Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara Adzan subuh berkumandang dengan sayup-sayup terdengar dari kejauhan.
Suara yang memecah kesunyian kamar mewah yang masih berhiaskan pengantin.
Melina sudah bangun jam lima subuh seperti kebiasaannya----kebiasaannya di panti asuhan.
Bangun jam lima subuh seperti kebiasaannya di panti asuhan, untuk membantu memasak---agar adik-adik pantinya bisa makan.
Tubuhnya semalam sedikit pegal karena harus tidur di sofa yang sempit, namun Melina tak akan mengeluh.
Dirinya sesuai janji pada Bunda Pipin dan sang pencipta, jika akan menjadi istri yang baik untuk Ishan Ganendra.
Langkahnya pelan untuk bangkit dari tempat tidur, berusaha tak menimbulkan suara agar sang suami tidurnya tak terganggu.
Melina masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mandi dan membersihkan diri, Melina mengambil Mukena yang dari dalam koper.
Dirinya ingin melaksanakan solat subuh, dan mengutarakan soal keluh kesahnya dengan sujud di hadapan sang penciptanya.
Hatinya sesak saat sang suami menolaknya begitu saja, karena jijik.
Melina merasa jika pernikahan ini tak akan bertahan lama, dan yang pasti memang tak bertahan lama.
Setelah Melina melahirkan anak, Ihsan akan menceraikannya---namun selama Adisti masih hidup Melina tak akan di ceraikan.
"Ya allah hamba memohon kekuatan dan keselamatan atas pernikahan yang baru saja dimulai ini. Buka 'kan hati Mas Ishan Ya allah," doa Melina mengangkat tangan dengan penuh air mata.
Melina menghela napas dirinya hanya berharap agar di selamatkan, dan pernikahan ini---Melina yakin hati suaminya yang sekeras batu pasti akan melunak.
Gadis ini merasa jika suatu saat pernikahan ini pasti akan bahagia, namun entah mengapa perasaannya sejak kemarin tak enak.
Tangannya memegang degup jantungnya, namun matanya menoleh ke fentilasi udara yang memperlihatkan matahari sudah mulai naik.
"Udah siang, aku harus siapkan keperluan Mas Ishan," ucap Melina melepas mukenanya.
Melipatnya dan menaruhnya di sofa.
Usai solat, Melina mengenakan pakaian dengan daster rayon berwarna hijau muda yang nyaman dengan motif bunga-bunga kecil warna putih.
Rambut hitamnya yang panjang sampai lengan masih basah, di biarkan tergerai.
Hal yang memberikan kesan segar dan menggoda di pagi hari.
Setelah menyiapkan kebutuhan suaminya, yang hari ini ada berangkat syuting.
Melina berjalan mendekati ranjang king size yang suaminya masih terlelap, mengenakan kemeja putih dan celana hitam.
Ruangan itu masih menyisakan dekorasi pengantin, dengan bunga-bunga putih menghiasi headboard ranjang dan lilin di nakas yang telah padam.
Ishan Ganendra masih tidur tengkurap dengan dengkuran halus.
Pria itu seolah cuek tak menganti pakaiannya karena dengan ini, dirinya merasa Melina tak akan mendekatinya.
Kemeja putih yang kini kusut, dan peci hitam di meja nakas masih menyisakan bagaimana malam pengantin yang tak berjalan sesuai malam-malam yang di lalui pasangan yang baru menikah.
Mata Melina menatap kagum akan ketampanan suaminya, jari-jarinya yang lentik dan panjang ingin menyentuh wajah suaminya.
Namun, canggung dan takut----setelah semalam mendapatkan peringatan dari Ihsan.
"Ganteng sih...tapi sayang dia nggak bisa gua milikin," batin Melina tersenyum sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Melina berdiri di tepi tempat tidur.
Tangannya memegang handuk putih di tangannya, sambil mengeringkan rambutnya yang lembab.
Ada keraguan di hati Melina untuk menjalankan perannya sebagai Istri.
"Seandainya kamu bisa menerimaku, Mas. Aku pasti akan sangat bahagia," ucap Melina sambil tersenyum tipis.
Matanya menatap wajah suaminya, tangannya perlahan mengulur demi menyentuh bahu Ishan dengan sangat pelan.
Melina berusaha menggoyangkan pelan sang suami tanpa mau mengejutkannya.
"Mas... Mas Ishan, bangun. Sudah pagi," bisik Melina lembut.
Ishan hanya melenguh mengubah posisi menjadi telentang, matanya masih terpejam.
"Livia...," ucap Ishan dalam alam bawah sadarnya.
"Livia," bisik Melina menelan salivanya.
Melina bisa merasa jika dirinya hanya sebuah pohon tumbang yang menghalangi kebahagian orang lain, tapi jika dirinya tak menikahi Ihsan maka selain kehilangan pekerjaan----Dirinya tak bisa bekerja dimana pun.
"Mas...bangun hari ini 'kan ada syuting," ucap Melina sekali lagi.
Tangannya menepuk pipi Ishan yang di tumbuhi jambang halus, tajam dan geli.
Melina menatap Ishan yang mulai terusik dalam tidurnya, meskipun perjanjian semalam membuat hati Melina sakit.
Tapi dirinya terikat sumpah pernikahan, yang menugaskannya sebagai istri.
Hari ini adalah kesempatan pertama dalam memulai pengabdiannya sebagai istri dari Ishan Ganendra.
"Mas..," ucap Melina sekali lagi.
Mata Ishan mengerjap, mengedip-ngedip menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Mas, bangun hari ini ada jadwal syuting 'kan?" tanya Melina.
Ishan menatap wajah Melina di pagi hari, tangannya Melina sibuk mengeringkan rambutnya.
Seketika saat sadar Ishan langsung menjauh dan melompat, lalu menatap jijik ke arah Melina.
"Ihhh!" teriak Ishan.
Hal yang membuat Melina tersentak, dan mengerutkan keningnya heran.
"Mas ada apa?" tanya Melina.
"Berani kamu dekati saya!" marahnya.
Melina kaget, lantaran Ishan memarahinya di hari pertama mereka menikah.
"Mas...aku hanya membangunkanmu, kamu ad---"
Belum sempat kalimat yang di keluarkan Melina selesai Ihsan, langsung memotongnya cepat dengan bentakan.
"Kamu Amnesia yaa! Atau kamu tak mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar!" bentaknya.
Melina matanya langsung berkaca-kaca mendengar bagaimana Ihsan membentaknya di pagi hari.
"Mas...Aku hanya membangunkanmu! Jika begitu kenapa nggak pasang alarm aja!" ucap Melina dengan nada tinggi, namun matanya sudah berkaca-kaca.
"Halah, kamu tuh alasan! Kamu sengaja mau dekat sama saya! Biar saya menerima kamu jadi istri saya! Mimpi!" teriaknya di pagi hari.
"Astagfirullah...," ujar Melina lirih.
Ihsan menatap Melina, matanya melotot dan gadis ini hanya menunduk ketakutan menatap jari-jemarinya yang gemetar.
"Sudah saya katakan semalam! Jangan sentuh area saya!" teriaknya.
"Iya Mas...sudah aku turun dari ranjang...jangan teriak-teriak malu nggak enak di dengar mama ama Bi Nisa," ucap Melina dengan lirih dan takut.
Mata Ihsan yang berwarna hijau menatap Melina, dan langsung menunjuk.
"Dan kenapa belum turun dari ranjang!" teriaknya.
Melina mengangguk, dan segera turun dari ranjang.
Gadis malang itu sudah berdiri, dan menundukkan kepalanya.
"Dasar parasit kamu!" bentaknya, segera bangun menuju kamar mandi.
Melina memulai hari pertama sebagai istri sah Ishan Ganendra, kesabaran yang tulus dari hatinya---apakah akan mengubah sikap Ishan padanya.
*
*
*
*
*
*
*