Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Drama lagi
Seminggu kemudian.
"Loh dari mana ini kalian?" Katiyem tersenyum di depan rumah milik Pak Seno.
Bu Putri sudah menatap mantan besan dia dengan pandangan yang begitu menusuk karena dia tahu akan terjadi peperangan sebentar lagi, Katiyem memang selalu mengeluarkan ucapan pedas ketika mereka bertemu dan dia selalu mengatakan bahwa Bu putri adalah besan yang sangat angkuh karena merasa menjadi orang kaya.
Padahal Bu Putri sama sekali tidak pernah menghina sang besan dengan ucapan pedas, baru sekarang dia tersulut emosi karena hubungan mereka juga sudah mulai retak dan tidak mungkin bisa bersama lagi setelah apa yang Darno lakukan kepada Aina saat itu.
Terlebih Katiyem juga selama ini tidak pernah membela Aina walau yang salah itu jelas adalah Darno sendiri, padahal sebagian orang tua maka seharusnya dia bisa bersikap bijaksana dan tidak perlu mencampuri urusan rumah tangga sang anak dengan berbagai macam ocehan tidak jelas, tapi dia selalu saja ikut campur dan malah menyudutkan Aina.
Sekarang adalah balasan untuk Katiyem karena selama ini juga Bu Putri sudah cukup diam dengan penderitaan sang anak, ini sekarang dia justru datang sendiri dengan wajah tidak bersalah itu sehingga emosi wanita yang terkenal lemah lembut dan kalem ini mulai terbakar habis karena dia terbayang bagaimana perbuatan buruk sang besan.
"Untuk apa kau datang ke rumahku sekarang?" Bu Putri langsung memberi pertanyaan menusuk.
"Ah cuma datang saja tidak boleh, susah ya ternyata kalau datang ke rumah orang kaya." Katiyem mulai bersikap seperti paling tersakiti.
"Berhenti bersikap dramatis seperti itu karena aku sudah sangat muak melihat kau!" bentak Bu Putri dengan emosi tinggi.
"Astaga seperti ini kami memang kalau punya kehidupan kaya dan miskin, padahal aku datang hanya ingin melihat keadaan Aina yang katanya sedang sakit." Katiyem seolah sangat sedih.
"Anak ku tidak perlu kau lihat karena itu hanya akan menambah penyakit dia saja, selama ini kau dan anak sialan mu itu yang sudah membuat putriku sakit!" Bu Putri berkata dengan sangat lantang.
"Ibu sebaiknya pergi saja dari sini agar tidak terjadi keributan." Wiwin berusaha menengahi pertengkaran mereka berdua.
"Ini Bibi mu manusia yang tidak tahu diri dan selalu saja bersikap angkuh hanya karena dia orang kaya!" Katiyem selalu saja membawa kasta ketika sedang berbicara.
Sebab ya ini nanti para warga mendengar bahwa sebagai orang kaya maka bu Putri bersikap angkuh dan arogan kepada dia yang orang miskin, Bu Putri sendiri sudah hafal bagaimana tabiat yang besan sehingga dia sudah sangat muak dan tidak ingin berbasa-basi lagi dengan Katiyem.
"Ada besan itu disuruh masuk bukan di ajak bertengkar." Marni kebetulan lewat dan dia langsung ikut campur.
"Ya mana mungkin orang miskin seperti aku mau disuruh masuk ke dalam rumah orang kaya to, Mar." Katiyem langsung menjawab dengan.
"Bagus kau sadar diri sebagai orang miskin, masih mending kalau miskin harta tapi bisa kaya hati. ini sudah miskin harta masih juga miskin hati!" Bu Putri sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Kau juga tidak perlu ikut campur dalam urusan kami, Mar!" Wiwin juga ikut emosi kepada Marni yang selalu saja ikut campur.
"Eh aku ngomong baik ya jadi tidak perlu kau merasa kesal begitu, hanya karena kau orang kaya maka bisa bersikap sesuka hati." Marni justru bertambah sengit.
"Tidak ada istilah kau itu sedang berbicara baik, pada dasarnya kau itu bukan orang baik sehingga tidak akan pernah bisa berbicara baik!" ketus Wiwin dengan wajah judes karena dia memang sudah sangat muak dengan Marni.
Marni yang mendapat jawaban seperti itu tentu saja dia semakin emosi juga dan beranggapan bahwa Wiwin sedang menantang dirinya untuk berkelahi, terlebih mereka memang seumuran dan Marni sudah menikah namun Wiwin belum sehingga terkadang Marni kerap berbicara buruk kepada orang lain bahwa Wiwin itu adalah perawan tua.
"CUKUP!"
Pak Seno membentak mereka semua yang sedang berdebat sehingga semua langsung terdiam karena kaget, Marni juga tidak berani lagi banyak berbicara karena dia tahu pak Seno kalau sudah mengamuk pasti akan sangat luar biasa galak, lebih lagi ini memang salah mereka karena membuat keributan di depan rumah orang lain.
Katiyem semula terlihat angkuh saja mendadak saja menjadi terdiam dan tidak berani lagi untuk berkata-kata, mungkin kalau lawan dengan Bu Putri masih bisa dia sanggup untuk mengatakan apa saja, tapi kalau sudah Pak Seno maka dia tidak akan pernah berani lagi karena yang ada di hadapan nya adalah seorang laki-laki.
"Aku mau saat ini juga kalian pergi dari sini." Pak Seno berkata dengan lantang kepada Marni dan Katiyem.
"Alaaah....
"Pergi atau aku bacok kalian sekarang juga!" Pak Seno langsung mengambil parang ketika Marni masih ingin berbicara lagi.
Marni yang melihat hal itu tentu saja jadi tidak berani lagi untuk melanjutkan ucapan dia, segera wanita muda itu pergi dari hadapan Pak Seno karena takut nanti akan kena bacok. lagi pula itu salah mereka yang sangat suka membuat keributan di depan rumah milik orang lain, Katiyem juga tidak berani lagi banyak protes dan langsung melangkah pergi dari pada nanti juga akan kena amuk.
"Gila ya Pak Seno sangat angkuh sekali." Marni masih menggerutu ketika telah jauh dari rumah itu.
"Orang kaya ya memang seperti itu dan orang miskin hanya bisa pasrah menerima perlakuan." Katiyem berkata dengan nada sedih.
"Yang sabar ya, Mak." Marni kasihan melihat orang tua ini.
"Padahal aku datang karena ingin melihat Aina, ingin bertanya secara pribadi Kenapa mendadak saja Dia memutuskan berpisah dari Darno." ujar Katiyem.
"Aina pasti sangat tidak suka hidup serba pas-pasan seperti itu, bisa jadi memang dia menemukan pria yang lebih kaya dari Mas Darno." Marni sangat suka menjadi kompor.
"Ya mau bagaimana lagi karena kami memang orang tidak punya, sejak awal Aina juga tahu kalau Darno itu hanya buruh biasa." Katiyem meneteskan air mata.
"Ah aku yakin Aina itu sebentar lagi pasti akan dapat karma, entah orang mana yang menjadi selingkuhan dia saat ini." geram Marni.
"Ya Allah aku sama sekali tidak menyangka kalau rumah tangga Darno akan rusak seperti ini." Katiyem tetap lanjut menjadi drama sedih.
Marni yang melihat hal itu tentu saja dia sangat percaya dan beranggapan bahwa ini semua memang sudah keterlaluan sekali untuk keluarga Aina, hanya karena keluarga Darno sangat miskin sehingga mereka berbuat sesuka hati seperti itu, karena memang Katiyem sangat pandai mengambil muka di depan orang lain sehingga banyak yang merasa iba kepada dia.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian ya.
g