NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 – Jawaban yang Tidak Terduga

Suasana ruang makan tiba-tiba menjadi terlalu hening.

Pertanyaan ibu Raka masih terasa jelas di udara.

“Apa kalian benar-benar saling mencintai?”

Alya langsung menahan napas.

Jantungnya berdetak cepat, terasa tidak nyaman.

Karena ini pertama kalinya seseorang menanyakan pertanyaan itu secara langsung di depan mereka berdua.

Dan yang lebih parah—

Ia tidak tahu harus menampilkan ekspresi seperti apa.

Tatapan beberapa anggota keluarga kini berganti-ganti antara dirinya dan Raka, menunggu jawaban.

Sementara pria di sampingnya terlihat jauh lebih tenang daripada Alya.

Tentu saja.

Raka selalu terlihat tenang.

Namun Alya mulai menyadari bahwa ketenangan pria itu justru berbahaya.

Karena ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Raka.

“Apa pertanyaannya terlalu sulit?” tanya salah satu sepupu sambil tertawa kecil.

Alya memaksakan senyum tipis.

“Bukan begitu…”

Namun sebelum ia sempat menyiapkan jawaban yang aman, suara Raka terdengar rendah dan tenang di sampingnya.

“Ya.”

Satu kata.

Pendek.

Tapi cukup membuat seluruh meja makan hening beberapa detik.

Alya langsung menoleh cepat.

Apa?

Raka bahkan tidak terlihat ragu saat mengatakannya.

Sementara anggota keluarga lain mulai saling bertukar pandang.

Ibu Raka mengangkat alisnya, tampak cukup terkejut.

“Serius?” tanya wanita itu pelan.

Raka menyesap minumannya dengan santai sebelum menjawab—

“Saya tidak menikahi seseorang tanpa alasan.”

Kalimat itu terdengar sangat meyakinkan.

Terlalu meyakinkan.

Dan Alya mulai merasa panik.

Karena pria ini bicara seolah semuanya nyata.

Padahal tidak.

“Wow…” gumam sepupunya pelan. “Aku tidak pernah menyangka Raka bisa bicara seperti itu.”

“Diam dan makan,” balas Raka dingin.

Namun suasana di meja justru sedikit lebih santai setelahnya.

Beberapa orang mulai tertawa kecil.

Dan Alya—

Ia masih mencoba mencerna jawaban tadi.

*Ya.*

Kenapa jawaban sederhana itu terasa begitu mengganggu?

Padahal itu hanyalah bagian dari sandiwara mereka.

‘Kan?

“Alya.”

Ia sedikit terkejut dan menoleh ke arah ibu Raka.

Wanita itu tersenyum lembut.

“Jangan terlalu tegang. Kami tidak akan memakanmu.”

Beberapa orang tertawa kecil lagi.

Alya ikut tersenyum tipis.

“Maaf… saya hanya belum terbiasa.”

“Itu terlihat.”

Nada suaranya tidak jahat.

Justru terdengar tenang dan elegan.

Dan entah kenapa, Alya merasa wanita itu jauh lebih sulit ditebak daripada anggota keluarga lainnya.

“Kamu berbeda dari wanita yang biasanya ada di sekitar Raka,” lanjut wanita itu.

Alya langsung sedikit gugup lagi.

“Dalam arti buruk?”

“Tidak.”

Tatapan wanita itu beralih sejenak ke arah putranya.

“Dan mungkin itu alasan dia memilihmu.”

Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.

Sementara Raka tetap terlihat biasa saja.

Pria itu benar-benar ahli menyembunyikan ekspresi.

Makan malam berlanjut.

Namun Alya tetap merasa pikirannya kalut sejak jawaban Raka tadi.

Sampai akhirnya pria paruh baya yang dipanggil Paman kembali bersuara.

“Jadi kapan kalian memberi kabar bahagia berikutnya?”

Alya mengernyit.

“Kabar bahagia?”

Sepupunya langsung tertawa.

“Anak.”

Dan Alya hampir tersedak lagi.

“Apa?!”

Seluruh meja langsung dipenuhi gelak tawa kecil.

Bahkan ibu Raka terlihat menahan senyum tipis.

Sementara Alya sudah ingin menghilang dari tempat itu.

“Kalian sudah menikah,” lanjut pamannya santai. “Cepat atau lambat pasti akan punya anak.”

Alya langsung menatap piringnya mati-matian.

Mukanya panas.

Sangat panas.

Karena masalahnya—

Ia dan Raka bahkan tidak pernah membahas hal seperti itu.

Dan sekarang topik ini muncul begitu saja di depan seluruh keluarga.

“Aku rasa itu terlalu cepat dibahas,” kata Alya cepat.

“Kenapa?” sepupunya menggoda. “Kalian terlihat sangat cocok.”

Alya hampir menangis dalam hati.

Tolong hentikan topik ini.

Namun sebelum ia benar-benar mati malu, suara Raka terdengar datar di sampingnya.

“Kami belum memikirkannya.”

Nada suaranya tenang.

Stabil.

Dan berhasil menghentikan topik itu sebelum makin melebar.

Alya langsung menghembuskan napas lega diam-diam.

Syukurlah.

Setelah makan malam selesai, beberapa anggota keluarga mulai berpindah ke ruang tengah untuk minum teh dan berbincang santai.

Alya awalnya ingin membantu pelayan membersihkan meja, tapi tentu saja dilarang.

“Nona tamu tidak perlu melakukan itu,” kata Mira cepat.

“Aku bukan tamu…”

“Lebih tidak boleh lagi kalau begitu.”

Alya menyerah sambil tertawa kecil.

Ia akhirnya berjalan menuju balkon besar di samping ruang tengah untuk mencari udara segar.

Malam terasa cukup dingin.

Namun jauh lebih menenangkan daripada suasana di dalam tadi.

“Akhirnya kabur juga.”

Alya menoleh.

Ibu Raka berdiri di pintu balkon sambil membawa secangkir teh.

Alya langsung sedikit gugup.

“Maaf…”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Kamu tidak perlu setegang itu di dekatku.”

Alya tersenyum canggung.

Keduanya berdiri dalam diam beberapa detik.

Lalu wanita itu akhirnya bicara pelan—

“Raka berubah sejak menikah denganmu.”

Alya langsung menoleh cepat.

“Berubah?”

“Ya.”

Tatapan wanita itu lembut, tapi tajam dengan caranya sendiri.

“Dia lebih sering pulang ke rumah.”

Kalimat itu membuat Alya sedikit terdiam.

“Dulu,” lanjut wanita itu, “Raka lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah.”

Alya tidak tahu harus menjawab apa.

Karena jujur saja—

Ia tidak benar-benar mengenal kehidupan Raka sebelum ini.

“Dia anak yang sulit ditebak,” kata wanita itu lagi sambil menatap taman. “Bahkan untuk saya.”

Alya tersenyum kecil.

“Kalau itu saya setuju.”

Untuk pertama kalinya, wanita itu tertawa pelan.

Dan suasana tiba-tiba terasa jauh lebih nyaman.

“Apa Tante setuju dengan pernikahan kami?” tanya Alya hati-hati.

Wanita itu terdiam sesaat.

Lalu menoleh padanya.

“Awalnya tidak.”

Jawaban jujur itu membuat Alya sedikit menegang.

“Tapi sekarang?”

Tatapan wanita itu kembali lembut.

“Sekarang saya penasaran.”

“Penasaran?”

“Karena saya belum pernah melihat Raka melindungi seseorang seperti caranya melindungimu.”

Jantung Alya langsung berdetak lagi.

“Dia hanya bertanggung jawab.”

“Mungkin.”

Namun nada suara wanita itu terdengar seolah tidak sepenuhnya percaya.

Dan jujur saja—

Alya sendiri mulai tidak yakin.

Suara langkah kaki terdengar mendekat.

Raka muncul di pintu balkon dengan ekspresi datarnya seperti biasa.

“Mama.”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Saya hanya mencuri waktu sebentar dengan istrimu.”

Tatapan Raka langsung beralih ke Alya.

Dan lagi-lagi—

Tatapan itu terasa terlalu fokus.

“Apa dia membuat masalah?” tanya Alya cepat untuk mengalihkan suasana.

“Belum.”

“Belum katanya…”

Ibu Raka tertawa kecil lagi sebelum akhirnya pamit kembali ke dalam.

Kini hanya Alya dan Raka di balkon.

Dan tiba-tiba suasana terasa lebih sunyi.

Lebih pribadi.

“Apa Mama bilang sesuatu yang aneh?” tanya Raka.

Alya bersandar pelan pada pagar balkon.

“Katanya kamu berubah.”

Raka mengernyit tipis.

“Berubah bagaimana?”

“Katanya kamu lebih sering pulang.”

Raka terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan—

“Mungkin rumah terasa berbeda sekarang.”

Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat.

Lagi.

Kalimat itu terlalu ambigu.

Terlalu berbahaya.

Dan sebelum Alya sempat mencari jawaban yang aman—

Raka melangkah mendekat.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Sampai jarak mereka terasa terlalu dekat untuk sekadar menjadi pasangan palsu.

“Alya.”

Nada suaranya rendah.

Dan tatapan pria itu sekarang benar-benar membuat napas Alya terasa tersengal-sengal.

“Ya?”

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu perlahan—

Raka mengangkat tangan dan merapikan helaian rambut Alya yang tertiup angin malam.

Gerakannya pelan.

Lembut.

Dan sangat tidak membantu detak jantung Alya yang sudah berantakan sejak tadi.

“Kamu terlalu mudah gugup,” gumam Raka pelan.

Alya menelan ludah kecil.

“Kalau kamu terus melakukan hal seperti ini… aku memang akan gugup.”

Untuk pertama kalinya malam itu—

Tatapan Raka berubah.

Bukan dingin.

Bukan datar.

Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada keduanya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!