Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Jadi Istri Gus
Dengan wajah semringah, Nandini memutar kunci kontak. Akhirnya rindunya terhadap mesin terbayar, walaupun cuma di level pegang mesin.
Lumayan eh alhamdulillah. Kata Gus Taka harus banyak bersyukur. Nasihat suami mulai masuk.
Santaka menghampiri sang istri. Sepiring nasi goreng seafood ada di genggamannya. "Yang manasin mobil makan dulu, aaa..." Sang gus menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut Nandini.
Nandini memutar bola matanya. "Saya bukan bayi. Ntar saya makan sendiri."
"Yang bilang bayi, siapa? Saya nyuapin kan biar berkah, Mbak. Biar rasa sayang di antara kita tumbuh. Katanya mau belajar nerima status kita." Santaka menyuapkan nasi ke dirinya sendiri.
Nandini memiringkan bibirnya. "Ayo, buka mulutnya. Takut saya kesiangan ke SS." Santaka kembali menawarkan suapan ke bibir Nandini.
Dengan malas-malasan Nandini membuka mulut. Nasi goreng buatan Santaka sungguh nikmat. Nandini mempercepat kunyahannya. Santaka tersenyum simpul.
"Mau ikut saya ke SS? Mau saya kenalin ke anak buah. Ini lho Istrinya Gus Taka. Ndak ada kegiatan kan di Ndalem?" Santaka memasukkan suapan terakhir bagi Nandini.
Nandini terdiam. "Ndak ada sih. Ndak tau juga. Kan suka tiba-tiba ngerjain ini itu. Apalagi Ning Sarah. Ada saja gebrakannya." Nandini memiringkan bibirnya.
Santaka terkekeh. "Kenapa lagi Ning Sarah?"
"Dia bilang saya ndak boleh pake celana. Ih, kan sudah nutup padahal." Mata Nandini memicing.
"Apa alasannya, dia jelasin ndak?" pancing Santaka.
"Katanya menyerupai laki-laki. Terus kata dia celana yang saya pake tipis bahannya. Padahal kan rayon memang adem, ndak tebel."
"Rayon kayak yang Mbak Dini pake sekarang?" Santaka melirik celana yang digunakan sang istri.
"Iya..."
Santaka menelisik. "Iya sih, Mbak. Tipis. Ini dipakenya di kamar saja yo. Di sini banyak abdi ndalem, laki-laki. Ndak baik. Aurat. Mbak ndak apa-apa kan kalau saya bilang seperti itu?"
Nandini merengut. Ternyata suaminya sama saja dengan Sarah.
"Terus pake apa?" Nandini melirik sinis.
"Kalau di kamar, bebas. Ndak pake celana juga ndak apa-apa, selama di depan saya saja." Santaka mengerlingkan mata. Nandini mengepalkan tangan di depan wajahnya. Sang suami terkekeh.
"Yang disediakan Umi banyak kan setau saya? Pakai itu kalau keluar kamar. Nanti kalau kurang, kita beli lagi." Santaka tersenyum pada istrinya.
"Kebanyakan gamis, males..." Nandini memeluk setir di depannya sambil merengut. Santaka jadi iri pada kemudi mobilnya.
"Itu justu sebaik-baiknya pakaian buat perempuan. Tapi pakai baju panjang sama rok juga ndak apa-apa kok. Masih boleh.
Eh, jadi mau ikut ndak ke SS? Kalo iya, ganti baju, saya simpan piring kotor dulu." Santaka bersiap turun dari mobil.
"Mau... Iya bentar." Nandini mematikan mesin mobil. Santaka mengarah ke dapur sementara Nandini ke kamar mereka.
Di tengah jalan, Nandini berpapasan dengan Sarah. Dhuh, si Ning Polisi eh Sarah...
"Mbak, nanti siang kata Umi kita ngaji. Kemaren kan Mbak Dini sudah diberi tahu harus lebih sering ngaji. Makhrojnya masih belum bener."
"Kurang bener, Ning. Itu kata Umi. Beda, belum bener sama kurang bener." Nandini memiringkan bibirnya.
"Yo, podo wae, Mbak. Sama saja."
"Kenapa gitu, Ning? Umi saja sambil senyum ngomongnya. Berarti kan ndak apa-apa saya belum bisa kayak Ning Sarah.
Kalau belum bener, itu salah total. Kalau kurang bener, nyaris bener cuma masih ada kekurangan. Tolong dihargai, Ning." Nandini bersedekap.
Sarah mendengus. "Iya, saya harap Mbak Dini bisa belajar cepet. Mbak Dini itu istri Gus. Jangan buat malu!"
Alis Nandini berkerut. Tangannya mengepal. Rasanya ia ingin menjambak kerudung sang kakak ipar yang berlidah tajam itu.
"Eh, kenapa celana model begini masih dipakai tho, Mbak? Perlu Gus Yasa yang negur? Gus Taka ndak negur sebagai suami?"
Nandini menahan napas. Ingin rasanya mengaruk tanah. "Sudaaaah, Gus Taka sudah mengingatkan. Ini mau ganti. Ning mau ikut? Jangan terpesona ya nanti!"
Sarah melotot mendengar ucapan Nandini, ia menggeleng. "Astagfirullahaladziiim. Jangan bicara seperti itu lagi ya Mbak.
Inget, Mbak itu istri gus." Sarah membalikkan tubuh dan berjalan menjauhi adik iparnya itu.
"Siapa yang mau jadi istri gus?! Kalian yang maksa aku nikah sama adik kalian!" Nandini menonjok dan menendang-nendang udara. Bibirnya merengut. Rahangnya mengetat.
Santaka menghentikan langkahnya. Heran melihat aksi istri dadakannya. "Mbak Dini kenapa? Kok belum ganti baju?"
"Ditilang polisi!" Nandini menghentakkan langkahnya ke dalam kamar.
"Ditilang polisi?" Santaka mengerutkan dahinya.
*
*
Nandini mencebikkan bibir ketika Santaka membukakan pintu toko kue dan mempersilakan istrinya itu masuk terlebih dahulu. Si Gus ini paling bisa pamer kemesraan. Heran!
"Assalamu'alaikum. Ayo kumpul dulu, kita berdoa sebelum mulai kerja. Sudah pada dhuha semua tho?" Santaka dan anak buahnya kerap melakukan briefing pagi dan berdoa bersama sebelum mulai bekerja.
Nandini memandang suami terpaksanya itu. Kok ganteng ya mode bos? Hadeuh, kenapa mataku jadi gini...
Gampang banget terpesona sama si Gus Roti. Jangan-jangan ada jampi-jampi pas dia nyuapin...
Selesai mengarahkan untuk kegiatan hari ini, Santaka merangkul pundak Nandini. Anak-anak buah yang perempuan langsung tersipu. Yang dirangkul malah tak tersipu.
"Nah, kenalin ini ibu bos kalian, Mbak Dini. Kalian udah ketemu pas nikahan saya. Cuma kan belum sempet kenalan langsung sama ngobrol.
Monggo sekarang yang mau kenal lebih dekat." Santaka meremas bahu istrinya. Nandini jadi ingin meremas balik jemari yang ia anggap lancang itu.
Si karyawan manis yang sempat melayani Nandini saat menghampiri Santaka sebelum menikah, berseloroh. "Mbak Dini ini legend lho.
Banyak yang ngomongin. Hebat, perempuan dari kalangan umum bisa bikin Gus Taka jatuh cinta dan ndak memilih Ning."
Nandini tersenyum kaku. Santaka meringis. "Takdir Allah, Mbak Nia," ujar Santaka.
"Iya Gus. Simbok saya nanya di rumah, Mbak Dini kalau beli kue, beli apa saja. Terus minta saya cerita gimana bisa Gus Taka jatuh cinta dan akhirnya nikah sama Mbak Dini.
Saya bingung jawabnya. Soalnya saya juga ndak nyadar kapan Mbak Dini belanja ke sini." Seorang karyawan Santaka bercerita sambil tertawa-tawa.
Senyum Nandini makin kaku. Santaka menghela napas. Beginilah nasib jika berbohong. Tak apa, berbohong untuk menutupi aib.
"Ya sudah, kita lanjut nanti. Sekarang kita buka toko dulu," pungkas Santaka sebelum anak buahnya semakin kreatif berceloteh.
SS mulai ramai dikunjungi pembeli. Ada beberapa yang meminta foto bersama. Nandini bak artis dadakan. Menjadi idola baru warga Solo.
"Mbak Dini, Gus Taka, boleh foto, ndak?" Seorang ibu setengah tua mengerjap-ngerjapkan mata. Entah kelilipan atau bahagia bertemu pasangan salih dan salihot, eh, salihah itu.
"Bayar, Bu." Nandini mengunyah bomboloni kreasi SS. Butuh gula demi bertahan waras.
Mata sang ibu mendadak membelalak. "Hah? Bayar?"
Santaka sudah bersiap klarifikasi. "Boleh deh Mbak, berapa?" Si ibu mengeluarkan dompet. Semua karyawan melongo.
"Hhmm... Lima rat..." Santaka langsung membekap mulut istrinya. "Becanda Bu, istri saya. Mari-mari kita foto."
Nandini mendelik. Baru saja mau merasakan keuntungan menikah mendadak, malah dijegal.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj