NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinggal di apartemen

Cantika berdiri mematung di ambang pintu kamarnya Matanya membelalak menatap ruangan yang luasnya mungkin sepuluh kali lipat dari rumahnya di desa. Lantai marmer yang mengkilat hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri yang kuyu, lampu gantung kristal yang berkilauan, serta dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan hutan beton Jakarta dari ketinggian.

“Masuk! Jangan cuma berdiri di situ seperti patung selamat datang,” perintah Arka ketus. Ia melempar kunci mobilnya ke atas meja konsol kayu jati yang mahal.

Cantika melangkah ragu. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit karet yang sudah tipis terasa sangat tidak pantas menginjak lantai semewah itu. “Tuan … ini kamar untuk saya?”

"Iya ,kalau kamu nggak mau, kamu bisa tidur di emperan toko ,” jawab Arka singkat. Ia melonggarkan dasinya, lalu melemparkan jasnya ke sofa kulit berwarna abu-abu gelap. “Dan mulai sekarang, ini tempatmu,jangan pernah keluar tanpa seizinku.”

### Rahasia di Balik Pintu Mewah

Arka menuangkan air es ke dalam gelas kristal, meneguknya hingga tandas. Pikirannya sedang berpacu lebih cepat daripada mobil sport miliknya. Ia tahu, membawa Cantika ke apartemen adalah keputusan paling logis sekaligus paling berbahaya.

("Kalau Ibu sampai tahu, habis aku. Kalau Elang Viona tahu … dunia bisa kiamat")batin Arka gelisah.

Viona. Nama itu seperti duri yang mendadak menusuk ulu hati Arka. Viona adalah putri dari rekan bisnis ayahnya. Hubungan mereka bukan berlandas cinta, melainkan investasi bisnis. Pernikahan mereka sudah direncanakan tiga bulan lagi. Dan sekarang? Arka baru saja mengucapkan ijab kabul dengan seorang gadis penjual keripik di sebuah balai desa yang pengap.

“Tuan Arka?” panggil Cantika pelan, memecah lamunan Arka.

“Apa lagi?”

“Saya … saya harus tidur di mana? Dan apa yang harus saya lakukan di sini? Apa saya harus mencuci baju Tuan atau menyapu lantai yang luas ini?” tanya Cantika polos. Tangannya masih erat mendekap tas kain lusuhnya, seolah itu adalah satu-satunya pelindung dirinya.

Arka menatap Cantika datar. “Kamu tidak perlu jadi pembantu di sini. Sudah ada layanan cleaning service yang datang setiap pagi. Kamu … kamu tinggal tidur saja di kamar tamu itu,Jangan berharap kita tidur diranjang yang sama ,” Arka tersenyum mengejek . “Dan satu hal lagi. Jangan pernah keluar dari unit ini tanpa izin saya. Jangan pernah buka pintu untuk siapa pun. Paham?”

Cantika mengangguk cepat. “Paham, Tuan.”

“Bagus. Sekarang bersihkan dirimu. Bau singkongmu itu mulai memenuhi ruangan ini,” ujar Arka kejam, meski sebenarnya ia hanya ingin menutupi rasa canggungnya.

Cantika menunduk, wajahnya memerah karena malu. Ia segera masuk kamar yang ditunjuk Arka. Begitu pintu tertutup, Arka langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, menutupi matanya dengan lengan.

“Gila. Aku benar-benar sudah gila,” gumamnya pada langit-langit ruangan.

### Dilema Sang CEO

Malam harinya, Arka duduk di ruang kerja pribadinya, menatap layar laptop yang menampilkan grafik saham perusahaannya yang stabil. Namun, fokusnya buyar setiap kali ia mendengar suara langkah kaki kecil atau bunyi denting piring dari arah dapur.

Ia keluar dari ruang kerja dan mendapati Cantika sedang berdiri di depan kulkas dua pintu yang besar, tampak bingung dengan deretan tombol digital di sana.

“Kenapa? Lapar?” tanya Arka mengejutkan Cantika.

“Eh … iya, Tuan. Tapi saya tidak tahu cara pakai kompornya. Bentuknya tidak seperti kompor di rumah. Tidak ada apinya,” sahut Cantika malu-malu.

Arka menghela napas, berjalan mendekat. “Itu kompor induksi. Pakai sensor sentuh. Dan tidak perlu masak, saya sudah pesan makanan lewat aplikasi.”

Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi. Arka menegang. Ia segera melihat ke arah monitor interkom. Beruntung, itu hanya kurir makanan. Ia mengambil kantong plastik berisi sushi dan steak, lalu meletakkannya di meja makan.

Mereka makan dalam keheningan yang menyiksa. Cantika tampak kesulitan menggunakan garpu dan pisau untuk memotong daging steak yang tebal. Ia terlihat sangat tertekan, berkali-kali melirik Arka dengan tatapan takut salah.

“Makan saja pakai tangan kalau tidak bisa pakai itu,” ujar Arka dingin tanpa menoleh.

“Maaf, Tuan …” Cantika meletakkan garpunya. “Tuan… boleh saya bertanya sesuatu?”

“Apa?”

“Kapan … kapan pernikahan ini selesai? Maksud saya, kapan saya bisa pulang ke desa?”

Pertanyaan itu membuat Arka berhenti mengunyah. Ia menatap Cantika tajam.

“Kamu pikir ini semudah membalik telapak tangan? Kita baru sampai kemarin sore! Kalau kamu pulang sekarang, warga akan mengira saya menceraikanmu, dan video itu akan tersebar. Saya butuh waktu untuk mengurus pembatalan pernikahan secara hukum tanpa menarik perhatian media.”

“Tapi … tapi saya rindu Ibu. Saya rindu adik-adik,” suara Cantika mulai bergetar. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

“Berhenti menangis! keluarga kamu sudah saya urus. Apa lagi yang kurang?” bentak Arka, emosinya yang tertahan sejak pagi akhirnya meledak.

Cantika tersentak, bahunya gemetar. Ia segera berdiri dan menunduk dalam. “Maafkan saya, Tuan. Saya salah. Saya tidak akan bertanya lagi.”

Ia berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan Arka yang kini merasa seperti monster paling jahat di dunia. Arka membanting sendoknya ke meja. Seleranya hilang seketika.

### Tamu yang Tidak Diundang

Baru saja Arka ingin menyusul ke kamar tamu untuk meminta maaf (atau sekadar memastikan Cantika tidak melakukan hal bodoh), ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya nyaris melompat keluar dari rongga dada.

“Elang Viona is calling …”

Arka menelan ludah. Ia melirik ke arah pintu kamar Cantika, lalu mengangkat telepon itu dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.

“Halo, Sayang?”

“Arka! Kamu di mana sih? Dari kemarin sore aku telepon kok susah banget dihubungi?” suara melengking Elang Viona terdengar manja sekaligus menuntut.

“Aku… aku tadi ada meeting mendadak di luar kota, Viona. Sinyalnya jelek. Ini baru sampai apartemen,” bohong Arka lancar.

“Oh, syukur deh. Eh, by the way, aku lagi di depan gedung apartemen kamu nih. Aku bawa cheesecake kesukaan kamu. Bukain pintu bawah ya, aku naik sekarang!”

Deg!

Darah Arka serasa berhenti mengalir. “Apa? Viona, tunggu! Aku … aku lagi berantakan banget. Capek. Besok saja ya?”

“Ih, kok gitu sih? Aku cuma sebentar kok, kangen tahu! Udah ya, aku udah di lift. Bye!”

Klik. Telepon diputus sepihak.

Arka panik. Ia berlari menuju kamar tamu dan menggedor pintunya dengan keras. “Cantika! Buka pintunya! Cepat!”

Cantika membuka pintu dengan wajah bingung dan mata sembab. “Ada apa, Tuan?”

“Masuk ke dalam kamar mandi! Jangan keluar, jangan bersuara, jangan batuk, jangan apa pun sampai saya bilang aman! Cepat!” Arka mendorong Cantika masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu itu.

“Tapi Tuan ... ”

“Lakukan saja kalau kamu tidak mau kita berdua mati malam ini!” Arka menutup pintu kamar mandi, lalu membereskan tas kain Cantika yang tergeletak di atas tempat tidur, menyembunyikannya di bawah kolong. Ia merapikan sprei, mematikan lampu kamar tamu, dan menutup pintunya rapat-rapat.

Tepat saat itu, bel pintu apartemen berbunyi

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!