NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Makan Malam Yang Canggung

Suara pintu yang dibanting keras oleh Nayla tadi seolah memicu emosi di dada Bu Ajeng, ibunda Liana. Wajah wanita paruh baya itu memerah menahan geram. Ia memang sejak dulu tidak terlalu suka dengan sikap Nayla yang terkadang manja, keras kepala, dan kurang menghargai orang lain.

"Dasar anak tidak tahu diri! Sudah diberi hidup enak, disayang layak putri raja, tapi mulutnya tajam sekali bicara sama orang tua! Mana ada sopan santunnya sama sekali! Benar-benar mencerminkan siapa orang tua aslinya!" serunya dengan nada tinggi, masih kesal dengan ucapan Nayla barusan.

Bu Rosa, ibunda liana yang duduk di sebelahnya, segera menepuk pelan lengan besannya itu untuk menenangkan.

 "Sstt... sudah sudah, Bu Ajeng. Jangan dimasukkan ke hati. Anak itu kan sedang syok dan bingung. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. Biarkan saja dia menenangkan diri dulu di kamar. Nanti juga lama-lama dia akan kembali lagi seperti biasa."

"Tapi Bu Rosa... lihat saja caranya bicara tadi! Seolah-olah Liana dan Leonardo ini orang jahat. Padahal mereka sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Untung saja kita sudah dapat Dinda yang asli. Lihat Dinda tadi, sopan, lemah lembut, wajahnya juga mirip Liana waktu muda. Itu baru benar-benar darah daging mereka!"

Mendengar nama Dinda disebut, Bu Ajeng menoleh ke arah gadis itu yang masih berdiri memegang gagang kopernya dengan wajah tertunduk malu dan sedih. Tatapan Bu Ajeng yang tadinya tajam dan galak, kini berubah menjadi sangat lembut dan hangat.

Seolah ada ikatan batin yang kuat, Bu Ajeng langsung menyayangi Dinda sejak pandangan pertama. Ia melihat ketulusan dan kebaikan di mata gadis itu, sesuatu yang selama ini jarang ia temukan pada Nayla.

"Ah sudahlah, jangan pikirkan anak itu lagi. Ayo Dinda, Nenek antar ke kamarmu. Maaf ya Nak, karena semua kamar di lantai dua dan tiga sudah ada yang pakai, masing-masing punya kamar tetap. Jadi untuk sementara waktu, kamu akan menempati kamar tamu yang ada di lantai satu dulu ya. Nanti kalau sudah ada perombakan atau kamu mau pindah kamar lain, baru kita atur lagi." ucap Bu Ajeng dengan nada lembut . membuat pak Bram dan pak samuel hanya menggelengkan kepala dengan tingkah bar - Bu Ajeng .

"Tidak apa-apa kok, Nek. Dinda bersyukur masih bisa dapat tempat tidur yang layak. Terima kasih banyak, Nek." jawab Dinda sopan sambil tersenyum tipis.

Bu Ajeng makin sayang melihat keramahan dan kesopanan Dinda.

 "Ayo Nak, Mama antar. Itu kamar yang sangat nyaman kok, bersih dan luas. nanti mama siapkan kamar khusus buat kamu ." ucapnya sambil membelai rambut Dinda yang panjang sebahu dengan lembut .

Liana dan Bu Ajeng pun berjalan mendahului, mengantar Dinda menuju kamar tamu yang terletak di sayap timur rumah. Dinda berjalan di belakang mereka, menyeret koper kecilnya yang berisi sedikit pakaian saja dari rumah lamanya.

Sesampainya di depan kamar, Liana membuka pintunya lebar-lebar.

"Ini dia, Nak. Silakan masuk. Istirahatlah dulu sepuasnya. Kamar ini sudah dibersihkan dan sprei sudah diganti baru khusus untukmu."

Dinda melangkah masuk dengan takjub. Meskipun disebut kamar tamu, ukurannya sangat luas, ada kasur king size, lemari besar, dan kamar mandi dalam yang sangat mewah. Jauh lebih baik dan nyaman dibandingkan kamar sempit yang ia tempati selama ini bersama orang tua angkatnya.

 "Wah... indah sekali, Ma. Terima kasih banyak. Dinda merasa seperti di dalam mimpi. Dinda gak lagi tidur diatas kasur yang keras ." ucapnya lirih tapi masih bisa didengar oleh Bu Ajeng dan Liana .

Bu Ajeng mendekat, lalu mengelus kepala Dinda dengan penuh kasih sayang.

 "Nikmati saja ya, Nak. Mulai sekarang ini rumahmu juga. Kamu berhak dapat semua yang terbaik. Kalau butuh apa-apa, panggil Nenek atau panggil Mama kamu ya. Jangan sungkan-sungkan."

 "Iya, Nek. Makasih banyak."

 Sementara itu di Dapur...

Bu Rosa sudah turun tangan langsung. Ia tidak mau menunggu lama. Liana putrinya dan cucunya pasti sudah lapar dan lelah seharian.

"Marni, Lina, Susi... tolong siapkan bahan-bahan yang terbaik ya. Masakkan menu yang banyak dan yang enak-enak. Kita harus menyambut kedatangan cucuku Dinda dengan perayaan kecil-kecilan."

"Siap, Bu Rosa. Kami sudah menyiapkan semuanya kok. Ikan segar dan dagingnya sudah ada." sahut bi murni dengan semangat.

"Bagus. Cepat disiapkan ya. Biar nanti makan malamnya bisa berjalan lancar dan suasana hatinya bisa membaik sedikit." lanjut Bu Rosa .

Para pembantu pun langsung sigap bekerja sama dengan Bu Rosa. Suara pisau memotong sayuran, wajan yang mendesis, dan aroma masakan yang lezat mulai memenuhi seluruh ruangan, seolah mencoba menghalau suasana tegang yang tadi sempat terjadi.

 Kembali ke Kamar Dinda

"Kalau begitu kamu istirahat dulu ya, Nak. Nanti kalau makan malam sudah siap, Mama panggil. Jangan pikirkan hal-hal yang menyedihkan ya. Kamu sudah aman di sini bersama kami."

"Iya Ma. Dinda pamit istirahat dulu."

Dinda menutup pintu kamarnya perlahan. Ia meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman belakang.

Ia menarik napas panjang, menatap langit malam yang mulai gelap.

"Ini kenyataannya ya Tuhan... Aku Dinda, anak kandung keluarga kaya raya. Dan Nayla... dia yang ada di posisiku dulu. Kenapa rasanya sesakit ini melihat dia sedih dan membenciku? Apa aku bisa beradaptasi di sini? Apa Nayla suatu saat nanti bisa memaafkan ku dan mau berteman denganku?"

Banyak pertanyaan yang masih bergelayut di benaknya, namun untuk saat ini, Dinda merasa damai karena akhirnya ia tahu di mana tempatnya berada.

...****************...

 Waktu makan malam pun tiba. Aroma masakan yang lezat sudah memenuhi ruang makan yang luas dan megah itu. Meja makan panjang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan mewah yang disiapkan oleh Bu Rosa dan para pembantu.

Semua anggota keluarga sudah duduk di tempat masing-masing. Leonardo, Liana, kedua orang tua mereka, serta Alex dan istrinya sudah duduk rapi menunggu.

"Dinda... ayo nak, sini duduk di sebelah Mama." panggil Liana lembut saat melihat Dinda keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah lebih rapi namun tetap sederhana.

Dinda berjalan mendekat dengan langkah pelan dan sedikit ragu. Ia merasa semua mata tertuju padanya. Ia duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Liana, tepat di sebelah ibunya, menghadap Alex yang tersenyum hangat padanya.

 "Ayo anak-anak, silakan dimakan. Makanan ini khusus disiapkan buat Dinda. Makan yang banyak ya, Nak, biar cepat gemuk."

 "Iya, Nek. Makasih banyak." jawabnya sopan sambil mulai mengambil makanan dengan santun.

Suasana berjalan cukup lancar, semua orang sibuk mengobrol dan mencoba mencairkan suasana, namun ada satu tempat yang masih kosong. Tempat duduk Nayla.

"Mana Nayla?Kenapa belum turun juga?" tanya Leonardo.

 "Mungkin dia masih ingin sendiri dulu, Leo. Biarkan saja. Nanti kalau lapar pasti turun sendiri."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Nayla muncul. Wajahnya masih terlihat murung dan matanya masih sedikit bengkak. Ia berjalan masuk ke ruang makan tanpa menyapa siapa pun.

Ia langsung menarik kursi di ujung meja yang paling jauh dari Dinda dan orang tuanya, lalu duduk dengan wajah manyun.

Suasana yang tadinya mulai hangat, kembali menjadi hening dan canggung.

"Nayla... ayo makan. Ini ada makanan kesukaanmu juga lho." tawar Liana berusaha ramah.

Namun Nayla hanya mendengus pelan, tidak menjawab. Ia mengambil nasi dan lauk pauk dengan kasar, lalu memakannya dengan cepat tanpa menatap siapa pun.

Ia sengaja mengabaikan keberadaan Dinda. Seolah-olah gadis itu tidak ada di sana.

Nayla Bergumam pelan tapi cukup terdengar) "Halah... pesta selamat datang ya buat putri kandung. Pantesan makanan enak semua. Padahal biasanya gak pernah semewah ini."

Bu Ajeng yang mendengar itu lagi-lagi hampir meledak emosinya. Tangannya mengepal di atas meja.

"Nayla! Bisa tidak kamu bicara seperti itu?! Kamu ini makan di meja makan keluarga, bukan di pasar! Sopan santun mu mana hah?!"

Nayla menghentikan makannya, lalu menatap tajam ke arah Bu Ajeng.

"Kenapa? Nek? Sekarang Nenek juga ikut-ikutan gak suka sama aku kan? Karena sekarang Nenek sudah punya cucu kandung yang sopan, cantik, dan baik hati kan? Ya sudah, aku pergi!"

Nayla meletakkan sendok dan garpunya dengan keras, BRAK!

 "Aku gak nafsu makan lihat muka orang yang sudah merebut hidupku!"

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Nayla berdiri dan berlari keluar dari ruang makan, kembali menaiki tangga menuju kamarnya dengan air mata yang kembali menetes.

Dinda Menunduk sedih, tangan berhenti memegang sendok "Maaf... gara-gara Dinda jadi ribut lagi. Dinda gak bermaksud begitu..."

Air mata Dinda mulai jatuh ke piring makannya. Ia merasa sangat bersalah.

Liana Segera memeluk bahu Dinda "Jangan menangis, Sayang... Bukan salahmu sama sekali. Nayla hanya butuh waktu. Dia belum bisa terima kenyataan. Makanlah yang enak, jangan pedulikan dia ya."

 "Benar kata Mama. Ayo kita lanjutkan makan. Jangan biarkan sikap dia merusak kebahagiaan kita malam ini."

Meskipun Leonardo berusaha menenangkan suasana, semua orang tahu bahwa ada dinding besar yang memisahkan hati Nayla dengan keluarga barunya sekarang. Dan Dinda, meski sudah pulang ke rumahnya yang sebenarnya, harus belajar hidup dalam situasi yang penuh tekanan ini.

 Di Kamar Nayla

Nayla menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Ia memeluk bantal dan menangis sejadi-jadinya.

"Kenapa semua jadi begini... Kenapa aku harus anak Sari... Kenapa Dinda harus datang dan mengambil semuanya... Aku benci dia! Aku benci semuanya!"

Di tengah amarah dan kesedihannya, Nayla mengambil ponselnya. Ia ingin mencari pelarian. Ia ingin pergi dari rumah ini untuk sementara waktu.

"Aku tidak mau di sini besok. Aku akan pergi cari Raka dan teman-teman. Di sana mereka masih menganggap aku Nayla, putri tunggal keluarga Dewantara. Bukan anak pembantu!"

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!