NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Penjaga Terakhir

Air terjun itu tidak seperti yang Aditya bayangkan. Bukan air yang jatuh vertikal dari tebing tinggi, melainkan aliran yang menyebar di atas dinding batu selebar dua puluh meter—seperti tirai air raksasa yang berkilau diterpa sinar matahari sore.

Kakek Seno berhenti di depan kolam di kaki air terjun. "Di balik air itu, ada gua. Di dalam gua, ada ruang pelatihan. Tapi sebelum masuk, kau harus tahu sesuatu."

"Apa itu?"

"Aku adalah keturunan terakhir dari klan yang ditugaskan menjaga tempat ini. Nenek moyangku bersumpah untuk melayani keluarga Pradipa dan memastikan hanya yang layak yang bisa masuk." Kakek Seno menatap Aditya dengan mata yang tiba-tiba terlihat lebih muda—lebih tajam. "Kau membawa Liontin Surya, jadi kau berhak masuk. Tapi hak tidak sama dengan kemampuan."

"Aku sudah menduga akan ada ujian."

"Bagus. Ujiannya sederhana." Kakek Seno menunjuk kolam. "Masuklah ke dalam air, dan berjalanlah menembus air terjun. Kalau kau berhasil, pintu ruang pelatihan akan terbuka. Kalau gagal... kau akan tersapu air terjun dan jatuh ke sungai di bawah."

"Sederhana," ulang Aditya dengan nada skeptis.

"Sederhana bukan berarti mudah."

Aditya menatap air terjun itu. Dari dekat, deru airnya memekakkan telinga. Debit air yang jatuh cukup deras untuk menghancurkan tulang jika seseorang berdiri tepat di bawahnya.

Tapi ia sudah terlalu jauh untuk mundur.

Ia melangkah ke dalam kolam. Airnya dingin—bukan dingin biasa, tapi dingin yang menembus kulit dan menusuk tulang. Langkahnya berat. Lututnya bergetar.

Air ini... bukan air biasa.

All-Seeing Eye mendeteksi: Air kolam mengandung energi spiritual padat. Berfungsi sebagai filter—hanya mereka yang memiliki energi kultivasi yang bisa menembus.

"Saya bahkan belum level 1," gumam Aditya.

Tapi ia terus berjalan. Selangkah demi selangkah. Air semakin dalam, mencapai dada, lalu leher. Air terjun tinggal satu meter di depannya.

Ia melangkah.

Hantaman air langsung menghantam punggungnya. Rasa sakit luar biasa—seperti ditimpa karung berisi batu. Aditya terjatuh berlutut. Air menyapu wajahnya. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, hanya merasakan tekanan yang ingin menyingkirkannya.

Bangun.

Ia memaksakan diri berdiri. Lututnya gemetar. Bahunya seperti ditusuk ribuan jarum.

Satu langkah lagi.

Liontin di dadanya tiba-tiba bersinar. Energi hangat menjalar ke seluruh tubuh. Aditya merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: energi itu mengalir sendiri, tanpa ia perintahkan, memperkuat setiap otot dan tulangnya.

Level Kultivasi Meningkat.

0 → 1 (Alam Bela Diri Tingkat Awal).

Kekuatan: 9 → 15. Kecepatan: 9 → 14. Stamina: 12 → 20.

Aditya melangkah. Kali ini, air terjun terbelah di atas kepalanya—seperti ada payung tak kasat mata yang melindunginya.

Ia berhasil menembus.

---

Gua di balik air terjun tidak gelap. Dinding-dinding batuannya ditutupi lumut bercahaya kebiruan, menerangi ruangan selebar lapangan basket. Di tengahnya, sebuah formasi lingkaran batu dengan ukiran matahari di lantai. Di sekelilingnya, tujuh tiang batu berdiri—masing-masing diukir dengan simbol berbeda: Liontin, Belati, Cincin, Tameng, Tombak, Busur, Mahkota.

"Ruang Pelatihan Matahari," suara Kakek Seno bergema dari belakangnya—pria tua itu entah bagaimana sudah ada di dalam gua lebih dulu. "Dibangun 400 tahun lalu oleh leluhurmu."

"Leluhurku?" Aditya menoleh. "Saya bukan keturunan Pradipa."

Kakek Seno tertawa kecil. "Kau pikir Liontin Surya memilihmu secara acak?"

Aditya terdiam.

"Darah Pradipa mengalir di tubuhmu, Nak. Mungkin encer. Mungkin dari jalur tidak resmi. Tapi darah itu ada. Liontin tidak akan merespons orang luar." Kakek Seno berjalan ke tengah lingkaran batu. "Sekarang duduk di sini. Latihanmu dimulai."

Aditya duduk di tengah lingkaran. Begitu pantatnya menyentuh lantai, tujuh tiang batu menyala bersamaan. Cahaya keemasan memenuhi gua.

"Ruang ini mempercepat waktu," jelas Kakek Seno. "Satu hari di dalam sini sama dengan sepuluh hari di luar. Tapi efek itu hanya bekerja jika kau benar-benar fokus berlatih. Setiap keraguan, setiap ketakutan, akan memperlambat waktunya."

"Apa yang harus saya latih?"

"Semuanya. Tapi pertama-tama..." Kakek Seno mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—sebuah gulungan bambu tua yang diikat tali rami. "Ini diajarkan oleh kakek buyutmu pada ayahku, lalu ayahku padaku. Sekarang, aku ajarkan padamu."

Aditya membuka gulungan itu. Tertulis dengan tinta yang sudah memudar:

"Jurum Surya—Teknik Pernapasan Matahari."

"Ini adalah fondasi kultivasi keluarga Pradipa. Tanpa ini, semua skill lain hanya akan menjadi setengah kekuatan." Kakek Seno duduk bersila di depan Aditya. "Tarik napas. Bayangkan kau menghirup sinar matahari—bukan dengan paru-paru, tapi dengan setiap pori tubuhmu."

Aditya memejamkan mata. Ia menarik napas.

Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit.

Lalu ia merasakannya: kehangatan yang mengalir dari liontin, menyebar ke dada, ke lengan, ke ujung jari. Bukan panas yang membakar—tapi hangat yang memberi kekuatan.

Skill Baru Dipelajari: Jurus Surya (Level 1).

Efek: Meningkatkan kecepatan kultivasi sebesar 50%. Memungkinkan penyerapan energi dari sinar matahari.

"Bagus. Sekarang buka matamu."

Aditya membuka mata. Dunia terasa berbeda. Warna-warna lebih tajam. Udara lebih hidup. Ia bisa melihat partikel-partikel kecil energi berterbangan di udara—sebagian besar berwarna emas, sebagian kecil berwarna gelap.

"Itu energi alam. Mulai sekarang, kau bisa melihatnya. Yang emas bisa kau serap. Yang gelap... jangan disentuh." Kakek Seno berdiri. "Latihan selanjutnya: bertahan hidup."

"Apa maksud—"

Kakek Seno menghilang. Lalu gua bergetar.

Dari balik tujuh tiang batu, tujuh sosok muncul. Masing-masing terbuat dari cahaya—manusia-manusia emas tanpa wajah, dengan postur bela diri yang berbeda-beda.

"Tujuh Prajurit Matahari. Mereka adalah penjaga ruang ini. Kalahkan mereka bertahap—dari yang terlemah sampai terkuat. Kalau kau menyerah, mereka berhenti. Tapi kau tidak akan naik level." Suara Kakek Seno bergema entah dari mana. "Kau ingin jadi lebih kuat? Ini caranya."

Prajurit pertama melangkah maju. Kuda-kudanya rendah, tangannya terbuka—gaya bertarung seperti harimau.

Target: Prajurit Matahari #1. Level: 3. Kekuatan: 35. Kecepatan: 30.

Aditya mengepalkan pedang kayunya.

"Aku baru level 1," bisiknya.

Lalu ia tersenyum.

"Kesempatan bagus untuk naik."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!