Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Melihat semuanya sudah aman, Gelsya yang berlari kembali mendekati ibunya, dan pria tak sadarkan diri yang terbaring di aspal.
"Mama hebat sekali! Mama seperti pahlawan!" seru Gelsya sambil memeluk pinggang ibunya.
Ghaizka tersenyum lembut, lalu menunduk memandangi pria yang tadi dihajar habis-habisan itu.
Wajahnya memang tampan dan berwibawa, meski kini pucat dan berlumuran darah.
"Orang ini sepertinya bukan orang jahat..." batin Ghaizka.
Ia pun berjongkok, meletakkan tangannya di dada pria itu.
WUSSSSHHH...
Cahaya keemasan samar memancar dari telapak tangan Ghaizka, mengalirkan energi kehidupan yang hangat ke dalam tubuh pria itu untuk menetralkan racun dan menghentikan pendarahannya.
"Hhh... Lega rasanya racun di tubuhmu sudah mulai netral," gumam Ghaizka pelan.
Ia menarik tangannya kembali. Wajah pucat pria itu kini mulai sedikit berwarna, dan napasnya yang tadinya tersengal-sengal kini menjadi jauh lebih teratur dan tenang.
"Mama... Paman ini baik-baik saja kan?" tanya Gelsya mendekat, menatap wajah pria itu dengan rasa penasaran.
"Iya sayang, dia akan selamat. Kita tidak bisa membiarkannya mati begitu saja di jalanan," jawab Ghaizka lembut.
"Siapa kau sebenarnya...?" bisik Ghaizka dalam hati.
KEESOKAN PAGINYA...
Matahari pagi mulai menyinari kamar yang sederhana namun bersih dan wangi.
Pria itu perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih sedikit kabur.
Ia berusaha menggerakkan tangannya, dan terkejut karena rasa sakit yang luar biasa di bahunya sudah hilang.
"Di... Di mana aku?" gumamnya pelan.
Ia menoleh ke sekeliling. Ruangan ini bukan kantornya, bukan juga rumah sakit.
Namun suasana di sini sangat tenang dan damai, penuh dengan aroma herbal yang menenangkan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah Ghaizka membawa segelas air dan obat, diikuti oleh Gelsya yang berlari kecil dengan senyum manis.
"Oh, kau sudah sadar? Bagus, minumlah ini untuk mempercepat penyembuhan," kata Ghaizka datar namun lembut, seraya menyerahkan gelas itu.
Pria itu duduk terbata-bata, menerima gelas itu dan menatap Ghaizka lekat-lekat. Matanya membelalak tak percaya.
"Kau... Kau wanita yang tadi malam?! Wanita yang menghentikan mobilku dan mengalahkan mereka semua sendirian?!" tanyanya tak habis pikir.
"Benar," jawab Ghaizka singkat. "Namaku Ghaizka. Dan ini putriku, Gelsya."
"Aku Arga... Arga Wijaya," jawab pria itu perlahan, matanya tak lepas dari wajah Ghaizka. Semakin ia melihat, semakin cantik.
"Terima kasih... Terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawaku, Nona Ghaizka. Kalau bukan karena kau, mungkin kepalaku sudah dipenggal atau dibawa pergi oleh orang-orang jahat itu," kata Arga tulus,
"Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang benar. Lagipula gara-gara mereka, kau hampir menabrak anakku," jawab Ghaizka santai.
Ghaizka berdiri dengan wajah yang tetap datar dan dingin, namun tatapannya menunjukkan perhatian.
"Apa kau bisa berjalan? Jika bisa, keluar dan sarapanlah. Aku sudah membuat sup herbal khusus untuk membantu mengembalikan energi pada tubuhmu yang hilang," kata Ghaizka singkat.
"Terima kasih banyak, Nona Ghaizka. Kau benar-benar baik," jawab Arga dengan penuh rasa hormat dan kekaguman.
Ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, dan berdiri tegap.
Mereka pun berjalan keluar menuju ruang tengah. Mereka duduk di atas sofa kayu yang sederhana.
Di atas meja kecil di hadapan mereka, sudah tersedia mangkuk berisi sup herbal yang masih mengepulkan uap hangat.
Arga menyendok sup itu dan mencicipinya. Rasanya sedikit aneh, ada rasa pahit dan getir khas tanaman obat, serta aroma yang kuat.
Namun ia tahu ini adalah ramuan istimewa buatan Ghaizka.
"Rasanya memang tidak seenak makanan biasa, tapi manfaatnya luar biasa," batin Arga.
Tanpa banyak bicara, Arga menghabiskan sup itu dengan cepat, lalu meneguk segelas air putih yang tersedia.
herbal itu membuat tubuhnya terasa jauh lebih segar dan bertenaga.
Gelsya yang duduk di samping menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Wah, Paman hebat sekali! Hanya makan sekali langsung habis tak bersisa! Seperti makan roti cepat saji saja," seru Gelsya kecil hati, terkesan melihat nafsu makan Arga.
Arga tersenyum lebar melihat kelucuan anak itu. "Karena masakan Mama Ghaizka sangat berkhasiat nak, jadi Paman harus habiskan supaya cepat sembuh."
Namun, suasana hangat itu baru saja berlangsung beberapa saat...
BRAKK!!
Pintu depan rumah ditendang atau didorong dengan sangat keras hingga terbuka lebar dengan kasar.
"GHAIZKA!! GHAIZKA KAU DI MANA?!!"
Terdengar suara teriakan seorang pria yang sangat keras, penuh dengan amarah. Suaranya sangat keras dan lantang.
Ghaizka yang sedari tadi berada di dapur membersihkan peralatan, segera melangkah keluar
Ghaizka mendengus kesal dengan wajah yang berubah sedingin es.
"Cih... Pria gila dan menyebalkan itu datang lagi," omel Ghaizka pelan dengan nada jijik dan marah.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...