NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 5 : GAUN, GENGSI DAN GANGGUAN JANTUNG

Pagi itu, langit Jakarta Selatan tampak bersih dari polusi, namun udara di dalam butik pengantin “L’Amour Éternel” terasa begitu menyesakkan bagi Anya Clarissa. Butik itu adalah puncak dari kemewahan; lantai marmer putih Carrara yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal, manekin-manekin yang mengenakan gaun seharga satu unit apartemen, dan aroma lilin aromaterapi vanila yang sangat menenangkan bagi orang biasa, tapi bagi Anya, itu tercium seperti aroma kepasrahan.

Anya turun dari SUV tua-nya dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan kaos putih polos dan celana jins yang bagian lututnya sedikit pudar karena sering digunakan untuk berlutut di tanah saat menanam. Ia sengaja tidak berdandan. Baginya, ini adalah bentuk pemberontakan kecil. Ia ingin menunjukkan pada keluarga Arkatama bahwa mereka boleh membeli statusnya, tapi mereka tidak bisa mengubah jati dirinya.

Di depan pintu kaca butik yang berat, Devan Arkatama sudah berdiri. Pria itu tampak seperti model yang keluar dari halaman depan majalah Vogue. Ia mengenakan setelan jas sport berwarna biru navy yang dipadukan dengan kemeja putih tanpa dasi, memberikan kesan santai namun tetap sangat berkuasa.

"Kamu terlambat tujuh menit, Anya," suara Devan terdengar datar, matanya tertuju pada jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Anya menghentikan langkah, menatap Devan dengan tatapan menantang. "Tujuh menit, Devan? Apa dalam tujuh menit itu kapal-kapal logistikmu tenggelam semua? Aku harus memastikan sistem penyiraman otomatis di studio Green Soul berfungsi, kalau tidak, ribuan bibit tanaman yang sedang kusemai akan mati. Itu adalah nyawa, berbeda dengan angka-angka di komputermu."

Devan menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap penampilan Anya yang sangat kontras dengan lingkungan mewah di sekitarnya. "Tanaman lagi. Apa kamu tidak bisa memisahkan antara pekerjaan dan urusan keluarga kita? Hari ini adalah tentang citra. Mama sudah menunggu di dalam, dan jika dia melihatmu berantakan seperti ini, dia akan mengira aku tidak memberimu uang saku."

Anya tertawa kecil, tawa yang penuh sindiran. "Uang saku? Kita bahkan belum menikah, Tuan CEO. Dan tolong diingat, aku punya penghasilan sendiri. Aku di sini karena terpaksa, jadi jangan harap aku akan berdandan seperti boneka pajanganmu."

"Masuklah," potong Devan sambil membukakan pintu butik dengan gerakan yang terlihat sangat kaku. "Lakukan ini demi Mama. Dia sangat bersemangat tentang ini."

Saat mereka melangkah masuk, suara lonceng kecil berbunyi merdu. Mama Arkatama langsung berlari kecil menyambut mereka. Ia tampak sangat anggun dengan setelan tunik sutra berwarna pastel. Di sampingnya, Mama Clarissa berdiri dengan senyum haru yang sedikit dipaksakan, mencoba menyembunyikan rasa bersalah karena telah mendorong putrinya ke dalam situasi ini.

"Anya sayang! Akhirnya kamu sampai!" Mama Arkatama memeluk Anya dengan hangat, aroma parfum floralnya yang mahal langsung menyergap.

"Aduh, lihatlah wajah cantikmu ini. Sedikit pucat, tapi tenang saja, tim make-up di sini akan menyulapmu menjadi ratu sehari."

Anya melirik Mamanya sendiri, mencari kekuatan, namun Mama Clarissa hanya mengangguk pelan.

"Ayo, Anya. Kita sudah memilihkan lima gaun terbaik. Devan, kamu duduk di sana. Jangan berani-berani melihat ponselmu saat calon istrimu sedang mencoba gaun!" perintah Mama Arkatama tegas.

Devan hanya mendengus pelan, lalu duduk di sofa beludru berwarna krem. Ia membuka sebuah majalah arsitektur yang tergeletak di meja, mencoba mencari pengalihan.

Anya dibawa ke dalam ruang ganti yang luasnya hampir sama dengan ukuran kamar kosnya dulu. Tiga orang pelayan butik dengan sarung tangan putih mulai membantunya melepaskan pakaian. Rasanya sangat memalukan bagi Anya, namun ia hanya bisa terdiam saat kain satin dingin mulai menyentuh kulitnya.

Gaun pertama adalah model ballgown yang sangat besar. Anya merasa seperti tenggelam di dalam tumpukan tisu. Saat ia keluar dari balik tirai, Devan bahkan tidak mendongak.

"Terlalu besar. Dia terlihat seperti kue pengantin yang gagal," komentar Devan dingin tanpa melihat.

"Kamu bahkan belum melihatnya, Devan!" protes Mama Arkatama.

Gaun kedua, model mermaid yang sangat ketat. Anya hampir tidak bisa bernapas. Saat ia keluar, Devan melirik sebentar.

"Terlalu sempit. Dia tidak akan bisa jalan, apalagi kalau harus berdiri berjam-jam menyalami relasiku. Ganti."

Anya mulai merasa kesal. "Dengar ya, yang memakai gaun ini aku, bukan kamu!"

"Tapi aku yang membayar tagihannya," sahut Devan santai, membuat Anya ingin sekali melempar sepatu hak tingginya ke arah pria itu.

Hingga akhirnya, gaun kelima. Sebuah gaun A-line sederhana namun sangat elegan. Terbuat dari sutra Italia dengan detail renda french lace di bagian lengan dan punggung yang terbuka membentuk huruf V. Tanpa banyak payet, namun kilaunya sangat berkelas.

Saat tirai dibuka untuk kelima kalinya, suasana di butik itu mendadak hening. Mama Arkatama menutup mulutnya dengan tangan, terpesona. Mama Clarissa mulai berkaca-kaca.

Devan perlahan menurunkan majalahnya. Untuk pertama kalinya hari itu, fokusnya beralih sepenuhnya pada wanita di depannya. Anya berdiri di atas podium kecil, cahaya lampu kristal jatuh tepat di wajahnya yang kini terlihat sangat bersinar. Gaun itu menonjolkan lekuk tubuh Anya yang atletis namun feminin, memberikan kesan bahwa ia adalah seorang dewi hutan yang tersesat di tengah kota.

Devan merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Sebuah perasaan yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Dia cantik, batin Devan, namun egonya segera menepis pikiran itu.

"Bagaimana, Devan?" tanya Mama Arkatama dengan nada menggoda. "Masih mau bilang dia seperti gumpalan awan?"

Devan berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya. Ia menyesuaikan letak kerahnya yang tiba-tiba terasa mencekik. "Lumayan. Setidaknya gaun itu tidak menutupi kepribadiannya yang... sulit."

Anya memutar bola matanya. "Lumayan? Itu pujian terbaik yang bisa kamu berikan? Padahal punggungku hampir kram karena menahan berat ekor gaun ini."

"Ayo, Anya, mendekatlah pada Devan. Mama mau lihat kalian berdiri berdampingan," pinta Mama Arkatama.

Anya melangkah turun dari podium dengan hati-hati. Namun, karena ia belum terbiasa dengan sepatu hak 12 cm dan ekor gaun yang menjuntai, kakinya tersangkut.

"Aah!" Anya kehilangan keseimbangan.

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Devan melompat dari sofa. Ia menangkap pinggang Anya sebelum wanita itu jatuh ke lantai. Posisi mereka sangat dekat. Tangan Devan yang besar menopang punggung Anya, sementara tangan Anya mencengkeram erat bahu Devan, merasakan otot-otot keras di balik jas biru pria itu.

Jarak mereka hanya beberapa inci. Anya bisa melihat setiap detail di wajah Devan; alisnya yang tebal, bekas luka kecil di dekat pelipisnya, dan aroma parfum sandalwood yang sangat maskulin. Untuk sesaat, kebencian di antara mereka seolah mencair, digantikan oleh ketegangan magnetis yang aneh.

"Katanya arsitek hebat, tapi mengendalikan kaki sendiri saja tidak bisa," bisik Devan di depan wajah Anya. Suaranya yang rendah membuat bulu kuduk Anya meremang.

Anya segera mendorong dada Devan dan berdiri tegak dengan wajah semerah kepiting rebus. "Lantainya terlalu licin! Dan siapa suruh kamu menangkapku seperti itu?"

"Oh, jadi kamu lebih suka mencium marmer daripada dipeluk calon suamimu?" Devan memberikan senyum miring yang sangat menyebalkan namun entah kenapa terlihat sangat tampan.

"Hahaha! Lihat ini, Clarissa!" Mama Arkatama tertawa senang sambil menunjukkan hasil foto di ponselnya. "Mereka sangat romantis! Devan, kamu terlihat sangat protektif pada Anya."

"Itu hanya refleks, Ma," jawab Devan cepat, meski ia sendiri merasa telapak tangannya sedikit berkeringat.

Kejadian lucu berlanjut saat giliran Devan yang mencoba jas. Di ruang ganti pria, Devan berteriak kecil. "Ma! Ini ukurannya salah! Terlalu ketat di bagian dada!"

Ternyata, karena Devan terlalu rajin berolahraga di sela-sela stres kerjanya, ukuran otot dadanya bertambah. Saat ia mencoba mengancingkan jas tersebut di depan cermin besar, kancingnya terlepas dengan bunyi 'tik' yang keras dan meluncur cepat seperti peluru plastik, mengenai dahi Anya yang sedang asyik meminum jus jeruk.

"Aduh!" Anya kaget, jus jeruknya hampir tumpah. "Devan! Kamu mencoba membunuhku dengan kancing jasmu?"

Devan keluar dari ruang ganti dengan jas yang menganga dan wajah yang sangat merah karena malu. "Itu kesalahan penjahitnya! Aku bilang ukurannya harus pas, bukan mencekik!"

Anya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Devan yang biasanya sangat terkontrol kini terlihat sangat konyol. "Ternyata benar kata orang, otot besar tapi hati... eh, kancingnya rapuh."

Melihat Anya tertawa begitu lepas, kemarahan Devan tiba-tiba luruh. Ia terdiam, menatap tawa tulus wanita itu. Ada kehangatan aneh yang menjalar di hatinya. Ternyata, melihat musuhnya bahagia bisa memberikan perasaan yang lebih memuaskan daripada memenangkan tender proyek triliunan.

Malam harinya, butik itu ditutup khusus untuk mereka. Saat mereka berjalan keluar menuju parkiran, suasana menjadi sedikit lebih tenang.

"Anya," panggil Devan saat mereka sampai di samping mobil Anya.

Anya menoleh. "Apa lagi? Mau menghina cara jalanku lagi?"

Devan terdiam sejenak, menatap mata cokelat Anya di bawah lampu jalanan. "Gaun itu... benar-benar cocok untukmu. Kamu terlihat... tidak terlalu buruk hari ini."

Anya tertegun. Itu adalah pujian pertama yang tulus—meski tetap dibalut gengsi—dari mulut Devan. "Terima kasih, Devan. Jasmu juga bagus, asalkan kancingnya tidak menyerang orang lain lagi."

Mereka berdua terdiam, canggung oleh suasana yang mendadak melunak. Tanpa mereka sadari, tekanan dari keluarga yang awalnya terasa seperti penjara, perlahan mulai terasa seperti pintu menuju sesuatu yang baru. Sesuatu yang mereka berdua belum berani beri nama.

"Sampai jumpa besok di gladi resik," ucap Devan sambil masuk ke mobilnya.

Anya menatap kepergian mobil Devan. Ia menyentuh pinggangnya yang tadi dipeluk pria itu. Detak jantungnya masih belum kembali normal. "Jangan jatuh cinta, Anya. Ingat kontraknya," bisiknya pada diri sendiri.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!