Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Menuju Kota Awan Salju
Tiga hari setelah kepulangan Raja kota Liu dari ibu kota kerajaan, Feng Yan memutuskan untuk segera meninggalkan kota Pintu Angin. Hubungannya dengan Zhao Yunzhi juga semakin baik. Mereka semakin akrab satu sama lain.
Saat beristirahat di perjalanan, YunZhi menyerahkan sebuah gelas berisi arak pada Feng Yan. Di juga menggenggam benda yang sama.
"Dengan ini kita akan menjadi saudara. Saling melindungi satu sama lain seperti terlahir dari rahim yang sama."
"Aku Feng Yan akan menjadi adik yang akan selalu melindungimu."
Setelah melakukan ikrar sumpah
Persaudaraan, mereka meneguk arak dengan cepat. Karena tidak terbiasa meminum air memabukkan itu. Mereka berdua sampai terbatuk beberapa kali.
"Wuek, minuman ini benar-benar tidak enak?" ucap Feng Yan seraya menggosok lehernya.
Tapi sesaat kemudian dia langsung mengaduh karena satu jitakan mengetuk kepalanya. "Apa yang Kakak lakukan? Kenapa tiba-tiba memukulku?"
"Kau lebih lemah dariku, aku yang akan melindungimu." Yunzhi terlihat kesal dengan ikrar sumpah yang dikatakan oleh Feng Yan. Harga dirinya sebagai kakak merasa tersinggung. Saat itu dia sudah ingin memukul adiknya itu.
Tapi dia menahan diri hingga ikrar mereka selesai dilaksanakan.
Hari ini salju pertama di musim dingin telah turun. Dua orang muda
Mudi terlihat memacu kuda ke arah kota Awan Salju.
"Adik Yan, apa kau tidak menyesal meninggalkan kediaman raja kota Liu?"
"Kakak, aku tidak ingin merepotkan mereka, lagi pula aku sangat yakin mendiang ibu dan paman guru Yunshang telah mempersiapkanku untuk jalan hidup seperti ini."
Mereka terus berbicara saat menunggang kuda dalam cuaca dingin bersalju.
Kembali ke kediaman Raja kota Liu," Suamiku, apa dua orang itu akan baik-baik saja? Aku sungguh khawatir pada mereka." Nyonya Liu mengungkapkan perasaanya pada suaminya.
"Feng Yan pernah bercerita padaku kalau marga asli ibunya adalah Feng, sementara dulu saat pertama bertemu
Dengan ibunya yang ku tahu ia bermarga Yun. Dan memiliki berkah nama. Yun Lan Ying itu adalah nama mendiang kakak Ying sebelum berganti menjadi Huang."
"Karena tidak pernah mendengar tentang marga Feng, aku memeriksa catatan di perpustakaan Kerajaan. Aku menemukan tentang marga Feng dan nasib buruk yang mereka emban dalam sebuah catatan kuno."
Raja kota Liu akhirnya menceritakan semua penemuannya tentang Marga Feng pada istrinya. Raut wajah nyonya Liu seketika berubah-ubah saat mendengar cerita dari suaminya itu.
"Dugaan bocah itu memang benar bahwa ibunya telah menyiapkan dia untuk jalan hidup yang akan dia tempuh. Walaupun aku sangat menyayangkan keputusannya yang enggan menetap
Disini."
Tiba-tiba saja pelayan Bi datang menghadap pada raja kota Liu.
"Tuan, ada hal aneh yang ingin saya sampaikan perihal tuan Muda Feng pada tuan. Saya ingin mengatakannya saat tuan muda masih disini, tapi saya lupa akan hal itu karena pekerjaan."
"Apa yang ingin kau sampaikan pelayan Bi? Katakan saja tidak perlu sungkan." Ujar raja kota penasaran.
"Begini tuan, tempo hari tuan muda Feng meminta saya untuk mengajari cara menggunakan akar elemen yang berbeda. Tetapi menurut penuturan tuan muda Feng, ternyata akar elemennya tidak berada dalam satu wadah inti spiritual yang sama. Tidak seperti inti spiritual pecah tiga lainnya."
Mendengar penuturan pelayannya,
Tuan dan Nyonya Liu saling pandang dan akhirnya tersenyum.
"Terima kasih untuk informasimu, rahasiakan hal ini dari siapapun. Akan ada hadiah untukmu karena sudah membantu Yan'er."
"Terima kasih tuan, kalau begitu saya permisi."
"Suamiku! kalau benar yang dikatakan pelayan Bi, berarti Feng Yan...
"Seperti yang kau duga, berarti ia adalah tanda pertama akan munculnya bencana besar. Ramalan akan bencana sudah dinubuatkan sejak lama oleh guruku leluhur dari sekte Bintang Abadi ".
"Hanya saja, berdasarkan penemuanku ternyata bencana besar itu berhubungan erat dengan Marga Feng".
"Tapi aku cukup senang untuk Yan'er, ia tidak memiliki inti seperti yang diduga oleh orang-orang". Nyonya Liu terlihat bahagia untuk Feng Yan hingga matanya berkaca-kaca."
"Suamiku, suatu hari kita harus bisa menjadi penopang untuk takdir besar yang dipikul di pundak Yan'er."
"Yan'er, kau sungguh bocah malang yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan". Nyonya Liu menatap suaminya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Adik Ning, sepertinya aku harus pergi ke sekte Bintang Abadi untuk menemui guruku. Kuharap dalam waktu dekat aku juga bisa bertemu dengan Huang Yunshang".
"Kakak lihat gunung itu, itu pasti
Sekte Bintang Abadi" Feng Yang menunjuk ke arah sebuah gunung yang menjulang.
Hal yang menakjubkan adalah gunung itu terlihat seperti memiliki cincin yang mengelilinya. Ada dua buah cincin yang terlihat besar dan lebih kecil diatasnya. Di cincin-cincin itulah sekte Bintang Abadi berada.
"Ya, itu pasti sekte Bintang Abadi. Berarti kita sudah dekat dengan kota Awan Salju. Sudah dua hari kita di perjalanan dengan cuaca dingin dan aku sudah tidak sabar untuk berendam air panas" YunZhi terlihat lebih antusias saat mendekati kota Awan Salju.
66 Kuharap sebelum gelap kita sudah berada di dalam kota." Feng Yan menimpali ucapan kakaknya yang kemudian dibalas anggukan oleh YunZhi.
Heya!!! dua orang itu mempercepat laju kuda tunggangannya.
"Adik Yan lihat! Gerbang kota sudah dekat." YunZhi tersenyum penuh semangat.
Hyaattt!!! Hupp...
Mereka berdua terpaksa menghentikan laju kuda karena didepan mereka sudah melompat beberapa orang yang menghadang jalan.
"Ternyata informasi dari saudara yang lain dari kota Pintu Angin tidak salah" seorang dari penghadang berbicara.
"Siapa dan Apa mau kalian!" YunZhi membentak orang-orang itu.
Hahaha
"Bocah sampah, baru satu bulan
Ternyata kau sudah mendapatkan seorang wanita yang cantik" yang berbicara ternyata adalah Huang Tianzi yang sebelumnya gagal membunuh Feng Yan.
"Kakak Zhi, mereka orang-orang Huang yang mengejarku" bisik Feng Yan pada YunZhi.
"Ternyata hanya sampah penakut yang beraninya keroyokan dan kalah" YunZhi mengejek mereka.
"Hahaha, entah kenapa kalau nona cantik ini yang menghinaku aku jadi tidak bisa marah. Nona tinggalkan saja bocah sampah itu dan jadi kekasihku."
"Cuih, Sampah sepertimu ingin memilikiku? Bahkan seekor kodok-pun akan enggan denganmu"
"Kau! Kakakku sudah baik memberimu wajah, tapi malah
Menghinanya dengan keji. Kakak, kita nodai saja wanita angkuh ini untuk menghangatkan tubuh"
"Kalian berani berniat keji pada kakakku, aku akan bunuh kalian berkali-kali!" Feng Yan sudah diliputi kemarahan saat mendengar ucapan pria barusan.
"Bocah sampah jangan omong besar, aku sudah berada di ranah ksatria tahap menengah. Sedangkan kau sudah pasti masih di pemurnian tubuh tahap awal."
"Kalau kau berani sini, akan ku cincang tubuhmu dan kunikmati tubuh nona cantik itu malam ini"
Pria itu tertawa setelah mengatakan hal keji tentang YunZhi, padahal usianya belum genap dua puluh tahun.
"Kakak, biar aku yang melawan orang ini. Aku yakin masih bisa melawan
Dan mengalahkannya."
"Adik, berhati-hatilah kalau tidak sanggup larilah ke arah hutan. Kita bisa mencuri jalan untuk masuk kota saat hari sudah benar gelap." YunZhi berbisik pelan.
Turun dari kuda Feng Yan mengeluarkan tombaknya yang membuat empat pemuda Huang itu terkejut.
"Tombak itu pusaka Spiritual!
Sepertinya aku akan mendapat senjata yang sangat bagus dari mayat mu bocah".
Pemuda itu menyeringai penuh kebahagian seperti ia telah memilih Tombak itu di genggaman tangannya.
"Kakak Tianzhi, dari mana bocah itu mengeluarkan tombaknya? Bukankah ia tidak membawa apapun selain baju pusaka itu.?" salah seorang dari pemuda itu penasaran.
Tianzhi hanya tersenyum, diantara mereka berempat mungkin hanya dia yang tahu tentang cincin dimensi dan senjata Nyonya Huang yang tidak diketahui keberadaannya.
"Kurasa bocah ini memiliki cincin dan pedang Teratai Peri milik mendiang Nyonya Besar. Aku harus mendapatkan benda itu." Tianzhi tersenyum memikirkan keberuntungannya.