"Rani... dengarin aku. Kamu nggak sendirian, ya? Ada aku, ada keluarga. Kita udah ambil langkah yang benar, kita punya pengacara terbaik. Mereka tahu harus gimana."

Maharani menggeleng lemah, air matanya menetes jatuh ke jemarinya. "Tapi... kalau ini makin besar? Kalau besok ada video lain keluar? Aku nggak sanggup, Sis. Aku... aku bener-bener nggak kuat."

Siska mengangkat wajah Maharani dengan kedua tangannya, menatap lurus ke matanya. Sorotnya tegas tapi penuh sayang.

"Denger Maharani. Kamu udah sejauh ini, Rani. Jangan bilang kamu nggak bisa. Aku lihat sendiri kamu tetap berdiri meski dihujat, meski orang-orang nyudutin kamu. Kamu pikir aku nggak tahu betapa sakitnya itu? Tapi lihat-kamu masih di sini. Masih bernapas. Masih berjuang."

Maharani terisak lagi, menunduk. Suaranya pecah, lirih. "Aku cuma... cuma mau semua ini selesai. Aku kangen hari-hari biasa, Sis. Bisa keluar tanpa takut, bisa ketawa tanpa beban."

Siska langsung menariknya lagi ke dalam pelukan, menepuk lembut bahunya.

"Akan ada hari itu, Rani. Akan. Tapi sekarang, kita harus tahan sedikit lagi. Kamu nggak sendiri, oke? Selama aku ada di sini, aku nggak bakal biarin kamu jatuh sendirian."

Mobil pun melaju menembus gelapnya jalanan Jakarta malam itu. Lampu kota berkelebat lewat jendela, memantulkan wajah Maharani yang pucat dan mata yang kosong. Di kursi depan, suara percakapan singkat pengacara dengan seseorang di ujung telepon-yang tak lain adalah Rakha-membuatnya sadar: mulai malam ini, kendali hidupnya bukan lagi di tangannya sendiri.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!