Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Siham duduk di sudut sebuah kafe berkonsep minimalis di kawasan Jakarta Selatan. Di hadapannya, secangkir chamomile tea yang sudah mendingin masih tersisa separuh. Ia sengaja memilih tempat ini karena hiruk-pikuk suara mesin kopi dan obrolan orang asing mampu menyamarkan suara bising di dalam kepalanya. Vonis dokter kemarin tentang sel-sel ganas yang sedang berpesta di dalam tubuhnya terasa seperti mimpi buruk yang enggan usai.
Ia menyentuh lengannya yang masih terbebat perban di balik blazer hitamnya. Rasa sakitnya kini bukan lagi berasal dari lemparan asbak Dewangga, melainkan dari rasa lelah yang merambat hingga ke sumsum tulang.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja kayu. Nama "Mama Mertua" muncul di layar. Siham menarik napas panjang, menata suaranya agar tidak terdengar rapuh, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Mama?" ucap Siham, memaksakan nada ceria yang palsu.
"Siham sayang! Aduh, Mama dari tadi coba hubungi kamu tapi susah sekali," suara Mama Dewangga terdengar sangat bersemangat, kontras dengan suasana hati Siham. "Mama baru saja selesai bicara dengan agen perjalanan. Tiket dan semuanya sudah siap! Kita jadi berangkat ke Swiss bulan depan, kan? Papa sudah pesan chalet yang paling bagus di Zermatt, yang jendelanya langsung menghadap Gunung Matterhorn!"
Siham terdiam sejenak. Swiss. Salju. Kehangatan keluarga yang semu. Ia teringat vonis dokter bahwa waktunya mungkin hanya tinggal hitungan bulan. Bulan depan... apakah ia masih sanggup berdiri di atas salju itu?
"Iya, Mah. Siham ingat," jawabnya lirih.
"Dewangga bilang kamu lagi sibuk sekali di kantor, ya? Jangan terlalu capek, sayang. Nanti di Swiss kamu harus segar bugar. Kita akan belanja, makan cokelat terbaik, dan kalian berdua bisa punya waktu quality time. Mama perhatikan kalian berdua ini terlalu sibuk kerja terus," Mama terus mengoceh dengan nada penuh kasih.
Siham memejamkan mata. Ia merasa seperti seorang aktor yang dipaksa melanjutkan pertunjukan saat panggungnya sudah mulai terbakar. Mama Dewangga adalah orang baik, sangat baik, dan itulah yang membuat Siham merasa sangat berdosa jika harus menghancurkan kebahagiaan wanita itu dengan berita kematiannya.
"Siham akan usahakan semuanya siap, Mah. Siham pasti ikut," ucap Siham akhirnya.
Bagi Siham, ini bukan lagi sekadar liburan keluarga. Ini adalah perjamuan terakhir. Ia ingin memberikan kenangan indah terakhir untuk mertuanya yang telah berbaik hati membiayai pengobatan almarhum Bundanya dulu. Ia ingin melunasi sisa hutang budi itu dengan kehadirannya, meskipun tubuhnya mungkin akan sangat tersiksa di sana.
"Gitu dong! Oh ya, ajak Dewangga belanja baju musim dingin baru ya, temani dia. Mama tutup ya, Mama mau lanjut arisan dulu. Love you, sayang!"
"Iya, Mah. Love you too," bisik Siham pada layar ponsel yang sudah gelap.
Siham menyandarkan punggungnya ke kursi. Swiss. Liburan impian banyak orang, namun baginya itu terasa seperti perjalanan menuju peristirahatan terakhir. Ia membuka tabletnya, jari-jarinya mulai mengetik di aplikasi catatan yang terhubung dengan akun Aksara Renjana.
"Mereka merencanakan liburan ke negeri salju, tanpa tahu bahwa di dalam tubuhku, musim dingin yang abadi sudah lebih dulu tiba. Aku akan pergi ke sana, menata senyum di atas hamparan putih yang dingin, memastikan semua orang melihatku sebagai istri yang bahagia sebelum akhirnya aku menjadi bagian dari angin yang hilang di antara puncak-puncak gunung."
Ia menatap orang-orang di sekelilingnya. Ada pasangan muda yang sedang tertawa, ada mahasiswa yang ambisius dengan laptopnya. Mereka semua punya masa depan. Sementara dia? Dia sedang merencanakan cara berpamitan yang paling anggun.
Siham tahu, Dewangga pasti menyetujui liburan ini bukan karena ingin bersamanya, tapi karena ia tidak bisa membantah keinginan ibunya. Dewangga akan tetap menjadi gunung es di Swiss nanti, sama seperti biasanya. Namun kali ini, Siham tidak akan merasa sakit hati lagi. Rasa sakit fisiknya sudah jauh melampaui rasa sakit hatinya.
Ia meminum sisa tehnya yang pahit. Pikirannya beralih pada naskah yang harus ia selesaikan sebelum keberangkatan ke Swiss. Ia harus memastikan bahwa buku "Surat Pamit" itu sudah masuk ke percetakan sebelum ia terbang. Ia ingin, saat ia berada di Swiss nanti, dunia literasi meledak karena kejujuran ceritanya, sementara ia sendiri menghilang di balik kabut Pegunungan Alpen.
Siham bangkit dari duduknya, merapikan pakaiannya, dan memakai kacamata hitamnya untuk menutupi matanya yang kuyu. Ia melangkah keluar kafe dengan langkah yang sengaja dipertegas.
"Aku tidak butuh psikiater, Mas Dewangga," batinnya sembari berjalan menuju mobil. "Aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan naskah takdirku sendiri."
Perjalanan menuju Swiss bulan depan bukan lagi tentang liburan. Itu adalah cara Siham untuk mengedit ending hidupnya agar terlihat indah di mata orang tua Dewangga, namun tetap menjadi pukulan telak yang akan menghantui Dewangga seumur hidupnya. Sebab, saat Dewangga menyadari bahwa perjalanan itu adalah saat-saat terakhir Siham bernapas, pria itu akan sadar bahwa ia telah membuang permata demi sebuah bongkahan batu masa lalu bernama Agata.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor