NovelToon NovelToon
My Husband Brondong

My Husband Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.

​Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 - MHB

Satu minggu telah berlalu sejak insiden memo di bawah pintu itu, dan apartemen lantai 28 masih terasa seperti berada di dalam kulkas raksasa. Arka memang sudah mulai bicara, tapi hanya sebatas "ya", "tidak", atau "aku berangkat". Tidak ada lagi gurauan, tidak ada lagi godaan tentang sereal yang habis. Arka kembali menjadi sosok yang dingin dan fungsional, membuat Maya merasa seperti sedang tinggal bersama robot paling tampan di dunia.

​Hingga pada Rabu malam, Arka meletakkan sebuah kartu undangan di atas meja makan saat Maya sedang menyesap tehnya.

​"Malam Penghargaan Inovasi Kampus. Jumat malam," ucap Arka datar. "Pemenang kompetisi startup harus datang membawa pasangan. Aku tahu kamu sibuk dengan proyek Adrian-mu itu, jadi aku tidak berharap banyak. Tapi kalau kamu mau membuktikan bahwa memo yang kamu tulis itu bukan sekadar basa-basi, datanglah."

​Maya menatap undangan itu, lalu menatap punggung Arka yang menjauh. Ada nada tantangan dalam suaranya. Arka tidak meminta, dia sedang menguji. Dia ingin melihat apakah Maya berani muncul di dunianya setelah skandal foto "tante girang" kemarin, atau apakah Maya akan tetap bersembunyi di balik jubah profesionalismenya.

​Jumat sore, Maya berdiri di depan lemari pakaiannya dengan kegelisahan yang luar biasa. Ia tahu ia tidak bisa datang dengan setelan blazer kantornya yang kaku. Jika ia datang sebagai "Maya Clarissa sang Manajer", ia hanya akan mempertegas jarak usia mereka dan memberi makan pada gosip-gosip miring itu.

​Aku harus terlihat seperti pasangannya, bukan kakaknya. Dan jelas bukan tantenya, batin Maya tegas.

​Ia memutuskan untuk melepaskan imej "Wanita Besi". Maya memilih gaun bodycon berwarna biru muda yang lembut dengan potongan bahu terbuka—simpel namun elegan. Ia tidak menyanggul rambutnya; ia membiarkannya tergerai dengan gelombang alami yang membingkai wajahnya. Riasannya pun ia ubah; ia meninggalkan lipstik merah tua andalannya dan beralih ke warna peach yang segar.

​Saat ia melihat pantulan dirinya di cermin, Maya hampir tidak mengenali sosok itu. Ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, memancarkan aura yang lebih ringan dan bersahabat. Ia menambahkan gelang pemberian Arka di pergelangan tangannya sebagai sentuhan terakhir.

​Aula kampus sudah dipenuhi oleh denting gelas dan musik live saat Maya melangkah masuk. Ia bisa merasakan tatapan mata tertuju padanya. Arka sudah berada di sana, berdiri di dekat panggung bersama timnya. Ia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan blazer kasual.

​Begitu Arka melihat Maya, langkahnya sempat terhenti. Gelas di tangannya miring sedikit. Matanya membelalak, memindai Maya dari ujung kaki hingga kepala. Ada binar kemenangan sekaligus kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan di balik wajah dinginnya selama seminggu ini.

​Arka segera menghampirinya, melingkarkan tangannya di pinggang Maya dengan posesif—sebuah gestur yang membuat Maya tersentak namun merasa aman.

​"Kamu datang," bisik Arka di telinganya. "Dan kamu... terlihat luar biasa. Hampir saja aku tidak mengenalimu."

​"Aku hanya tidak ingin membuatmu malu membawa 'tante' ke sini," balas Maya dengan senyum tipis.

​Sepanjang malam, mereka menjadi pusat perhatian. Orang-orang berbisik, bertanya-tanya siapa wanita cantik yang mendampingi sang bintang kampus. Beberapa mahasiswa tingkat akhir mencoba mendekat, namun aura protektif Arka membuat mereka mundur teratur.

​"Gila, Arka! Pasangan lo siapa? Model ya?" tanya salah satu teman basketnya.

​Arka hanya tersenyum bangga. "Kenalkan, ini Maya. Orang paling spesial di hidup gue."

​Maya merasa hatinya menghangat. Mendengar Arka memperkenalkannya tanpa embel-embel "Kak" atau "Mentor" di depan dunianya memberikan rasa puas yang tak terlukiskan. Seolah-olah malam ini, mereka benar-benar hanya Arka dan Maya—sepasang kekasih yang serasi.

​Namun, tidak semua orang menikmati pemandangan itu. Di sudut ruangan, Ghea berdiri dengan segelas minuman yang ia genggam terlalu erat. Ia mengenakan gaun merah menyala yang sangat provokatif, namun malam ini, perhatian semua orang justru tertuju pada wanita berpakaian biru lembut di samping Arka.

​Ghea merasa posisinya terancam. Selama kompetisi, ia merasa dialah yang paling berhak mendampingi Arka di malam penghargaan ini.

​"Siapa dia sebenarnya?" gumam Ghea dengan nada tajam. Ia memperhatikan setiap detail kecil pada Maya. "Dia terlihat terlalu tenang untuk ukuran mahasiswa. Dan gelang itu... itu bukan perhiasan murah."

​Ghea mulai mendekati kerumunan di sekitar Arka dengan senyum manis yang dipaksakan. "Hai Arka! Selamat ya atas kemenangannya. Dan... hai juga. Kamu mahasiswi fakultas mana? Kok aku baru lihat?"

​Maya merasakan tekanan pada pinggangnya saat tangan Arka sedikit mengetat. Maya tersenyum tenang, mengeluarkan aura kepemimpinan yang biasa ia gunakan di kantor, namun tetap dengan nada bicara yang ramah.

​"Saya bukan mahasiswa sini, Ghea. Saya hanya... teman dekat Arka yang kebetulan diminta menemaninya malam ini," jawab Maya diplomatis.

​Ghea menyipitkan mata. Ia merasa ada yang janggal. Cara wanita ini berdiri, cara ia menatap, dan cara ia membawa diri menunjukkan sebuah kedewasaan yang sangat matang—sesuatu yang tidak dimiliki mahasiswi biasa. Ghea juga menyadari bagaimana Arka tidak melepaskan pandangannya dari wanita ini sedetik pun.

​"Teman dekat? Oh, aku pikir kamu kakaknya atau apa," sindir Ghea halus.

​"Banyak orang memang sering salah sangka, Ghea. Tapi Arka bilang, dia lebih suka wanita yang tahu apa yang dia mau, bukan yang hanya tahu cara mencari perhatian," balas Maya dengan nada tenang yang justru mematikan.

​Ghea terbungkam. Ia merasa harga dirinya tersengat. Sementara itu, Arka hampir tidak bisa menahan tawanya mendengar balasan telak dari Maya.

Suasana pesta penghargaan di aula kampus yang semula hangat dan penuh pujian bagi Arka dan Maya, mendadak berubah menjadi tegang di sudut dekat meja minuman. Ghea, yang sejak tadi menahan bara kecemburuan, akhirnya kehilangan kendali diri. Dengan gerakan yang sengaja dibuat tampak seperti ketidaksengajaan, ia mengayunkan gelas berisi jus jeruk pekat tepat ke arah gaun biru muda yang dikenakan Maya.

​Plash!

​Cairan oranye itu meresap cepat ke kain sutra Maya, meninggalkan noda besar yang mencolok di bagian perut. Maya tersentak, merasakan dinginnya minuman itu menembus kulitnya.

​"Oh my God! Sori, sori banget! Aku nggak sengaja," ucap Ghea dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia justru menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkilat puas. "Aduh, sayang banget ya. Padahal gaunnya bagus, tapi kayaknya emang nggak cocok dipakai di sini. Mungkin karena yang pakai... ya, sudah lewat masanya."

​Maya menghela napas panjang. Ia mengambil beberapa lembar tisu dari meja, mencoba membersihkan nodanya dengan tenang. Sebagai seorang manajer yang terbiasa menghadapi krisis di kantor, drama mahasiswi seperti ini terasa sangat dangkal baginya.

​"Nggak apa-apa, Ghea. Hanya baju," jawab Maya datar.

​Namun Ghea tidak berhenti. Ia justru melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar hanya mereka berdua yang dengar, namun cukup tajam untuk menusuk harga diri. "Harusnya kamu sadar diri. Berusaha kelihatan muda dengan baju begini nggak bakal nutupi fakta kalau kamu itu tante-tante yang cuma pengen eksis di dunia anak kuliah. Arka itu punya masa depan, dan dia butuh seseorang yang seumuran, bukan... pengasuh."

​Maya menatap Ghea dengan tatapan dingin. Sejujurnya, ia bisa saja membalas dengan kalimat yang jauh lebih menyakitkan—ia punya kosakata korporat yang bisa membuat Ghea menangis dalam lima menit. Namun, Maya merasa lelah. Ia tidak ingin merusak malam kemenangan Arka dengan perdebatan tidak bermutu di tengah kerumunan.

​Biarkan saja, pikir Maya. Dia hanya gadis kecil yang sedang merasa terancam.

​"Sudah bicaranya?" tanya Maya pelan. "Kalau sudah, saya mau ke toilet. Permisi."

​Saat Maya hendak berbalik, sebuah tangan kekar melingkar di pundaknya. Aroma parfum maskulin yang sangat akrab menyeruak.

"Arka". Ucap maya.

Bersambung....

1
Teh Fufah
keren bingits bukan lumayan keren mayaaaa
Ari Atik
ingat maya egoisnu akan membuat pecahnya bahtera samudra rumah tanggamu.😡
Teh Fufah
karena aku senang, aku kasih mvote nya hari ini buat maya 😍 arkaaaa
Naelong: makasi kak udah mampir😍🙏
total 1 replies
Teh Fufah
klw dah cemburu kayak gini mah otw unboxing hihi
Teh Fufah
otw bucin loe may...
Ari Atik
yap betul sekali.....

karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......

rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
Teh Fufah
hadeh..... maya oh arka
Teh Fufah
senengnya hati ku
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
Ari Atik
mulai memahami satu sama lain....

good...😊
Ari Atik
arkanya gk jadi memperkenalkn diri,di kantornya maya kah?

memperjelas status pernikahan mereka...
Naelong: jadi tapi bukan sekarang ya😍
total 1 replies
Ari Atik
ya.. betul sekali langkah arka..
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
Ari Atik
kan...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡

lanjut thor....😊
Naelong: makasi udah mampir kak😍
total 1 replies
Ari Atik
muak dg egonya maya.....
Ari Atik
maya ...
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....

ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
Ari Atik
akting,sekaligus memanfaatkn keadaan....🤭😊😊
Ari Atik
ya sakitlah jadi arka....
suami yg tk di akui..😡
Ari Atik
sampai kapan maya bisa mempertahankn egonya....?
Naelong
makasi udah mampir kak🙏
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu, nggak pake lama... Semangat
Teh Fufah
mari kita berpetualang dengan kisah cinta ny sang berondong
Naelong: makasi udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!