Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 十一
Pagi itu, suasana di kediaman mewah Mo Yan terasa sedikit berbeda. Sebelum melangkah menuju dunia luar yang dipenuhi gedung pencakar langit, Xi’er menyempatkan diri untuk mengintip ke dalam ruang belajar A-Chen yang baru. Pemandangan di dalam sana selalu berhasil meluluhkan dinding es di hati Xi’er.
A-Chen, adiknya yang dulu hanya bisa meringkuk menahan lapar di atas tikar pandan yang kasar, kini duduk dengan punggung tegak di sebuah kursi ergonomis yang sangat empuk. Di depannya terbentang meja kayu jati luas yang dipenuhi buku-buku bergambar dan alat tulis modern. Tangan kecilnya yang kini mulai terlihat berisi dan sehat tampak sibuk menggoreskan pena, berusaha keras mengikuti garis-garis huruf di buku latihan. Di sampingnya, seorang guru privat wanita yang sabar memberikan bimbingan dengan suara lembut.
"A-Chen, Kakak akan pergi sebentar untuk mengawasi Tuan kaku itu. Kau harus belajar yang rajin, mengerti?" ucap Xi'er sambil bersandar di bingkai pintu, menatap adiknya dengan bangga.
A-Chen menoleh, matanya yang bulat berbinar penuh semangat. "Iya, Jie-jie! Aku akan cepat pintar supaya nanti bisa bekerja di gedung tinggi dan membelikan Jie-jie banyak cokelat manis! Tapi Jie-jie... tolong jangan galak-galak pada Tuan Mo di kantor nanti, ya? Aku takut dia akan menangis karena Jie-jie terlalu cerewet." ucap anak itu dengan polosnya, membuat sang guru privat tertawa kecil di balik telapak tangannya.
Xi'er mendengus pura-pura kesal, meskipun dalam hatinya ia merasa sangat terharu melihat perkembangan adiknya. "Dia yang seharusnya takut padaku A-Chen. Jika dia berani macam-macam, Kakak akan memberinya obat pahit seember. Belajarlah yang baik, jangan nakal!"
Setelah berpamitan, Xi'er pun melangkah menuju lobi penthouse di mana Mo Yan dan Zuo Fan sudah menunggunya. Perjalanan menuju pusat bisnis kota itu ditempuh dengan mobil limusin hitam yang melaju tenang membelah kemacetan. Di dalam mobil, Xi'er tidak berhenti mengamati pemandangan kota dari balik jendela kaca film yang gelap. Baginya, gedung-gedung itu seperti raksasa kaku yang mencoba menggapai langit.
Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi megah gedung pencakar langit Mo Group, suasana mendadak berubah menjadi sangat formal dan kaku. Ratusan karyawan yang mengenakan setelan kantor mahal, yang bagi Xi'er tampak seperti seragam prajurit tanpa zirah sudah berdiri berjajar rapi di sepanjang karpet merah yang digelar khusus. Mereka membentuk barisan manusia yang panjang, sebuah tradisi penyambutan sang CEO yang biasanya hanya terjadi pada kunjungan kenegaraan.
Mo Yan melangkah keluar lebih dulu. Auranya sebagai penguasa ekonomi kota terpancar begitu kuat, dingin, dan mengintimidasi. Namun, perhatian ratusan pasang mata itu segera beralih dan terkunci pada sosok gadis yang keluar tepat di belakang Mo Yan.
Xi'er mengenakan pakaian yang sangat sederhana, hanya sebuah kemeja katun putih polos dan celana kain berwarna krem yang diberikan oleh pelayan kemarin. Rambut hitam legamnya yang panjang hanya diikat satu dengan pita kain sederhana, dan wajahnya benar-benar bersih tanpa polesan riasan apa pun. Penampilannya yang sangat desa itu bagaikan noda di atas hamparan kemewahan lobi Mo Group.
Bisik-bisik seketika menjalar seperti api di tengah barisan karyawan wanita dan para eksekutif.
"Siapa gadis itu? Kenapa dia bisa keluar dari mobil pribadi Tuan Mo?"
"Lihat penampilannya, sangat kusam dan ketinggalan zaman. Apa dia pembantu baru di kediaman Mo?"
"Atau mungkin dia pengemis yang entah bagaimana berhasil merayu Tuan Mo?" tawa sinis terdengar dari barisan sekretaris yang mengenakan parfum mahal.
Xi'er, dengan indra pendengaran dan instingnya yang sangat tajam, bisa merasakan setiap gelombang permusuhan, kecemburuan, dan cemoohan yang diarahkan padanya. Namun, ia tidak menundukkan kepala. Alih-alih merasa minder, ia justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi, melangkah dengan keanggunan seorang permaisuri yang sedang menginspeksi rakyat jelata di pasar. Matanya yang jernih menatap balik orang-orang yang mencibirnya dengan pandangan dingin yang membuat beberapa orang langsung memalingkan wajah karena merasa terintimidasi tanpa alasan.
Zuo Fan, yang menyadari suasana mulai tidak kondusif dan aura Mo Yan mulai mendingin, segera berdehem keras untuk mengambil alih perhatian. "Semuanya, mohon tenang dan dengarkan. Mulai hari ini, Nona Lin Xiaoxi akan berada di kantor ini sebagai Dokter Pribadi yang memantau kesehatan Tuan Mo secara eksklusif selama jam kerja. Mohon berikan rasa hormat dan bantuan yang diperlukan."
Mendengar kata Dokter Pribadi, beberapa eksekutif medis dari divisi kesehatan perusahaan yang berdiri di barisan depan mulai menunjukkan ekspresi tidak percaya. Mereka melihat Xi'er dengan tatapan sangsi, seolah-olah Zuo Fan baru saja mengatakan bahwa kucing bisa terbang.
"Dokter Pribadi?" gumam salah satu direktur medis yang sudah beruban dengan nada sangat meremehkan. "Zuo Fan, kau pasti sedang melawak di pagi hari. Gadis ini terlihat lebih cocok menjadi pasien di rumah sakit jiwa daripada seorang dokter yang menangani CEO Mo Group."
Xi'er mendadak berhenti melangkah tepat di tengah lobi yang luas itu. Ia menoleh ke arah Zuo Fan dengan tatapan yang sangat tidak setuju, membuat Zuo Fan seketika merasa keringat dingin bercucuran di punggungnya.
"Tuan Zuo, sudah kukatakan padamu berkali-kali saat di rumah." suara Xi'er yang nyaring dan penuh wibawa bergema di seluruh lobi, membungkam bisik-bisik yang tadi riuh. "Jangan pernah sebut aku dengan nama dokter. Dokter-dokter di zamanmu ini terlalu banyak bergantung pada benda mati, angka-angka palsu di layar kaca, dan cairan kimia berbau busuk yang hanya menunda kematian tanpa memberikan kesembuhan sejati!"
Xi'er kemudian berbalik ke arah kerumunan karyawan yang kini terdiam karena terkejut. "Dengar semuanya! Namaku Lin Xiaoxi, dan aku bukan dokter yang kalian pikirkan. Aku adalah Tabib Agung! Dan pria kaku yang melilit lehernya dengan kain biru di sampingku ini adalah pasien pribadiku yang paling merepotkan. Jika bukan karena ramuan dan jarumku, dia mungkin sudah menjadi patung es abadi yang hanya bisa kalian tatap di kantor ini!"
Suasana lobi seketika menjadi sunyi senyap untuk beberapa saat, sebelum akhirnya gelak tawa kecil yang terdengar mengejek pecah dari beberapa sudut.
"Tabib Agung? Apa dia terlalu banyak menonton drama kolosal di televisi?"
"Gadis desa ini benar-benar tidak tahu malu dan menderita halusinasi tingkat tinggi. Beraninya dia bicara begitu di depan Tuan Mo!"
Para wanita di barisan sekretariat tampak memandang Xi'er dengan rasa benci, menganggap Xi'er hanyalah gadis pencari perhatian yang sangat arogan dan sombong.
Mo Yan, yang sejak tadi hanya diam mengamati, tiba-tiba menghentikan langkahnya secara perlahan. Ia memutar tubuhnya, menatap barisan karyawannya satu per satu dengan tatapan yang sangat dingin, sebuah tatapan yang sanggup membuat jantung siapa pun yang melihatnya seolah berhenti berdetak karena ketakutan. Hawa dingin yang nyata mulai memancar dari tubuh Mo Yan, menciptakan suasana mencekam di seluruh lobi.
"Siapa tadi yang tertawa?" suara Mo Yan terdengar sangat rendah, namun sanggup menggetarkan pilar-pilar gedung itu.
Karyawan yang tadi tertawa dan berbisik langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, tubuh mereka gemetar ketakutan di bawah tekanan aura Mo Yan. Mo Yan melangkah mendekat ke arah barisan mereka, kehadirannya membuat mereka seolah terhimpit oleh gunung yang besar.
"Kalian mungkin mengira kehadirannya di sini hanyalah sebuah lelucon untuk mengisi waktu luangku." ucap Mo Yan sambil melirik Xi'er sejenak, lalu kembali menatap karyawannya dengan tajam. "Tapi dengar ini baik-baik. Lin Xiaoxi memiliki otoritas penuh di kantor ini selama dia bersamaku. Apapun yang keluar dari mulutnya adalah perintahku. Siapa pun yang berani meremehkannya, mencibirnya, atau bahkan memberikan tatapan tidak sopan padanya, silakan ambil surat pengunduran diri kalian di meja Zuo Fan sebelum matahari terbenam hari ini. Aku tidak butuh karyawan yang memiliki mata tapi tidak bisa melihat siapa yang seharusnya dihormati."
Zuo Fan tertegun di tempatnya. Ia tahu Mo Yan melindungi Xi'er, tapi ia tidak menyangka sang CEO akan memberikan pembelaan yang begitu vokal dan ekstrem di depan publik perusahaan.
Mo Yan kemudian menatap Xi'er, matanya yang tadi sekeras es sedikit melunak. "Ayo, Tabib Agung. Ruang kerjaku di lantai atas jauh lebih tenang dan bebas dari lalat-lalat berisik seperti ini."
Xi'er mendengus puas, ia memberikan tatapan tajam dan penuh kemenangan terakhir pada para karyawan yang kini pucat pasi, lalu melangkah mengikuti Mo Yan menuju lift khusus dengan gaya jalan yang sangat anggun. "Lain kali Tuan kaku, kau harus mendidik rakyatmu dengan lebih tegas. Mereka terlalu banyak menggunakan mulut untuk bicara dan terlalu sedikit menggunakan otak untuk berpikir."
"Aku akan mempertimbangkan untuk memotong gaji mereka jika ada satu kata lagi yang membuatmu tidak nyaman." jawab Mo Yan dengan nada santai sambil melangkah masuk ke dalam lift yang pintunya terbuka otomatis.
Zuo Fan hanya bisa menghela napas panjang sambil mengikuti mereka masuk ke lift. Ia tahu betul, mulai detik ini, tatanan di Mo Group tidak akan pernah sama lagi. Pertarungan antara etika korporat yang kaku dan kewibawaan kuno Sang Tabib Agung baru saja dimulai, dan tampaknya, sang penguasa kota sudah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendali sang gadis desa yang luar biasa berani ini.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/