NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Arsyi berdiri di depan cermin di kamarnya. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih gading. Wajahnya tampak tenang, namun kedua matanya menyimpan jejak kelelahan dan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tangannya menggenggam ujung bajunya mencoba menenangkan debaran jantung yang terasa tidak beraturan.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” ucap Arsyi lirih.

Pintu terbuka dan Bu Hana masuk dengan langkah ragu. Tatapannya jatuh pada putri bungsunya yang tampak begitu berbeda dari biasanya dan lebih dewasa, namun juga lebih rapuh.

“Mereka sudah berangkat dari Jakarta,” kata Bu Hana pelan.

Arsyi hanya mengangguk. “Baik, Bu.”

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Bu Hana tampak ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Akhirnya ia hanya menghela napas panjang.

“Kalau kamu masih ingin membatalkan semuanya, sekarang masih ada waktu,” ucapnya, karena memang sejak awal Bu Hana tak pernah setuju dengan pernikahan ini.

Arsyi menatap ibunya melalui pantulan cermin. “Aku sudah memikirkan semuanya, Bu. Keputusan ini tidak akan aku ubah.”

Bu Hana menunduk, lalu mengangguk pelan. “Ibu hanya tidak ingin kamu menyesal.”

“Aku mungkin akan menyesal,” jawab Arsyi jujur, “tapi aku lebih menyesal jika membiarkan Melodi tumbuh tanpa seseorang yang benar-benar menjaganya.”

Tak ada lagi yang bisa dibantah. Bu Hana hanya menepuk pelan bahu putrinya sebelum keluar dari kamar.

Beberapa waktu kemudian, suara mobil yang memasuki halaman terdengar jelas. Semua orang yang berada di dalam rumah spontan menoleh ke arah pintu. Suasana mendadak hening, seolah seluruh rumah menahan napas.

Tuan Hendra turun lebih dulu dari mobil, diikuti oleh Nyonya Ratih yang menggendong Melodi dengan hati-hati. Harsa keluar terakhir. Ia mengenakan setelan jas berwarna gelap yang membuatnya tampak semakin tegas dan berwibawa, meski sorot matanya tetap menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Bu Hana berdiri di ambang pintu menyambut kedatangan mereka. “Silakan masuk,” ucapnya dengan nada sopan namun kaku.

“Terima kasih, Bu Hana,” jawab Tuan Hendra sambil menyalami tuan rumah. Nyonya Ratih mengikuti dengan senyum lembut, meskipun suasana masih terasa canggung.

Harsa hanya mengangguk singkat sebagai bentuk penghormatan. Tatapannya sesekali menyapu ruangan, seolah mencari sosok yang belum ia temui.

Mereka dipersilakan duduk di ruang tamu. Hidangan sederhana telah tersaji di atas meja, namun tak seorang pun benar-benar berniat menyentuhnya. Ketegangan di antara kedua keluarga terasa begitu kental.

“Bagaimana perjalanan dari Jakarta?” tanya Bu Hana mencoba mencairkan suasana.

“Alhamdulillah, lancar,” jawab Tuan Hendra. “Kami datang dengan niat baik untuk melanjutkan apa yang telah dibicarakan sebelumnya.”

Nyonya Ratih kemudian membuka percakapan dengan nada lembut. “Kami sangat berterima kasih karena Arsyi bersedia menerima Melodi dan menjadi bagian dari keluarga kami.”

Bu Hana mengangguk pelan. “Keputusan ini tidak mudah bagi siapapun,” ujarnya jujur.

Tak lama kemudian, langkah kaki pelan terdengar dari arah kamar. Semua mata tertuju ke sana.

Arsyi muncul dengan langkah tenang. Penampilannya sederhana namun anggun. Ia menundukkan kepala dengan sopan sebelum menghampiri para tamu.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya lembut.

“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka serempak.

Tatapan Harsa dan Arsyi bertemu untuk pertama kalinya sejak percakapan terakhir mereka melalui telepon. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat, hanya kesadaran bahwa keduanya sedang melangkah menuju sebuah ikatan yang lahir dari keadaan, bukan dari cinta.

Nyonya Ratih berdiri dan menghampiri Arsyi. “Terima kasih, Nak,” ucapnya sambil menggenggam tangan Arsyi dengan lembut. “Kami tahu ini bukan keputusan yang mudah.”

Arsyi tersenyum tipis. “Saya melakukannya untuk Melodi, Tante.”

Mendengar namanya, Melodi yang berada dalam gendongan Nyonya Ratih terbangun dan mulai merengek pelan. Secara refleks, Arsyi mengulurkan tangannya. “Boleh saya gendong?”

“Tentu saja,” jawab Nyonya Ratih sambil menyerahkan bayi itu.

Saat Melodi berada dalam pelukan Arsyi, suasana ruangan terasa sedikit melunak. Bayi itu tampak tenang, seolah mengenali kehangatan yang sudah sering ia rasakan sebelumnya.

Tuan Hendra kemudian membuka sebuah kotak kecil yang dibawanya. Di dalamnya terdapat emas batangan yang telah disiapkan sebagai mahar.

“Sebagaimana yang telah disepakati,” ucapnya dengan nada formal, “Harsa akan memberikan mahar berupa seratus gram emas London.”

Semua mata tertuju pada kotak tersebut. Bu Hana terlihat terkejut, namun ia tetap menjaga sikapnya.

Harsa akhirnya angkat bicara. Dengan suara tegas namun terkendali, ia berkata, “Saya datang ke sini dengan niat baik untuk menikahi Arsyi dan bertanggung jawab atas Melodi.”

Arsyi menatapnya sekilas sebelum menunduk kembali. “Saya menerima niat tersebut,” jawabnya pelan.

Bu Hana menghela napas panjang. “Jika ini memang keputusan kalian, maka saya sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik. Tetapi, kenapa maharnya lebih besar dari mahar Nadin?” tanyanya, meskipun masih tersisa keraguan dalam suaranya.

"Itu adalah permintaan Arsyi sendiri, tidak masalah." Timpal Nyonya Ratih.

Suasana perlahan berubah dari ketegangan menjadi kesepakatan yang tak terucapkan. Kedua keluarga mulai membicarakan teknis pelaksanaan akad nikah yang rencananya akan dilangsungkan pada hari itu juga dengan kehadiran seorang penghulu yang telah dihubungi oleh Harsa.

Beberapa menit kemudian mereka dimintai untuk berkumpul di ruang keluarga.

Di sisi depan, penghulu telah duduk dengan tenang, ditemani dua orang saksi yang bersiap menjalankan tugas mereka. Berkas-berkas pernikahan tersusun rapi di atas meja kecil, menandakan bahwa segala persiapan administratif telah selesai.

Suasana hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar bisikan pelan dari beberapa anggota keluarga yang mencoba menenangkan kegelisahan masing-masing.

Harsa duduk bersila di hadapan penghulu dengan mengenakan setelan jas berwarna gelap dan peci hitam. Wajahnya tampak tegar, namun sorot matanya menyimpan beban yang begitu berat.

Di sampingnya, Tuan Hendra duduk dengan sikap tenang, sementara Nyonya Ratih menggenggam tasbih di tangannya, sesekali melirik ke arah Melodi yang berada dalam gendongannya.

Tak lama kemudian, Arsyi memasuki ruangan dengan langkah pelan. Ia mengenakan kebaya putih sederhana dengan riasan yang tidak berlebihan. Wajahnya terlihat tenang, meskipun kedua matanya menyiratkan pergulatan batin yang dalam. Bu Hana berjalan di sampingnya, menggenggam tangan putrinya dengan erat, seolah mencoba memberikan kekuatan terakhir sebelum semuanya benar-benar dimulai.

Setelah Arsyi duduk di tempat yang telah disediakan, penghulu membuka acara dengan membaca basmalah dan beberapa nasihat singkat mengenai makna pernikahan dalam Islam. Suaranya tenang dan penuh wibawa, namun ketegangan di dalam ruangan tetap terasa.

Sebelum prosesi ijab kabul dimulai, Bu Hana tiba-tiba mengangkat tangan, meminta izin untuk berbicara. Semua mata langsung tertuju kepadanya.

“Harsa,” panggilnya pelan, namun suaranya cukup jelas untuk didengar semua orang.

Harsa menoleh dengan sopan.

“Iya, Bu?”

Bu Hana menatapnya dalam-dalam, seolah mencari keyakinan di wajah pria itu.

“Apa kamu tidak ingin memikirkan ini sekali lagi?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kalau … kalau Nadin melihat semua ini…” Ucapannya terhenti di tengah kalimat. Air matanya mulai menggenang, membuat suasana semakin emosional.

Ruangan seketika menjadi sunyi. Semua orang menahan napas, menunggu jawaban dari Harsa.

Harsa menundukkan kepala sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya tenang, namun sarat dengan kesedihan.

“Ini adalah permintaan Nadin,” jawabnya pelan namun tegas.

“Jika ditanya apakah saya setuju atau tidak … maka jawaban saya adalah tidak.”

Kalimat itu menggantung di udara, terasa begitu jujur dan menyakitkan sekaligus. Arsyi yang duduk tidak jauh darinya menunduk lebih dalam, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuannya.

Bu Hana menghela napas panjang. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia mengangguk pelan, seolah menerima kenyataan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan.

“Saya juga tidak setuju,” ucapnya lirih. “Tetapi … saya terpaksa setuju.”

Pernyataan itu membuat suasana ruangan semakin tegang. Tidak ada senyum kebahagiaan seperti dalam pernikahan pada umumnya. Yang ada hanyalah keheningan yang dipenuhi rasa kehilangan, pengorbanan, dan ketidakpastian.

Penghulu menatap kedua belah pihak dengan penuh pengertian sebelum akhirnya membuka kembali prosesi akad.

“Baiklah, jika semua pihak telah menyatakan kesediaannya, mari kita lanjutkan prosesi akad nikah ini,” ujarnya dengan suara tenang.

Tuan Hendra menepuk pelan bahu Harsa, memberikan dukungan tanpa kata.

Sementara itu, Nyonya Ratih menggenggam tangan Bu Hana, mencoba menyalurkan kekuatan di tengah suasana yang sarat emosi.

Harsa merapikan duduknya, menatap penghulu dengan penuh kesadaran bahwa dalam beberapa saat lagi hidupnya akan berubah selamanya. Di sisi lain, Arsyi memejamkan mata sejenak, mengumpulkan keberanian untuk melangkah ke fase baru dalam hidupnya, fase yang tidak pernah ia rencanakan, namun harus ia jalani.

Ruangan itu tetap hening, seolah semua orang menunggu detik-detik yang akan mengikat dua hati yang sama-sama terluka dalam sebuah janji suci.

1
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
Dewi
si Rina keliatannya aja baik tpi dibelakang ada niat jahat
Aditya hp/ bunda Lia
Kan sudah jelas ini ulah si Rina dan dia mau ngejebak si idiot Harsa dasar CEO oon ntar kamu di kasih minum obat setan ....
Valen Angelina
smua kerjaan Rina ini mah.... liat pak harsa gmn cara atasinya....
axm
jangan jadi orang bodoh harsa,harus harsa jeli gerak gerik rina 🤭
Maryati ramlin
dobel up
Naufal Affiq
kalau kau percaya dengan omongan rina,berarti kau harsa orangbudik
Valen Angelina
pasti arsy yg disalahkan wkwkkw....
Eva Karmita
ini sudah pasti ulahnya si rina sekertaris gatal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!