NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. Jaring yang Menjerat

Malam di kediaman baru Bima terasa jauh lebih panjang dan sunyi dibandingkan malam-malam yang pernah Alea lalui di rumah Daddy. Di dalam kamar utama yang beraroma kayu cedar dan maskulin ini, Alea merasa seolah dunia luar telah berhenti berputar. Tidak ada suara mobil Bi Ijah atau deru mesin kendaraan Daddy yang pulang kerja; hanya ada keheningan yang sesekali dipecah oleh rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela besar tanpa gorden itu.

Bima masih terjaga, duduk di tepi tempat tidur dengan cahaya temaram dari lampu meja yang membentuk bayangan tajam di wajahnya yang keras. Ia memperhatikan Alea yang sedang berusaha merapikan rambutnya yang berantakan, sebuah pemandangan yang memberikan kepuasan tersendiri bagi sang predator. Bagi Bima, Alea bukan sekadar pelarian; gadis ini adalah mahakarya yang telah ia tandai dan ia bentuk sesuai keinginannya.

"Kau harus segera pulang sebelum Bi Ijah mencarimu," suara Bima memecah keheningan, rendah dan penuh otoritas.

Alea mengangguk pelan, meskipun hatinya berat untuk meninggalkan kehangatan sangkar ini. Ia meraih tasnya yang tergeletak di lantai, dan secara tidak sengaja matanya kembali tertuju pada layar ponsel yang masih menampilkan rentetan pesan dari Revan.

[Revan]: Alea, aku mohon! Aku tahu kau sedang bersama pria itu. Jangan biarkan dia mencucimu otaknya. Bukti ini nyata. Ayahku dijebak! Bima menggunakan pengaruhnya di pelabuhan untuk menyelundupkan barang ilegal atas nama perusahaan ayah! Kau dalam bahaya, Alea!

Alea mematikan layar ponselnya dengan kasar. Ada rasa muak yang muncul setiap kali ia melihat nama Revan. Mengapa pemuda itu tidak bisa membiarkannya bahagia? Mengapa kecerdasan Revan justru digunakan untuk mengusik pria yang ia cintai?

"Si tikus itu masih mencoba menghubungimu?" tanya Bima sembari bangkit berdiri dan mendekati Alea.

"Dia tidak tahu kapan harus berhenti," jawab Alea sembari membiarkan Bima melingkarkan tangan di pinggangnya dari belakang.

Bima menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak sangat tampan sekaligus mematikan di bawah cahaya redup. "Dia pintar, aku akui itu. Tapi kepintaran tanpa kekuasaan hanyalah jalan pintas menuju kehancuran. Besok, pengacara keluarganya akan menyerah, dan Revan akan menyadari bahwa dunia ini tidak digerakkan oleh kebenaran, tapi oleh siapa yang memegang kendali."

Keesokan harinya, Alea kembali ke rutinitas kampusnya dengan perasaan yang terbagi. Ia berjalan di koridor fakultas, berusaha menghindari area di mana biasanya Revan berada. Namun, nasib berkata lain. Saat ia hendak masuk ke perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi, alasan yang ia gunakan untuk Daddy kemarin, sosok Revan muncul dari balik pilar.

Penampilan Revan sangat kacau. Matanya merah karena kurang tidur, dan kemeja mahalnya tampak kusut. Ia tidak lagi tampak seperti anak tunggal kaya raya yang penuh percaya diri; ia tampak seperti prajurit yang kalah perang.

"Alea, berhenti!" panggil Revan dengan suara parau.

Alea menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh. "Pergilah, Revan. Kau hanya akan membuat masalah bagi dirimu sendiri."

Revan melangkah maju, menghalangi jalan Alea. "Kau tahu apa yang dia lakukan, kan? Kau tahu dia menghancurkan ayahku hanya karena aku memergokinya menyentuhmu! Kau membiarkan pria itu melakukan ini, Alea?"

"Kau yang memulai ini dengan mencampuri urusanku, Revan!" bentak Alea, akhirnya menatap mata Revan dengan penuh kebencian. "Bima tidak akan melakukan apa pun jika kau tahu batasanmu! Kau pikir kau siapa? Pahlawan?"

Revan tertegun, seolah baru saja ditampar oleh kenyataan pahit. "Aku mencintaimu, Alea. Aku ingin menyelamatkanmu dari monster itu."

"Aku tidak butuh diselamatkan!" Alea mendekat, membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari sembilu tepat di telinga Revan. "Aku mencintainya. Aku lebih suka hancur di tangannya daripada selamat di tanganmu. Dan soal bukti yang kau cari? Kau tidak akan pernah menemukannya, karena aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun celah yang bisa kau gunakan untuk menyentuh Bima-ku."

Revan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Ia melihat Alea bukan lagi sebagai gadis manis yang ia kenal, melainkan seseorang yang sudah sepenuhnya 'berubah' di bawah pengaruh Bima.

"Kau sudah gila, Alea," bisik Revan hancur.

Di saat yang sama, di sebuah gedung perkantoran tinggi di pusat Jakarta, Bima sedang duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, seorang pria berseragam petugas pajak dan seorang pengacara ternama duduk dengan raut wajah patuh.

"Pastikan semua berkasnya terkunci. Aku ingin ayahnya menandatangani surat itu sore ini," perintah Bima dingin.

"Sudah kami siapkan, Pak Bima. Dengan bukti penggelapan yang kami tanam, mereka tidak punya pilihan selain menyerahkan aset mereka untuk menutupi kerugian negara," lapor sang pengacara.

Bima menyesap cerutunya, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar. Baginya, menghancurkan keluarga Revan hanyalah sebuah latihan kecil. Ia melakukannya untuk memberi pelajaran pada siapa pun yang berani melirik ke arah miliknya. Dan yang terpenting, ia melakukannya agar Alea melihat bahwa tidak ada tempat yang aman baginya kecuali di bawah perlindungannya.

Ponsel Bima berdering. Sebuah panggilan video dari Daddy Alea yang sedang berada di Surabaya.

"Halo, Baskara. Bagaimana bisnismu di sana?" tanya Bima dengan nada persahabatan yang sangat meyakinkan.

"Semua lancar, Bima. Terima kasih sudah meminjamkan tim auditmu untuk membantuku di sini," suara Daddy terdengar lega di seberang sana. "Omong-omong, apa Alea mengantarkan dokumenmu kemarin? Aku belum sempat bertanya padanya."

"Sudah, Baskara. Dia anak yang sangat baik dan penurut. Kau sangat beruntung memilikinya," jawab Bima sembari tersenyum miring ke arah kamera.

"Syukurlah. Aku akan pulang lusa. Kita harus makan malam bersama lagi di rumah barumu," ujar Daddy tanpa tahu bahwa setiap kata-katanya adalah pisau yang mengiris kebenaran.

Sore harinya, Alea kembali ke rumah barunya Bima setelah jadwal kuliah usai. Ia tidak lagi merasa perlu alasan untuk datang. Ia merasa rumah ini adalah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya—seorang wanita yang menyerahkan hidupnya pada satu pria.

Begitu ia masuk, ia melihat Bima sedang berdiri di balkon, menatap matahari terbenam. Alea berjalan mendekat dan memeluk pinggang Bima dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung pria itu yang kokoh.

"Aku sudah bicara dengan Revan tadi," bisik Alea.

"Lalu?" tanya Bima tanpa berbalik, namun ia menggenggam tangan Alea yang melingkar di perutnya.

"Dia tidak akan mengganggu lagi. Aku sudah memastikan dia tahu bahwa posisinya tidak berarti apa-apa bagiku," jawab Alea dengan nada bangga.

Bima berbalik, mengangkat dagu Alea sehingga mata mereka bertemu. "Kau belajar dengan cepat, little bird. Menghancurkan harapan adalah cara terbaik untuk membungkam lawan."

Bima mencium dahi Alea dengan lembut, sebuah gerakan yang kontras dengan kekejaman yang baru saja ia lakukan pada keluarga Revan. Bagi Alea, kelembutan ini adalah hadiah atas kesetiaannya. Ia tidak peduli jika di luar sana Revan sedang kehilangan segalanya, atau jika Daddy sedang dibohongi secara sistematis.

Di sangkar emas ini, Alea merasa aman. Ia merasa dicintai dengan cara yang intens dan posesif. Dan saat malam kembali turun menyelimuti Jakarta, Alea menyadari bahwa ia bukan lagi burung yang mencoba lari; ia adalah burung yang telah belajar mencintai jerujinya, karena sang penjaga adalah satu-satunya orang yang ia inginkan di dunia ini.

Namun, di kedalaman hatinya, sebuah pertanyaan kecil sesekali muncul: sampai kapan jaring kebohongan ini bisa bertahan sebelum Daddy akhirnya menyadari bahwa sahabat terbaiknya adalah musuh paling berbahaya bagi putrinya? Alea segera menepis pikiran itu, menenggelamkan dirinya kembali dalam dekapan Bima yang hangat namun menjerat.

1
Niaja
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Niaja
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!