Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Sementara Ronald, sebagai pebisnis yang harus pulang pergi ke berbagai kota bahkan negara. Kemungkinan Fania merasa kesepian bukan? Lalu mencari pelampiasan di luar sana. Entahlah, Ronald tak bisa berpikir jernih untuk kali ini, tapi begitulah yang ada dalam pikirannya saat ini.
“Ronald, bukankah kamu bilang tak akan marah kalau aku jujur?” Fania dibuat tersulut emosi, karena tuduhan Ronald kepadanya itu.
Sementara Ronald pun juga semakin terbawa emosi. Dia membanting gelas yang ada di depannya, saking geramnya.
TARR
Fania pun terkejut atas perbuatan suaminya.
“Kenapa? Kamu tak menjawab kalau ada orang yang kamu cintai? Apa itu berarti benar, ada yang kamu cintai, ha?” sarkas Ronald dengan menggebu-gebu.
Fania menangis, Ia merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka. Baru kali ini, Ia melihat sisi lain dari Ronald yang marah. Ia tak pernah tahu jika kemarahan sang suami bisa sampai separah ini.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Ia juga merasa sedih karena Ronald menuduhnya dirinya. Padahal Ronald telah lama mengenal dirinya. Dari sejak mereka kenal sampai menikah terhitung sepuluh tahun.
“Ronald, aku minta maaf atas semua ini, tapi aku jujur benar-benar tak ada orang lain diantara kita. Aku bersumpah.” Tegas Fania yang tak mau membiarkan tuduhan Ronald membuatnya merasa bersalah, karena memang faktanya tidak seperti itu.
Ronald mengangkat pandangannya pada Fania, Ia dekati wanita yang sudah melukainya itu. Saat sudah di depan Fania, tangan kanannya terulur untuk mencengkeram kedua pipi Fania. Tidak kencang ataupun kasar, bahkan Fania tak merasa sakit di sana. Namun, itu masih membuat Fania ketakutan. Ronald terlihat seperti orang yang berbeda.
Ronald mendekatkan wajahnya ke telinga Fania, masih dengan tangannya yang mencengkeram pipi Fania. Justru kali ini semakin menekan cengkeraman itu, yang membuat Fania merasa tak nyaman meskipun tak sakit.
“Siapa pria itu?” tanya Ronald dengan nafas beratnya, terdengar dingin dan mencekam untuk Fania dengarkan.
Tes
Fania mengeluarkan air matanya yang tak lagi dapat ia bendung. Ronald membuatnya takut, benar-benar mengerikan kali ini. Ia takut Ronald yang seperti ini. “Lepasin, Nald.” Pinta Fania dengan lirih.
“Bilang, siapa pria itu.” Titah Ronald mengulang kembali kalimatnya.
Fania menggeleng, tak ada. Memang tak ada pria lain selain Ronald dalam hidupnya, bagaimana Ia akan menjawab jika Ronald tak mau untuk percaya seperti ini.
“Tak ada, hanya kamu.” Lirih Fania terisak pelan.
Ronald terdiam, masih tak bisa percaya pada perkataan Fania. Bagimana bisa Fania tak lagi mencintainya kalau memang taka da orang lain. Tapi melihat bagaimana Fania menangis saat ini, ia menjadi tak tega. Dirinya terlalu mencinta Fania.
Akhirnya Ronald melepaskan cengkeraman tangannya dari Fania, tak mau melihat ke arah Fania yang tentu sembab. Ronald langsung pergi meninggalkan tempat mereka merayakan anniversary pernikahan mereka itu.
Tertinggal Fania yang masih terisak, tak menyangka Ronald bisa sekasar itu pada dirinya.
“Hiks kamu jahat, kamu tega.” Isak Fania yang masih meratapi Ronald yang kasar.
“Tak ada, Nald. Aku hanya mencintai kamu selama ini, tak ada pria lain. Tapi kali ini benar-benar aku kehilangan perasaan itu. Jangan benci aku, aku mohon.” Gumam Fania dengan lirih, yang pastinya tak ada yang mendengar. Karena Ronald sudah pergi sejak tadi.
Fania melangkah pelan untuk turun ke bawah, meninggalkan rooftop tempat perayaan anniversary mereka.
Fania melangkahkan kakinya ke kamarnya dan Ronald, namun tak mendapati suaminya berada di sana. Membuat Fania bertanya-tanya kemana perginya suaminya, karena selama mereka menikah, Ronald tak pernah pergi dengan sengaja meninggalkan rumah. Namun kali ini, suaminya pergi, apa sikapnya memang sudah begitu keterlaluan? Namun ia juga tak bisa menampik dan memaksa rasanya yang telah pudar.
Namun, mengapa rasanya ada sisi hatinya yang terasa hampa saat Ronald tak ada si sampingnya, dan entah kemana perginya ia tak tahu kemana. Ada sebersit penyesalan dalam hatinya, setelah ia jujur tentang perasaannya yang hilang untuk suaminya.
Fania kembali meneteskan air matanya, ia jarang bertengkar dengan Ronald karena pria itu akan selalu membujuknya saat sedih ataupun saat mereka sedang mempermasalahkan sesuatu. Namun detik ini, karena kejujurannya ia kehilangan bujuk rayu itu, ia menciptakan pertengkaran mereka, dan kini tak akan ada lagi yang menenangkan dirinya.
Dengan linangan air mata yang tampak membasahi pipinya, Fania memaksakan untuk memejamkan matanya. Besok ia akan melihat Ronald kembali, jadi tak perlu dirisaukan keberadaan pria itu. Mungkin suaminya hanya sedang menenangkan diri, sama seperti dirinya yang membutuhkan ketenangan pula.
Malam semakin larut, terdengar derap langkah kaki semakin mendekat ke arah Fania. Fania yang sudah terlelap tentu tak menyadari hal itu. Sementara Ronald yang memang sudah kembali dari luar, semakin mendekat ke sisi ranjang tempat Fania terlelap.
Dengan tatapan sendu, Ronald mengusap lembut pipi Fania dengan hangat. Wanita yang beberapa jam lalu telah melukai perasaannya dengan kata-kata dan kejujurannya, ia tak bisa berbalik menyakitinya. Ia terlalu mencintai Fania, melebihi rasa cintanya pada dirinya sendiri.
“Sayang, kenapa? Apa yang kurang hingga kamu kehilangan perasaan itu?” lirih Ronald dengan dada sesak.
Bertahun-tahun mereka menjalani kehidupan bersama, hingga kejujuran Fania bagai kejutan paling buruk yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Rasanya mustahil, namun Fania terlihat tak berbohong sama sekali. Rasanya ia ingin memaksa Fania untuk mencintai lagi, namun kebahagiaan istrinya selalu menjadi prioritas utamanya selama ini.
Ronald ikut berbaring di sisi sebelah Fania. Kini ia sudah lebih tenang dibandingkan saat bertengkar dengan Fania. Setelah pertengkaran mereka, Ronald merasa marah, kecewa, dan terluka. Hingga ia perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri. Hingga memutuskan untuk keluar, mencari tempat yang bisa menenangkan dirinya.
Dan terbukti, kini ia semakin lebih tenang dan bisa memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Apapun kesalahan Fania, ia tetap mencintai wanita itu. Sekalipun Fania menyakitinya dengan begitu dalam, namun tak bisa memudarkan perasaan cintanya pada istrinya itu. Ia terlalu mencintai istrinya.
Ronald melingkarkan tangannya di perut Fania, ia ingin memeluk wanitanya. Karena mungkin besok Fania tak akan mau lagi ia peluk dan entahlah. Sebelum memejamkan mata, ia kecup dengan lama kening Fania dengan hangat.
“Good night, sayang.” Lirihnya.
Sepasang suami istri itu tampak terlelap dengan saling memeluk satu sama lain, rupanya Fania juga membalas pelukan yang Ronald berikan entah sadar atau tidak.
***
Pagi hari yang cerah menyambut sepasang mata lentik yang mulai terbuka perlahan menyesuaikan Cahaya yang masuk ke kornea matanya. Fania terbangun masih dalam pelukan suaminya, membuat Fania mengernyit namun tersenyum kemudian.
Seperti pemikirannya semalam, Ronald akan kembali ke rumah dan ia akan bertemu Ronald.
"Carilah bahagiamu, anggap kita hanyalah dua orang asing sesuai keinginanmu."
NEXT .......