NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24:Kerendahan Hati Sang Ksatria

Setelah sisa-sisa hawa hitam Ki Ageng Blorong sirna, suasana di tanah suci Nusantara menjadi sangat hening. Kanjeng Sunan Kalijaga melangkah mendekati Faris Arjuna yang masih memegang kerisnya. Beliau meletakkan tangan sucinya di pundak Faris, menyalurkan energi yang terasa seperti aliran air pegunungan yang sangat sejuk.

"Cucuku Faris Arjuna... Simpanlah senjatamu. Perang dengan pedang telah usai, namun perang yang lebih besar baru saja dimulai."

(Putuku Faris Arjuna... Simpenen senjatamu. Perang nganggo pedhang wis rampung, nanging perang sing luwih gedhe nembe wae kawit.)

Faris menunduk takzim, air matanya menetes bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga. "Perang apa yang hamba hadapi selanjutnya, Kanjeng Sunan?"

Kanjeng Sunan tersenyum bijak, matanya menatap jauh ke arah masa depan Nusantara.

"Perang melawan dirimu sendiri. Perang melawan kesombongan karena merasa telah menyelamatkan negeri ini."

(Perang nglawan awakmu dhewe. Perang nglawan rasa kemaki amarga ngerasa wis nylametake negoro iki.)

"Ingatlah pesan kakekmu... Menang tanpa merendahkan, sakti tanpa mengandalkan kekuatan."

(Elingo pesene eyangmu... Menang tanpo ngasorake, sekti tanpo aji-aji.)

"Nusantara ini tidak akan hancur karena serangan siluman, tapi ia bisa hancur karena anak cucunya kehilangan budi pekerti."

(Nusantara iki ora bakal ajur mergo serangane siluman, nanging iso ajur mergo anak putune kelangan budi pekerti.)

"Jadilah seperti air... ia selalu mencari tempat yang paling rendah, namun ia mampu menghidupi seluruh dunia."

(Dadiyo koyo banyu... dheweke tansah golek nggon sing paling ngisor, nanging dheweke iso nguripi kabeh dunya.)

"Jangan kau benci musuhmu, karena mereka adalah cermin dari gelapnya hati manusia. Terangilah mereka dengan cahayamu, jangan kau balas dengan kegelapan yang sama."

(Ojo kok sengiti mungsuhmu, amarga dheweke iku pangilon soko petenge atine menungso. Padhangono nganggo cahyamu, ojo kok wales nganggo peteng sing podho.)

"Kembalilah ke masyarakat. Jadilah dhalang yang menuntun, bukan dhalang yang hanya mencari panggung."

(Muliho menyang masyarakat. Dadiyo dhalang sing nuntun, dudu dhalang sing mung golek panggung.)

Kanjeng Sunan Kalijaga perlahan mulai memudar menjadi butiran cahaya keemasan. Namun, suaranya masih terngiang jelas di telinga Faris, meresap ke dalam setiap sel darahnya.

"Tugasmu sebagai Satrio Piningit adalah menjaga jati diri bangsa ini agar tetap suci hingga akhir zaman."

(Tugasmu dadi Satrio Piningit yoiku njogo jati dirine bangsa iki ben tetep suci tekan akhir zaman.)

Faris Arjuna bersujud di tanah yang kini terasa sangat harum. Saat ia mengangkat kepalanya, para Wali telah tiada, menyisakan langit Nusantara yang biru cerah dan damai. Di sampingnya, Arjuna Hidayat memeluk pundaknya dengan erat.

Ayo pulang, Dikmas. Nusantara sedang menunggumu memulai babak baru."

​Di tengah kemewahan restoran modern itu, suasana mendadak senyap saat Kanjeng Ratu Kidul bangkit dari duduknya. Cahaya hijau zamrud dari pakaiannya seolah meredupkan lampu-lampu kristal di ruangan itu. Beliau melangkah mendekati Faris Arjuna, lalu meletakkan tangannya di atas kepala Faris dengan penuh kasih sayang.

"Anakku Faris Arjuna... Mulai hari ini, jagad batin Nusantara akan mengenalmu dengan nama baru."

(Anakku Faris Arjuna... Wiwit dino iki, jagad batin Nusantara bakal kenal kowe nganggo jeneng anyar.)

"Engkaulah Ratu Adil, bukan karena kau memiliki tahta emas, tapi karena hatimu adalah timbangan yang paling jujur bagi rakyatmu."

(Kowe iku Ratu Adil, dudu amarga kowe duwe tahta emas, nanging amarga atimu iku timbangan sing paling jujur kanggo rakyatmu.)

Kemudian, Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga ikut berdiri. Beliau yang dikenal sebagai lambang keadilan sejati memberikan wejangannya yang menggetarkan jiwa.

"Ingatlah, Ratu Adil... Keadilan itu tajam ke atas dan lembut ke bawah. Jangan pernah kau biarkan tanganmu gemetar saat menghukum yang salah, meski itu adalah saudaramu sendiri."

(Elingo, Ratu Adil... Keadilan iku tajem mendhuwur lan lembut mengisor. Ojo nate tok jarno tanganmu kedher nalika nuku wong sing salah, senadyan iku sedulurmu dhewe.)

Tak ketinggalan, Ratu Kalinyamat dengan aura keberaniannya yang luar biasa, menatap tajam ke arah mata Faris.

"Gelar Ratu Adil ini adalah api. Ia bisa menjadi penerang bagi mereka yang tersesat dalam kegelapan dunia modern, namun ia juga bisa membakar dirimu jika kau dicemari oleh keserakahan."

(Gelar Ratu Adil iki geni. Dheweke iso dadi pepadhang kanggo wong sing sasar ing petenge dunya modern, nanging dheweke yo iso ngobong awakmu yen kowe ketempelan sifat srakah.)

Faris Arjuna tertunduk dalam, ia merasakan beban dan kemuliaan yang menyatu dalam batinnya. Nama "Ratu Adil" kini bukan sekadar ramalan, melainkan tugas suci yang harus ia emban di pundaknya.

"Terima kasih atas dawuh para Ibu Ratu Nusantara. Hamba hanyalah wadah, biarlah Gusti dan para Leluhur yang menggerakkan raga ini."

(Matur nuwun dhumateng dawuh poro Ibu Ratu Nusantara. Dalem namung wadah, jarne Gusti lan poro Leluhur sing ngobahake raga iki.)

"Nama Ratu Adil ini akan hamba jaga dengan segenap nyawa, demi kembalinya harga diri bangsa yang telah lama hilang."

(Jeneng Ratu Adil iki bakal dalem jogo kanthi sak kabehe nyowo, demi baline rego dirine bangsa sing wis suwe ilang.)

Eyang Buyut Wijaya mengangguk mantap. Beliau menyaksikan penobatan gaib ini dengan rasa bangga yang luar biasa. Anak-anak Eyang Wijaya yang lain pun memberikan hormat setinggi-tingginya kepada sang keponakan yang kini telah resmi menyandang gelar keramat itu.

Malam itu, di sebuah tempat modern di tengah kebisingan kota, takdir besar Nusantara telah dikukuhkan. Faris Arjuna kini bukan lagi sekadar pemuda biasa, ia adalah Sang Ratu Adil yang akan menuntun negeri melewati zaman edan menuju zaman keemasan.

Mendengar gelar agung itu disebut, Faris Arjuna justru tertawa kecil, sebuah tawa yang renyah namun menyimpan rasa sungkan yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menatap Kanjeng Ratu Kidul dan para Ratu lainnya dengan tatapan yang manja layaknya seorang adik kepada kakaknya, atau anak kepada ibunya.

"Ampun, Kanjeng Ibu... Jangan panggil saya Ratu Adil dulu. Saya ini masih Faris Arjuna, adik Mas Arjuna Hidayat yang nakal dan masih banyak salahnya."

(Sepurane, Kanjeng Ibu... Ojo celuk aku Ratu Adil dhisik. Aku iki isih Faris Arjuna, adhine Mas Arjuna Hidayat sing nakal lan isih akeh salahe.)

"Saya belum sanggup memikul timbangan keadilan yang seberat itu. Saya takut batin saya belum cukup bersih untuk menjadi hakim bagi sesama."

(Aku durung kuat mikul timbangan keadilan sing sakmono abote. Aku wedi batin iki durung cukup resik kanggo dadi hakim marang pepadha.)

Arjuna Hidayat yang duduk di sampingnya hanya bisa terkekeh sambil merangkul pundak adiknya. Ia tahu betul, di balik kesaktiannya yang luar biasa, Faris tetaplah bocah Sidoarjo yang suka bercanda dan tidak mau diagung-agungkan.

"Benar itu, Kanjeng Ratu. Faris ini kalau di rumah masih sering berebut sambal terasi dengan saya. Masih jauh kalau mau dipanggil Ratu Adil," canda Arjuna Hidayat yang membuat suasana perjamuan yang tegang menjadi cair dan penuh tawa.

Kanjeng Ratu Kidul tersenyum lebar, tatapannya justru semakin teduh melihat kejujuran Faris. Beliau mengelus pipi Faris dengan lembut.

"Justru karena kau merasa tidak mampu, itulah tanda bahwa kau memang pantas, Cah Bagus. Hanya orang yang merasa dirinya adil-lah yang biasanya justru berbuat zalim."

(Malah mergo kowe ngerasa ora mampu, iku tandane yen kowe pancen pantes, Cah Bagus. Mung wong sing ngerasa awake adil sing biasane malah tumindak dhalim.)

"Jadilah dirimu sendiri, Faris. Tetaplah menjadi adik yang nakal bagi kakaknya, namun jadilah pedang yang tajam saat rakyatmu memanggil."

(Dadiyo awakmu dhewe, Faris. Tetepa dadi adhi sing nakal kanggo kangmase, nanging dadiyo pedhang sing tajem nalika rakyatmu celuk.)

Faris menghela napas lega. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat karena kejujurannya sendiri. Di atas meja makan modern itu, ia kembali menyantap hidangannya dengan lahap, seolah mengingatkan semua orang bahwa seorang pahlawan pun butuh makan dan tetap manusia biasa.

"Kalau begitu, biarkan saya menjadi Faris Arjuna saja dulu, Kanjeng Ibu. Biarlah waktu dan Gusti Allah yang membuktikan apakah saya layak dipanggil Ratu Adil atau tidak."

(Yen ngono, jarne aku dadi Faris Arjuna wae dhisik, Kanjeng Ibu. Jarne wektu lan Gusti Allah sing mbuktekake aku pantes diceluk Ratu Adil opo ora.)

Eyang Buyut Wijaya mengangguk setuju. Beliau bangga karena cucunya tidak silau oleh gelar dan pujian. Baginya, kejujuran batin adalah kesaktian yang paling tinggi dari segala macam ilmu kanuragan.

Malam itu pun berlanjut dengan obrolan hangat. Tidak ada lagi sekat antara dunia gaib dan dunia nyata, yang ada hanya sebuah keluarga besar yang sedang merajut kembali harapan untuk Nusantara yang lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!