Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kaca kelas sebelas IPA dua SMA Candra Kirana. Arga Baskara duduk di bangku pojok belakang, posisi favoritnya yang menawarkan pemandangan seluruh ruangan tanpa perlu menjadi pusat perhatian. Ia sedang merapikan beberapa buku catatan saat aroma parfum yang sangat ia kenali tercium mendekat.
"Pagi, Arga," suara itu terdengar ceria, memecah keheningan kecil yang menyelimuti meja Arga.
Arga mendongak. Nala Anindita berdiri di sana dengan tas ransel yang masih tersampir di bahu kanan. Rambutnya yang diikat kuda bergoyang pelan saat ia bergerak. Arga sempat terdiam sesaat, membiarkan dadanya berdenyut pelan sebelum ia sanggup memberikan reaksi.
"Pagi, Nala," jawab Arga.
Jawaban singkat itu ternyata cukup untuk membuat senyum Nala mengembang lebih lebar. Biasanya, Arga hanya akan membalas dengan anggukan kaku atau gumaman tidak jelas yang nyaris tidak terdengar. Perubahan kecil ini seperti membuka sebuah pintu yang selama ini terkunci rapat.
"Tangan kamu sudah lebih baik?" tanya Nala sambil melirik ke arah pergelangan tangan Arga yang kemarin sempat terkilir.
"Sudah tidak apa-apa, Nala. Cuma butuh sedikit waktu," ujar Arga dengan nada bicara yang lebih lunak dari biasanya.
Nala tampak lega. Ia tidak langsung pergi ke bangkunya sendiri yang berada di baris depan. Ia berdiri di sana selama beberapa detik, seolah sedang menimbang sesuatu, sebelum akhirnya berpamitan untuk meletakkan tasnya. Arga memperhatikan punggung gadis itu, merasakan sensasi aneh yang hangat sekaligus menyakitkan di saat yang bersamaan.
Dua jam kemudian, ruang kelas berubah menjadi sedikit riuh. Guru sejarah yang seharusnya mengajar mendadak berhalangan hadir karena ada rapat mendadak di ruang kepala sekolah. Para siswa mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Dimas Pratama, sahabat Arga, sudah bergabung dengan gerombolan siswa di pojok lain untuk bermain gim di ponsel.
Arga tetap di tempatnya, membuka sebuah buku kumpulan puisi yang ia simpan di dalam laci. Namun, fokusnya teralihkan saat ia mendengar suara kursi yang ditarik tepat di sampingnya. Bangku di sebelah Arga memang kosong karena teman sebangkunya sudah pindah sekolah sejak awal semester dan belum ada murid baru yang menggantikan.
"Boleh aku duduk di sini sebentar? Di depan berisik sekali, Satria dan yang lainnya sedang membahas pertandingan basket," tanya Nala.
Arga menatap kursi kosong itu, lalu menatap Nala. Tanpa sadar ia menelan ludah. "Silakan," gumamnya pelan.
Nala duduk dan meletakkan sebuah buku latihan matematika di atas meja. Jarak mereka kini hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Arga bisa mencium aroma sampo stroberi yang samar dari rambut Nala, aroma yang sama dengan aroma yang selalu ia ingat dari delapan tahun lalu di taman kota yang kini hanya tinggal kenangan di kepalanya.
"Kamu rajin sekali, Arga. Di saat yang lain bermain, kamu malah baca buku," ujar Nala sambil membuka halaman bukunya.
"Hanya mengisi waktu saja," jawab Arga tanpa mengalihkan pandangan dari halaman bukunya, meski sebenarnya ia tidak lagi membaca satu kata pun.
Nala kemudian mulai mengerjakan soal-soal matematika dengan dahi berkerut. Sesekali ia mengetuk-ngetukkan ujung pensil ke dagunya, sebuah kebiasaan lama yang ternyata masih belum berubah. Arga mencuri pandang, mengamati bagaimana Nala tampak begitu serius. Di matanya, Nala tetaplah gadis kecil yang dulu sering menangis karena kalah bermain petak umpet, namun kini ia tumbuh menjadi sosok mandiri yang tampak tidak membutuhkan siapa pun untuk melindunginya.
"Arga, kamu mengerti soal nomor empat ini tidak?" tanya Nala tiba-tiba sambil menggeser bukunya ke arah Arga.
Arga sedikit tersentak. Ia melihat soal tentang limit fungsi yang ditunjuk Nala. Dengan perlahan, ia mulai menjelaskan langkah-langkah pengerjaannya. Suara Arga rendah dan tenang, membuat Nala mendengarkan dengan saksama tanpa memotong sedikit pun.
"Oh, jadi harus dikalikan dengan akar sekawan dulu ya?" tanya Nala dengan mata yang berbinar karena akhirnya paham.
"Iya, supaya hasilnya tidak nol per nol," jelas Arga singkat.
"Kamu hebat juga menjelaskan materi. Lebih mudah dimengerti daripada penjelasan Pak Baskoro," puji Nala sambil tertawa kecil.
Arga hanya tersenyum tipis. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Di satu sisi ia ingin terus seperti ini, namun di sisi lain ia takut jika ia terlalu nyaman, ia akan kembali terjatuh dalam harapan yang tidak berujung.
Tania Larasati yang duduk tepat di depan meja Arga mendadak menoleh ke belakang. Ia melihat keakraban yang mulai terbangun di antara keduanya. Ada gurat kecewa yang melintas di wajah manisnya, namun ia segera memaksakan sebuah senyuman.
"Arga, nanti jam istirahat kamu mau ke kantin? Aku bawa bekal lebih, barangkali kamu mau coba," tawar Tania dengan nada lembut.
Nala menoleh ke arah Tania, lalu beralih menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan.
Arga merasa canggung. Ia melihat Tania, lalu melihat Nala yang kini juga memperhatikannya. "Maaf, Tania. Aku sepertinya mau ke perpustakaan saja nanti," tolak Arga dengan halus.
Tania mengangguk pelan, lalu kembali menghadap ke depan. Suasana di meja itu mendadak menjadi sedikit kaku. Nala kembali fokus pada bukunya, namun gerakannya tidak lagi serileks tadi.
"Kamu dekat ya dengan Tania?" tanya Nala tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat kasual, seolah hanya pertanyaan basa-basi biasa.
"Hanya teman sekelas," jawab Arga jujur.
Nala mengangguk-angguk kecil. Ia menutup bukunya lalu menatap ke arah jendela kelas. Tatapannya menerawang jauh ke arah lapangan sekolah yang luas.
"Kadang aku merasa kalau aku pernah mengenal seseorang yang sifatnya mirip sepertimu, Arga. Pendiam, tapi sangat membantu saat dibutuhkan," gumam Nala pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Arga.
Arga membeku. Ia mencengkeram pinggiran bukunya dengan erat hingga kertasnya sedikit terlipat. Ia ingin sekali bertanya, siapa orang itu? Apakah orang itu adalah dirinya delapan tahun lalu? Namun, lidahnya terasa kelu. Kebohongan yang ia buat di babak sebelumnya telah menjadi tembok tinggi yang ia bangun sendiri.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Nala," ujar Arga akhirnya, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.
"Iya, mungkin hanya perasaan. Aku memang sering merasa begitu belakangan ini," sahut Nala sambil berdiri karena bel tanda pergantian jam pelajaran sudah berbunyi.
Nala merapikan bukunya dan bersiap kembali ke bangkunya sendiri. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Arga.
"Besok-besok, jangan keberatan ya kalau aku duduk di sini lagi kalau ada jam kosong," ucap Nala dengan sebuah kedipan mata yang membuat pertahanan Arga nyaris runtuh.
Arga hanya mampu melihat Nala berjalan menjauh. Di sudut kelas, Dimas yang sejak tadi mengamati dari jauh hanya bisa menggelengkan kepala. Dimas menghampiri meja Arga dan menepuk bahu sahabatnya itu dengan keras.
"Jangan terlalu lama bermain dengan api, Ga. Nanti kamu sendiri yang terbakar," bisik Dimas dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan.
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap bangku kosong di sebelahnya, merasakan sisa-sisa keberadaan Nala yang masih tertinggal di sana. Baginya, setiap detik yang ia habiskan bersama Nala adalah sebuah kemenangan kecil, sekaligus luka yang perlahan-lahan mulai terbuka kembali. Arga tahu bahwa Nala sedang mencoba membangun hubungan baru sebagai teman sekelas, sementara ia sendiri masih terjebak di dalam sebuah janji masa kecil yang telah lama mati bagi orang lain, namun tetap hidup di dalam hatinya.