NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Valencia Menutup Mata

Di dalam mobil yang melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, suasana terasa begitu sunyi, menyesakkan, dan penuh ketegangan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru mesin mobil yang menderu kencang, bunyi klakson kendaraan lain yang mereka lewati, serta napas berat dan terputus-putus dari Valencia yang terbaring lemah di pangkuan Zyro.

Zyro duduk di kursi belakang, tubuhnya membungkuk perlahan agar wajahnya sejajar dengan wajah Valencia. Tangannya gemetar hebat saat ia menekan bagian perut wanita itu tepat di samping gagang pisau yang masih menancap di sana, berusaha sekuat tenaga untuk menahan aliran darah yang terus mengalir dan membasahi jas mahal milik Ansel yang digunakan sebagai penutup. Air mata kembali menetes deras dari mata Zyro, jatuh membasahi pipi pucat Valencia dan tangannya sendiri yang kini penuh dengan darah segar wanita yang dicintainya.

"Kuat lah, Sayang... Kumohon bertahanlah... Jangan tinggalkan aku, Valen..." bisik Zyro dengan suara yang tersendat-sendat dan terdengar begitu menyayat hati. Ia mengusap pipi wanita itu dengan punggung tangannya yang berlumuran darah, gerakannya sangat lembut seolah takut menyakiti wanita itu lebih jauh. "Lihat aku, Valen... Buka matamu sedikit saja... Jangan tidur... Tetaplah bangun dan dengarkan suaraku... Aku di sini bersamamu... Aku tidak akan pergi ke mana-mana..."

Namun, Valencia hanya bisa mengerang pelan sebagai jawaban. Matanya terpejam rapat, napasnya semakin lama semakin lemah dan pendek, wajahnya yang cantik kini terlihat sangat pucat, seputih kertas, seolah nyawanya perlahan sedang ditarik pergi menjauh dari tubuhnya.

"Aku sakit, Zyro..." bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar, hanya bisa didengar oleh Zyro yang mendekatkan telinganya tepat di samping bibir wanita itu. "Dadaku sakit sekali... Di sini..." Tangannya yang dingin dan gemetar berusaha diangkat untuk menyentuh dadanya, namun jatuh kembali tak berdaya sebelum sampai ke tujuan.

"Maafkan aku... Maafkan aku karena sudah mengkhianati mu, Maafkan aku karena sudah membuatmu kecewa dan sakit hati..."

"Jangan bicara begitu! Jangan minta maaf untuk hal yang bukan kesalahanmu!" potong Zyro cepat, tangannya menahan tangan dingin Valencia dan menggenggamnya erat di dalam genggamannya.

"Dan jangan bicara seolah ini adalah ucapan terakhirmu! Kau tidak boleh menyerah, mengerti?! Kau berjanji akan selalu bersamaku, kan? Kau berjanji akan menemaniku sampai tua... Jadi kau harus bertahan! Kau harus sembuh! Aku melarang mu pergi, kau dengar?! Aku melarangnya!!" teriak Zyro di akhir kalimatnya, suaranya pecah menahan tangis dan ketakutan yang luar biasa.

Di kursi pengemudi, Ansel memegang setir mobil dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, meskipun suhu di dalam mobil terasa cukup sejuk. Wajahnya kaku dan tegang, matanya menatap tajam ke depan, namun sesekali matanya melirik ke kaca spion untuk melihat keadaan Valencia di belakang. Hatinya terasa perih luar biasa, rasa takut kehilangan wanita itu menggerogoti seluruh hatinya dan akal sehatnya. Ia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika nyawa Valencia melayang karena perbuatannya. Ia merasa sangat bersalah, menyesal, dan membenci dirinya sendiri saat ini.

"Kau harus bertahan, Valencia... Kau tidak boleh pergi... Aku melarang mu,, mengerti?!" ucap Ansel, rahangnya mengeras menahan emosi yang meluap-luap.

"Aku tak bisa hidup tanpamu Valen, aku tak sanggup kehilangan mu,,,Aku belum membahagiakanmu... Kau tidak boleh pergi begitu saja... Aku tidak akan membiarkannya terjadi!"

Ansel semakin menginjak dalam-dalam pedal gas, membuat mobil itu melaju semakin kencang bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Ia menerobos lampu lalu lintas, memotong jalur kendaraan lain, dan melanggar berbagai aturan jalan demi sampai ke rumah sakit secepat mungkin. Bagi Ansel, saat ini nyawa Valencia adalah segalanya, dan ia rela melakukan apa saja demi menyelamatkannya.

"bertahanlah sedikit lagi, Valen... Kita sudah hampir sampai... Bertahanlah, Valen..." Ansel lirih, matanya menatap ke jalan raya yang mulai terlihat bangunan rumah sakit di kejauhan.

Sementara itu, di belakang, kesadaran Valencia mulai semakin menipis. Pandangannya semakin kabur, suara-suara di sekelilingnya terdengar semakin jauh dan samar, seolah ia sedang tenggelam di dalam air yang dalam dan gelap. Namun, genggaman hangat tangan Zyro di tangannya memberikannya sedikit kekuatan dan alasan untuk tetap bertahan.

"Zyro..." panggilnya sekali lagi dengan suara yang sangat lemah.

"Aku di sini, Sayang... Aku di sini..." jawab Zyro segera, mendekatkan wajahnya semakin dekat.

"Jangan... Jangan benci Ansel..." bisik Valencia perlahan, matanya terbuka sedikit menatap wajah kekasihnya itu dengan pandangan yang sayu namun penuh ketulusan. "Dia juga... Dia juga mencintaiku... Sama sepertimu... Jangan saling menyakiti lagi... Demi aku..."

Zyro tertegun mendengar permintaan terakhir itu. Ia menatap mata Valencia lekat-lekat, melihat ketulusan di sana meskipun wanita itu sedang kesakitan parah. Hatinya terasa semakin hancur, namun ia mengangguk perlahan di sela-sela tangisnya.

"Baiklah... Aku janji... Aku tidak akan membencinya... Asalkan kau selamat... Asalkan kau tetap bersamaku..." jawab Zyro dengan suara parau.

Valencia tersenyum tipis, senyum yang begitu lemah namun begitu indah, sebelum akhirnya kelopak matanya terpejam rapat dan tangannya yang digenggam Zyro menjadi semakin dingin dan lemas.

"Valencia?! Valen?! Bangun! Kumohon bangun!!" teriak Zyro panik, mengguncang pelan bahu wanita itu. "Dokter! Kita butuh dokter sekarang juga! Cepatlah, Ansel! Cepat!!"

"Aku sedang berusaha secepat mungkin!" balas Ansel dengan nada tinggi yang penuh kepanikan. Rumah sakit sudah berada tepat di depannya. Dengan cekatan ia membelokkan kemudi dan memacu mobil itu langsung menuju pintu masuk IGD.

BRUK!

Ansel mengerem mendadak tepat di depan pintu gerbang gawat darurat. Ia langsung membuka pintunya dan berlari ke belakang. Sementara itu, Zyro sudah menggendong tubuh Valencia yang kini terasa semakin dingin dan kaku. Mereka berdua berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak meminta pertolongan.

"Tolong! Dokter! Perawat! Tolong kami!! Pasien kritis!!" teriak mereka serentak.

Beberapa perawat dan dokter yang sedang bertugas segera berlari mendekat membawa tandu dorong. Mereka segera memindahkan tubuh Valencia ke atas tandu dan dengan cepat membawanya masuk ke ruang gawat darurat.

"Pasien mengalami pendarahan hebat akibat luka tusuk di perut! Dan juga ada luka sayatan di pergelangan tangan! Tolong selamatkan dia, Dok! Kumohon selamatkan dia!!" seru Ansel dengan napas terengah-engah kepada salah satu dokter yang bertugas.

"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan. Mohon tunggu di luar dan biarkan kami menangani ini," jawab dokter itu dengan tenang namun tegas, lalu pintu ruang gawat darurat tertutup rapat di depan wajah mereka.

Kini, tinggallah kedua pria itu berdiri di depan pintu ruangan itu. Napas mereka masih memburu, tubuh mereka penuh dengan darah, dan hati mereka dipenuhi dengan ketakutan serta keprihatinan yang sama besarnya. Mereka saling pandang sejenak, tatapan mereka tidak lagi penuh kebencian atau amarah seperti sebelumnya, melainkan dipenuhi rasa takut, penyesalan, dan kepedihan yang mendalam. Tanpa kata-kata, mereka sama-sama tahu bahwa nasib wanita yang mereka cintai kini berada di tangan Tuhan dan para dokter di dalam sana.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!