Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bau Kematian di Kamar Kita
Duniaku mendadak kehilangan gravitasi. Pesan singkat dari Komisaris Herman di layar ponselku terasa seperti vonis mati yang baru saja dijatuhkan oleh algojo tak terlihat.
“Izin ekshumasi ditolak. Makam dibongkar. Tulang beracun itu lenyap.”
Aku mengangkat wajah, menatap ke sekeliling ruang mediasi Pengadilan Agama. Udara yang dipompa oleh pendingin ruangan mendadak terasa setajam serpihan kaca saat masuk ke paru-paruku. Di depanku, Ghazali masih memamerkan topeng kemarahan artifisialnya, sementara di sampingnya, senyum Maia Anindita mekar layaknya bunga beracun yang baru saja menelan mangsa utuh-utuh.
Mereka selangkah lebih maju. Nyonya Ratna dan Maia tahu bahwa satu-satunya cara membuktikan pembunuhan Kakek dengan racun Digitalis adalah melalui analisis tulang belulang menggunakan mesin spektrometri massa. Tanpa objek ekshumasi itu, seluruh tuduhan pidana yang kami rancang akan menguap menjadi sekadar fitnah yang tak berdasar.
"Dokter Keana? Apakah Anda baik-baik saja?" bisik Leo Sastra, pengacaraku, menyadari perubahan drastis pada ritme napasku. "Kita bisa mulai mengajukan tuntutan audit finansialnya sekarang."
"Tarik kembali, Pak Leo," bisikku pelan, suaraku nyaris tak terdengar.
Leo menoleh padaku dengan dahi berkerut tajam. "Apa? Tapi strategi kita—"
"Tarik kembali semua gugatan rekonvensi itu, sekarang juga!" potongku dengan desisan yang jauh lebih keras, membiarkan nada kepanikan yang nyata merembes keluar.
Aku berdiri dengan mendadak, membuat kursi kayuku berderit keras bergesekan dengan lantai. Semua mata di ruangan itu, termasuk Hakim Mediator, terbelalak menatapku.
"Sidang ini selesai! Saya tidak ingin harta apa pun dari keluarga ini! Saya hanya ingin keluar dari neraka ini secepatnya!" teriakku. Aku tidak perlu berakting terlalu keras. Keputusasaan di dadaku seratus persen murni.
Aku menyambar tas tanganku, berbalik, dan berlari keluar dari ruang mediasi, mengabaikan panggilan Hakim dan teriakan kebingungan Leo Sastra. Begitu aku menerobos pintu ganda pengadilan, kilatan flash kamera dari puluhan wartawan langsung membombardir wajahku layaknya rentetan peluru.
"Dokter Keana! Apakah benar Anda tidak menuntut harta gono-gini?"
"Apakah Jaksa Ghazali melakukan KDRT pada Anda?!"
Aku menundukkan kepala, membelah lautan manusia itu dengan bantuan dua petugas keamanan pengadilan, lalu melompat masuk ke dalam taksi yang sedang menurunkan penumpang.
"Jalan, Pak! Ke pusat perbelanjaan Grand Indonesia, sekarang!" perintahku dengan napas memburu.
Begitu taksi melaju meninggalkan area pengadilan, aku menatap layar ponselku. Getaran pelan menandakan satu pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar.
“Basement P3, Zona Hijau. Tunggu di sana.”
Satu jam kemudian, di sudut paling gelap dari area parkir basement mal, sebuah sedan hitam dengan kaca film pekat melaju perlahan dan berhenti tepat di depanku. Pintu kemudinya terbuka dari dalam. Aku segera menyelinap masuk dan menutup pintu dengan bantingan tertahan.
Di kursi kemudi, Ghazali melepaskan jas sidangnya dengan kasar. Ia melonggarkan dasinya hingga nyaris terlepas. Rahangnya mengeras sedemikian rupa, dan napasnya terdengar seperti dengusan harimau yang terperangkap.
"Apa yang terjadi, Keana?! Kenapa kau membatalkan rekonvensinya di depan Hakim?!" Ghazali memukul roda kemudi dengan kepalan tangannya, menciptakan suara dentuman yang membuatku terlonjak.
"Mereka mencuri jenazahnya, Ghazali!" teriakku membalas, meluapkan seluruh ketegangan yang kutahan sejak tadi. "Ibumu memindahkan tulang belulang Kakek tadi malam sebelum Komisaris Herman bisa mengeluarkan izin ekshumasi! Bukti primernya sudah hilang!"
Tangan Ghazali yang tadinya siap memukul kemudi lagi, mendadak membeku di udara. Wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darahnya.
"Mustahil," bisiknya dengan suara serak. "Makam keluarga Mahendra dijaga ketat dua puluh empat jam oleh petugas keamanan swasta. Bagaimana Ibu bisa—"
"Ibumu adalah yang membayar petugas keamanan itu, Ghazali! Tentu saja dia bisa melakukannya!" aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela mobil yang dingin, memejamkan mata. Rasa lelah yang luar biasa menekan tengkukku. "Tanpa tulang itu, kita tidak bisa membuktikan Digitalis yang bersarang di sumsum tulangnya. Secara hukum, ini adalah obstruction of justice, perusakan barang bukti. Tapi tanpa adanya bukti, Kakekmu secara resmi mati karena serangan jantung alami."
Keheningan yang mematikan menguasai kabin mobil itu. Hanya suara deru mesin pendingin ruangan dan napas kami yang saling berpacu.
"Kita kalah," gumam Ghazali, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Pria yang tak pernah kalah di meja pengadilan itu kini tampak begitu rapuh dan hancur. "Aku mengorbankan pernikahan kita, aku membuatmu terlihat seperti sampah di depan media, hanya untuk... kegagalan."
Aku membuka mata, menatap profil samping wajahnya dalam keremangan basement. Jika ini adalah Keana satu bulan yang lalu, aku mungkin akan ikut menyerah dan menangis. Namun, profesiku telah mengajariku satu hal absolut: kematian selalu meninggalkan jejak, sekeras apa pun pembunuhnya mencoba membersihkannya.
"Belum, Ghazali. Kita belum kalah," ucapku. Suaraku kini kembali stabil, dingin, dan sangat analitis.
Ghazali menoleh perlahan. "Apa maksudmu?"
"Aku adalah dokter forensik. Dan ibumu bukan pembunuh profesional," aku memutar tubuhku menghadapnya. "Jenazah yang sudah dikuburkan bertahun-tahun akan mengalami fase dekomposisi tingkat lanjut. Jaringan lemaknya akan berubah menjadi adipocere—lilin mayat yang lengket dan sangat bau. Tulang belulang itu rapuh dan terendam dalam cairan tanah. Kau tidak bisa memindahkannya begitu saja dengan memasukkannya ke dalam koper dan membuangnya ke laut."
Aku melihat ketertarikan mulai kembali menyala di mata Ghazali.
"Memindahkan sisa-sisa jenazah dari makam membutuhkan kontainer khusus," lanjutku, mengaktifkan kembali insting penyelidikanku. "Selain itu, jenazah yang sudah lama dikubur melepaskan gas organik bernama Putrescine dan Cadaverine. Bau gas ini sangat spesifik: manis, busuk, menempel pada partikel debu, dan tidak bisa dihilangkan dengan sabun, parfum, atau disinfektan biasa. Bau ini akan menempel pada baju, kulit, dan ban mobil orang yang memindahkannya."
"Ibu tidak akan membiarkan bawahan rendahan menyimpan bukti sepenting itu," Ghazali mulai memahami arah pemikiranku. Matanya menyipit, membedah psikologi kriminal ibunya sendiri. "Ibu sangat parno. Dia pasti memerintahkan orang-orangnya untuk membawa jenazah itu ke tempat yang bisa dia awasi sendiri sebelum dia menghancurkannya. Misalnya, dengan melarutkannya dalam cairan asam."
"Ke mana dia akan membawanya?" tanyaku.
Ghazali terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya menatapku dengan sorot mata yang mengerikan. "Ke tempat di mana polisi tidak akan pernah berani mengeluarkan surat penggeledahan tanpa bukti yang sangat konkret. Ke dalam benteng Mahendra."
"Kediaman kalian? Tapi itu rumah yang sangat besar, Ghazali. Ada puluhan pelayan di sana. Seseorang pasti akan mencium bau bangkainya," sanggahku.
"Kecuali jika jenazah itu disembunyikan di bunker isolasi," jawab Ghazali, mesin mobil seketika ia nyalakan. "Ada satu ruangan di rumah itu yang menggunakan sistem ventilasi sirkulasi tertutup. Sebuah ruangan yang didesain Kakek sebagai tempat perlindungan dari serangan gas air mata saat kerusuhan tahun 1998. Ruangan itu berada tepat di bawah tanah... dan pintu masuk utamanya tersembunyi di balik dinding walk-in closet kamar utama."
Darahku berdesir dingin. Kamar utama. Kamar pengantin kami. Kamar di mana aku menangis sepanjang malam, sementara di bawah lantainya, sebuah rahasia gelap tersembunyi selama bertahun-tahun.
"Kita akan menyusup ke sana," Ghazali menginjak pedal gas, membawa mobil melesat keluar dari kegelapan basement. "Malam ini juga."
Hujan badai masih enggan meninggalkan langit Jakarta, seolah alam semesta berkonspirasi untuk menyembunyikan dosa-dosa keluarga Mahendra di bawah tirai airnya.
Mobil Ghazali berhenti di sebuah jalan buntu berumput tinggi, sekitar dua ratus meter dari dinding belakang kediaman Mahendra. Kami menembus hujan hanya berbekal jas hitam Ghazali yang ia jadikan tudung untuk melindungiku, meskipun pada akhirnya kami berdua tetap basah kuyup.
"Ada pintu utilitas khusus petugas taman di balik semak ini," bisik Ghazali, menyingkirkan tanaman rambat yang lebat. Ia memasukkan sebuah kunci kuningan kecil, dan pintu besi berkarat itu terbuka dengan decitan pelan.
Kami merayap masuk ke dalam pekarangan rumah yang luas bak lapangan golf. Di kejauhan, pos keamanan utama tampak dijaga oleh tiga pria berbadan tegap. Namun, Ghazali sangat hafal dengan titik buta dari setiap kamera pengawas di rumahnya sendiri.
Ia meraih tanganku. Jemarinya yang basah dan dingin menggenggam telapak tanganku dengan erat, menarikku menyusuri bayang-bayang pilar rumah. Sentuhan ini—genggaman yang posesif dan melindungi ini—sangat kontras dengan tindakan brutalnya menandatangani surat cerai di depanku. Kami adalah dua orang yang sedang berlari menuju perpisahan hukum, namun fisik kami saling bergantung layaknya organ tubuh yang tak bisa dipisahkan.
Kami berhasil masuk melalui pintu dapur belakang. Para pelayan telah beristirahat di paviliun luar, menyisakan keheningan mencekam di dalam rumah raksasa ini.
Dengan langkah mengendap, kami menaiki tangga pualam melingkar menuju lantai dua. Jantungku memompa darah dengan sangat agresif hingga telingaku berdenging. Jika Nyonya Ratna atau Maia memergoki kami di sini, ini tidak lagi sekadar pelanggaran teritorial—ini adalah invasi yang akan dibalas dengan eksekusi.
Ghazali mendorong pintu kamar utama dengan sangat perlahan.
Klik.
Pintu terbuka. Kami melangkah masuk ke dalam kamar pengantin kami. Ruangan ini gelap gulita. Tidak ada satu pun barang yang berubah sejak terakhir kali aku menyeret koperku dari sini. Ranjang king-size berselimut sutra itu masih terhampar rapi, tampak sama dinginnya dengan saat pertama kali aku mendudukinya.
Ghazali menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia segera melangkah menuju ruang walk-in closet di sebelah kiri ranjang.
Namun, baru lima langkah aku masuk ke dalam ruangan itu, kakiku mendadak terpaku di atas karpet. Aku berhenti bernapas. Bulu kudukku berdiri serentak.
"Ghazali," panggilku, suaraku nyaris hanya berupa embusan udara.
Ia menoleh dari dalam walk-in closet. "Ada apa? Cepat ke sini."
"Kau... kau tidak menciumnya?"
"Mencium apa? Aku hanya mencium bau kamper pakaian dan debu," Ghazali berjalan mendekatiku, alisnya bertaut bingung.
Aku memejamkan mata, memfokuskan seluruh reseptor penciumanku. Di balik aroma parfum ruangan yang mahal, di sela-sela embusan udara dingin dari kisi-kisi AC sentral di langit-langit, ada aroma lain yang menyusup masuk bak parasit.
Aroma manis yang memualkan. Aroma karat besi tua, daging yang terurai, dan gas amonia.
Bagi orang awam, bau ini mungkin hanya dianggap sebagai bau tikus mati di plafon atap. Namun bagi seorang dokter spesialis forensik yang menghabiskan ribuan jam di ruang autopsi, bau ini adalah sebuah tanda tangan biometrik. Ini adalah Cadaverine murni.
"Bangkai itu," aku menelan ludah dengan susah payah, menahan gejolak di lambungku. "Jenazahnya ada di sini, Ghazali. Udara dari bunker bawah tanah itu pasti bocor dan tersirkulasi naik melalui ventilasi kamar ini. Bau kematian itu... ada di kamar kita."
Ghazali menatapku dengan raut wajah horor. "Mereka belum menghancurkannya. Ibu pasti sedang menunggu Maia membawakan cairan asam hidrofluorik untuk melarutkan tulangnya tanpa sisa."
"Kita harus mengamankan setidaknya satu serpihan tulang Kakek sebelum cairan itu melarutkannya. Hanya satu sentimeter tulang femur sudah cukup untuk diuji di mesin spektrometri massa," ujarku tegas, mengalahkan rasa takutku dengan adrenalin.
Kami berdua bergegas masuk ke dalam walk-in closet. Ghazali menyingkirkan deretan jas mahalnya, mengekspos sebuah panel kayu berukir. Ia meraba bagian bawah rak sepatu, menekan sebuah sakelar tersembunyi.
Klek.
Panel kayu itu bergeser ke samping dengan suara desisan hidrolik, menampilkan sebuah lorong beton sempit yang menurun ke bawah tanah. Aroma busuk kematian itu seketika menampar wajah kami dengan intensitas seratus kali lipat lebih kuat.
Aku terbatuk hebat, harus menutup hidung dan mulutku dengan kerah kemeja. Ghazali sendiri terlihat pucat pasi, nyaris muntah di tempat, namun ia memaksakan dirinya untuk melangkah turun. Aku mengikutinya di belakang.
Tangga beton itu berujung pada sebuah ruangan berpenerangan neon redup. Ruangan itu dingin, berdinding baja setebal sepuluh sentimeter.
Di tengah ruangan, pemandangan yang tersaji membuat darah di nadiku membeku seutuhnya.
Sebuah bak mandi berbahan seng tahan karat diletakkan di atas terpal plastik. Di dalam bak tersebut, bertumpuk tulang-belulang manusia yang berlumuran lumpur merah kecokelatan. Sisa-sisa kain kafan yang sudah hancur melekat pada tulang rusuk dan panggul, memperlihatkan gumpalan adipocere berwarna putih kekuningan yang mengeluarkan bau menyengat yang membuat mataku berair perih.
Di samping bak tersebut, terdapat dua jeriken plastik besar berwarna biru tua berlogo tengkorak bersilang. Label kimianya sangat jelas terbaca: Hydrofluoric Acid 70%. Cairan asam paling mematikan yang bisa melarutkan tulang dan kalsium menjadi cairan tak berbentuk dalam hitungan jam.
"Ya Tuhan," bisik Ghazali dengan suara gemetar. Ia melangkah mendekati bak tersebut. Matanya menatap tulang belulang kakeknya sendiri yang diperlakukan layaknya sampah yang siap dilebur. Tubuh jaksa yang tangguh itu luruh, ia berlutut di lantai beton yang kotor, bahunya terguncang oleh isakan tangis tanpa suara.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat Ghazali menangis. Seluruh keangkuhannya hancur lebur di ruangan pengap ini. Pria yang selama ini terlihat sempurna, ternyata menyimpan luka yang bernanah di dalam hatinya.
"Waktu kita tidak banyak, Mas," bisikku lembut, berjongkok di sampingnya. Aku menyentuh bahunya sekilas, memberikan sedikit kekuatan, lalu mengenakan sepasang sarung tangan lateks cadangan yang selalu kubawa di saku blazer-ku.
Aku mendekati bak seng itu. Dengan profesionalisme yang membungkam sisi kemanusiaanku, aku memeriksa tumpukan tulang tersebut. Aku memilih bagian os femur (tulang paha) yang terpotong. Menggunakan tang kecil di gantungan kunciku, aku mematahkan ujung tulang sepanjang tiga sentimeter yang masih mengandung sedikit sumsum kering.
"Dapat. Ini sudah cukup untuk menjerat ibumu dan Maia ke penjara seumur hidup," aku memasukkan patahan tulang itu ke dalam wadah plastik klip kecil.
Ghazali mengusap wajahnya, bangkit berdiri dengan tatapan membunuh. "Ayo kita keluar dari sini dan bawa ini ke Komisaris Her—"
BAM!
Suara benturan logam baja yang sangat keras menghentikan kalimat Ghazali. Pintu hidrolik di ujung atas tangga yang baru saja kami lewati, mendadak terbanting menutup. Suara kunci mekanis berlapis berputar dengan kecepatan mengerikan.
Klang. Klek. Klang.
Kami berdua tersentak dan berlari menaiki tangga. Ghazali menghantam pintu baja itu dengan bahunya, namun pintu itu bahkan tidak bergetar satu milimeter pun.
"Sial! Buka pintunya!" teriak Ghazali, memukul dinding kayu di sekitarnya dengan putus asa.
Tiba-tiba, suara desisan statis terdengar dari arah dinding ruangan bawah tanah. Sebuah speaker interkom yang menempel di sudut langit-langit menyala.
"Selamat datang kembali di kamar pengantin kalian," suara merdu yang dipenuhi racun arsenik itu menggema di ruangan bunker yang sempit. Maia Anindita. "Bagaimana? Apakah kalian menyukai sedikit perubahan dekorasinya? Aku sengaja memastikan pendingin ruangan menyedot udara dari bawah agar kalian bisa mencium wangi kakek tersayang dari atas sana."
"Maia! Buka pintunya, jalang sinting!" Ghazali meraung ke arah kamera CCTV kecil di atas pintu.
Tawa renyah Maia mengalun dari speaker. "Ghazali, Ghazali. Kau memang pandai berakting di Pengadilan Agama tadi pagi. Aku hampir saja percaya bahwa kau benar-benar membuang istrimu. Tapi, paranoiku selalu menyelamatkanku. Aku memasang pelacak GPS di mobil sedanimu, Sayang."
Darahku turun hingga ke ujung kaki. Kami telah masuk tepat ke dalam perangkap yang paling mematikan. Maia tidak membuang tulang itu; ia menjadikannya umpan untuk menangkap kami berdua sekaligus.
"Kau pikir kalian bisa keluar membawa tulang itu?" suara Maia berubah menjadi dingin dan tanpa belas kasihan. "Di dalam ruangan itu ada dua jeriken asam hidrofluorik murni, dan sebuah sistem ventilasi tertutup. Dalam sepuluh menit, aku akan melepaskan gas pengalih ke dalam sistem sirkulasi kalian. Kalian berdua akan tertidur pulas."
Aku mundur selangkah, menatap jeriken asam di bawah sana. Kengerian yang absolut mencekik tenggorokanku.
"Dan saat kalian bangun..." Maia melanjutkan dengan bisikan yang membuat bulu kudukku berdiri, "...kalian tidak akan pernah bangun lagi. Karena Nyonya Ratna telah memutuskan bahwa melarutkan dua mayat pengkhianat dan satu mayat kakek tua dalam satu bak asam yang sama, jauh lebih efisien untuk menghilangkan jejak."
Klik.
Interkom dimatikan.
Suara desisan pelan mulai terdengar dari kisi-kisi ventilasi di atas kami. Udara di dalam bunker yang sudah berbau bangkai ini kini perlahan bercampur dengan aroma gas kimia sintetik yang membius.
Aku menoleh pada Ghazali. Pria itu menatapku dengan wajah pualamnya yang retak seutuhnya. Di bawah tanah kediaman Mahendra ini, di ruang yang dipenuhi bau kematian masa lalu, kami berdua menyadari bahwa kematian kami sendiri mungkin hanya berjarak kurang dari hitungan jam.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍