Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atmosfer yang Menyesakkan
Pagi hari sebelum keberangkatan ke Bogor, suasana di lobi kantor Dewangga Group terasa sedikit lebih sibuk bagi Sia. Ia harus memastikan semua dokumen proyek pembangunan hotel di Puncak sudah masuk ke dalam tas kerjanya, sekaligus memastikan koper kecilnya tidak tertinggal di bagasi mobil.
Arkan sudah menunggu di kursi belakang mobil SUV hitam miliknya. Ia tampak sibuk dengan ponselnya, namun begitu Sia masuk, pria itu langsung mematikan layarnya.
"Sudah siap semuanya?" tanya Arkan dingin.
"Sudah, Pak. Berkas progres pembangunan, kontrak vendor, sama baju ganti saya juga sudah aman," jawab Sia sambil memasang sabuk pengaman di kursi depan, di samping sopir.
"Pindah ke belakang, Sia," perintah Arkan singkat.
Sia menoleh dengan dahi berkerut. "Lho, biasanya kan saya di depan, Pak? Biar gampang kalau Bapak mau minta berkas atau jadwal."
"Hari ini riset Bab 19 dimulai sejak kita masuk ke dalam mobil. Bima dan Raya melakukan perjalanan jarak jauh dalam satu kabin yang sama. Saya butuh merasakan 'ruang terbatas' itu. Duduk di depan tidak akan memberikan efek apa pun untuk tulisan saya," jelas Arkan dengan nada yang sangat meyakinkan, seolah-olah itu adalah instruksi medis yang tidak bisa dibantah.
Sia menghela napas, keluar dari pintu depan dan pindah ke kursi belakang, tepat di samping Arkan. Sopir pribadi Arkan hanya melirik dari spion tengah tanpa berani berkomentar, meski ia tahu bosnya biasanya sangat menjaga privasi di kursi belakang.
Mobil mulai membelah kemacetan Jakarta menuju jalur hijau Bogor. Selama tiga puluh menit pertama, hanya ada suara deru mesin dan musik instrumental pelan yang mengalun. Arkan kembali membuka laptopnya, namun Sia menyadari bahwa kursor di layar itu hanya berkedip-kedip tanpa ada satu pun kalimat yang bertambah.
"Pak, kalau mau nulis tentang 'keinginan mencari kehangatan' di ruang terbatas, kayaknya AC mobil Bapak harus dikecilkan. Dingin banget begini, yang ada Raya malah masuk angin, bukan jatuh cinta," sindir Sia sambil memeluk lengannya sendiri.
Arkan melirik suhu AC di panel kontrol. "Suhu ini sudah standar untuk menjaga fokus."
"Standar buat robot, Pak. Bukan buat manusia," sahut Sia pelan.
Tanpa berkata apa-apa, Arkan meraih sebuah selimut wol kecil yang biasanya tersimpan di laci pintu mobil dan menyampirkannya ke bahu Sia. Gerakannya sangat cepat, namun tangan Arkan sempat bersentuhan dengan leher Sia. Kulit Arkan yang hangat kontras dengan hawa dingin AC, menciptakan sengatan kecil yang membuat Sia terdiam seketika.
"Pakai itu. Jangan sampai kamu sakit sebelum kita sampai di lokasi proyek," ujar Arkan, kembali menatap layar laptopnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sia merapatkan selimut itu. Bau parfum Arkan—campuran antara kayu cendana dan citrus yang mahal—langsung menyeruak dari kain wol tersebut. Rasanya seperti sedang dipeluk oleh pria itu sendiri.
"Pak... di Bab 19 nanti, apa Bima bakal kasih selimut juga ke Raya?" tanya Sia, mencoba mengembalikan suasana ke ranah profesional.
Arkan terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk meja lipat di depannya. "Mungkin tidak. Bima mungkin akan menggunakan cara lain. Sesuatu yang lebih... efisien secara biologis."
"Efisien secara biologis? Maksud Bapak?"
"Berbagi suhu tubuh, misalnya," jawab Arkan datar.
Sia hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap samping wajah Arkan yang tampak sangat serius. Pria ini bisa mengatakan hal-hal yang sangat provokatif dengan ekspresi seperti sedang membacakan laporan keuangan tahunan.
"Bapak benar-benar sudah ' Nightshade' banget ya sekarang," gumam Sia.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu dua jam, mendadak molor menjadi empat jam karena kemacetan parah di jalur Puncak. Hujan turun dengan sangat deras, membuat pemandangan di luar hanya berupa kabut abu-abu dan kaca mobil yang berembun.
Sia mulai merasa bosan. Ia mengeluarkan ponselnya, namun sinyal di daerah perbukitan itu sangat buruk. Ia melirik ke arah Arkan yang juga tampak sudah menyerah dengan laptopnya.
"Sinyalnya hilang ya, Pak?"
"Hm," gumam Arkan. Ia menutup laptop dan menyandarkan punggungnya. "Ini situasi yang menarik. Terjebak macet, hujan deras, tanpa koneksi ke dunia luar. Benar-benar sesuai dengan kerangka Bab 19."
"Bapak nggak capek apa, riset terus?" tanya Sia sambil menyandarkan kepalanya ke jok mobil. "Sesekali ngobrol biasa kenapa, Pak? Di luar urusan kantor atau novel. Saya jadi penasaran, apa Bapak pernah punya pacar yang beneran bikin Bapak... ya, kehilangan logika?"
Arkan terdiam cukup lama. Ia menatap tetesan air yang meluncur di kaca jendela. "Logika adalah pertahanan utama saya, Sia. Dalam bisnis, emosi itu merugikan. Jadi, saya tidak pernah membiarkan diri saya berada dalam posisi di mana emosi memegang kendali."
"Pantas saja tulisan Bapak di awal-awal kaku banget," cibir Sia. "Bapak itu terlalu takut buat 'merasakan'. Bapak cuma mau 'menganalisa'."
Arkan menoleh, menatap Sia dengan intensitas yang mendadak meningkat. "Lalu sekarang? Menurut kamu, apakah saya masih sekadar menganalisa?"
Sia terpaku. Di dalam kabin mobil yang remang-remang itu, mata Arkan terlihat lebih gelap. "Saya... saya nggak tahu, Pak."
"Hari ini, saya tidak membawa dokumen fisik apa pun kecuali laporan proyek. Saya tidak membuka surel. Saya hanya di sini, bersama kamu, di tengah kemacetan ini," Arkan berbicara dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan. "Kalau ini hanya analisa, saya tidak akan membuang waktu empat jam hanya untuk duduk sedekat ini dengan kamu."
Sia merasa jantungnya berdebar kencang. Ia ingin membalas, ingin bercanda untuk mencairkan suasana, tapi lidahnya terasa kelu.
Tepat saat itu, mobil berguncang sedikit karena melewati lubang, membuat tubuh Sia limbung ke arah Arkan. Secara otomatis, Arkan menangkap bahu Sia, menahan wanita itu agar tidak terbentur. Namun, setelah posisi mobil stabil, Arkan tidak langsung melepaskan tangannya. Ia justru membiarkan tangannya melingkar di bahu Sia, menarik asistennya itu sedikit lebih dekat.
"Pak..."
"Anggap saja ini riset tentang 'kehangatan' yang kamu bilang tadi," potong Arkan pelan. "Hujan di luar sangat dingin, Sia. Dan AC mobil ini memang terlalu menusuk."
Sia tidak membantah. Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu jas Arkan. Rasanya sangat nyaman, sangat aman, dan di saat yang sama, sangat berbahaya bagi kesehatan mentalnya. Mereka duduk seperti itu selama sisa perjalanan, terjebak dalam keheningan yang tidak lagi canggung, melainkan penuh dengan sinyal-sinyal yang saling bertabrakan.
Mereka sampai di lokasi proyek saat hari sudah mulai gelap. Pembangunan hotel itu baru mencapai tahap struktur 60%, namun satu buah villa contoh sudah selesai dibangun dan bisa digunakan untuk menginap. Karena cuaca yang buruk dan jalur yang ditutup karena longsor kecil di atas, tidak ada pilihan lain selain menetap di sana.
"Hanya ada satu villa yang siap pakai, Pak," lapor mandor proyek dengan wajah tidak enak hati saat mereka turun dari mobil. "Listrik pakai genset, tapi air hangat aman. Masalahnya... hanya ada dua kamar, dan satu kamar pemanasnya sedang diperbaiki karena bocor."
Sia langsung menatap Arkan dengan mata membelalak. Satu kamar? Ini klise banget! Ini benar-benar plot novel pasaran! batinnya berteriak.
Arkan tampak tenang, meski Sia bisa melihat sedikit kilatan di matanya yang entah itu kecemasan atau... kepuasan.
"Tidak masalah. Biar Sia pakai kamar yang bagus. Saya bisa pakai kamar yang satunya, atau tidur di sofa ruang tengah kalau memang tidak memungkinkan," ujar Arkan dengan sikap ksatria yang sangat tidak terduga.
"Tapi Pak, udaranya dingin banget kalau nggak pakai pemanas," Sia menyela.
Arkan menatap Sia, lalu tersenyum tipis—jenis senyum yang membuat Sia tahu bahwa bab selanjutnya dari Nightshade akan sangat sulit untuk ditulis tanpa melibatkan perasaan pribadi.
"Jangan khawatir, Sia. Saya sudah melakukan riset tentang cara bertahan hidup di suhu dingin sepanjang perjalanan tadi. Saya rasa saya akan baik-baik saja," kata Arkan penuh teka-teki.
Malam itu, di tengah hutan Bogor yang basah dan gelap, Sia masuk ke kamarnya dengan perasaan was-was. Di luar, suara hujan masih menderu, dan di ruang tengah, ia tahu Arkan sedang duduk di sana, mungkin sedang mengetik Bab 19 dengan penuh semangat.
Sia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Pikirannya melayang pada momen di mobil tadi. Ia menyadari satu hal: Arkan mungkin adalah pria paling kaku yang pernah ia temui, tapi cara pria itu menjatuhkan pertahanannya sangatlah mematikan.
Dan di ruang tengah, Arkan memang sedang mengetik. Namun, jari-jarinya tidak bergerak lincah seperti biasanya. Ia hanya menulis satu kalimat di layar laptopnya, sebuah kalimat yang bukan untuk dikonsumsi publik:
Riset ini mulai terasa seperti sebuah jebakan yang saya buat untuk diri saya sendiri.
Arkan menutup laptopnya, menatap pintu kamar Sia yang tertutup rapat. Ia tahu, besok pagi, hubungan mereka tidak akan pernah bisa kembali menjadi sekadar atasan dan bawahan. Karena di tempat ini, di bawah rintik hujan yang tak kunjung usai, garis profesionalitas itu tidak hanya kabur—garis itu sudah benar-benar terhapus oleh keinginan yang jauh lebih kuat daripada logika mana pun yang pernah ia miliki.
"Selamat malam, Sia," bisiknya pada kegelapan.
Malam ini berakhir dengan keheningan yang mencekam di luar, namun penuh dengan badai yang berkecamuk di dalam hati keduanya. Esok hari, proyek hotel itu mungkin akan mengalami kemajuan, namun proyek "perasaan" Arkan Dewangga tampaknya sudah mencapai tahap yang tidak bisa lagi dihentikan.