Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHKOTA YANG DISUCIKAN
Enam bulan telah berlalu sejak malam kritis di ruang operasi. Musim telah berganti, begitu pula dengan hidup seorang Clarissa Mahendra. Hari ini adalah hari pertamanya kembali ke Universitas Nusantara setelah cuti panjang untuk pemulihan pascatransplantasi dan rangkaian kemoterapi terakhir.
Di depan cermin kamarnya yang besar, Clarissa berdiri mematung. Tidak ada lagi rok mini ketat atau atasan crop yang dulu menjadi seragam kebanggaannya. Kini, ia mengenakan tunik longgar berwarna pastel yang dipadukan dengan celana kain yang sopan.
Namun, yang paling mencolok adalah kain satin lembut berwarna krem yang melingkar rapi menutupi kepalanya. Clarissa memutuskan memakai hijab.
Awalnya, keputusan ini ia ambil karena rambutnya yang baru tumbuh masih sangat pendek dan tipis akibat kemoterapi. Ia merasa tidak percaya diri. Namun, seiring berjalannya waktu di rumah sakit, saat ia sering merenung dan membaca buku-buku yang dibawa Maya, ia menemukan ketenangan dalam menutup aurat. Ia merasa hijab ini adalah pelindung, sebuah cara baginya untuk berhenti menjadi objek pandangan pria dan mulai dihargai karena jiwanya.
"Clar, sudah siap?" suara Bastian terdengar dari balik pintu.
Clarissa menarik napas dalam, memoleskan sedikit lipbalm bukan gincu merah darah seperti dulu. "Siap, Bas."
Ketika Porsche putih itu berhenti di parkiran kampus, suasana seketika senyap. Mahasiswa yang sedang nongkrong berhenti bicara. Mereka semua menunggu sang "Ratu Bully" turun dengan keangkuhannya yang biasa.
Namun, saat pintu terbuka, yang turun adalah sosok yang sangat berbeda. Clarissa melangkah dengan tenang, matanya menunduk sopan, tidak lagi menatap orang seolah mereka adalah semut yang siap ia injak. Hijabnya berkibar lembut ditiup angin pagi.
"Itu... Clarissa?" bisik seorang mahasiswa.
"Gila, dia tobat?" celetuk yang lain.
Langkah Clarissa terhenti saat ia berpapasan dengan sisa-sisa anggota *The Diamonds*. Bianca, Vanya, Sherly, dan Febby berdiri mematung di koridor. Mereka tampil dengan gaya lama mereka: glamor dan mencolok.
"Clar... lo beneran?" Bianca menatap Clarissa dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lo kelihatan... beda banget. Jujur, gue hampir nggak kenali lo."
Clarissa tersenyum tulus, bukan senyum sinis yang biasa ia berikan. "Gue yang lama sudah mati di rumah sakit, Bi. Gue cuma ingin memulai semuanya dari awal."
"Tapi Clar, kalau lo begini, gimana nasib geng kita? Semua orang bakal ngetawain kita kalau pemimpinnya jadi 'ustazah' begini!" seru Vanya dengan nada tidak senang.
"Gue nggak butuh geng lagi, Van. Gue cuma butuh teman. Dan kalau kalian nggak bisa terima gue yang sekarang, gue nggak akan maksa," jawab Clarissa tegas namun lembut. Ia terus melangkah, meninggalkan teman-temannya yang terpaku dalam kebingungan.
Tujuan pertama Clarissa adalah perpustakaan. Ia ingin mencari Maya. Di sana, ia menemukan gadis itu sedang merapikan buku-buku.
"Maya," panggil Clarissa pelan.
Maya berbalik dan seketika matanya berbinar. Ia berlari kecil dan memeluk Clarissa dengan erat sesuatu yang dulu sangat mustahil terjadi. "Kak Clarissa! Kakak cantik banget pakai jilbab!"
"Makasih, May. Makasih karena selama ini lo sudah sabar menghadapi gue. Dan makasih karena sudah ngenalin gue sama hal-hal baik selama gue sakit," Clarissa mengusap punggung Maya.
Di sudut perpustakaan, Adrian memperhatikan mereka dengan senyuman lebar. Ia berjalan mendekat, membawa dua cup kopi hangat.
"Gue sempat mikir lo nggak bakal berani datang dengan penampilan baru ini," goda Adrian.
Clarissa menatap Adrian, ada sedikit rona merah di pipinya yang kini tampak lebih sehat. "Gue sempat takut, Dri. Tapi gue sadar, kalau gue terus takut sama omongan orang, gue nggak akan pernah sembuh secara batin."
Adrian menyerahkan kopi itu. "Gue bangga sama lo, Clar. Sangat bangga."
Namun, tidak semua orang menerima perubahan Clarissa. Di kantin, sekelompok mahasiswa yang dulu pernah menjadi korban perundungan Clarissa sengaja menghalangi jalannya.
"Wah, lihat nih! Ratu Bully kita sekarang pakai jilbab," ejek seorang cowok bernama Rian. "Mau hapus dosa ya? Lo pikir dengan tutup kepala, semua orang bakal lupa gimana lo dulu nyiram Maya pakai kopi?"
Beberapa orang mulai tertawa dan menyoraki Clarissa. Bastian yang melihat itu dari jauh hendak berlari membela adiknya, namun Clarissa memberikan isyarat tangan agar kakaknya tetap di tempat.
Clarissa berdiri tegak di depan Rian. Ia tidak marah. Ia justru menatap Rian dengan tatapan menyesal.
"Lo bener, Rian. Jilbab ini nggak akan menghapus dosa-dosa gue di masa lalu. Gue datang ke sini bukan buat pura-pura suci. Gue datang buat minta maaf. Kalau lo mau maki gue, silakan. Gue terima. Itu memang konsekuensi dari apa yang gue lakuin dulu."
Rian terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapat respon se-dewasa itu. Clarissa kemudian membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat dan penyesalan, lalu berjalan melewati mereka dengan kepala tegak namun hati yang rendah.
Sore harinya, suasana di rumah keluarga Mahendra terasa sangat berbeda. Pak Gunawan pulang lebih awal dan mereka makan malam bersama di meja yang sama kali ini tanpa gadget, tanpa keheningan yang dingin.
"Papa senang melihat kamu begini, Clar," ucap Pak Gunawan sembari menatap putrinya yang memakai jilbab rumah sederhana. "Papa merasa rumah ini jadi lebih hangat."
"Clarissa juga merasa lebih tenang, Pa. Nggak perlu lagi mikirin orang harus muji Clarissa cantik setiap saat," jawabnya.
Bastian merangkul pundak kembarannya. "Dan yang paling penting, sekarang nggak ada lagi yang berani godain adek gue sembarangan. Kalau ada, urusannya sama gue!"
Mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Clarissa merasakan kehadiran ibunya di tengah-tengah mereka melalui kedamaian yang tercipta. Ia tahu, leukemia masih menjadi bayang-bayang di hidupnya ia masih harus kontrol rutin dan minum obat namun ia tidak lagi merasa dikejar maut.
Ia merasa seolah-olah baru saja lahir kembali. Dan kali ini, ia akan menulis ceritanya sendiri dengan tinta kejujuran, bukan dengan darah atau kebencian.