Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mereka baru saja keluar dari rental.
Langkah Viona masih ringan, kontras dengan Gilang yang kembali terlihat biasa saja.
“Kemana lagi nih?” tanya Viona, melirik ke samping.
Gilang tidak langsung menjawab.
“Kak Gilang free nggak?”
Gilang pura-pura berpikir. Ia menatap jalanan di depan, seolah ada hal penting yang harus dipertimbangkan.
“Hm…”
Beberapa detik ia diam.
“Free.”
“Yeay!” Viona langsung tersenyum lebar. “Ayo kita naik kereta!”
Gilang berhenti sebentar.
“Kereta?” alisnya naik. “Ngapain?”
“Jalan-jalan,” jawab Viona cepat.
Gilang menggeleng pelan. “Ribet.”
Viona langsung mendekat, menarik ujung lengan jaket Gilang.
“Ayolah, Kak…”
“Malas,” jawab Gilang singkat.
Viona tidak menyerah.
Ia berdiri tepat di depan Gilang, menatapnya dengan wajah yang dibuat memohon.
“Please…”
Gilang menghela napas, tapi tidak langsung menolak lagi.
“Aku mau ke satu tempat,” lanjut Viona, suaranya sedikit lebih lembut. “Bagus banget. Aku pengen ke sana dari dulu.”
Gilang menatapnya.
“Tempat apa?”
“Pokoknya bagus,” jawab Viona cepat, sedikit tersenyum. “Kakak harus lihat sendiri.”
Gilang diam.
Viona kembali menarik lengannya pelan.
“Sekali ini aja, ya?”
Ada jeda.
Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Gilang akhirnya menghela napas lagi.
“Yaudah.”
Viona langsung bersinar.
“Serius?”
“Iya.”
“Yeay!” Viona hampir melompat kecil, lalu tanpa pikir panjang menarik tangan Gilang. “Ayo, sebelum aku berubah pikiran.”
Gilang hanya bisa menggeleng kecil sambil tersenyum simpul.
Mereka sampai di stasiun tidak lama setelah itu.
Perjalanan dengan KRL terasa singkat. Tidak terlalu ramai, hanya beberapa penumpang yang duduk diam dengan urusan masing-masing.
Viona berdiri di dekat pintu, sesekali melirik ke luar jendela. Sementara Gilang lebih banyak diam, tangannya berpegangan pada tiang.
Beberapa menit kemudian—
“Turun,” kata Viona singkat.
Pintu terbuka.
Ia langsung menarik tangan Gilang keluar.
Mereka turun ke peron yang tidak terlalu ramai. Langkah Viona tetap cepat, seolah sudah tahu arah.
Gilang menoleh ke sekitar.
Sepi.
Tidak benar-benar kosong, tapi jauh dari ramai.
“Ngapain sih ke sini?” tanyanya.
Viona tidak langsung jawab, masih menariknya berjalan.
Gilang kembali melihat sekitar—peron yang lengang, beberapa orang yang lalu-lalang santai.
“Daerah sini sepi,” lanjutnya.
Viona akhirnya menoleh, tersenyum tipis.
“Ya sepi lah,” katanya ringan. “Kita perginya juga bukan jam pulang kerja.”
Viona tidak berhenti di area stasiun.
Ia terus berjalan keluar, lalu berbelok ke arah jalan kecil di samping.
Semakin jauh, jalannya berubah.
Aspal berganti dengan jalan berbatu. Tidak rata, sedikit menanjak, dan di beberapa bagian terlihat licin.
Viona tetap berjalan di depan, seolah sudah hafal.
Gilang mengikuti di belakang, langkahnya lebih hati-hati.
Ia mengusap keringat di pelipis.
“Ngapain sih, Vi… ke sini?” katanya. “Panas banget.”
Viona tidak menoleh.
“Bisa diem nggak, sih?” jawabnya. “Dari tadi protes mulu.”
Gilang mendengus pelan.
Viona akhirnya melirik sebentar.
“Udah, bentar lagi,” katanya. “Nanti di sana ada hidden gem.”
Gilang mengangkat alis sedikit.
“Hidden gem?”
Viona mengangguk santai.
“Makanya ikut aja dulu.”
Gilang tidak menjawab lagi.
Ia tetap mengikuti, meski sesekali masih menghela napas karena jalan yang tidak nyaman.
Sementara Viona tetap melangkah di depan, seolah tidak terganggu sama sekali.
Beberapa menit kemudian, jalan setapak itu mulai mereda.
Langkah Viona melambat.
Lalu berhenti.
“Udah,” katanya singkat.
Gilang yang di belakang ikut berhenti. Ia sedikit menunduk, masih mengatur napas.
“Apaan sih—”
Kalimatnya terpotong saat ia mengangkat kepala.
Di depannya, terbentang danau yang cukup luas.
Airnya tenang. Permukaannya memantulkan cahaya matahari sore yang mulai turun. Di tepiannya, pepohonan tumbuh rindang, memberi bayangan yang sejuk.
Beberapa burung terlihat bertengger di ranting, sebagian lagi terbang rendah di atas air.
Suasananya sunyi.
Tenang.
Berbeda jauh dari hiruk-pikuk yang tadi mereka tinggalkan.
Gilang terdiam beberapa detik.
Viona menoleh ke arahnya, sedikit tersenyum.
“Gimana?”
Gilang tidak langsung menjawab.
Matanya masih menyapu pemandangan di depan.
“…lumayan,” katanya akhirnya, singkat.
Viona mendengus kecil.
“Cuma ‘lumayan’?” katanya.
Gilang tidak membalas.
Tapi kali ini, ia tidak mengeluh lagi.
Viona berjalan mendekat ke tepi danau, lalu membungkuk sebentar mengambil beberapa kerikil kecil.
Ia memilih satu, menimbangnya di tangan, lalu melempar ke permukaan air.
plak… plak… plak.
Batu itu memantul tiga kali sebelum akhirnya tenggelam.
Viona tersenyum puas.
Ia menoleh ke Gilang.
“Kak Gilang bisa nggak?”
Gilang berdiri santai, tangan di saku.
“Bisa,” jawabnya enteng.
Viona mengangkat alis, memberi jalan.
“Coba.”
Gilang mengambil satu batu, tanpa banyak mikir langsung melempar.
plung.
Langsung tenggelam.
Viona langsung menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu tertawa.
“Itu namanya bisa?”
Gilang diam sebentar, lalu menghela napas pendek.
“Tadi kepeleset.”
“Apanya yang kepeleset?” Viona masih menahan tawa.
Gilang mengambil batu lagi.
“Ini serius.”
Ia melempar lagi.
plung.
Sama saja.
Viona kali ini tidak bisa menahan.
Ia tertawa lepas di tepi danau itu.
Gilang hanya diam, lalu menoleh sedikit.
“Udah, kamu aja,” katanya singkat.
Kecil.
“Gimana sih, Kak?” katanya sambil menggeleng. “Katanya mahasiswa berprestasi… masa gitu aja nggak bisa?”
Gilang meliriknya sebentar, lalu mengambil satu batu lagi.
“Ini batunya yang nggak bagus,” jawabnya santai.
Viona langsung menyipitkan mata.
“Oh, jadi salah batu sekarang?”
Gilang tidak menjawab. Ia menimbang batu itu di tangannya, lalu melempar lagi.
plung.
Hasilnya sama.
Viona menutup mulutnya, menahan tawa yang sudah mau keluar lagi.
“Kasihan batunya, Kak. Disalahin terus.”
Gilang mendengus pelan.
“Udah, kamu aja yang jago.”
Viona tersenyum lebar, lalu mengambil batu lain.
“Perhatiin ya.”
Ia melempar lagi.
plak… plak…
Batu itu kembali memantul beberapa kali.
Viona langsung menoleh dengan wajah puas.
“Nah.”
Gilang hanya menggeleng kecil, tapi kali ini jelas ada senyum tipis di wajahnya.
Tapi sudut bibirnya ikut naik sedikit.
Gilang mengambil satu batu lagi, lalu menatapnya sebentar.
“Kalau di air sih nggak guna,” katanya santai.
Viona melirik. “Terus?”
Gilang menyapu pandangan ke sekitar, lalu menemukan beberapa batu yang lebih besar.
Ia mengambil satu, menimbang di tangannya.
“Di udara beda cerita,” lanjutnya. “Lihat.”
Sebelum Viona sempat komentar, Gilang sudah melempar batu itu ke atas, ke arah pohon mangga di dekat mereka.
duk.
Beberapa daun bergoyang.
Lalu—
bruk.
Dua buah mangga jatuh hampir bersamaan ke tanah.
Viona langsung terdiam beberapa detik.
Matanya membesar.
“Lah…”
Gilang menurunkan tangannya, wajahnya tetap santai.
“Nah.”
Gilang melangkah mendekat, mengambil dua mangga yang jatuh itu.
Ia menimbang salah satunya di tangan.
“Jadi,” katanya santai, “bakat orang itu beda-beda.”
Viona masih menatap mangga itu, lalu kembali ke Gilang.
“Terus?”
Gilang mengetuk pelan kepala Viona dengan jari.
“Jangan suka remehin orang.”
Viona langsung menepis tangannya.
“Ih.”
Gilang hanya tersenyum tipis, lalu melihat mangga di tangannya.
“Lumayan,” gumamnya.
Viona mendekat sedikit.
“Itu masih setengah matang.”
“Ya, nggak apa-apa, mau gak?"
Viona langsung menggeleng cepat.
“Enggak, pasti asem banget.”
Gilang tidak banyak komentar. Ia langsung menggigit mangga itu.
Ekspresinya tetap datar.
“Enak,” katanya santai.
Viona menatapnya tidak percaya.
“Serius?”
Gilang mengangguk, lalu menyodorkan sedikit.
“Mau?”
Viona mundur sedikit. “Enggak.”
Gilang mengangkat bahu, lalu lanjut makan. Sedikit demi sedikit, sampai setengah bagian habis.
Viona memperhatikan.
Lama-lama ragu.
“Beneran enak?”
Gilang tidak menjawab, hanya melirik sekilas sambil terus makan.
Viona akhirnya mendekat.
“Coba deh… dikit aja.”
Gilang menyodorkan sisa mangga itu.
Viona menggigit kecil.
Beberapa detik.
Lalu—
“Huwek!”
Ia langsung melepeh.
“Asem banget!”
Gilang langsung tertawa.
Kali ini benar-benar lepas.
“Katanya mau coba.”
"mukanya nipu banget," protes Viona.
Gilang masih tertawa kecil.
“Kan tadi udah dibilang enak.”
“Enak apanya?” Viona mengibaskan tangannya, seolah masih merasa asam di lidahnya. “Itu mah nyiksa.”
Gilang mengangkat bahu santai, lalu menggigit lagi mangga di tangannya.
“Biasanya juga lama-lama biasa.”
Viona menatapnya tidak percaya.
“Kak Gilang aneh.”
Gilang hanya tersenyum tipis, masih mengunyah.
Viona menggeleng, tapi sudut bibirnya ikut terangkat sedikit.
Mereka kemudian berjalan sedikit ke samping, menemukan batang pohon besar yang sudah kering.
Gilang duduk lebih dulu, lalu Viona menyusul di sampingnya.
Suasana di sekitar danau tetap tenang.
Viona mulai bercerita.
Hal-hal kecil. Tidak penting. Kadang lompat ke topik lain tanpa arah.
Tentang temannya di kelas, tentang dosen yang aneh, sampai kejadian receh yang bahkan tidak terlalu lucu.
Tapi entah kenapa, mereka tetap tertawa.
Gilang yang biasanya hanya menanggapi singkat, kali ini ikut menimpali.
Sesekali malah lebih dulu tertawa.
Waktu terasa berjalan pelan.
Tidak ada beban.
Tidak ada topik berat.
Hanya percakapan ringan yang terus mengalir.
Sampai suatu saat—
tawa itu perlahan mereda.
Gilang masih menghadap ke depan, tapi kemudian menoleh ke samping.
Ke arah Viona.
Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Viona yang masih tersenyum kecil, perlahan menyadari tatapan itu.
Ia menoleh.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik.
Tidak ada yang bicara.
Gilang sedikit mendekat.
Gerakannya pelan.
Seolah tanpa sadar.
Viona terdiam.
Napasnya tertahan.
Dan tanpa benar-benar tahu kenapa—
ia memejamkan mata.