Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Hari-hari yang dijalani kini terasa jauh lebih tenang dan damai dibandingkan sebelumnya. Meskipun tinggal di rumah kontrakan yang sederhana dan keuangan masih sangat terbatas, namun hati Aluna merasa jauh lebih kaya karena kehadiran suami yang kini sangat perhatian dan penuh kasih sayang.
Siang itu, cuaca sedang cerah namun tidak terlalu panas. Arfan sudah tertidur pulas di buaiannya setelah kenyang menyusu.
Arka yang sedang membaca berita bisnis di koran, melihat istrinya tampak sedikit bingung dan kebingungan mencari kegiatan.
"Kenapa sayang? Bosan ya?" tanya Arka sambil tersenyum.
"Iya nih Tuan... Biasanya kan Aluna sibuk masak atau beberes, tapi hari ini kan sudah beres semua. Arfan juga sudah tidur. Jadinya Aluna bingung mau ngapain," jawab Aluna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, istirahat saja atau baca majalah?" saran Arka.
"Nanti dulu deh..." Aluna tersenyum lalu bangkit dan mengambil sebuah buku catatan kecil dan pensil warna yang kebetulan ada di tasnya sejak lama.
Dulu, sebelum kehidupannya berubah drastis dan harus menikah demi biaya pengobatan ibunya, Aluna memiliki cita-cita yang sangat besar.
Ia sangat suka menggambar dan mendesain baju. Bahkan dulu ia bercita-cita ingin menjadi seorang desainer fashion yang terkenal.
Karena merasa bosan dan ingin mengisi waktu luang, tangan Aluna mulai bergerak sendiri. Ia mulai mencoret-coret kertas dengan goresan-goresan yang sangat halus dan indah.
Ia mulai menggambar sketsa gaun pesta, model gamis syar'i yang elegan, hingga desain baju anak yang lucu dan unik. Jari-jarinya tampak sangat lincah dan mahir, seolah tidak pernah melupakan keahliannya itu meski sudah lama tidak memegang pensil.
Wajah Aluna bersinar ceria saat sedang menggambar. Ada semangat dan kebahagiaan yang terpancar dari matanya, sesuatu yang membuat Arka terpana melihatnya.
Arka diam-diam mengamati dari samping. Awalnya ia hanya melihat istrinya sedang iseng menggambar biasa, namun semakin ia melihat, semakin ia takjub.
Gambar-gambar itu bukan sekadar coretan anak kecil. Setiap garis, setiap detail ornamen, dan pemilihan warnanya sangat memiliki nilai seni tinggi dan sangat modern. Desainnya unik, cantik, dan pasti akan laku keras jika diproduksi.
"Wah..." gumam Arka tak sengaja keluar suara.
Aluna kaget dan langsung menutup bukunya cepat-cepat dengan wajah memerah.
"Ya Ampun Tuan! Kagetin aja! Ih malu ah, cuma iseng doang kok."
"Jangan ditutup dong..." Arka menarik tangan istrinya pelan.
"Biarin aku lihat lagi. Itu bagus banget lho sayang. Aku gak nyangka kamu punya bakat sehebat ini."
Arka mengambil buku catatan itu dan membolak-balik halamannya dengan tatapan kagum dan serius. Sebagai seorang pengusaha, matanya sangat jeli melihat peluang.
"Aluna... Ini bukan sekadar hobi biasa ya. Ini bakat luar biasa. Kenapa dulu gak kamu kejar sampai jadi? Kamu pasti bisa jadi desainer handal kalau dulu dikembangkan," tanya Arka penasaran.
Aluna tersenyum sendu lalu duduk di samping suaminya. "Dulu memang cita-cita Aluna begitu Tuan. Aluna pengen banget punya butik sendiri atau jadi desainer terkenal. Tapi kan keadaan memaksa ya Tuan..."
"Karena Ibu sakit terus dan butuh biaya banyak, Aluna harus pikirkan cara cari uang cepat. Jadi cita-cita itu terpaksa Aluna kubur dalam-dalam. Sekarang cuma jadi iseng-iseng buat ngilangin bosan aja."
Arka menatap wajah istrinya dalam-dalam. Hatinya tergerak dan terpikir sebuah ide brilian yang sangat besar.
Kenapa tidak aku wujudkan mimpi ini?
Dengan bakat Aluna, ini bisa menjadi jalan keluar bagi ekonomi mereka yang sedang terpuruk. Ini bisa menjadi bisnis baru yang jauh lebih menjanjikan.
"Sayang..." Arka menggenggam tangan Aluna erat. "Bagaimana kalau kita mulai lagi dari sekarang?"
"Maksud Tuan?" Aluna mengerjap bingung.
"Aku lihat desain-desain ini sangat bagus dan punya nilai jual tinggi. Jiwa bisnisku berteriak kalau ini pasti laku keras. Gimana kalau aku buatin kamu usaha kecil-kecilan dulu? Kita buatin butik atau rumah produksi baju dengan desain kamu sendiri?" mata Arka berbinar penuh semangat.
"Bayangkan sayang, namamu bisa terkenal, kita bisa dapat uang banyak lagi, dan yang paling penting kamu bisa melakukan apa yang benar-benar kamu sukai."
Wajah Aluna langsung bersinar terang mendengarnya, namun seketika redup kembali saat menyadari kondisi nyata mereka.
"Pengen banget sih Tuan... Tapi kan modalnya butuh banyak ya? Sewa tempat, beli mesin jahit, beli kain, bahan baku, dan lain-lain. Padahal kan kondisi keuangan kita lagi serba pas-pasan begini," ucap Aluna pelan penuh keraguan.
"Belum lagi perusahaan Ayah juga masih butuh suntikan dana terus. Mana mungkin kita punya uang buat buka usaha baru."
Kata-kata Aluna sontak membuat semangat Arka mengendor sejenak. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Istri benar. Realita memang pahit. Saat ini ia bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, apalagi harus menggelontorkan dana besar untuk membangun bisnis baru dari nol.
Mimpi itu terdengar sangat indah, sangat masuk akal, namun saat ini rasanya masih sangat jauh dan sulit untuk digapai.
"Tapi kan potensinya besar sekali sayang..." Arka masih berusaha mencari cara.
"Aku yakin dengan tangan emasmu dan ide-ide kreatifmu, kita bisa bangkit jauh lebih cepat daripada hanya mengandalkan sisa-sisa perusahaan yang ada."
"Masalahnya cuma satu... Modal."
Arka menatap keluar jendela dengan tatapan serius dan tajam. Pikirannya bekerja keras mencari solusi. Ia tidak mau melihat istrinya hanya bisa bermimpi dalam hati. Ia ingin melihat Aluna bersinar dan bahagia mengejar passion-nya.
"Tenang saja sayang..." Arka menoleh kembali menatap istrinya dengan senyum yakin.
"Biarkan aku yang pikirkan caranya. Meskipun sekarang kita tidak punya uang banyak, tapi aku janji akan berusaha sekuat tenaga buat wujudkan impian kamu ini."
"Suatu hari nanti, aku pastikan akan ada 'Butik Aluna' yang berdiri megah dan kamu akan menjadi desainer hebat yang selama ini kamu inginkan," ucap Arka yakin.
Aluna tersenyum haru lalu memeluk lengan suaminya. "Iya Tuan. Gak usah dipikirin terlalu berat juga kok. Cuma ngomong doang kan juga seneng. Aluna senang Tuan perhatian dan dukung hobi Aluna."
"Tapi ingat ya Tuan, jangan sampai karena mau buatin Aluna usaha, Tuan malah berhutang atau melakukan hal yang berbahaya lagi. Aluna cukup lihat Tuan semangat seperti ini saja sudah bahagia."
"Insya Allah kalau memang rezeki, pasti ada jalannya."
Meskipun rencana itu masih tertahan oleh tembok keterbatasan dana, namun setidaknya kini ada harapan baru dan tujuan baru yang jelas di depan mata mereka.
Dan Arka, pria yang tidak pernah menyerah, sudah mulai menyusun strategi di kepalanya untuk mencari cara mendapatkan modal tersebut, dengan atau tanpa bantuan orang lain.