NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan

Ada jenis tatapan yang bisa dirasakan bahkan sebelum benar-benar terlihat. Tatapan itu tidak bersuara, tidak menyentuh, dan tidak memanggil nama siapa pun, tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang menoleh karena merasa sedang diperhatikan. Airel Virellia baru memahami hal semacam itu setelah Zevarion Hale hadir terlalu sering dalam harinya.

Dan belakangan, terlalu sering menatapnya diam-diam.

Semua bermula dari hal kecil yang nyaris tidak penting. Pagi itu kelas Statistik berjalan lambat seperti biasa, dengan dosen yang membaca slide satu per satu memakai nada datar tanpa perubahan. Suara pendingin ruangan berdengung lembut, beberapa mahasiswa menguap terang-terangan, dan beberapa lainnya menunduk sibuk pada ponsel yang disembunyikan di bawah meja.

Airel duduk di baris tengah bersama Kalista. Ia berusaha mencatat poin-poin yang muncul di layar, meski pikirannya beberapa kali melayang ke luar jendela tempat langit tampak pucat dan mendung. Ujung pulpen bergerak otomatis di buku, namun fokusnya tidak benar-benar ada di sana.

Ada rasa aneh sejak beberapa menit lalu.

Seperti seseorang sedang melihatnya.

Mula-mula ia mencoba mengabaikan. Ia menggeser posisi duduk, merapikan rambut di belakang telinga, lalu kembali menatap layar depan. Namun sensasi itu tidak hilang, justru makin jelas seperti dorongan kecil yang meminta direspons.

Akhirnya Airel menoleh perlahan ke belakang.

Di baris dua kursi dari sana, Zev duduk menyandarkan punggung ke kursi. Tangannya terlipat santai, sementara matanya tertuju lurus ke arahnya tanpa berusaha menyembunyikan apa pun. Begitu tatapan mereka bertemu, Zev langsung memalingkan wajah ke depan dan menatap slide dosen seolah sejak tadi sangat fokus pada materi kuliah.

Airel membeku beberapa detik.

Kalista yang melihat perubahan ekspresinya mencondongkan badan sedikit. “Kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Kamu merah.”

“Aku panas.”

“AC nyala dua.”

Airel pura-pura kembali menulis. Ia menunduk pada buku catatan, tetapi huruf-huruf yang dibuatnya mulai miring dan tidak beraturan. Tangannya bergerak, pikirannya tidak.

Ia baru saja memergoki Zev menatapnya.

Dan pria itu mengalihkan pandangan terlalu cepat untuk disebut kebetulan.

Sepanjang kelas, Airel tidak berani menoleh lagi. Ia hanya bisa merasakan keberadaan Zev di belakangnya dengan cara yang aneh, seolah seseorang sedang duduk terlalu dekat dengan ruang pikirannya. Ketika dosen menanyakan sesuatu dan seluruh kelas hening, ia bahkan lupa topik apa yang sedang dibahas.

Setelah kuliah selesai, mahasiswa keluar berbondong-bondong sambil mengeluh soal tugas mingguan. Airel membereskan bukunya lebih lambat dari biasanya, berharap Zev sudah pergi duluan. Namun saat ia berdiri, Kalista menyenggol lengannya pelan.

“Dia nunggu di pintu,” bisiknya.

Airel menoleh refleks dan mendapati Zev memang berdiri di dekat lorong keluar sambil melihat ponselnya. Wajahnya tenang, seperti orang yang kebetulan berhenti di sana dan tidak sedang menunggu siapa pun.

“Ayo cepat,” kata Kalista menahan tawa.

Airel mendecak kecil lalu berjalan melewatinya tanpa menyapa. Saat hampir sejajar, Zev mengangkat pandangan sebentar.

“Kamu nulis rumusnya salah dua kali.”

Airel berhenti. “Apa?”

“Tadi di kelas.”

“Kenapa kamu tahu aku nulis apa?”

Zev memasukkan ponsel ke saku. “Kelihatan.”

Ia lalu berjalan lebih dulu meninggalkannya di lorong. Airel berdiri beberapa saat dengan jantung berdebar tidak jelas, sementara Kalista tertawa tanpa belas kasihan di belakang.

Siang harinya, Airel pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas. Tempat itu tenang seperti biasa, dipenuhi suara halaman buku, langkah kaki pelan, dan sesekali bunyi kursi yang digeser hati-hati. Ia memilih meja sudut favoritnya, membuka laptop, lalu mencoba mengembalikan fokus.

Lima belas menit kemudian, seseorang menarik kursi di seberang.

Tanpa melihat pun Airel sudah tahu siapa.

“Kursi lain banyak,” katanya sambil tetap menatap layar.

“Meja ini juga banyak.”

Zev meletakkan buku tebal di depannya lalu duduk seolah tempat itu memang sudah dipesan. Airel akhirnya mengangkat kepala dan menatapnya dengan kesal yang tidak terlalu sungguh-sungguh.

“Kamu ngikutin aku?”

“Enggak.”

“Terus kenapa selalu ada di tempat aku?”

Zev membuka bukunya santai. “Mungkin kamu yang ada di tempat aku.”

Airel mendecak pelan. Ia memilih kembali menatap laptop, walau sudut bibirnya hampir bergerak. Pria ini punya cara menjawab yang menyebalkan, tetapi anehnya selalu membuat ia sulit benar-benar kesal.

Beberapa menit berlalu. Suasana hening, hanya suara ketikan dan pendingin ruangan yang terdengar samar. Lalu perasaan itu datang lagi.

Tatapan.

Airel mengangkat kepala perlahan.

Benar saja.

Zev sedang melihatnya dari balik halaman buku yang terbuka setengah. Saat sadar ketahuan, ia langsung menurunkan pandangan ke teks di depannya dan membalik halaman dengan ekspresi tenang berlebihan.

Airel menahan napas.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.

Zev tanpa melihat ke atas menjawab, “Apa?”

“Kamu lihat aku terus.”

“Enggak.”

“Kamu barusan lihat.”

“Aku lihat arah depan.”

“Aku ada di depan.”

Kali ini Zev menutup bukunya setengah lalu menatap langsung ke arahnya. Tidak ada gugup, tidak ada usaha mengelak.

“Berarti aku lihat kamu.”

Jawaban itu begitu lurus sampai Airel kehilangan kata-kata. Ia buru-buru memalingkan wajah ke layar laptop dan membuka dokumen apa saja agar tangannya punya kegiatan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya terjadi di perpustakaan.

Sore menjelang, Airel masuk shift kerja di toko buku kecil dekat kampus. Tempat itu cukup sepi karena hari biasa. Ia sedang menempel label harga baru di rak novel saat lonceng pintu berbunyi pelan.

Tidak perlu menoleh.

Ia sudah hafal ritme kebetulan yang dibawa seseorang.

“Selamat datang,” ucapnya datar.

“Terima kasih.”

Airel berbalik dan melihat Zev berjalan ke rak alat tulis dengan santai. Tangannya masuk ke saku celana, seolah benar-benar datang untuk berbelanja.

“Kamu beli apa sekarang?”

“Belum tahu.”

“Kemarin pulpen. Minggu lalu penghapus. Sekarang?”

Zev mengambil pensil mekanik, melihat sebentar, lalu menaruhnya kembali. “Mungkin pembatas buku.”

“Kamu baca buku?”

“Kadang.”

“Kamu kelihatan kayak orang yang baca kontrak kerja, bukan novel.”

Sudut bibir Zev bergerak tipis.

“Pendapat yang sempit.”

Airel menahan senyum sambil kembali bekerja. Ia berpura-pura sibuk menyusun buku, namun sadar matanya beberapa kali mencari bayangan Zev di sela rak.

Beberapa menit kemudian, saat ia mengangkat kepala, Zev berdiri di ujung lorong rak sambil menatapnya lagi. Tatapan itu tidak usil dan tidak main-main. Lebih seperti seseorang yang sedang memperhatikan hal yang ingin ia pahami pelan-pelan.

Begitu mata mereka bertemu, Zev meraih buku terdekat secara acak dan pura-pura membaca sampul belakangnya.

Airel hampir tertawa.

Ia berjalan mendekat lalu melihat judul buku di tangannya.

“Itu kamus bahasa Korea.”

Zev melihat sampul buku itu beberapa detik, lalu menutupnya perlahan. “Bagus.”

“Kamu bahkan enggak lihat judulnya.”

“Aku fleksibel.”

Airel menggigit bibir agar tidak tertawa lebih jelas. Pria ini benar-benar aneh, dan justru karena itu suasana di sekitarnya jarang terasa datar.

Malam setelah toko tutup, udara luar lebih dingin dari biasanya. Jalanan masih ramai oleh kendaraan pulang kerja, lampu toko memantul di trotoar yang sedikit basah. Saat Airel keluar sambil membawa tas, Zev berdiri dekat motor hitamnya dengan kedua tangan di saku jaket.

“Kamu belum pulang?”

“Nunggu.”

“Nunggu siapa?”

“Kamu.”

Jawaban itu keluar mudah, seolah tidak perlu disembunyikan. Airel menatapnya beberapa detik terlalu lama sampai Zev mengangkat alis tipis.

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

Ia lalu berjalan lebih dulu agar wajahnya tidak terlalu mudah dibaca. Zev menyamai langkahnya tanpa banyak bicara.

“Biar kamu enggak pulang sendirian,” katanya beberapa saat kemudian.

“Aku biasa pulang sendiri.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Zev menatap jalan di depan. “Sekarang enggak usah.”

Kalimat sederhana itu membuat sesuatu menghangat di dada Airel. Tidak berlebihan, tidak puitis, hanya tenang dan lugas. Justru karena itu efeknya terasa lebih nyata.

Mereka berjalan ke halte bersama. Saat menunggu lampu merah, Airel menoleh dan mendapati Zev sedang melihatnya lagi. Kali ini jarak mereka dekat, cukup dekat untuk membuat Airel bisa membaca sorot matanya lebih jelas.

Tatapan itu tidak buru-buru dialihkan.

“Kamu suka lihat orang diam-diam, ya?” tanya Airel.

“Enggak.”

“Aku capek denger kamu bohong.”

“Aku enggak bohong.”

“Terus tadi?”

Zev diam sebentar, lalu menjawab pelan, “Aku cuma lagi lihat kamu.”

Nada suaranya biasa saja. Justru itu yang membuat Airel semakin salah tingkah. Ia menunduk menatap ujung sepatunya sendiri.

“Apa menariknya?”

“Ada.”

“Apa?”

Zev menoleh ke lampu lalu lintas yang berubah hijau. “Kalau aku jawab sekarang, kamu makin banyak nanya.”

Ia mulai melangkah menyeberang. Airel menyusul sambil menggerutu pelan, meski senyumnya sulit ditahan.

Hari-hari berikutnya pola itu terus berulang. Di kantin, Airel merasakan tatapan lalu menemukan Zev sedang melihatnya sambil memegang gelas kopi. Di koridor, ia menoleh dan Zev pura-pura membaca poster seminar yang sudah robek setengah. Di taman kampus, Zev memandangnya saat ia tertawa bersama Kalista lalu buru-buru melihat langit ketika ketahuan.

Setiap kali terjadi, Airel bereaksi sama. Ia jadi terlalu sadar pada gerak tubuh sendiri. Ia membenarkan rambut yang sebenarnya sudah rapi, merapikan lengan baju, atau membuka ponsel tanpa tujuan.

Kalista sampai geleng-geleng kepala.

“Kalian ini lucu banget.”

“Apa lucunya?”

“Dia lihat kamu terus, kamu pura-pura enggak tahu, terus pas tahu malah panik.”

“Aku enggak panik.”

“Barusan kamu minum sedotan kosong.”

Airel langsung menaruh gelasnya, sementara Kalista tertawa puas.

Sore itu, saat matahari mulai turun dan taman belakang kampus lebih sepi, Airel duduk di bangku kayu sambil membaca catatan. Angin bertiup pelan membawa bau rumput yang baru dipotong. Beberapa menit kemudian seseorang datang dan duduk di sebelahnya.

Zev.

Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat bahu mereka hampir bersentuhan bila salah satu bergerak sedikit.

Mereka diam cukup lama. Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung. Airel menutup bukunya lalu menoleh.

Dan benar saja.

Zev sedang melihatnya lagi.

Kali ini ia tidak sempat mengalihkan pandangan. Mata mereka bertemu dalam hening yang terasa lebih lama dari seharusnya.

“Apa?” tanya Airel pelan.

Zev berkedip, lalu bertanya balik, “Kenapa?”

“Kamu lihat aku lagi.”

Ia menunggu bantahan seperti biasa. Namun Zev hanya menatapnya beberapa detik sebelum menjawab rendah dan tenang.

“Iya.”

Satu kata itu membuat seluruh keberanian Airel buyar. Karena ternyata yang paling membuat jantung berdebar bukan saat ia menyangkal, melainkan saat ia akhirnya mengakuinya.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!