Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Akting Sempurna dan Pengintai di Gerbang Belakang
Senin pagi di SMA Taruna Citra biasanya dipenuhi oleh wajah-wajah kuyu murid yang masih belum rela berpisah dengan kasur. Namun, pagi ini suasana kelas XII IPA 1 terasa sedikit berbeda, setidaknya bagi Rama Arsya Anta. Cowok jangkung dengan kacamata minus berbingkai hitam itu duduk dengan postur tegap andalannya, membolak-balik buku paket fisika, meski sebenarnya matanya sama sekali tidak membaca deretan rumus di sana.
Pikirannya masih tertinggal di Kafe Sudut Aksara pada Sabtu malam kemarin. Momen ketika gadis berjilbab ungu itu menangis menceritakan masa lalunya, dan bagaimana tangan Rama secara refleks menggenggam punggung tangannya. Sensasi hangat dari kulit Nayla seolah masih membekas di telapak tangan Rama, membuatnya harus mengepalkan tangan berkali-kali untuk mengusir rasa salah tingkah yang tiba-tiba menyerang.
"Woy, Ram! Lo dengar gosip terbaru nggak?" Dika tiba-tiba menggebrak meja dengan heboh, nyaris membuat kacamata Rama melorot.
Rama menatap teman sebangkunya itu dengan datar. "Gosip apa? Kalau soal Pak Yanto yang mau ngadain ujian lari estafet, gue udah tahu."
"Bukan itu, elah! Ini soal si Raka!" Dika mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada penuh konspirasi. "Katanya, pagi ini dia narik formulir pencalonan Ketua OSIS. Alasan resminya sih masalah kesehatan, katanya dia sering migrain. Tapi anak-anak pada curiga, masa iya cowok seambisius Raka tiba-tiba mundur teratur tanpa perlawanan? Padahal dia udah koar-koar dari bulan lalu bakal menang telak."
Sebuah senyum tipis, sangat tipis hingga tak tertangkap oleh mata Dika, melintas di wajah Rama. "Oh ya? Baguslah. Mungkin dia sadar kalau jadi Ketua OSIS itu tanggung jawabnya berat, bukan cuma buat pamer name tag."
Tepat saat Dika hendak melanjutkan sesi gosipnya, Nayla melangkah masuk ke dalam kelas. Gadis itu mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi, jilbab ungunya menjuntai menutupi dada. Begitu mata mereka bersirobok dari seberang ruangan, langkah Nayla sempat terhenti sekian detik. Rona merah tipis seketika menjalar di kedua pipi gadis itu. Ia buru-buru membuang muka, berjalan menunduk menuju bangkunya sendiri tanpa menyapa Rama seperti biasanya.
Rama menelan ludah. Sialan. Kecanggungan pasca-kencan berkedok tugas itu ternyata benar-benar nyata.
Bel istirahat pertama berbunyi, menyelamatkan Rama dari kecanggungan yang mencekik. Sesuai rutinitas tak tertulis mereka, Rama berjalan lebih dulu menuju kantin, membeli dua bungkus siomay bumbu kacang dan dua botol teh manis dingin, lalu melangkah menuju gazebo taman belakang perpustakaan.
Tak lama, Nayla muncul. Gadis itu duduk di seberang Rama, masih dengan wajah yang sedikit ditekuk dan gerakan yang kaku. Ia membuka bungkusan siomaynya tanpa banyak bicara, sebuah pemandangan langka mengingat biasanya mulut gadis itu tidak pernah berhenti mengomel.
"Lo sariawan?" tembak Rama memecah keheningan, tak tahan dengan situasi canggung ini.
Nayla mendelik tajam. "Nggak. Lagi sariawan hati."
Rama terkekeh pelan. "Masih kepikiran soal hari Sabtu kemarin? Santai aja kali, Nay. Lo nggak usah malu gara-gara cerita masa lalu lo ke gue. Lagian, rahasia lo aman di tangan bos berandal ini."
Mendengar godaan Rama, pertahanan Nayla akhirnya runtuh. Gadis itu mendengus sebal, namun senyum kecil mulai terukir di bibirnya. "Bukan itu masalahnya, Babu. Gue cuma... aneh aja. Biasanya lo kan nyebelin, dingin, tukang suruh. Tiba-tiba kemarin lo cosplay jadi cowok super soft yang dengerin curhatan. Gue kan jadi kaget, kirain lo kesurupan penunggu kafe."
"Gue emang fleksibel," balas Rama santai, mencomot siomaynya. "Tergantung majikannya lagi butuh pawang atau butuh babu. Lagian, si Raka beneran narik pencalonannya hari ini. Rencana kita sukses besar. Lo nggak mau ngasih pujian ke gue gitu?"
"Itu kan ide brilian gue pakai kamera di dalem kamus," cibir Nayla, meski kini suasananya sudah kembali cair dan hangat seperti sediakala. "Tapi ya udah deh, lo lumayan keren pas bagian ngancem dia di depan loker. Kalau gue sutradara film action, lo udah gue casting jadi pemeran mafia."
"Gue emang mafia," Rama menaikkan sebelah alisnya. "Mafia aspal Wana Asri."
Mereka berdua tertawa bersama. Di bawah rindangnya pohon beringin, dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, Rama merasa sandiwara ganda dalam hidupnya tak lagi terasa begitu melelahkan. Selama ada Nayla yang mengetahui dan menerima kedua sisinya—baik si anak emas maupun si preman jalanan—Rama merasa ia bisa menghadapi apa pun.
Siang harinya, pelajaran Bahasa Indonesia bersama Pak Budi dimulai. Sesuai jadwal, ini adalah hari presentasi sinopsis naskah drama. Ketika nama Rama dan Nayla dipanggil, mereka maju ke depan kelas.
"Silakan, Rama, Nayla. Apa judul dan tema naskah yang kalian buat?" tanya Pak Budi sambil memegang pena penilaian.
Rama berdehem, membetulkan letak kacamatanya, dan memasang ekspresi serius khas Ketua Klub Sains. "Judulnya 'Dua Sisi Koin', Pak. Temanya adalah aksi dan misteri psikologis. Ceritanya berpusat pada seorang pemuda bernama X yang memiliki kehidupan ganda. Di siang hari dia adalah murid teladan, namun di malam hari dia adalah pemimpin sindikat rahasia. Konflik memuncak ketika dunia gelapnya mulai mengancam kehidupan siangnya, dan ia harus bekerja sama dengan seorang saksi mata yang tak sengaja mengetahui identitasnya."
Seisi kelas terdiam. Dika melongo dari bangkunya. Cerita itu terdengar terlalu gelap dan keren untuk ukuran tugas sekolah biasa.
"Saksi mata ini," Nayla menyambung penjelasan Rama dengan suara yang lugas dan percaya diri, "adalah karakter perempuan yang awalnya dianggap sebagai ancaman oleh X. Namun seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan untuk bertahan hidup dari teror musuh utama X."
Pak Budi mengangguk-angguk puas. "Premis yang sangat menarik dan anti-mainstream. Saya suka. Tapi ingat, ini drama, jadi kalian harus bisa membawakannya dengan emosi yang kuat saat pentas nanti. Bagus sekali, silakan duduk."
Saat berjalan kembali ke bangku, Nayla menyenggol lengan Rama pelan. "Tuh kan, apa gue bilang. Ide dari novel fiksi gue itu masterpiece."
Rama hanya memutar bola matanya malas, namun tak bisa menyembunyikan senyum bangganya.
Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama. Menjelang bel pulang sekolah, ponsel khusus di saku dalam celana Rama bergetar hebat. Itu bukan ponsel yang biasa ia gunakan untuk grup kelas, melainkan nomor khusus gengnya. Rama meminta izin ke toilet dan segera mengangkat panggilan tersebut di bilik yang sepi.
"Ada apa, Lang?" tanya Rama, suaranya langsung memberat dan berubah mode.
"Bos, gawat," suara Galang dari seberang sana terdengar tegang dan terburu-buru. "Anak-anak Kobra Besi kayaknya udah mulai berani gerak siang bolong. Bagas baru aja ngabarin, dia lagi nongkrong di warung kopi seberang jalan raya dekat gerbang belakang sekolah lo. Dia ngelihat ada tiga motor modifan nongkrong di sana. Jaket mereka emang dibalik, tapi Bagas hafal banget itu ciri khas kacungnya Tora. Mereka lagi mantau gerbang sekolah lo, Ram."
Darah Rama seakan membeku. Rahangnya mengeras seketika. Tora ternyata tidak butuh waktu lama untuk membalas dendam atas hancurnya gudang suku cadang mereka. Karena rencana lewat Raka gagal total, Kobra Besi kini mengirim anjing pelacak mereka langsung ke perimeter SMA Taruna Citra.
"Mereka tahu plat nomor mobil jemputan gue, atau mereka nyari motor gue?" desis Rama, otak strateginya berputar secepat kilat.
"Mereka pasti nyari lo pas lagi keluar gerbang, Bos. Entah mereka mau nyerang lo di jalan atau cuma mau ngikutin lo buat cari celah. Yang pasti, lo jangan keluar lewat gerbang belakang. Tahan dulu di dalem sekolah sampai gue sama anak-anak datang buat nyapu bersih mereka," usul Galang.
"Nggak usah. Kalau kalian ke sini, malah bakal memancing keributan di depan sekolah. Gue nggak mau urusan geng kita terekspos ke warga atau guru-guru," tolak Rama tegas. "Biarin mereka di sana. Gue punya cara sendiri buat lolos."
Rama mematikan sambungan telepon. Ia mencuci wajahnya di wastafel, menatap pantulan matanya yang kini memancarkan kilat membunuh. Ancaman ini sudah terlalu dekat dengan zona amannya, dan yang paling membuat Rama panik: bagaimana dengan Nayla? Kalau Kobra Besi memantau gerbang, mereka bisa saja melihat interaksinya dengan gadis itu saat pulang nanti.
Begitu kembali ke kelas, bel pulang baru saja berbunyi. Rama berjalan cepat menghampiri meja Nayla yang sedang memasukkan tempat pensil ke dalam tasnya.
"Kita pulang sekarang. Lewat gerbang utama. Jangan banyak tanya," bisik Rama sangat pelan namun nadanya tak terbantahkan.
Nayla mengerutkan kening melihat raut wajah Rama yang kembali menegang seperti saat insiden stiker di loker. Tanpa membantah, gadis itu menyampirkan tasnya dan mengikuti langkah lebar Rama menyusuri koridor.
"Ada apa lagi, Babu? Raka kumat?" bisik Nayla saat mereka sudah berada agak jauh dari kerumunan siswa lain.
"Bukan. Mata-mata Tora lagi mantau gerbang belakang sekolah, tempat parkir motor gue biasanya keluar," jelas Rama dengan nada tertahan, matanya terus waspada memindai sekitar. "Gue nggak bisa boncengin lo pulang hari ini. Kalau mereka lihat lo naik motor gue, lo bakal langsung masuk ke dalam radar target mereka."
Nayla membelalakkan matanya. "Terus motor lo gimana? Lo mau ninggalin motor lo di sekolah?"
"Gue bakal suruh Pak Maman, sopir gue, buat jemput gue di gerbang utama pakai mobil," ucap Rama cepat, merogoh ponsel pintarnya yang biasa untuk menelepon sopirnya. "Lo ikut naik mobil gue. Kaca mobilnya gelap, mereka nggak bakal bisa lihat siapa yang ada di dalam. Gue bakal turunin lo di jalan yang aman sebelum gue balik ke rumah."
"Gila, lo nyuruh gue naik mobil mewah keluarga lo? Kalau bokap lo tahu gimana?" protes Nayla tertahan, langkahnya sedikit ragu.
"Bokap gue lagi di luar kota. Pak Maman bisa tutup mulut," Rama menghentikan langkahnya, berbalik menatap Nayla dengan kedua tangan memegang pundak gadis itu. "Tolong, Nay. Turutin kemauan gue kali ini aja. Gue nggak bisa mikir jernih kalau gue tahu lo pulang sendirian naik angkot sementara anjing-anjing Kobra Besi lagi berkeliaran di sekitar sini."
Sorot mata Rama begitu putus asa dan memohon, membuat ego Nayla luluh seketika. Gadis itu mengangguk pelan. "Oke. Gue ikut lo."
Sepuluh menit kemudian, sebuah sedan hitam mengilap berhenti tepat di drop zone gerbang utama SMA Taruna Citra. Rama membukakan pintu belakang untuk Nayla, memastikan gadis itu masuk lebih dulu sebelum ia menyusul dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Jalan, Pak Maman. Agak cepat," perintah Rama.
Di dalam mobil yang sejuk dan kedap suara itu, ketegangan masih menggantung tebal di udara. Rama sesekali melirik ke kaca spion luar, memastikan tidak ada motor mencurigakan yang membuntuti sedan mereka. Nayla duduk di sebelahnya, kedua tangannya meremas ujung rok abu-abunya.
"Mereka beneran nekat ya, Ram," gumam Nayla memecah keheningan, matanya menatap nanar ke arah jalanan dari balik kaca film yang gelap. "Tora itu... dia nggak peduli ini area sekolah?"
"Di kamus Tora, nggak ada yang namanya batas suci," jawab Rama, menyandarkan kepalanya ke jok mobil, merasa lelah yang luar biasa. "Gue yang bodoh karena mikir Wana Asri bakal selalu aman."
Tiba-tiba, Nayla menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Tangan mungil gadis itu terulur, dan dengan ragu, ia menepuk punggung tangan Rama yang sedang mengepal di atas paha.
"Kita bakal lewatin ini, Bos," ucap Nayla pelan, suaranya selembut belaian angin sore. "Lo bukan Hantu Wana Asri kalau lo gampang nyerah cuma gara-gara preman kelas teri yang hobinya ngintip di gerbang sekolah."
Rama menoleh, menatap gadis di sebelahnya. Sentuhan ringan di tangannya itu bagaikan jangkar yang menahan kewarasannya agar tidak hanyut dalam lautan amarah. Perlahan, Rama membuka kepalan tangannya, lalu membalikkan telapaknya untuk menggenggam tangan Nayla. Genggaman yang erat, hangat, dan penuh janji tanpa suara.
Di dalam kabin mobil yang terus melaju menjauhi bahaya itu, Rama menyadari bahwa peperangan yang sesungguhnya telah dimulai. Dan demi melindungi tangan yang kini berada dalam genggamannya ini, Rama bersumpah akan meratakan Kobra Besi hingga tak bersisa, bahkan jika ia harus mengorbankan kedua dunianya sekaligus.