Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insting Mafia di Kantin Kampus
Kantin Universitas Global pada jam makan siang adalah representasi sempurna dari kekacauan terorganisir. Bau uap nasi panas bercampur dengan aroma minyak goreng dari stan penyetan, suara denting sendok yang beradu dengan piring melamin, dan riuh rendah suara ratusan mahasiswa yang bergosip menciptakan simfoni kebisingan yang biasanya akan membuat Arjuna yang asli ingin segera menghilang.
Namun, bagi Vittorio Genovese, kantin ini tidak lebih dari sebuah medan tempur yang penuh dengan informasi. Ia duduk di pojok kiri belakang—posisi strategis dengan punggung menghadap tembok solid, memberinya sudut pandang 180 derajat ke seluruh ruangan dan akses cepat menuju pintu keluar darurat di samping stan es teh.
"Juna, lu mau makan apa? Gue yang antre, lu yang bayar. Eh, maksud gue... lu yang jaga meja!" Karin berseru sambil meletakkan tas ranselnya yang penuh gantungan kunci berisik di atas meja.
Vittorio tidak langsung menjawab. Matanya menyisir ruangan. Di stan bakso, ada sekelompok mahasiswa tingkat akhir yang terus mencuri pandang ke arahnya. Di dekat pintu masuk, dua orang satpam kampus tampak berjaga dengan gestur yang lebih tegang dari biasanya. Dan di meja tengah, sekelompok gadis dari fakultas komunikasi sedang berbisik-bisik sambil mengarahkan kamera ponsel mereka ke arahnya.
"Karin," ucap Vittorio tanpa mengalihkan pandangannya dari kerumunan. "Beli apa saja yang tidak mengandung banyak penyedap rasa buatan. Dan pastikan kau membawa sendok plastik yang masih terbungkus."
"Dih, higienis banget lu sekarang! Sejak kapan lu jadi sultan kuman?" Karin mencibir, namun ia tetap melangkah menuju stan nasi rames. "Awas ya kalau meja ini diambil orang, gue kutuk lu jadi kerupuk kaleng!"
Vittorio kini sendirian. Ia memejamkan mata sejenak, menajamkan insting yang telah ia asah selama puluhan tahun di duni bawah Italia. Di duniaku, kantin seperti ini adalah tempat paling berbahaya. Racun di dalam minuman, belati di bawah nampan, atau penembak jitu dari gedung seberang. Meskipun ini hanya kampus, bagi Vittorio, ancaman tetaplah ancaman.
Tiba-tiba, suara kursi di depannya ditarik. Vittorio tidak membuka mata, namun otot-ototnya menegang. Aroma parfum maskulin yang mahal namun terlalu menyengat masuk ke indra penciumannya.
"Arjuna. Atau haruskah aku memanggilmu 'Sang Legenda Baru'?"
Vittorio membuka matanya perlahan. Di depannya duduk seorang pria yang tidak ia kenal. Pria itu memakai kemeja flanel rapi, rambutnya tertata rapi, dan sebuah senyum ramah yang terlihat sangat palsu menghiasi wajahnya. Di belakang pria itu, dua mahasiswa bertubuh tegap berdiri seperti pengawal.
"Siapa kau?" tanya Vittorio dingin.
"Namaku Satya. Ketua BEM Universitas Global," pria itu mengulurkan tangan. "Aku mendengar banyak hal tentangmu dua hari terakhir. Bagaimana seorang mahasiswa beasiswa yang pendiam tiba-tiba mengirim sepuluh orang ke klinik kampus dan membuat seorang donatur besar seperti Pak Broto kehilangan muka."
Vittorio tidak menyambut uluran tangan itu. Ia justru menyandarkan punggungnya, menatap Satya dengan tatapan yang membuat senyum di wajah Ketua BEM itu sedikit luntur. "Aku tidak tertarik pada politik kampus. Dan aku tidak suka waktu makanku diganggu."
Satya menarik kembali tangannya, tertawa kecil untuk menutupi rasa canggung. "Kau punya gaya yang menarik, Arjuna. Tapi kau harus tahu, di kampus ini ada tatanan. Rico adalah sampah, kami setuju. Tapi menyentuh Rico berarti menyentuh stabilitas. Pak Broto punya pengaruh besar pada dana kegiatan mahasiswa. Tindakanmu kemarin bisa berdampak pada banyak orang."
Vittorio menyeringai tipis. "Stabilitas yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah tirani yang lemah. Jika kau datang ke sini untuk memintaku meminta maaf atau berkompromi dengan Pak Broto, kau membuang-buang napasmu."
"Bukan berkompromi," Satya mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suara. "Aku datang untuk menawarkan perlindungan. Bergabunglah dengan organisasiku. Dengan pengaruh BEM, aku bisa memastikan Pak Broto tidak menyentuhmu lebih jauh. Sebagai imbalannya, kami butuh 'kemampuan' bertarungmu untuk mengamankan beberapa kepentingan kami di luar kampus."
Insting mafia Vittorio berteriak. Ini bukan tawaran perlindungan; ini adalah tawaran menjadi "anjing penjaga". Satya bukan sekadar aktivis kampus; dia adalah politikus kecil yang sedang mencoba merekrut algojo.
"Kau bicara tentang perlindungan seperti seorang makelar murah di Napoli," ucap Vittorio, suaranya sangat rendah hingga hanya Satya yang bisa mendengarnya. "Kau ingin aku menjadi tangan kotor untuk ambisimu. Tapi ada satu hal yang kau lupakan, Satya."
"Apa itu?"
"Aku tidak bekerja untuk orang yang lebih lemah dariku."
Wajah Satya memerah. "Kau sombong sekali, Arjuna. Kau pikir karena bisa memukul beberapa preman pasar, kau bisa menantang seluruh sistem? Kau tidak tahu siapa yang ada di belakangku."
"Aku tidak perlu tahu siapa yang ada di belakangmu," Vittorio berdiri, tingginya kini mengintimidasi Satya yang masih duduk. "Karena saat aku memutuskan untuk menghancurkanmu, mereka tidak akan bisa melihatmu lagi karena kau akan terlalu sibuk merangkak di lantai."
Tepat saat itu, Karin kembali dengan membawa dua piring nasi rames dan dua gelas es teh. Ia berhenti di samping meja, menatap Satya dengan dahi berkerut.
"Loh? Kak Satya? Ngapain di sini? Mau minta sumbangan buat acara lari maraton lagi ya?" tanya Karin dengan gaya semprulnya yang tidak tahu situasi.
Satya segera berdiri, mencoba mengembalikan wibawanya. "Oh, Karin. Tidak, aku hanya sedang menyapa teman barumu. Sampai jumpa lagi, Arjuna. Pikirkan tawaranku. Kesempatan tidak datang dua kali."
Satya dan pengawalnya pergi meninggalkan kantin dengan langkah terburu-buru. Karin duduk dan menyerahkan piring kepada Vittorio. "Lu diapain sama si Satya? Dia itu emang agak aneh, hobi banget orasi di tengah lapangan kayak orang lagi jualan obat."
"Dia hanya lalat yang mencoba menjadi elang," jawab Vittorio. Ia mengambil sendok plastiknya dan mulai makan. "Karin, mulai besok, jangan pernah pergi ke area parkir sendirian. Dan jangan menerima makanan atau minuman dari siapapun selain aku atau ibumu."
Karin berhenti mengunyah tempe gorengnya. "Waduh, Juna. Lu beneran bikin gue parno. Ini teori konspirasi alien atau beneran perang mafia?"
"Dunia ini lebih berbahaya daripada film alienmu, Karin," Vittorio menatap mata Karin dengan serius. "Satya bukan ancaman besar, tapi dia adalah pembuka jalan bagi musuh yang lebih licin. Pak Broto tidak akan menyerah begitu saja, dia hanya sedang mengganti strateginya."
Vittorio mengamati sekeliling kantin lagi. Ia melihat seorang pria di stan jus yang pura-pura membaca koran, namun korannya terbalik. Amatir, batin Vittorio. Namun, di stan lain, ada seorang wanita berambut pendek yang terus menatap ke arah pintu masuk dengan ritme yang teratur. Itu yang harus diwaspadai.
"Karin, habiskan makanmu dalam lima menit. Kita harus pergi melalui pintu dapur," perintah Vittorio.
"Hah? Lewat dapur? Tapi kan lewat situ bau sampah, Juna! Gue mau lewat depan, mau pamer daster baru gue ke anak-anak ekonomi!" protes Karin.
"Lima menit, Karin. Atau kau akan makan malam sendirian di kantor polisi," suara Vittorio tidak meninggalkan ruang untuk bantahan.
Karin mendengus, namun ia mempercepat makannya. Ia tahu jika Arjuna—atau siapapun yang ada di dalam tubuh temannya ini—sudah bersuara seperti itu, maka sesuatu yang serius sedang terjadi.
Sesampainya di dapur kantin, Vittorio memberikan beberapa lembar uang kepada petugas kebersihan agar mereka diperbolehkan lewat. Mereka keluar di gang belakang yang sepi. Vittorio menarik Karin ke balik tumpukan kotak kayu saat sebuah mobil hitam meluncur pelan di jalan depan kantin.
"Itu mereka?" bisik Karin ketakutan.
"Ya. Mereka sedang menungguku keluar dari pintu depan," jawab Vittorio. "Kita akan memutar lewat gedung olahraga. Ikuti langkahku dan jangan bersuara."
Sepanjang perjalanan melintasi kampus, Vittorio menggunakan setiap rintang fisik sebagai perlindungan. Ia bergerak dengan keanggunan seorang predator, memastikan Karin selalu berada dalam bayang-bayangnya. Insting mafianya bekerja pada level maksimal. Ia bisa merasakan keberadaan musuh bahkan sebelum mereka terlihat.
Saat mereka sampai di area gerbang belakang yang jarang dijaga, Vittorio berhenti. Ia melihat wanita berambut pendek dari kantin tadi berdiri di sana, menyandar pada tiang listrik sambil memainkan kunci motor.
"Aku tahu kau akan lewat sini," wanita itu berkata tanpa menoleh. Suaranya tenang dan profesional. "Vittorio Genovese... nama yang asing, tapi aura yang sangat familiar."
Vittorio membeku. Bagaimana wanita ini bisa tahu nama aslinya? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang seharusnya tahu.
"Siapa kau?" desis Vittorio. Tangannya sudah bersiap meraih sepotong kayu tajam di dekatnya.
Wanita itu berbalik. Ia memiliki bekas luka kecil di bawah mata kirinya—tanda dari organisasi pembunuh bayaran tingkat internasional. "Aku bukan musuhmu, setidaknya untuk hari ini. Aku hanya utusan dari seseorang yang merindukanmu di Italia. Mereka pikir kau sudah mati, tapi nampaknya jiwa seorang raja terlalu keras kepala untuk lenyap begitu saja."
Vittorio menyipitkan mata. "Jika kau utusan, sampaikan pada mereka: Aku sedang membangun kerajaanku di sini. Dan jika mereka mencoba mengganggu ketenanganku, aku akan mengirim kepala mereka kembali ke Roma dalam kotak pizza."
Wanita itu tersenyum tipis, lalu memakai helmnya. "Pesan diterima. Tapi berhati-hatilah, Vittorio. Pak Broto hanyalah pion kecil. Satya adalah umpan. Musuhmu yang sebenarnya sedang menyeberangi lautan untuk menjemputmu."
Wanita itu memacu motornya dan menghilang dalam sekejap.
Karin, yang sejak tadi menahan napas di belakang Vittorio, akhirnya meledak. "JUNA! APA-APAAN ITU TADI?! SIAPA VITTORIO?! SIAPA ROMA?! DAN KENAPA DIA MAU NGIRIM PIZZA?!"
Vittorio menghela napas panjang. Ia menatap Karin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia hanya orang gila, Karin. Sama sepertimu."
"Gue nggak gila! Gue cuma semprul! Tapi itu tadi keren banget, kayak di film John Wick!" Karin memegangi pipinya yang memerah. "Jadi... lu beneran bukan alien? Lu mafia Italia yang kesasar?"
Vittorio berjalan pergi menuju halte bus. "Makan malam nanti, aku ingin nasi goreng tanpa kecap yang berlebihan. Bisakah kau melakukannya?"
"Woi! Jawab dulu pertanyaannya!" Karin berlari menyusulnya. "Kalau lu mafia, berarti gue sekarang jadi First Lady organisasi lu dong? Wih, keren banget! Gue mau daster dari bahan sutra asli Italia ya!"
Vittorio hanya bisa menggelengkan kepala. Insting mafianya memberitahunya bahwa masa depannya akan dipenuhi dengan peluru, darah, dan konspirasi internasional. Namun, saat ia melihat Karin yang melonjak kegirangan di sampingnya hanya karena khayalan tentang daster sutra, Vittorio merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, perang ini layak untuk dijalani.
"Juna, nanti di rumah ajarin gue cara natap orang biar mereka pingsan kayak tadi ya!"
"Diamlah, Karin."
"Ayolah! Biar gue bisa nakutin tukang kredit yang suka nagih ke kostan!"
Vittorio tersenyum tipis. Insting mafianya mungkin tajam, tapi terhadap gadis semprul ini, ia benar-benar tidak punya pertahanan.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍