Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
Perasaan sering datang diam-diam dan memilih jalan yang nyaris tidak terdengar. Ia tidak selalu muncul lewat pengakuan besar, bunga, atau momen yang membuat dunia seolah berhenti berputar. Kadang ia menyelinap lewat rasa kesal yang datang tiba-tiba, lewat sikap jutek tanpa sebab jelas, lalu baru disadari ketika semuanya telanjur mengganggu pikiran.
Pagi itu kampus jauh lebih ramai dari biasanya karena seminar antar fakultas yang diwajibkan untuk beberapa kelas. Lobi gedung utama dipenuhi mahasiswa dengan map di tangan, panitia sibuk memeriksa daftar hadir, dan spanduk besar tergantung di dekat pintu aula. Suara langkah kaki bercampur dengan bunyi mikrofon yang sedang diuji, menciptakan keributan yang membuat kepala cepat lelah.
Airel Virellia datang bersama Kalista sambil membawa map tugas dan kopi dingin ukuran sedang. Ia mengenakan kemeja biru muda sederhana dengan celana bahan hitam, rapi seperti biasa, meski wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak bersemangat datang. Seminar bukan hal yang ia minati, tetapi absensi dosen membuat semua pilihan menjadi tidak penting.
“Kalau bukan karena tanda tangan hadir, aku masih tidur sekarang,” keluh Kalista sambil menguap lebar.
“Kamu tiap kuliah pagi juga tidur,” jawab Airel tanpa menoleh.
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
“Itu tidur ilmiah. Ada niat menuntut ilmu di dalam mimpi.”
Airel tertawa kecil sambil menggeleng. “Kamu harusnya daftar jadi pembicara seminar.”
“Aku bisa bahas topik bertahan hidup di kelas delapan pagi.”
Mereka baru beberapa langkah masuk ke lobi ketika langkah Airel melambat dengan sendirinya. Matanya menangkap sosok yang terlalu mudah dikenali di tengah keramaian.
Zevarion Hale berdiri di dekat meja registrasi bersama seorang perempuan.
Perempuan itu tinggi dan berpenampilan rapi. Rambut panjang lurusnya jatuh sampai punggung, blazer krem membungkus tubuh rampingnya, dan sepatu hak rendah membuat posturnya semakin tegak. Ia berbicara sambil tersenyum ringan, sesekali mengangkat tangan saat menjelaskan sesuatu.
Zev berdiri di depannya sambil mendengarkan. Wajahnya tenang seperti biasa, tangan satu masuk ke saku celana, kepala sedikit menunduk agar mendengar lebih jelas.
Pemandangan yang sangat wajar.
Sangat biasa.
Namun entah kenapa, suasana hati Airel langsung berubah.
Kalista mengikuti arah pandangnya lalu berdeham pelan. “Oh.”
“Apa?”
“Itu Zev.”
“Aku tahu.”
“Dan cewek cantik.”
Airel menyesap kopinya terlalu cepat sampai hampir tersedak. “Terus kenapa?”
Kalista menoleh lambat. “Kamu nanya aku?”
“Aku enggak nanya.”
“Barusan jelas nanya.”
Airel memalingkan wajah dan berjalan lebih dulu menuju aula. Langkahnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya, seolah lorong itu mendadak terlalu ramai untuk ditinggali lebih lama. Kalista menyusul sambil menahan senyum yang makin mencurigakan.
Di dalam aula, kursi sudah terisi setengah. Lampu ruangan dibuat redup karena layar proyektor di depan menampilkan logo acara. Airel memilih duduk di baris tengah dan meletakkan map di pangkuannya.
Kalista duduk di sebelah sambil membuka botol minum. “Kamu cemburu, ya?”
“Enggak.”
“Cepat banget jawabnya.”
“Aku cuma males.”
“Nama penyakitnya Zevarionitis.”
Airel menyikut lengan sahabatnya pelan. “Diam.”
Acara dimulai beberapa menit kemudian. Moderator membuka seminar, pembicara pertama naik ke panggung, lalu presentasi berjalan dengan kalimat-kalimat formal yang terdengar panjang dan membosankan. Mahasiswa mulai sibuk sendiri. Ada yang mencatat, ada yang memotret layar, ada yang diam-diam bermain ponsel.
Airel mencoba fokus, tetapi pikirannya berulang kali kembali pada pemandangan di lobi.
Cara perempuan tadi berdiri dekat Zev.
Cara Zev mendengarkan.
Cara keduanya terlihat akrab.
Ia mengerutkan kening sendiri. Hal itu seharusnya tidak penting. Zev bukan siapa-siapa yang berhak membuatnya terganggu hanya karena bicara dengan orang lain.
Lalu kenapa ia tetap memikirkannya?
Saat sesi pertama selesai, mahasiswa berhamburan keluar untuk ke toilet atau membeli minum. Airel ikut berdiri dan berkata singkat pada Kalista bahwa ia ingin mencari udara segar.
Koridor samping aula lebih sepi dibanding lobi depan. Jendela panjang menghadap taman kampus, membiarkan cahaya siang masuk bersama hembusan angin tipis. Airel berjalan sambil menatap lantai, berharap pikirannya bisa lebih tenang.
Namun beberapa langkah kemudian, ia melihat Zev lagi.
Masih bersama perempuan yang sama.
Kini mereka berdiri dekat jendela. Perempuan itu tertawa kecil sambil mengatakan sesuatu, lalu menyentuh lengan Zev sebentar seperti kebiasaan orang dekat. Zev tidak menjauh.
Airel langsung berbalik arah.
“Airel.”
Suara itu terdengar dari belakang.
Ia pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.
“Airel.”
Kali ini lebih dekat.
Langkahnya berhenti sebelum sempat ia kendalikan. Ia menoleh dengan wajah datar yang dibuat-buat.
“Apa?”
Zev berdiri di hadapannya, napas tetap tenang seperti orang yang tidak perlu berlari untuk mengejar. Matanya menatap lurus ke wajah Airel seolah ingin membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kamu lihat aku terus pergi.”
“Aku mau ke kantin.”
“Lewat tangga darurat?”
Airel terdiam sesaat. Ia memang tadi berbelok ke arah tangga yang bahkan bukan jalur ke kantin.
“Biar sepi,” jawabnya akhirnya.
Zev menatap beberapa detik lebih lama. “Kamu marah?”
“Enggak.”
“Kesal?”
“Enggak.”
“Boong.”
Airel menahan napas lalu membalas lebih tajam dari niat awalnya. “Kamu ngapain nyusul aku? Temenin teman kamu sana.”
Zev mengernyit kecil. “Siapa?”
“Yang tadi.”
“Oh.”
Hanya satu suku kata. Namun sudut bibirnya bergerak tipis, cukup untuk membuat Airel semakin kesal.
“Kamu senyum kenapa?”
“Karena akhirnya ngerti.”
“Ngerti apa?”
Zev menyandarkan bahu ke dinding koridor. “Kamu cemburu.”
Airel menatapnya tak percaya. “Aku enggak cemburu.”
“Terus kenapa jutek?”
“Aku memang begini.”
“Enggak.” Zev menggeleng pelan. “Kalau sama aku biasanya kamu lebih cerewet.”
Airel hampir kehabisan balasan. Ia memalingkan wajah ke poster seminar di dinding yang bahkan tidak ia baca satu kata pun.
Zev maju satu langkah, jarak mereka kini cukup dekat untuk membuat Airel sadar pada aroma sabun dan udara dingin yang menempel di bajunya.
“Itu kakak sepupuku.”
Airel spontan menoleh. “Apa?”
“Yang tadi.”
Ia menatap wajah Zev, mencari tanda bahwa pria itu sedang mengerjainya. Namun ekspresi Zev terlalu tenang untuk dianggap bercanda.
“Dia alumni sini,” lanjut Zev. “Panitia minta dia bantu sesi networking.”
Rasa malu datang begitu cepat sampai Airel ingin menghilang dari koridor itu.
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Mau jawab apa lagi?”
Zev memandangnya dengan jelas menahan geli. “Jadi sekarang udah enggak marah?”
“Aku dari tadi enggak marah.”
“Kamu lucu kalau bohong.”
Airel mendecak dan berjalan lebih dulu. Namun beberapa detik kemudian, langkah lain terdengar menyusul di sampingnya.
“Kamu ke kantin?” tanya Zev.
“Iya.”
“Aku ikut.”
“Kakak sepupu kamu?”
“Dia sibuk.”
“Aku juga sibuk.”
“Bohong lagi.”
Airel menahan senyum yang hampir lolos. Menyebalkan sekali karena pria ini selalu bisa membuat suasana hatinya berubah terlalu cepat.
Kantin setengah penuh saat mereka tiba. Beberapa mahasiswa masih memakai name tag seminar dan membahas materi yang baru selesai. Zev pergi ke stan minuman tanpa bertanya apa-apa, lalu kembali membawa dua gelas dingin.
Ia meletakkan satu di depan Airel.
“Aku enggak minta.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Kamu pasti minum juga.”
Airel menatap gelas itu sebentar, lalu tetap mengambilnya. “Sok tahu.”
“Aku observasi.”
“Kata paling palsu yang sering kamu pakai.”
Mereka duduk berhadapan sambil melihat orang lalu-lalang. Kekesalan yang sejak pagi mengganjal dada Airel mulai mencair sedikit demi sedikit. Ia sadar betapa bodohnya bereaksi sejauh itu hanya karena melihat Zev bersama perempuan lain.
Namun kesadaran itu justru membuka hal yang lebih merepotkan.
Ia terganggu karena peduli.
Zev menatapnya dari seberang meja. “Kamu sadar enggak?”
“Sadar apa?”
“Kamu beda hari ini.”
Airel mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Kamu peduli.”
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mencoba terdengar santai saat menjawab. “Aku peduli banyak hal.”
“Enggak.” Zev menggeleng pelan. “Yang ini beda.”
Airel menggenggam gelas lebih erat. Jemarinya terasa dingin karena es, sementara pipinya justru mulai hangat. Ia ingin membantah, tetapi suara di kepalanya berkata bahwa Zev benar.
“Kalau aku peduli, kenapa?” tanyanya pelan.
Zev tidak langsung menjawab. Ia memandang Airel cukup lama, lalu berkata rendah dengan nada yang lebih jujur dari biasanya.
“Aku senang.”
Udara di sekitar meja kecil itu terasa berubah. Keramaian kantin mendadak terdengar jauh. Airel menunduk pura-pura memperhatikan tutup gelas agar Zev tidak melihat wajahnya yang memerah.
Ia belum siap memberi nama pada semuanya.
Belum siap mengakui bahwa rasa kesal tadi sebenarnya cermin dari sesuatu yang tumbuh diam-diam.
Namun ia tahu satu hal. Zev bukan lagi sekadar kebiasaan manis yang sering muncul dalam rutinitasnya. Bukan hanya pria yang datang, mengganggu, lalu membuat hari terasa lebih ringan.
Ia sudah masuk lebih jauh.
Dan bagian paling berbahaya dari semuanya adalah kenyataan bahwa Airel tidak ingin menghentikannya.
“Kamu diem lagi,” kata Zev.
“Aku lagi mikir.”
“Mikir apa?”
Airel mengangkat kepala dan menatapnya beberapa detik. Ada keberanian kecil yang datang entah dari mana.
“Kayaknya aku mulai repot gara-gara kamu.”
Sudut bibir Zev terangkat tipis. “Bagus.”
“Apa bagusnya?”
“Berarti bukan aku doang.”
Kali ini Airel benar-benar tidak bisa menahan senyum.
Dan untuk sisa hari itu, seminar yang membosankan mendadak terasa jauh lebih mudah dijalani.