Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kita Lakukan di Kamar
Bab 20
“Aya!”
Adit dan Aya pun menoleh, bahkan Aya langsung berdiri.
“Om Edward,” ujarnya tersenyum lalu menatap Adit. “Sudah cukup, aku sudah dijemput. Urusan kita sudah selesai, tidak ada yang harus dibicarakan lagi.”
Mendapati ada gelas dan makanan di meja yang sudah terhidang, Edward mendekat.
“Jarwo!” teriak Adit. Nyatanya Jarwo malah mengangkat tangan berada di tengah pintu. Setuju dengan Edward kalau yang mereka lakukan sudah masuk ranah kriminal.
“KAmu ada minum dan makan ini?” tanya Edward.
“Cahaya, usir dia!” titah Adit.
“Aku hanya minum ini,” tunjuknya ke gelas lemon tea mengabaikan teriakan Adit.
Edward menunjuk pelayan tadi yang masih berdiri kebingungan di luar ruangan, memintanya memanggil manager resto. Adit menghampiri Edward menarik kaosnya. “Pergi, bangs4t.”
“Sebaiknya kalian yang pergi. Cctv di sini bukti kalian berniat macam-macam pada Aya. Entah bubuk apa yang kalian campur.” Edward mendorong Adit.
“Mas, benar begitu?”
“Mana mungkin Cahaya, kamu itu calon istriku. Mana mungkin aku punya niat buruk,” jelas Adit, masih menyangkal mencari simpati dari Aya.
“KAlau tidak niat buruk, kenapa temanmu itu berusaha menghentikan dan menyerangku. Pakai pisau pula.” Edward menunjuk Jarwo.
Situasi semakin tidak terkendali, beberapa petugas datang karena keributan. Termasuk juga pria yang berpakaian rapi dan penampilan klimis.
“Selamat malam, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?”
“Anda manager di sini?” tanya Edward.
“Betul. Mohon maaf bapak-bapak, sebaiknya jangan buat keributan. Tamu lain terganggu.”
Edward menunjuk gelas Aya dan makanan serta hidangan di troli, meminta untuk diperiksa kandungannya. Ia secara langsung melihat Jarwo disaksikan pelayan memasukan sesuatu.
“Maaf saya tidak tahu itu obat apa, bapak ini bilang hanya obat penambah nafsu makan,” tutur pelayan itu.
“Siapkan juga rekaman cctvnya,”
“Si4lan. Lihat kau, aku akan balas ini,” pekik Adit lalu mendorong Edward dan ditepis. Tidak berhasil menghentikan, karena Adit malah kabur.
“Hei.”
“Om, sudah,” cegah Aya tidak ingin menambah suasana menjadi runyam.
Prank.
Adit menjatuhkan troli berisi makanan lalu pergi bersama Jarwo. Sempat dihentikan petugas lainnya, tapi berhasil melarikan diri. Manager resto meminta maaf karena kecerobohan pegawainya. Ia menghubungi teknisi untuk menyiapkan rekaman cctv.
Sebagai dokter Edward tahu banyak obat yang bisa digunakan bukan untuk menyembuhkan, entah apa yang digunakan Adit dan Jarwo. Sempat terbersit jenis obat yang ….
“Om,” panggil Aya.
Edward menuangkan isi gelas Aya ke dalam plastik yang sudah disiapkan pelayan, ia menoleh. Aya mengibaskan tangan ke wajahnya.
“Di sini gerah,” ujarnya menatap sekitar.
Edward mengernyitkan dahi, kemungkinan dugaannya benar. Obat itu adalah afrodisi4k dan Aya mulai merasakan efeknya.
“Shittt,” pekik Edward lalu mengambil sampel makanan yang juga diberi obat ke dalam plastik. Membawa kedua kantong sampel tadi dan menarik tangan Aya dan merangkulnya. “Akan ada teman saya kemari, mengurus semua. Bekerja samalah atau kami tuntut juga tempat ini.”
“Baik, pak. Kami siap bekerja sama.”
“Om, aku mau pulang,” rengek Aya.
***
Di tengah perjalanan, Edward menghubungi Anji. Menjelaskan singkat situasi dan memintanya melakukan beberapa hal.
“Siap, bro. Lo amankan dulu Cahaya, semoga aja efeknya nggak dahsyat,” seru Anji. Edward menekan tombol mengakhiri pembicaraan, kebetulan ia melaudspeaker karena sambil mengemudi. Menoleh pada Aya yang juga menatapnya.
“Om, aku kenapa?” tanya Aya. Hembusan nafasnya kini terasa berat dan sedikit sesak. Tangannya mencengkram pinggiran jok yang diduduki, dengan jemari yang gemetar. Jantungnya berdebar seolah ada perasaan dan dorongan untuk memaksa tubuhnya melakukan sesuatu.
Obat itu sudah bekerja, sebentar lagi mungkin Aya akan menggil4, pikir Edward semakin melaju mobilnya dengan cepat. Tujuannya adalah rumah, ia akan bantu Aya meredakan pengaruh obat itu. Semoga saja tidak harus dengan melampiaskan dengan hal yang ….
Bangs4t juga Adit, bisa-bisanya dia malah menjebak Aya.
“Om,” rengek Aya lagi.
“Sabar sayang,” seru Edward. Tidak berani menyentuh gadis itu, karena akan berakibat fatal dan tidak mungkin juga memulangkan Aya dalam kondisi begini.
Zat itu bekerja dengan aktif. Bukan sekadar rasa panas, sensasi berg4irah seolah menyerang perlahan menuntut sebuah pelepasan yang bahkan Aya sendiri tidak mampu mendefinisikannya. Oksigen di mobil itu mendadak terasa seperti uap panas yang membakar paru-paru, perlahan tangan Aya menurunkan resleting jaketnya. Menyentuh dan mengusap leher yang terasa berkeringat, menyebabkan ia mendessah pelan.
Mobil berbelok ke kawasan perumahan dan blok di mana Edward tinggal. Tujuannya merendam dan mendinginkan suhu tubuh Aya, serta membuat gadis itu tetap waras.
“Lawan Ay, kamu bisa,” ujar Edward lalu berhenti di depan rumah dan turun untuk mendorong pagar karena tidak ada orang di rumah itu. Pekerja di rumahnya tidak ada yang menginap.
“Om, ini rumah siapa?” tanya Aya di tengah tubuhnya yang sudah tidak kondusif.
“Rumahku.” Memarkir asal di carport, lalu mematikan mesin. Keluar dari mobil dan berjalan memutar, membuka pintu di sisi Aya.
“Aku kenapa, rasanya tidak nyaman.”
Tangan Edward menelusup di bawah lutut dan punggung lalu mengangkat tubuh Aya, menggendongnya ke dalam. Wajah Aya terbenam di dad4nya dengan tangan mengalung erat.
Dengan pelan menurunkan Aya di bawah shower toilet kamarnya.
“Kenapa … aaaa,” teriak Aya karena Edward memutar keran mengalirkan air dengan ukuran paling kencang. Bahkan menggunakan selang kran dari kloset untuk menyiram tubuh Aya yang sudah berjongkok dengan kondisi hampir basah kuyup.
“Edward, aku … basah.”
“Maaf sayang, aku terpaksa. Kamu dalam pengaruh obat, Adit menjebakmu. Kalian akan berakhir di ranjang kalau saja aku tidak hentikan. Untungnya kamu cerdas mengirimkan lokasi.”
“A-pa?”
Cukup lama Aya berada di bawah shower dan sempr0tan air dari Edward.
“Sudah lebih baik?” tanya Edward mengusap wajahnya yang terkena percikan air, sebagian bajunya juga basah. Jangan tanya Aya, sudah kuyup dan masalah berikutnya piyama yang dipakai sudah transparan membuat pakaian d4lam termasuk gundukan depan tubuhnya terpampang begitu nyata.
Memutar keran menghentikan aliran air dan mengambil handuk yang tergantung lalu membalutkan ke tubuh Aya sambil berjongkok.
“Sudah lebih baik?” tanya Edward.
Aya menoleh, wajahnya merona dengan tubuh sedikit menggigil. Nafasnya perlahan seperti memburu, aliran dar4hnya begitu deras dan bagian in-timnya terasa basah dan ge-li. Wajahnya semakin memerah ia pun menggeleng.
“Kamu … masih merasa panas?”
“Om, tolong aku,” lirih Aya lalu mendekat. Entah keberanian dari mana, tapi ia terdesak oleh dorongan yang tidak bisa ditahan untuk melum4t bibir Edward. Sungguh ia tidak pernah melakukan itu, tapi rasanya seolah ia begitu bern4fsu. Tangannya mencengkram bahu dan lengan Edward.
Nafasnya terengah saat melepas pagutan itu dan saling menatap. Tatapan sendu seolah mengatakan, sentuh aku. Meski belum pernah berpacaran apalagi bersentuhan langsung dengan laki-laki secara sengaja dan intens, Aya merasakan gejolak dan gelenyar aneh seperti rasa yang muncul saat ia menonton drama atau film dengan adegan dewasa dan bercum-bu. Bedanya, rasa ini lebih kuat dan menyiksa.
“Ay ….” Tangan Edward menahan tangan Aya yang terulur ke bawah sana.
“Om, tolong aku!”
Beberapa kali membayangkan hal dewasa saat bersama Aya, mungkin efek cukup lama menduda. Namun, kali ini tersaji langsung bahkan diminta oleh Aya. Ini salah, tapi Aya tersiksa. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk meredakan efek obat itu, selain penyaluran dan pelepas4n.
“Ay, aku cinta kamu. Kita tidak seharusnya begini.”
“Touch me, please!” lirih Aya dengan tatapan berkabut gair4h.
“Aku pasti tanggung jawab, pasti.” Tubuh Aya melayang dalam gendongan Edward. “Kita lakukan di kamar.”
lhah2 langsung ijab Sah Pak Dudeeee😂😂😂
tapi bagus juga harus sombong di depan orang sombong 🤭
duh dah kaya mau demo aja🤭