Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 | Medali emas
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Di ruangan kantor pribadi Stella yang mewah namun tertutup rapat, suasana terasa hening dan dingin. Siska berdiri di hadapan Stella dengan sikap tubuh yang tegap namun kaku, layaknya seorang prajurit di hadapan komandannya. Di atas meja kerja Stella, terdapat sebuah perangkat tablet yang menampilkan data lengkap hasil unduhan dari server sekolah yang baru saja dilakukan oleh Siska.
"Bagus sekali... Kamu bekerja dengan sangat efisien," ujar Stella pelan sambil meneliti data-data tersebut. Bibirnya terukir senyum puas yang tipis namun mengerikan. Ia mendapatkan informasi mendetail mengenai jadwal, kebiasaan, hingga data kesehatan Iris yang selama ini sulit ia dapatkan.
"Terima kasih, My Queen," jawab Siska datar tanpa ekspresi.
Stella mengangkat wajahnya menatap Siska dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan. "Dengan data ini, kita bisa melihat pola gerakannya. Tapi, data di atas kertas saja tidak cukup untuk membuktikan kecurigaanku. Aku ingin tahu apakah gadis ini benar-benar orang biasa atau memiliki 'sesuatu' yang sama sepertimu dan aku."
Stella berhenti sejenak, lalu memberikan perintah baru dengan nada tegas.
"Uji dia. Ciptakan situasi berbahaya yang memaksa dia untuk bertindak. Aku ingin melihat apakah dia memiliki kemampuan luar biasa atau Nano Machine di dalam tubuhnya. Jika dia benar-benar istimewa, dia pasti akan menunjukkannya saat nyawanya terancam. Laksanakan ujian ini saat perlombaan nanti."
"Siap. Perintah diterima. Akan dilaksanakan," jawab Siska singkat, lalu undur diri.
................
Hari pelaksanaan Olimpiade Matematika pun tiba. Suasana di lokasi kompetisi terasa sangat meriah namun tegang. Ribuan peserta dari berbagai sekolah bersaing memperebutkan gelar juara. Namun, berkat kecerdasan luar biasa yang dimiliki Iris dan Siska, baik itu dari hasil belajar keras maupun bantuan sistem dalam tubuhnya, mereka berdua mampu menyelesaikan serangkaian soal yang sangat rumit dan sulit dengan sangat cepat dan tepat.
Akhirnya, pengumuman hasil pun dibacakan. Iris dan Siska berhasil menyabet gelar Juara Pertama dan membawa pulang Medali Emas untuk sekolah mereka. Kabar ini sontak membuat bangga seluruh warga sekolah.
Perjalanan pulang dilakukan menggunakan bus sekolah yang telah disewa khusus. Di dalam bus, suasana terasa sangat ceria dan penuh kegembiraan. Para siswa dan guru saling bersorak memberi selamat.
"Wah, hebat sekali kalian berdua! Sungguh membanggakan bisa membawa pulang emas," ujar Pak Indra, wali kelas mereka, dengan wajah berseri-seri sambil menepuk-nepuk bahu Iris dan Siska.
"Iya nih, Pak. Itu semua berkat kerja sama tim yang baik," jawab Iris tersenyum ramah.
Di sebelahnya, Bayu yang ikut rombongan sebagai pendukung resmi sekolah, duduk di samping Iris dengan wajah ceria. "Wah, wah, wah... Hebat sekali sahabatku ini. Sudah cantik, pintar lagi. Nanti kalau jadi orang sukses, jangan lupakan aku ya, Ris," ledek Bayu sambil tertawa.
Iris pun tidak kalah senggol balik. "Dasar mulutmu tidak ada remnya, Yu. Baru dapat emas saja sudah bicara ngawur. Mending kamu belajar yang rajin, jangan cuma bisa nyenggol orang saja," jawab Iris sambil terkekeh.
Melihat keakraban dan kegembiraan di dalam bus itu, Pak Indra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Ah, kalian ini... Sungguh menyenangkan memiliki murid yang jenius dan ceria seperti kalian berdua," ujar Pak Indra sambil melirik Iris dan Siska bergantian.
Namun, berbeda dengan Iris yang tampak riang, Siska yang duduk di kursi terdepan hanya diam mematung dengan wajah datar. Medali emas yang tergantung di lehernya seolah tidak memiliki arti apa-apa baginya. Di dalam hatinya, ia terus memantau situasi dan bersiap untuk melaksanakan perintah dari Stella.
................
Bus berjalan melaju cukup kencang menyusuri jalan raya yang sedikit menanjak dan berkelok. Pengemudi bus tampak berkonsentrasi penuh. Namun, tiba-tiba wajah pengemudi itu berubah menjadi panik.
"Eh? Apa ini? Tuhan tolong kami!" teriak pengemudi bus itu.
Suara decitan ban yang sangat keras terdengar menggelegar, disusul dengan asap putih yang mengepul dari kolong bus. Rem bus sama sekali tidak merespons meski sudah diinjak dalam-dalam.
"REM BLONG! BUS TIDAK BERHENTI!" teriak pengemudi bus itu dengan nada putus asa.
Suasana di dalam bus yang tadinya ceria seketika berubah menjadi mencekam dan kacau. Para siswa berteriak ketakutan, beberapa orang jatuh terguling karena guncangan, sementara Pak Indra berusaha menenangkan situasi namun wajahnya pucat pasi.
Bus yang tidak terkendali itu akhirnya berbelok tajam ke arah tebing curam yang berada di pinggir jalan raya itu. Tubuh bus melayang sejenak di udara sebelum akhirnya terjun bebas menuju jurang yang dalam.
Di tengah kepanikan itu, mata Siska yang duduk di dekat jendela mengerjap dingin. Tanpa terlihat oleh orang banyak, dengan gerakan yang sangat cepat, luwes, dan akurat, Siska memecahkan kaca jendela di sebelahnya, lalu melompat keluar dengan selamat sebelum bus itu benar-benar jatuh ke dasar jurang. Aksinya dilakukan begitu cepat seolah sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.
Di saat yang bersamaan, Iris yang berada di bagian tengah bus juga menyadari bahaya maut yang mengancam nyawanya. Berkat fitur analisis dan refleks yang dimilikinya, ia memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan mudah, sama seperti yang dilakukan oleh Siska.
Namun, saat ia hendak bergerak, matanya menangkap sosok Bayu yang terlempar ke arah kaca depan dengan mata terpejam ketakutan dan tubuh gemetar hebat. Bayu sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya dalam situasi kacau seperti ini.
Melihat sahabatnya yang sedang dalam bahaya maut, niat Iris untuk menyelamatkan dirinya sendiri seketika berubah. Dengan sigap, Iris berlari menerobos kekacauan di dalam bus, meraih tubuh Bayu yang hampir menabrak kaca, lalu dengan sekuat tenaga ia melempar tubuh Bayu keluar dari lubang jendela yang sudah pecah itu agar jatuh di tempat yang lebih aman di semak-semak pinggir jurang.
Baru setelah memastikan Bayu terlontar keluar dengan selamat, Iris mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, waktunya sudah sangat terlambat. Bus sudah terlanjur melayang jauh di udara dan jatuh bebas ke dalam kegelapan jurang yang dalam.
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...