TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 25: Sang Arsitek Dingin
Raka melesat menembus lapisan awan Bumi yang mulai menghitam, ditarik oleh daya tarik masif dari "Mata Kosmik" yang menggantung di orbit. Semakin ia mendekat, pemandangan yang ia lihat semakin mengerikan.
Benda itu bukanlah sebuah planet atau kapal tempur biasa. Mata Kosmik itu adalah sebuah struktur raksasa berukuran benua yang terbuat dari jalinan saraf biologis yang berdenyut, dilapisi oleh logam cair yang mengalir seperti sirkuit raksasa.
Whirrrr...
Suara dengungan mekanis yang rendah membuat tulang-tulang Raka bergetar. Begitu ia mencapai titik pusat pupil Mata tersebut, sebuah gerbang cahaya tertelan masuk ke dalam tubuh Raka.
ZINGGGGG!
Raka mendarat di sebuah koridor yang sangat luas. Lantainya terbuat dari kaca kristal transparan. Di bawah kakinya, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti. Ribuan bola kristal seukuran kota melayang di bawah sana. Di dalam setiap bola, terdapat sebuah planet mini lengkap dengan awan, laut, dan manusia yang hidup di dalamnya.
"Apa... apa ini?" gumam Raka, suaranya bergema di aula yang dingin.
"Galeri Pembiakan. Sektor 7-G. Manusia Varietas A," sebuah suara mekanis datar menjawab dari dinding-dinding aula."
Raka berjalan mendekati salah satu bola. Di dalamnya, ia melihat sebuah dunia yang sangat mirip dengan Bumi, namun penduduknya sedang disiksa oleh bencana alam yang diciptakan secara sengaja.
Setiap kali manusia di dalam bola itu berteriak ketakutan atau memanjatkan doa dalam keputusasaan, sebuah mesin di atas bola itu menyedot energi berwarna emas, energi Matahari yang sama dengan yang ada di dalam tubuh Raka.
"Jadi... kami semua hanya baterai?" Raka mengepalkan tinjunya hingga darah menetes dari sela jarinya.
"Seluruh penderitaan kami, perang kami, bahkan cinta kami... hanya untuk memberi makan tempat ini?!"
Pertemuan dengan Xylo, Sang Pengawas." Di ujung koridor, sebuah takhta yang terbuat dari susunan otak manusia yang diawetkan muncul dari lantai. Di atasnya, duduk sesosok entitas bernama Xylo. Ia tampak seperti manusia, namun kulitnya terbuat dari kromium perak dan ia tidak memiliki alat kelamin, hanya sebuah tubuh yang aerodinamis dan efisien.
"Kau adalah hasil terbaik kami, nomor 13," ucap Xylo, suaranya tidak memiliki intonasi emosi. "Kau telah membangkitkan Matahari ke-15 melalui stimulasi emosional yang kami rancang.
Penggabunganmu dengan spesimen Sekar dan Vanya telah meningkatkan kualitas energimu sebesar 400%."
Raka merasakan amarah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, pada saat yang sama, hawa dingin dari Matahari ke-15 mulai mencoba menelan kemanusiaannya lagi. Logika dingin Xylo mulai meracuni pikirannya.
"Raka... jangan biarkan dia menang!" Suara Sekar dan Vanya bergema melalui Tautan Sukma yang masih terhubung.
Di tengah aula yang hampa itu, Raka menggunakan kekuatannya untuk memanifestasikan "Ruang Ingatan".
Dalam sekejap, di sekitar Raka, muncul proyeksi nyata dari Sekar dan Vanya.
Mereka tidak lagi berada di Bumi, tapi jiwa mereka hadir secara nyata melalui energi Raka.
Untuk melawan logika dingin Xylo, Raka harus membangkitkan panas kemanusiaan yang paling primitif. Di depan mata Xylo yang tidak memiliki perasaan, Raka menarik proyeksi Sekar dan Vanya ke dalam pelukannya yang liar.
Di tengah aula kosmik. "Lihat ini, Xylo! Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kau proses!" teriak Raka.
Raka membenamkan dirinya dalam gairah yang membara bersama kedua istrinya.
Suara rintihan Sekar, dan desahan napas Vanya yang panas, memenuhi aula yang tadinya sunyi. Gairah mereka yang berkeringat, menciptakan gelombang energi panas yang mulai merusak sirkuit-sirkuit dingin di dinding aula.
Raka mencium Sekar dengan intensitas yang menggila, sementara tangannya meremas pinggul Vanya yang indah.
Penyatuan yang mereka lakukan di depan Sang Pengawas ini adalah bentuk pemberontakan tertinggi. Raka menggunakan puncak kenikmatan jasmaninya untuk meledakkan energi "Matahari Sejati", menghancurkan dinginnya logika Matahari ke-15.
Napas Raka yang berat dan penuh tenaga." Saat Raka mencapai puncak pelepasannya di dalam proyeksi kedua wanita itu, sebuah ledakan energi berwarna merah-emas menghantam Xylo.
BOOOOOOMMMMM!
Xylo terlempar dari takhtanya, kulit kromiumnya mulai meleleh. "Penyimpangan emosional terdeteksi.
Protokol pembersihan darurat diaktifkan!" Xylo bangkit, tangannya berubah menjadi pisau laser yang mampu memotong realitas.
Syuuuuutttt!
Raka berdiri, tubuhnya masih beruap dari sisa penyatuan panas tadi. Matanya kini memiliki kilat kehidupan yang tajam.
"Kau menyebut cinta kami sebagai stimulasi? Aku akan menyebut kematianmu sebagai Keadilan!"
Duar!
Raka dan Xylo bertarung di sepanjang koridor kristal. Setiap pukulan Raka menghancurkan bola-bola kristal yang berisi planet-planet ternak, membebaskan energi mereka yang terperangkap.
"Nomor 13 menghancurkan aset perusahaan!" teriak Xylo panik.
"Aku bukan asetmu!" Raka mencengkeram wajah Xylo dan menghantamkannya ke dinding sirkuit.
BUGH!
Raka menggunakan teknik Matahari ke-15 untuk memanipulasi atom tubuh Xylo, mengubah logam peraknya menjadi cairan panas yang mendidih.
Aaaaaaaaakkkkkhhhhh!
Xylo melolong dengan suara frekuensi tinggi yang memecahkan kaca-kaca di seluruh ruangan.
Namun, di tengah kemenangannya, Raka melihat sesuatu yang jauh lebih besar di balik dinding koridor yang hancur. Di sana, terdapat jutaan Mata Kosmik seperti ini, berjajar rapi di tengah kegelapan yang lebih dalam.
Raka menyadari bahwa Xylo hanyalah seorang mandor kecil di sebuah gudang yang tak terbatas.
Sektor Terlarang bukan hanya sebuah faksi, mereka adalah pemilik galaksi.
"Raka... lihat ke sana," bisik Vanya yang kini kembali ke dalam sukmanya.
Di pusat galeri itu, terdapat sebuah bola kristal emas yang paling besar. Di dalamnya, Raka melihat sosok kakeknya, Sang Leluhur ke-13, yang sedang di jadikan uji coba hidup-hidup oleh mesin-mesin otomatis untuk diekstraksi energi terakhirnya.
"Kakek..." Raka menggeram. Amarahnya mencapai tingkat baru.
"Jika aku harus menghancurkan seluruh galaksi ini untuk menghentikan kalian, maka biarlah alam semesta ini terbakar!"
Raka melesat menuju bola emas pusat, namun ia tidak sadar bahwa di belakangnya, Xylo yang sekarat telah mengaktifkan tombol Self-Destruct untuk seluruh Mata Kosmik tersebut."
"Suara sirine darurat berfrekuensi tinggi mulai memekakkan telinga di seluruh koridor Mata Kosmik. Lampu-lampu sirkuit yang tadinya biru tenang, kini berkedip merah darah.
Getaran hebat mengguncang struktur masif itu, membuat kaca-kaca kristal yang memenjarakan ribuan dunia mulai retak.
KRAKKKKKK!
Raka berdiri terpaku di depan bola kristal emas pusat. Di dalamnya, kakeknya, Sang Leluhur ke-13, tergantung dengan ribuan kabel perak yang menembus saraf dan organ tubuhnya.
Mata sang kakek perlahan terbuka, redup dan penuh penderitaan. Di belakang Raka, Xylo yang tubuh logamnya sudah hancur setengah, tertawa parau sambil menekan panel kontrol di tangannya yang tersisa.
"Nomor 13!" teriak Xylo dengan suara statis. "Selamatkan kakekmu dan biarkan sepuluh ribu planet di galeri ini meledak bersamaku, atau gunakan energimu untuk menstabilkan gerbang pembuangan mereka dan biarkan kakekmu hancur menjadi debu kosmik!.
Kau tidak punya cukup waktu untuk keduanya!"
Bersambung....