Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Tara.”
Tara menghela napas dan menatap Devan datar. Devan langsung menghampiri Tara dan memeluknya erat. Sesuai dugaannya, Tara pasti akan pulang. Tara terdiam. Tak membalas pelukan Devan. Hatinya tak merasakan apapun pada Devan lagi. Hambar saja rasanya.
“Aku tahu kamu pasti pulang,” bisik Devan sambil terus memeluk Tara.
Tara melepaskan pelukan. “Aku ingin bicara,” ucapnya datar.
Devan mengernyit. Sikap Tara sudah berubah. Tak hangat, bahkan tersenyum saja tidak. Devan mengangguk dan mengajak Tara masuk.
“Sudah berapa kali pria itu datang kemari?” tanya Tara seraya mengamati ruang tamu dan duduk di sofa.
“Dia nggak pernah kesini lagi,” jawab Devan, duduk di depan Tara.
Tara mengangguk. Menghela napas sekali, Tara melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya di atas meja. Devan terdiam.
“Aku menyerah, Dev. Aku sudah gagal,” ucap Tara tegas menatap Devan.
Devan menatap cincin pernikahan itu dan Tara bergantian. “Apa maksudmu, Ra?”
“Ceraikan aku.” Tak ada keraguan sedikitpun saat Tara mengucap hal ini. Sorot matanya datar dan dingin.
Devan terdiam sesaat. “Nggak akan,” ucapnya singkat.
Tara mengernyit. Sudah menduga kalau ini akan terjadi. Devan tak kan pernah mau melepasnya.
“Kamu sudah melanggar kesepakatan kita. Lagipula, dengan kita berpisah, kamu bisa bebas tidur sama siapa saja termasuk kekasih priamu itu.”
Devan menggeleng. “Aku sudah merobek surat kesepakatan itu. Aku nggak akan menceraikan kamu, Ra. Kamu sudah menjadi istriku. Dan selamanya akan tetap begitu.”
Tara tertawa sinis. “Pecundang. Pengecut. Brengsek. Kamu ingin menahanku lebih lama lagi untuk menutupi skandal menjijikkanmu itu, hah!”
“Bukan karena itu. Tapi karena aku sadar aku mulai mencintaimu, Ra,” ucap Devan lembut.
Tara tercengang. Menatap Devan tak percaya. Devan mencintainya? Sungguhkah?
Devan menatap Tara lekat. “Saat kamu kecelakaan dan pergi, aku kayak mayat hidup tahu nggak. Aku nggak punya semangat hidup. Rumah ini penuh dengan kenanganmu, kenangan kita. Kemanapun aku melihat, selalu ada bayanganmu. Jika saja Haris nggak datang, mungkin aku sudah mati karena aku sama sekali nggak niat untuk makan atau minum apapun. Aku hanya ingin kamu kembali, Ra.”
Tara terdiam. Dia tak tahu apakah Devan sedang berbohong atau tidak. Devan sungguh pintar bersandiwara. Namun ungkapan cinta dari Devan, kenapa tak bereaksi pada hati dan jantungnya? Hatinya tetap hampa. Jantungnya tak berdebar. Padahal ini kali pertama Devan mengatakan bahwa dia mencintainya. Bukankah ini yang dia mau? Devan mencintainya dan berubah demi dirinya. Namun kenapa hati Tara membeku?
Devan berdiri dan pindah duduk di samping Tara. Dia menggenggam tangan Tara dan menatap wajah ayu istrinya. “Maaf, jika ini mungkin terlambat. Tapi aku nggak mau menceraikan kamu, Ra. Aku janji, aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Termasuk nafkah batin itu.”
Tara sontak menoleh dan menatap Devan.
Devan tersenyum lembut. “Aku akan berusaha. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk merubahnya. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya.”
“Kita akan mulai semua ini dari awal. Tapi tolong jangan minta cerai lagi. Aku sadar bahwa kehadiranmu sangat berarti untukku, Ra. Aku nggak ingin ada yang lain. Aku cuma ingin kamu disini. Di sampingku selamanya.”
Tara menggeleng lirih. “Sudah sangat terlambat, Dev. Aku tetap ingin bercerai darimu.”
Devan menatap Tara lirih. Dia bisa tahu bahwa Tara serius. Tara benar-benar ingin pergi darinya. Devan menggeleng kuat.
“Apa kamu nggak mencintaiku lagi, Ra?” tanya Devan.
Tara menggeleng. “Nggak.”
“Apa ada pria lain yang sekarang ada di hatimu? Pria itu yang menolongmu kah?”
Tara tersentak. Devan melihat perubahan wajah Tara dan tersenyum sinis. “Siapa pria itu? Apa yang kalian lakukan selama seminggu terakhir ini sampai membuatmu nggak cinta lagi sama aku? Apa kalian tidur bersama? Kamu balas dendam padaku?”
Tara tercengang lalu ….
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Devan. Tara terengah, menahan amarahnya. “Apa kamu pikir aku ini wanita murahan, Dev? Apa kamu pikir aku semudah itu bersentuhan dengan pria lain di saat kita sedang ada masalah? Cintaku hilang itu karena kamu yang menghilangkannya! Kamu selingkuh dengan pacar priamu itu dan tidur di kamar kita!” Tara berdiri dan melangkah menjauh dari Devan.
“Jangan berkelit, Dev! Kamu yang sudah membuat pernikahan ini hancur! Jangan melimpahkan kesalahanmu padaku! Aku selama ini mencintaimu, tapi apa yang ku dapatkan? Aku dikhianati! Kamu menolak sentuhanku, berhubungan denganku, tapi kamu justru bersentuhan dan berhubungan dengan pria lain! Itu menyakitkanku, Dev! Hatiku sakit! Aku hancur! Semuanya hancur saat itu juga!” Seru Tara menatap Devan hancur dengan mata yang berkaca-kaca.
Devan terdiam dan ikut menatap Tara dengan sorot mata terluka.
“Aku pergi untuk menenangkan diri, bukan untuk selingkuh seperti yang kamu tuduhkan! Aku mencoba berpikir jernih di saat otakku penuh dengan ingatan pengkhianatanmu di kamar kita! Aku jijik melihat tempat ini apalagi kamar atas! Aku nggak akan mau menginjakkan kaki disana lagi! Tempat itu sudah kotor! Aku benci rumah ini! Aku benci sama kamu, Dev!”
Tara masih terus menatap Devan dengan berlinang air mata. Semuanya harus selesai hari ini juga. Dia sudah tak kuat lagi untuk bertahan.
“Aku terpaksa pulang karena aku ingin mengakhiri semua ini dengan baik-baik. Aku menghargai orang tuamu yang begitu baik padaku. Aku ingin kita berpisah baik-baik. Kamu tenang saja. Aku nggak akan membuka aibmu pada siapapun. Aku nggak akan menceritakan semuanya. Tapi tolong ceraikan aku. Tolong lepasin aku dari ikatan penuh kepalsuan ini. Biarkan aku bahagia, Dev.”
Tatapan Tara berubah sendu. Tatapannya memohon agar Devan mau melepasnya. Tapi Devan justru menyeringai.
“Kamu pikir akan mudah lepas dariku, Ra? Bertahun-tahun kita bersama. Banyak sekali momen yang kita lewati berdua. Walaupun saat itu aku belum menyadari perasaanku, tapi aku tahu kalau kamulah duniaku. Dan sekarang, saat aku menyadari cinta itu, kamu justru malah ingin lepas dan minta pisah?”
Devan mendekati Tara. Namun Tara menjauh. “Stop, Dev,” ucapnya menahan Devan yang terus melangkah mendekatinya.
“Kenapa? Aku masih suamimu, Ra. Aku berhak melakukan apapun denganmu. Dan sekarang, aku ingin memberikan hakmu. Kamu meminta nafkah batin kan? Maka aku akan memberikannya sekarang.” Devan terus melangkah perlahan mendekati Tara.
Tara menggeleng dan melangkah mundur menuju pintu keluar. Wajahnya terlihat ketakutan melihat sorot Devan yang begitu lekat dan tajam menatapnya.
“Please, Dev. Stop. Aku nggak menginginkannya lagi,” ucap Tara terus melangkah mundur.
“Kenapa begitu? Apa pria yang sudah menyelamatkanmu itu memberikan sesuatu yang aku nggak bisa kasih ke kamu?” tanya Devan tersenyum menakutkan.
Tara sungguh takut melihat Devan. Sebentar lagi dia akan mencapai pintu. Tanpa berpikir panjang, Tara balik badan dan menarik handle pintu. Namun sayang. Pintu rumah terkunci. Tara mencoba terus membukanya, namun pintu tak kunjung terbuka. Dia balik badan dan tersentak saat Devan sudah berada di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat.
“Kamu nggak akan keluar dari rumah kita, Sayang,” tekan Devan mengungkung Tara. Tara terkesiap. Sungguh dia takut sekarang. Yang di depannya bukan Devan yang dia kenal.
Tara menggeleng lirih. “Please, Dev. Jangan lakuin ini.”
“Belum terlambat untuk melakukan malam pertama kita, Sayang,” ucap Devan pelan sambil terus menatap Tara yang ketakutan.
Tara menggeleng kuat. Air matanya sudah turun membasahi pipi. “Aku nggak mau, Dev. Pernikahan kita sudah berakhir.”
“Kata siapa? Aku belum menceraikanmu. Jadi masih sah untuk kita melakukan ini.”
Devan mendekatkan wajah dan ingin mencium Tara, namun tiba-tiba sekelebat bayangan Alan saat berada di atas tubuhnya membuat Devan melangkah mundur dengan mata terbelalak.
Tara yang memejamkan matanya karena ketakutan saat Devan mendekatkan wajah sontak membuka matanya perlahan. Tara mengernyit saat melihat Devan melangkah mundur dengan mata terbelalak.
Devan meraup wajahnya kasar lalu kembali duduk di sofa sambil memijit pelipisnya. Tara bernapas lega. Setidaknya apa yang dia bayangkan tadi tak terjadi. Tara tak ingin melakukan hal itu karena keterpaksaan. Namun Tara bingung. Apa yang terjadi dengan Devan? Kenapa tiba-tiba dia seperti orang yang baru sadar dari kesalahan?
“Dev,” panggil Tara. Dia khawatir karena melihat Devan yang terdiam seperti orang kebingungan.
Devan menatap Tara. “Maaf, Ra.”
Tara memberanikan diri mendekati Devan dan duduk di seberangnya. “Kamu baik-baik aja?”
Devan menggeleng. “Aku kacau, Ra. Maaf, membuatmu ketakutan seperti tadi.”
Tara semakin bingung. Apa yang membuat Devan jadi berubah drastis seperti ini? Tadi dia begitu menyeramkan saat mendekatinya, namun sekarang dia seperti tak berdaya.
“Ya. Aku takut. Aku takut kamu nglakuin hal yang nggak kita inginkan lalu kita menyesalinya nanti. Dev, maaf. Tapi aku udah nggak ngrasain cinta itu lagi sama kamu. Cinta itu sudah pudar dan akhirnya musnah saat aku lihat kamu di atas ranjang sama pria lain. Aku kesini cuma ingin menyelesaikan semuanya. Kita nggak bisa lagi mempertahankan pernikahan ini karena aku tak menginginkannya lagi.”
Tara menghela napas sesaat lalu melanjutkan. “Keputusan ini aku buat bukan semata-mata ada pihak lain yang mencoba ikut campur, tapi karena memang pernikahan kita sudah retak sejak dulu. Aku bertahan karena selalu berharap kamu akan berubah. Tapi nyatanya kamu sama saja. Kamu justru membawanya ke kamar kita dan bercinta dengannya. Dan lebih menyakitkannya lagi adalah aku melihat kalian dengan mata kepalaku sendiri. Aku tak punya harapan apa-apa lagi untuk tetap sama kamu, Dev. Pernikahan kita sudah berakhir.”
Devan terdiam. Dia paham semua ini terjadi karena kesalahannya. Dia tahu bahwa Tara tetap akan memilih pergi walau dia mulai mencintai istri dan berjanji akan memenuhi semua yang diinginkan sang istri. Namun semua sudah terlambat. Tara sudah mati rasa. Devan menunduk dengan air mata yang sesekali menetes. Meratapi nasibnya yang akan kehilangan Tara.
“Dev, aku ingin kita pisah baik-baik. Aku ingin kita mengajukan perceraian bersama-sama agar keluarga kita nggak bertanya macam-macam. Tentang kelainan orientasi seksualmu, aku nggak akan pernah mengatakannya pada siapapun. Biarlah itu jadi rahasia kita. Tapi jika kamu nggak ingin bercerai, dengan terpaksa aku menggugatmu. Dan aku nggak jamin kalau rahasiamu nggak terbongkar. Jadi, please. Kita akhiri semua ini bersama-sama ya.”
Devan mendongakkan wajah menatap Tara sendu. “Apa kamu membenciku, Ra?”
“Ya. Aku benci kelakuanmu, Dev. Tapi, aku nggak akan terus membencimu. Karena pada dasarnya akulah yang disini terlalu berharap. Mungkin ini sudah jadi takdir kita. Kita nggak bisa jalan bersama dalam ikatan pernikahan. Kita hanya bisa berteman, Dev. Kita sudah saling menyakiti satu sama lain tanpa kita sadari.”
Tara berdiri. “Aku kasih waktu buat kamu berpikir, Dev. Setuju dengan saranku atau aku yang menggugatmu duluan.”
“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Ra? Tak bisakah memberiku kesempatan kedua?”
Tara menggeleng. “Aku sudah memberimu kesempatan berkali-kali selama tiga tahun ini, Dev. Tapi kamu menyia-nyiakannya kan? Sekarang, nggak ada kesempatan lagi.”
Benar. Devan sudah menyia-nyiakannya. “Kamu mau kemana?”
“Aku mau pulang ke rumah Abang. Kali ini, tolong permudah segalanya, Dev,” ucap Tara lalu berjalan menuju pintu keluar. Namun sesaat kemudian, dia berbalik. “ Buka pintunya, Dev.”
Devan menatap Tara. Dia ragu. Bukan ini rencananya. Dia berencana menahan Tara dan akan membuat wanita itu kembali mencintainya. Namun entah kenapa bayangan Alan melintas di benaknya saat dia berusaha mendekati istrinya. Hal itu membuatnya bingung.
“Dev.”
Devan mengangguk dan berdiri. Melangkah menuju pintu dan membuka kuncinya. Tara melangkah keluar. Begitu ada di hadapan Devan, Tara berhenti dan menggenggam tangannya.
“Aku tahu kamu orang baik, Dev. Tapi, kita terlalu memaksakan keadaan. Jika benar kamu mencintaiku, maka tolong lepaskan aku karena aku nggak bahagia menjadi istrimu, Dev. Aku bahagia saat hanya menjadi sahabatmu.”
Setelah mengucap kalimat itu, Tara melepaskan tangan dan melangkah keluar dari rumah calon mantan suaminya. Ya. Tara sudah yakin dengan keputusannya.
Bersambung …