NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:268.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Salah Paham dan Sang Wakil Gubernur

Teriakan wanita itu membuat seisi ruang ICU hening.

Banyu menoleh perlahan, gelas kosong masih tergenggam di tangannya. Di ambang pintu berdiri seorang wanita muda yang cantiknya bukan main, tapi auranya menakutkan seperti macan betina yang anaknya diganggu.

Usianya sekitar 28 tahun, mengenakan setelan blazer kantor yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Wajahnya elegan, tapi saat ini merah padam karena amarah.

"Saya tanya sekali lagi!" bentaknya sambil melangkah maju, hak sepatu tingginya berbunyi nyaring di lantai keramik. Tak! Tak! Tak! "Kamu kasih apa ke ayah saya?! Dokter bilang dia puasa! Kamu mau bunuh dia?!"

Banyu menghela napas. Dia paham kekhawatiran wanita ini, tapi sikapnya yang ngegas bikin Banyu ilfeel.

"Mbak, sabar dulu. Saya cuma kasih air," jawab Banyu tenang. "Bapak dehidrasi, kasian."

"Air?! Kamu siapa sih? Dokter bukan, perawat bukan! Kalau ada apa-apa sama ayah saya, saya tuntut kamu!" ancam wanita itu.

Melati, gadis kecil yang tadi tertidur, terbangun karena suara ibunya. Dia langsung lari dan memeluk kaki ibunya sambil menangis.

"Mama... jangan marah sama Om Banyu... Om Banyu baik... Om Banyu yang bawa Kakek ke sini..."

Wanita itu Siska sedikit melunak melihat anaknya, tapi tatapan tajamnya masih tertuju pada Banyu.

"Melati, kamu minggir dulu. Mama lagi bicara sama orang asing ini."

Banyu tersenyum sinis. "Orang asing? Mbak, kalau gak ada 'orang asing' ini, bapak Mbak mungkin masih kejemur di aspal jalanan. Mbak sendiri kemana aja? Ditelepon anaknya nangis-nangis baru dateng tiga jam kemudian. Masih pantes ngaku anak?"

Kata-kata Banyu menohok telak. Wajah Siska memucat. Rasa bersalah memang menghantuinya tadi dia terjebak meeting penting dan macet parah di jalan tol. Tapi egonya sebagai wanita sukses tak mau kalah debat.

"Kamu gak tau apa-apa soal saya! Dan itu bukan alasan kamu sembarangan kasih minum ke pasien koma!" balas Siska defensif.

"Terserah Mbak deh. Debat sama tembok lebih guna," Banyu meletakkan gelas di meja. "Tugas saya udah selesai. Deposit lima juta udah saya bayar, anggep aja sedekah. Permisi."

Banyu melenggang pergi keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

"Tunggu! Siapa nama kamu?! Jangan lari!" teriak Siska.

Tapi Banyu sudah hilang di balik pintu.

Siska mendengus kesal. Dia berbalik menatap ayahnya yang terbaring kaku. Air matanya menetes. Dia memegang tangan keriput ayahnya. "Maafin Siska, Yah... Siska telat..."

Baru saja drama itu selesai, rombongan dokter spesialis dan beberapa pria berjas rapi (ajudan pejabat) masuk ke ruangan dengan wajah panik.

"Bu Siska, mohon maaf! Kami baru dapat kabar kalau pasien adalah Bapak Wijaya, Wakil Gubernur!" kata Direktur RSUD yang ngos-ngosan. "Kami akan segera pindahkan beliau ke ruang VVIP. Tim dokter ahli dari Jakarta sedang diterbangkan ke sini."

Siska mengusap air matanya, kembali ke mode wanita besi. "Pak Direktur, saya kecewa sama keamanan RS ini. Tadi ada orang asing masuk sembarangan dan kasih minum ke ayah saya. Di mana perawat kalian?!"

Direktur RSUD pucat pasi. Dia memelototi dokter jaga. "Siapa yang jaga tadi?! Kenapa bisa lolos?! Kalau Pak Wagub kenapa-napa, kalian semua saya pecat!"

Suasana tegang. Para dokter saling menyalahkan dalam hati.

Tiba-tiba, sebuah suara berat dan serak terdengar dari ranjang pasien.

"Kalian ini... ribut-ribut apa sih...?"

Semua orang terlonjak kaget.

Mereka menoleh ke ranjang. Pak Wijaya kini sedang berusaha duduk, melepas selang oksigennya dengan santai.

"Ayah?!" Siska menjerit kaget, langsung memeluk ayahnya. "Ayah sadar? Ayah gapapa?"

"Sakit kuping Ayah denger kamu teriak-teriak," gerutu Pak Wijaya sambil memijat pelipisnya. "Aduh, seger bener badan Ayah. Kayak abis tidur siang enak banget."

Para dokter melongo. Mulut mereka menganga lebar sampai lalat bisa masuk.

"Ini... ini mustahil..." gumam dokter saraf. "Tadi pendarahannya luas... harusnya lumpuh..."

"Kakek sembuh!" seru Melati girang. "Kan Melati udah bilang! Om Banyu kasih obat ajaib! Om Banyu hebat!"

Pak Wijaya menatap cucunya, lalu menatap putrinya. "Om Banyu siapa? Oh, pemuda yang naik motor gerobak itu ya? Yang kasih Ayah minum air enak tadi?"

Siska terdiam. Jantungnya berdegup kencang karena malu.

"Jadi... air itu beneran obat?" gumam Siska pelan.

"Obat apa air zam-zam, Ayah gak tau. Yang jelas rasanya enak, anget, terus badan Ayah langsung enteng," Pak Wijaya meregangkan ototnya, lalu turun dari ranjang. "Udah ah, Ayah mau pulang. Laper pengen sate kambing."

"JANGAN PAK!" seru Direktur RSUD panik. "Bapak harus check-up total! MRI, CT Scan, Cek Darah! Kami harus pastikan ini bukan halusinasi medis!"

Pak Wijaya mendengus. "Ribet kalian. Yaudah buruan cek, abis itu saya mau cari pemuda tadi. Dia penyelamat saya."

Dia menoleh ke Siska. "Ka, kamu gak marahin pemuda itu kan tadi?"

Siska menunduk dalam-dalam, mukanya merah padam. "Ehm... Siska... tadi agak emosi dikit, Yah..."

"Aduh, kamu ini. Kebiasaan. Cari dia sampai ketemu. Ayah mau berterima kasih secara pribadi."

"Iya, Yah..." Siska menjawab lirih. Dalam hati dia bertanya-tanya: Siapa sebenarnya pemuda tadi? Dan air apa yang dia berikan?

Siska teringat sesuatu. Dia berjongkok di depan Melati. "Dek, tadi kamu nelpon Mama pake HP siapa?"

"Pake HP Om Banyu," jawab Melati polos.

Mata Siska berbinar. "Berarti nomornya ada di Call History HP Mama!"

Dia segera mengecek HP-nya. Benar saja, ada nomor tak dikenal di sana.

"Kena kamu," bisik Siska sambil tersenyum misterius. Ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya.

---

Sementara itu, sang pahlawan tanpa tanda jasa, Banyu, sedang santai menggenjot motor gerobaknya pulang ke kosan. Dia tidak tahu kalau dia baru saja menyembuhkan orang nomor dua di provinsi ini. Baginya, itu cuma kakek-kakek biasa.

"Sayang banget Cairan Ajaib satu tetes melayang," gumam Banyu. "Tapi yaudahlah, itung-itung investasi akhirat."

Gerobak motornya memasuki jembatan masuk kampung. Matahari sudah condong ke barat, langit berwarna jingga kemerahan.

Tepat di ujung jembatan, jalan kembali diblokir.

Banyu menghela napas panjang. "Hadeuh... lagi?"

Di sana berdiri Joni dan komplotannya. Tapi kali ini jumlahnya lebih banyak. Ada sekitar lima orang. Wajah Joni tampak lebih tengil dari biasanya, seolah dia baru dapat buff keberanian.

"Woi, Juragan Sayur!" seru Joni sambil memainkan pisau lipat di tangannya. "Lama gak ketemu. Badan lu makin seger aja. Bagi-bagi rejeki dong."

Banyu mematikan mesin motornya, turun dengan tenang.

"Jon, lu gak capek apa? Tiap gue lewat dipalak. Kreatif dikit napa, cari kerjaan yang halal," sindir Banyu.

"Bacot! Denger-denger lu abis panen gede di hotel? Duitnya pasti tebel tuh," Joni menyeringai, giginya kuning kebanyakan ngerokok. "Kita gak minta banyak kok. Cuma 'biaya keamanan' kampung. Lima juta aja."

"Lima juta?" Banyu tertawa pelan. "Mending gue sumbangin ke panti asuhan daripada buat beli miras lu pada."

Wajah Joni memerah. "Wah, nantangin dia! Woi, anak-anak! Seret dia ke gang sempit! Kita ajarin tata krama!"

Anak buah Joni mulai mengepung Banyu. Mereka membawa balok kayu dan rantai motor.

Banyu meregangkan lehernya. Kretek.

"Yaudah kalau mau olahraga sore," gumam Banyu. "Tapi jangan nyesel kalau besok pada gak bisa bangun."

1
Jujun Adnin
taik segar
G 454 NG
🤣🤣🤣🤣
Sefran Yuanda
IPB d Bogor thor, bukan Bandung. Lagian di awal nulis Unpad. sekarang tiba-tiba jadi IPB
DipsJr: wkwk, bener nanti saya revisi. makasih infonya
total 1 replies
Sefran Yuanda
Awalnya Unpad, kok tiba-tiba jadi IPB. Jauh banget, awalnya kan dia mau ke bandung. ketemu mahasiswa Unpad. lah kok tiba-tiba pindah jadi IPB. Jadi Bogor dong
Was pray
beli lahan nyu udah punya modal Gedhe masak puas cuma nyewa terus .. peningkatan lah...kalau nyewa rentan dipermainkan sama pemilik lahan, predikat petani sultan kok gak punya lahan sendiri, mobil juga gak punya , apa gunanya punya duit banyak kalau lahan ngrental , mobil juga ngrental.... lucu deh... 🤣🤣
Naga Hitam
kapan banyu bisa nyetir...
sitanggang
mcnya kok goblok yaa
Jujun Adnin
up
Was pray
bos sultan kok hobinya nebeng .. komedi deh, buayapZ punya uang banyak mau bepergian aja ribet nyari Tebengan... 🤣
KETUA SEKTE
Picky Eater: Makan Pilih2
Was pray
katanya sultan motor aja gak punya... bantu tu sultan dalam dunia komedi .
Rizky Rizkun Karim Rizky
mampus lu jing....🤣🤣🤣
Jujun Adnin
ok
asammanis
thanks thor seru banget ceritanya 👍👍👍
Tio Kusuma
jossssss
Tio Kusuma
mantepppp....lanjut thor
muchamat efendi
banyu2 ngakak tingkahnya, 🤣🤣🤣🤭
muchamat efendi
wkwkwk🤭🤣
asammanis
jackpot 🤣
asammanis
umpan lambung yg sangat cantik dari bang anton🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!