NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8:Topeng Kesabaran Sang Pangeran

Dua hari tanpa kabar dari Arlan terasa seperti ribuan tahun bagi Lulu. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya seolah berhenti berdetak, berharap itu adalah pesan dari Arlan. Namun, yang ia dapatkan hanya sunyi. Pagi ini, Lulu berangkat ke sekolah dengan perasaan cemas yang luar biasa. Ia tetap memakai kacamatanya. Ia tidak bisa melepasnya; dunianya terlalu gelap tanpa lensa itu, dan ia tidak ingin jatuh lagi seperti kemarin.

Saat ia sedang berjalan menunduk di koridor, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya. Bau parfum maskulin yang familiar itu menyergap indra penciumannya.

"Pagi, Sayang."

Lulu mendongak. Di sana, Arlan berdiri dengan senyum yang sangat menawan. Tidak ada kemarahan, tidak ada tatapan tajam. Ia tampak sangat segar dengan rambut yang ditata rapi.

"Arlan!" Lulu refleks memeluk bukunya lebih erat. "Maaf... maaf soal kemarin. Dan maaf, aku... aku masih pake kacamata. Aku beneran nggak bisa kalau nggak pake ini, Arlan. Kepalaku sakit banget kemarin."

Lulu sudah bersiap akan dimarahi, atau mungkin ditinggalkan. Namun, Arlan justru melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Lulu dengan sangat lembut.

"Hei, kenapa minta maaf?" suara Arlan terdengar sangat tulus, sangat teduh. "Aku yang harusnya minta maaf karena kemarin hilang kabar. Papa bener-bener nggak kasih aku waktu buat pegang ponsel. Aku kepikiran kamu terus, Lu."

Lulu tertegun. "Beneran? Kamu nggak marah aku tetep pake kacamata?"

Arlan terkekeh pelan, ia memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Awalnya aku emang pengen kamu lepas, karena aku pengen semua orang liat betapa cantiknya mata kamu. Tapi, pas aku denger kamu sakit... hati aku rasanya sakit juga, Lu. Aku nggak mau kamu menderita cuma demi nurutin mau aku. Kamu pake aja kacamatanya, ya?"

Lulu merasa ingin menangis saat itu juga. Ia merasa Arlan adalah pria paling pengertian di dunia. "Makasih, Arlan... kamu baik banget."

"Tapi," Arlan menggantung kalimatnya, ia mengambil satu tangan Lulu dan mengecup punggung tangannya—sebuah tindakan yang sangat gentle tapi sangat diperhitungkan karena ia tahu Reno dan gengnya sedang menonton dari kejauhan. "Sebagai gantinya, karena aku udah 'ngalah' soal kacamata, kamu mau kan nurutin satu permintaan kecil aku hari ini?"

Lulu mengangguk cepat. "Apa aja, Arlan. Aku pasti lakuin."

"Nanti istirahat, kamu makan di meja geng aku, ya? Jangan di pojokan perpustakaan lagi. Aku mau tunjukin ke semua orang kalau pacar aku ini, meskipun pake kacamata, tetep yang paling pinter dan paling berharga buat aku. Kamu mau?"

Lulu ragu sejenak. Meja Arlan adalah tempat yang paling ia hindari. Tapi melihat tatapan Arlan yang begitu "memohon", Lulu tidak tega menolak. "I-iya, aku mau."

Di kantin, Arlan benar-benar menjaga imejnya. Ia membawakan nampan makanan Lulu, menarikkan kursi, bahkan membukakan tutup botol minumnya. Teman-teman Arlan, termasuk Reno, tampak heran tapi mereka segera menangkap kode dari kedipan mata Arlan.

"Wah, Arlan bener-bener jadi budak cinta ya sekarang," goda Reno sambil menyenggol bahu Arlan.

Arlan hanya tersenyum tipis, lalu menatap Lulu dengan penuh kasih sayang yang palsu. "Bukan budak cinta, Ren. Gue cuma belajar menghargai apa yang dipunya pasangan gue. Kalau Lulu nyaman pake kacamata, kenapa harus gue paksa lepas? Cinta itu kan menerima, bukan mengubah."

Kalimat itu terdengar sangat indah di telinga Lulu. Ia merasa sangat dicintai. Namun, di dalam hati Arlan, ia sedang tertawa geli. Gue kasih kelonggaran dikit, biar dia makin ngerasa utang budi sama gue. Makin dia ngerasa gue baik, makin gampang gue stir nanti, pikir Arlan.

Arlan kemudian memesankan makanan yang sangat mewah untuk Lulu. "Makan yang banyak ya, Lu. Biar pusingnya ilang. Aku nggak suka liat kamu lemes."

Saat Lulu mulai makan, Arlan dengan sangat sabar membersihkan sedikit noda saus di sudut bibir Lulu dengan ibu jarinya. Tindakan yang sangat gentle itu membuat hampir seluruh penghuni kantin berbisik-bisik iri.

"Lulu beruntung banget ya punya Arlan," bisik siswa di meja sebelah.

Lulu menunduk malu, merasa dirinya adalah gadis paling bahagia. Namun, "ke-gentle-an" Arlan mulai masuk ke tahap manipulatif saat ia berbisik di telinga Lulu.

"Lu, karena aku udah 'baik' banget hari ini, boleh nggak nanti pas pulang sekolah kamu temenin aku ke acara pameran mobil Papa? Kamu nggak perlu lepas kacamata, tapi... kamu mau kan lepas kacamata sebentar aja pas kita sesi foto bareng relasi Papa? Cuma lima menit. Biar Papa nggak malu-maluin aku lagi kayak kemarin."

Lulu terdiam. Arlan tidak membentak, Arlan tidak memaksa. Arlan memohon dengan nada yang sangat halus, seolah-olah reputasi Arlan di depan ayahnya kini ada di tangan Lulu.

"Cuma lima menit kan, Arlan?" tanya Lulu ragu.

"Cuma buat foto, Sayang. Habis itu kamu pake lagi. Aku bakal pegangin kacamatanya buat kamu," janji Arlan dengan senyum manisnya.

Lulu mengangguk. "Oke, Arlan. Aku mau."

Arlan tersenyum puas. Ia tahu, dengan cara "gentle" seperti ini, Lulu justru lebih sulit menolak daripada jika ia dikasari. Arlan sedang menjerat leher Lulu dengan benang sutra—halus, tidak terasa menyakitkan di awal, tapi perlahan-lahan akan mencekik.

Pembaca akan merasa sangat greget karena mereka tahu Arlan sedang berakting, sementara Lulu benar-benar masuk ke dalam lubang yang disiapkan Arlan dengan rapi.

1
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!