NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️WARNING!! Unsur dewasa🌶️

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditampar Lagi

Aurora terpaku di tempatnya selama beberapa detik. Ia mengerjapkan mata, memastikan bahwa sosok jangkung yang bersandar di bawah lampu jalan itu bukan sekadar halusinasinya akibat terlalu lama menghirup aroma barang antik.

Begitu yakin itu benar-benar Lucien Valehart, Aurora bukannya tersipu, ia justru melangkah mendekat dengan dahi yang berkerut dalam.

Ia menyilangkan tangan di depan dada, menatap suaminya yang tampak sangat "salah tempat" di pasar barang bekas ini.

"Lucien? Apa yang kau lakukan di sini?" Aurora mulai mengomel bahkan sebelum jarak mereka benar-benar dekat.

"Lihat jam tanganmu. Ini masih jam kantor. Apa perusahaanmu tiba-tiba bangkrut sore ini sampai CEO-nya punya waktu luang untuk berdiri diam seperti patung di pinggir jalan?"

Lucien tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aurora dengan tatapan datar andalannya, meski ada kilatan lega yang tersembunyi di balik matanya.

Ia menegakkan tubuhnya, merapikan mantel hitamnya yang tampak terlalu mewah untuk lingkungan pasar itu.

"Aku ada pertemuan di dekat sini," jawab Lucien singkat—alasan klasik yang selalu ia gunakan.

"Lalu aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan istriku sedang asyik menawar barang di tempat yang... tidak higienis ini."

Aurora mendengus, ia memutar bola matanya dengan tidak percaya.

"Tidak higienis? Ini namanya seni yang bersejarah, Lucien. Tidak semua hal indah harus keluar dari butik mewah di pusat kota."

Ia menunjuk ke arah stan pria tua tadi dengan dagunya.

"Dan untuk informasimu, aku baru saja mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua jam tangan mahalmu itu. Jadi berhenti menatapku seolah aku baru saja melakukan tindakan kriminal."

"Sesuatu yang berharga?" Lucien melirik tas tangan Aurora.

"Klip kuningan murah itu?"

Aurora tersentak. "Kau... kau melihatku tadi?"

Wajah Aurora mendadak terasa panas. Jadi sedari tadi Lucien sudah ada di sana? Menontonnya bicara dengan pria tua itu? Atau jangan-jangan pria ini juga melihat adegannya dengan Clara di toko buku tadi?

"Kau menguntitku, ya?!" tuduh Aurora, suaranya sedikit meninggi.

"Berapa lama kau berdiri di sana? Dan kenapa kau tidak menyapa? Kau lebih suka berdiri di kegelapan seperti karakter antagonis di novel misteri?"

Lucien hanya mengangkat bahu sekilas, ekspresinya tetap tenang meskipun sebenarnya ia sedang menahan senyum melihat Aurora yang kembali cerewet.

"Aku tidak menguntit. Aku hanya memastikan 'investasiku' tidak tersesat atau diculik oleh pedagang barang antik."

"Investasi! Selalu saja itu bahasamu!" Aurora memutar badan, berjalan mendahului Lucien dengan langkah cepat.

"Pulang sana ke kantormu! Aku bisa pulang sendiri!"

Namun, Lucien dengan langkahnya yang lebar dengan mudah menyamai kecepatan Aurora. Ia berjalan tepat di sampingnya, menjaga jarak yang sangat pas agar Aurora tetap berada di sisi dalam trotoar.

"Mobilku ada di ujung jalan," ucap Lucien rendah.

"Dan aku tidak punya niat kembali ke kantor hanya untuk melihat dokumen membosankan saat istriku sedang membawa 'harta karun' sejarah di tasnya."

"Tidak mau!" Aurora menyentak lengannya menjauh saat Lucien mencoba mengarahkan jalannya menuju mobil.

"Aku mau jalan kaki sampai ke ujung lorong sana. Katanya tempat ini tidak higienis, kan? Jadi kenapa kau tidak lari saja kembali ke mobil mewahmu yang steril itu?"

Lucien menghela napas, mengikuti langkah kaki Aurora yang cepat dan keras kepala.

"Aurora, jangan konyol. Jarak dari sini ke mansion itu tiga mil. Kau mau tumit sepatumu patah di atas batu jalanan ini?"

"Biarkan saja! Kalau patah, aku akan jalan bertelanjang kaki. Aku ini keturunan Ashford, kami terbiasa dengan drama!" seru Aurora tanpa menoleh.

Ia terus berjalan zig-zag menghindari genangan air kecil, membuat Lucien harus ikut meliuk-liuk di antara kerumunan orang yang menatap mereka dengan heran. Seorang pria tampan dan istrinya yang cantik sedang kejar-kejaran di pasar loak—benar-benar pemandangan yang tidak biasa.

"Berhenti di sana, Nyonya Valehart," perintah Lucien, mencoba meraih bahu Aurora lagi.

"Tidak! Jangan menyentuhku! Aku masih marah karena kau berdiri seperti hantu di bawah lampu jalan tadi! Kau tahu tidak betapa seramnya—AW!"

Tepat saat Aurora berputar untuk membela diri, ujung sepatunya tersangkut di celah batu trotoar yang tidak rata. Tubuhnya oleng ke belakang.

"Hup!"

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, lengan kuat Lucien sudah melingkar di pinggang Aurora, menariknya dengan sentakan lembut namun tegas hingga tubuh Aurora menabrak dada bidang Lucien. Tas belanjaan Aurora hampir terjatuh, dan wajahnya kini terkunci hanya beberapa inci dari wajah Lucien.

Aurora terengah, jantungnya berpacu karena hampir jatuh—atau mungkin karena posisi mereka sekarang.

Ia sudah membuka mulut, siap untuk mengeluarkan omelan "Aku-bisa-berdiri-sendiri" andalannya.

"Lucien, lepaskan—"

"Kau cantik sekali hari ini."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Lucien. Suaranya rendah, serak, dan terdengar sangat jujur. Matanya tidak menatap dengan dingin lagi. Ia menatap Aurora dengan intensitas yang seolah bisa melelehkan es di kutub utara.

Omelan Aurora macet di tenggorokan. Matanya membulat sempurna. "Hah?"

Lucien tidak melepaskan pelukannya.

Ia justru sedikit merunduk, memperhatikan wajah Aurora yang kini kemerahan di bawah cahaya lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.

"Rambutmu yang terurai... gaun ini... aku baru menyadari kalau kau sangat cocok dengan warna-warna lembut seperti ini."

Ia terdiam sejenak, lalu tangannya yang satu lagi terangkat, menyelipkan seuntai rambut Aurora ke belakang telinga dengan sangat pelan.

"Pantas saja semua pria di jalan tadi menoleh padamu. Aku hampir saja kehilangan akal sehat karena ingin menutup mata mereka semua satu per satu."

Dunia di sekitar Aurora mendadak sunyi. Bunyi klakson mobil dan teriakan pedagang pasar seolah lenyap, digantikan oleh suara detak jantung Lucien yang terasa sangat nyata di balik kemejanya.

Aurora mengerjapkan mata berkali-kali, otaknya mencoba memproses informasi: Apakah ini Lucien Valehart yang baru saja memujiku tanpa embel-embel kontrak?

"Kau... kau pasti sudah gila," gumam Aurora lirih, suaranya sudah kehilangan semua taringnya.

"Mana mungkin Lucien yang kaku bisa bicara seperti... seperti pemain sandiwara begini."

Lucien, yang seolah mabuk oleh aroma parfum mawar Aurora dan keberanian konyol yang ia dapat dari saran Aren, menatap bibir Aurora dengan pandangan yang makin dalam.

"Aurora..." bisik Lucien, wajahnya perlahan mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Boleh aku menciummu?"

Hening.

Waktu seolah berhenti selama satu detik. Mata Aurora yang tadinya sayu karena terpesona, mendadak melotot lebar seolah baru saja melihat monster muncul dari selokan.

PLAK!

Suara tamparan itu bergema cukup nyaring di lorong pasar yang mulai sepi. Tidak terlalu keras sampai membuat memar, tapi cukup untuk membuat kepala Lucien tertoleh ke samping dan meninggalkan bekas kemerahan yang estetik di pipi tegasnya.

"KAU... KAU BENAR-BENAR SAKIT JIWA, LUCIEN VALEHART!" teriak Aurora.

Ia segera mendorong dada Lucien dengan sekuat tenaga sampai pelukan pria itu terlepas. Aurora melangkah mundur dengan wajah yang sudah matang seperti tomat rebus, tangannya yang tadi menampar kini gemetar antara marah dan malu.

"Apa yang kau pikirkan, hah?! Menciumku di pinggir jalan? Setelah kau mengikutiku seperti detektif gadungan dan memujiku dengan kata-kata aneh itu?!" Aurora menunjuk-nunjuk wajah Lucien dengan jari telunjuknya yang gemetar.

"Kau pasti sudah tertular kegilaan Aren! Jangan berani-berani mendekat lagi!"

Lucien mematung, tangannya perlahan menyentuh pipinya yang terasa panas. Ia mengerjapkan mata, kesadarannya kembali sepenuhnya. Ia menatap Aurora yang sedang murka, lalu menatap telapak tangannya sendiri.

"Aku... aku hanya bertanya," gumam Lucien pelan, suaranya terdengar sangat polos dan bingung, yang malah membuat Aurora makin ingin melemparnya dengan sepatu.

"BERTANYA?! Kau tidak bertanya hal seperti itu di tempat seperti ini, dasar gila!" Aurora menyambar tas belanjanya yang tadi sempat melorot.

"Dan jangan berani-berani menjawab 'ini bagian dari kontrak' atau aku akan menampar pipimu yang satunya lagi!"

Tanpa menunggu balasan Lucien, Aurora berbalik dan lari terbirit-birit menuju arah mobil mewah Lucien yang terparkir di ujung jalan. Ia tidak peduli lagi soal "tidak mau naik mobil", dia hanya butuh tempat untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah mau meledak.

Lucien masih berdiri di sana, menatap punggung Aurora yang menjauh. Ia menghela napas panjang, pipinya masih terasa nyut-nyutan.

"Aren sialan," bisik Lucien pada kegelapan sore itu.

"Dia bilang wanita suka pria yang berterus terang. Dia tidak bilang kalau 'terus terang' bisa berujung tamparan."

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!