apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
...Happy Reading...
.......
.......
.......
.......
.......
Revan yang mendengar sesuatu dari arah kamarnya ia langsung keluar dari ruang belajar menuju kamarnya.
"APA YANG LU LAKUIN BANG?!" Bentak Revan kepada Rasya yang terus menendang tubuh saga di lantai.
Saga yang melihat Revan pun langsung berdiri dan berlari meninggalkan mereka yang sedang beradu mulut untuk ke kamarnya, karena jujur saja ia terluka dan sangat sakit di bagian perut yang di tendang oleh Rasya tadi.
"bang, lu ngga kapok yah?setelah lu kemarin gebukin papa sekarang lu malah nendang papa? otak lu dimana bang?" ujar Revan dengan tatapan kosong, ia sangat sedih ternyata abangnya masih membenci papanya.
"Dia ganggu tidur gw dek" jawab Rasya tak ingin kalah.
"papa cuman mau bangunin Abang buat makan malem, lu tadi nangis kan bang?terus pulang dan meluk papa sampe ketiduran.gw tau bang, dan lu malah seenak jidat tendang papa, LU MAU SIKSA PAPA HAH?" bentak Revan di akhir kalimatnya, ia sungguh tidak habis pikir dengan saudaranya itu.
"gw..." ia sudah kehabisan kata-kata, jadi selama ini dia salah paham dengan papanya itu? Tadi papanya hanya ingin membangunkannya??? Tanya Rasya di dalam benak pikirannya.
"lu brengsek bang" ujar Revan lalu pergi keluar menuju ruang tengah untuk menenangkan dirinya.
Rasya termenung sendiri di dalam kamar Revan, matanya menatap kaki yang tadi ia gunakan untuk menendang perut papanya
"gw salah..."bisiknya dalam kesunyian malam ini.
Di kamar saga
"bocah goblok, sakit banget anjing perut gw ege di kira gabus apa main tendang aja" kesalnya sambil mengelus perut yang memerah itu, lalu mengurutnya dengan minyak pijat.
"ughhh sakit banget" gumamnya sampai ia tertidur di ranjang miliknya sendiri.
Revan berjalan melangkah pelan ke arah pintu kamar papanya, ia mencoba membuka pintu kamar itu ternyata tidak di kunci dan matanya melihat pemandangan indah.
papanya tidak memakai atasan dan hanya menggunakan celana pendek sebatas paha sehingga tubuh rampingnya terekspos indah.
Gluk
Revan meneguk air ludahnya saat melihat pemandangan itu, ia masih waras dan langsung menutup pintu kamar papanya Dengan pelan.
"cantik" ujarnya pelan dan kembali menuju ruang belajarnya.
Sedangkan Rasya kini menuruni tangga dan hendak menuju dapur untuk mengambil susu di botol dot milik papanya.
Itung-itung untuk membujuk saga, pikir Rasya seperti itu.
Setelah mengambil botol dot berisi susu ia menuju kamar saga dengan langkah pelan, ia membuka pintu kamar papanya dan yang ia lihat adalah pemandangan di luar ekspedisinya.
"uhuk sexy banget" gumamnya lalu masuk kedalam kamar papanya dan meletakan botol dot itu di meja nakas samping tempat tidur.
"papa... Maafin asya yah" bisiknya pelan dengan suara rendah serta serak basah di telinga papanya.
Saga yang merasa terusik pun langsung membuka matanya dan yang ia lihat adalah Rasya yang berada di sampingnya dengan tersenyum.
"maafin asya pa, asya salah paham sama papa" ujarnya dengan menunduk seakan ia menyesali perbuatannya tadi.
"umm iya asya gak salah kok, papa yang salah tadi bangunin asya yang lagi capek" ujarnya lalu mengelus rambut sang putra setelah ia bangun dari tidurnya.
Rasya menikmati elusan sang papa yang di rambutnya yang lembut itu.
"papa...asya boleh nen?" tanya Rasya Dengan wajah yang di buat melas.
Saga yang pada dasarnya lelaki normal hanya menjawab Dengan gelengan namun saya melihat wajah sang putra ia jadi kasihan.
"ummhh iya deh boleh tapi jangan digigit yah" ujar saga memperingati, Rasya yang diberi izin pun menganggukan kepalanya senang lalu langsung menyambar susu yang akan menjadi favoritnya.