NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGADILAN DI TENGAH MALAM.

"Hans, bawa aku ke basecamp lama sekarang juga!"

Suara Maheer terdengar seperti geraman harimau yang terluka. Ia duduk di kursi belakang dengan tubuh yang gemetar menahan emosi. Di dalam saku jasnya, USB yang berisi bukti kebusukan masa lalu itu seolah membakar kulitnya. Hans, yang melihat rahang tuannya mengeras melalui spion tengah, tidak berani membantah. Ia langsung memutar kemudi dengan kecepatan tinggi menuju sebuah vila mewah di pinggiran kota yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berkumpulnya geng Maheer.

Sebelum sampai, Maheer telah mengirimkan pesan singkat ke grup obrolan lama mereka. Pesan yang sangat singkat namun mampu mengumpulkan semua orang: Kumpul semua di basecamp sekarang. Ada kabar besar dari luar negeri.

Sesampainya di sana, suasana vila sudah ramai. Bayu, Rudi, Tika, dan beberapa teman lainnya tampak sedang menikmati minuman dan musik pelan. Begitu Maheer melangkah masuk, sorak-sorai menyambutnya.

"Wah, sang raja sudah kembali!" seru Bayu sambil berjalan mendekat untuk merangkul bahu Maheer. "Lama tidak terlihat setelah pemakaman kakakmu, Heer. Kami pikir kau sedang sibuk menghitung warisan. Hingga kau lupa kepada kami."

Maheer menepis tangan Bayu dengan kasar, membuat suasana yang tadinya hangat mendadak kaku. Matanya yang merah menatap satu per satu wajah orang-orang di ruangan itu.

"Kenapa kau begitu tegang, Heer? Santai saja, kita semua datang untuk menyambut kedatanganmu dari luar negeri. Lihatlah kami sudah menyiapkan segalanya" timpal Rudi yang duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Ia tampak tidak merasa berdosa sedikit pun atas apa yang terjadi tujuh tahun lalu.

Maheer menarik napas panjang, lalu berjalan menuju televisi besar di tengah ruangan. Ia memasang USB itu dengan tangan gemetar. "Aku ke sini bukan untuk bernostalgia. Aku ke sini untuk mengadili kalian semua."

Layar televisi menyala, menampilkan rekaman CCTV taman belakang sekolah tujuh tahun lalu. Seketika, wajah Bayu berubah pucat pasi. Rudi yang tadinya bersandar santai langsung terduduk tegak dengan mata melotot.

"Apa maksudnya ini, Heer?" tanya Tika dengan suara yang mulai mencicit.

"Diam!" bentak Maheer, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Lihat baik-baik video ini. Lihat bagaimana kau, Bayu, menggiring Assel ke jebakanmu. Dan kau, Rudi, pria pengecut yang dibayar untuk menyentuh wanita yang tidak sudi melihat wajahmu!"

Di layar, adegan Assel menampar Rudi terlihat sangat jelas. Begitu pula rekaman Bayu yang tertawa puas setelah berhasil mengambil foto dari sudut yang menipu. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara napas Maheer yang memburu.

"Ternyata selama tujuh tahun ini, aku berteman dengan sekumpulan ular," desis Maheer. Ia melangkah mendekati Bayu yang kini berkeringat dingin. "Kau tahu, Bayu? Karena fotomu, aku menghina Assel habis-habisan. Karena kebohonganmu, aku meninggalkannya saat dia sedang hancur. Dan karena kalian semua, aku membenci orang yang paling tulus padaku."

Bayu mencoba membela diri. "Heer, dengar dulu. Kami melakukan itu karena kami pikir Assel tidak pantas untukmu. Dia hanya anak miskin yang ingin numpang hidup..."

Bugh!

Satu pukulan mentah mendarat di rahang Bayu hingga ia tersungkur ke lantai. Maheer tidak berhenti di situ. Ia menarik kerah baju Bayu dan mengangkatnya dengan penuh amarah.

"Siapa kau yang berhak menentukan siapa yang pantas untukku? Kau menghancurkan hidup seorang gadis hanya karena rasa iri yang picik!" teriak Maheer.

Bugh!

Satu pukulan lagi menghantam wajah Bayu, hingga hidungnya mengeluarkan darah segar. Bayu memohon-mohon ampun pada Maheer namun, tak dihiraukan olehnya, sebab kemarahannya sudah mencapai ubun-ubunnya.

Rudi mencoba berdiri untuk menengahi, namun Maheer langsung menunjuknya dengan jari gemetar. "Dan kau, Rudi. Kau menerima uang untuk melecehkannya? Kau tahu tidak, Assel meludah ke tanah karena merasa jijik padamu, tapi kalian memutarbalikkan fakta seolah-olah itu untukku!"

Rudi, langsung melangkah mundur, ia mulai gemetar. "Aku minta maaf Heer, aku... Aku hanya di suruh Bayu, aku juga terpaksa, karena aku diancam mereka," ucapnya berusaha menghindari Maheer yang berjalan perlahan mendekatinya.

Maheer tersenyum sinis, "Di ancam? Kau takut diancam mereka? Berarti kau tidak takut denganku?!" teriak Maheer, sambil ia kembali melayangkan tinjunya pada Rudi berkali-kali.

Tika mulai menangis ketakutan di sudut ruangan. "Kami minta maaf, Maheer. Kami... Kami, hanya bercanda saat itu."

"Bercanda?" Maheer tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar mengerikan. "Kalian menyebut kehancuran hidup seseorang sebagai candaan? Di hari aku pergi, orang tuanya meninggal dunia. Dia sendirian di dunia ini karena aku, pelindung yang dia percayai, justru ikut menginjak-injaknya karena percaya pada kalian."

Maheer melepaskan Rudi dan menatap mereka semua dengan pandangan penuh kemuakan. "Kalian adalah alasan mengapa aku merasa sangat kotor sekarang. Kalian membuatku menghina Assel, wanita yang benar-benar tulus padaku. Kalian juga yang membuatku menghina kakakku sendiri yang telah menyelamatkan hidup Assel."

"Maheer, tolong jangan laporkan ini pada polisi," mohon Bayu, dengan wajah lebam yang terlihat ketakutan.

"Polisi?" Maheer tersenyum dingin. "Hukuman itu terlalu ringan untuk kalian. Mulai hari ini, aku pastikan karir dan bisnis keluarga kalian tidak akan pernah berjalan tenang. Aku akan menggunakan seluruh kekuasaan Arasyid Group untuk memastikan kalian merasakan bagaimana rasanya berada di posisi paling bawah, tanpa perlindungan, seperti yang kalian lakukan pada Assel dulu."

Maheer berbalik arah menuju pintu keluar, namun ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Dan untukmu Bayu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku tidak menjamin kau masih bisa berdiri di atas kedua kakimu."

Maheer keluar dari vila itu dengan langkah besar, meninggalkan teman-temannya yang kini meratap dan saling menyalahkan. Hans sudah menunggunya di depan mobil dengan pintu yang sudah terbuka. Begitu masuk ke dalam mobil, Maheer menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Amarahnya memang sudah tumpah, tapi rasa sakit di dadanya justru semakin menjadi-jadi.

"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Hans lembut.

"Aku merasa seperti pengecut, Hans," bisik Maheer dengan mata masih terpejam. "Aku telah menyakiti wanita yang paling murni hanya karena telingaku lebih percaya pada sampah daripada hatiku sendiri."

Mobil melaju membelah kegelapan malam menuju mansion. Pikiran Maheer kini hanya tertuju pada satu nama: Assel. Ia membayangkan bagaimana ia akan bersimpuh di depan wanita itu. Apakah kata maaf masih punya arti setelah tujuh tahun penuh hinaan? Apakah Assel akan sudi melihat pria yang telah menjadi hakim kejam bagi hidupnya?

Sementara itu, di mansion, Assel sedang duduk di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang dengan perasaan yang tidak tenang. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Maheer di luar sana, tapi ia merasakan getaran perubahan yang akan segera datang. Badai penyesalan Maheer mungkin akan segera tiba, namun bagi Assel, luka yang sudah kering terkadang lebih sakit jika dibuka kembali.

1
Radya Arynda
semangaaaat up💪💪💪💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru: selamat berjuang
total 1 replies
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
Nur Halida
kok bisa langsung menikah ya bukannya nunggu masa iddah dulu baru boleh menikah??walau selama masa iddah gak akan di sentuh ..
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah
Nana Biella
semangat untuk semuanya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!