Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: WANITA TUA BERPARAS CANTIK
Kabut di Lembah Mayat menggulung perlahan seperti makhluk hidup yang bernapas, dingin dan lembap. Setiap langkah Rangga Nata terasa berat, seolah gravitasi di tempat ini berkali lipat lebih kuat. Bukan hanya karena kelelahan fisik setelah bertarung melawan Harimau Putih, melainkan karena aura tempat ini yang menekan batin—sebuah frekuensi kematian yang konstan merayap masuk ke celah-celah pori-pori kulit.
Tanah hitam di bawah kakinya terasa kenyal dan lembek, menyimpan rahasia ribuan raga yang telah kembali menjadi debu. Tulang-belulang berserakan di sana-sini; ada yang tertutup lumut hijau pekat, ada yang masih tampak utuh dengan sisa-sisa pakaian yang melapuk, seolah maut baru saja meninggalkannya beberapa saat lalu.
Namun Rangga tidak berhenti. Pikirannya terkunci pada satu nama: Ayu Wulandari.
“Jika ingin menyelamatkannya… masuklah…”
Suara tua itu masih terngiang, bergema di sela-sela pepohonan mati. Suara yang tenang namun mengandung tekanan batin yang luar biasa padat, tanda bahwa pemiliknya memiliki tingkat kesaktian yang sudah melampaui logika pendekar biasa.
Rangga menarik napas dalam, membiarkan hawa murni dari Pedang Naga Emas menetralisir racun mayat yang mencoba menyusup ke paru-parunya. Ia melangkah lebih jauh, menembus dinding kabut yang kian memekat.
Tak lama kemudian, sebuah pemandangan ganjil muncul. Sebuah pondok tua berdiri di jantung lembah. Dindingnya terbuat dari kayu ulin yang menghitam dimakan zaman, dengan atap miring yang ditumbuhi akar liar menyerupai rambut raksasa yang menjuntai.
Namun ada yang aneh. Di sekitar pondok itu, radius sepuluh tombak, tanahnya bersih sempurna. Tidak ada tulang, tidak ada bangkai, bahkan uap busuk pun seolah segan untuk melintasi garis batas tersebut. Seolah-olah kematian sendiri menaruh hormat pada penghuninya.
Rangga berhenti, matanya menyipit tajam. Ia merasakan sebuah penghalang tak kasat mata—sebuah Aji Tameng Jiwa yang sangat kuat.
KREK…
Pintu kayu itu terbuka perlahan tanpa ada tangan yang menyentuh. Dari dalam, menguar aroma yang kontradiktif: wangi bunga melati yang segar bercampur dengan bau obat-obatan herbal yang tajam dan menyengat.
“Masuklah, anak muda…” suara itu terdengar lagi, kini lebih jernih dan berwibawa. “Rupanya si Pertapa Gila Tanpa Tanding benar-benar menurunkan ilmunya pada pemuda ingusan seperti kau. Aku sudah menunggumu sejak lama.”
Rangga mengepalkan tangan. Nama gurunya jarang disebut secara terang-terangan di dunia persilatan, apalagi dengan nada akrab sekaligus meremehkan seperti itu. Tanpa ragu, ia melangkah masuk ke dalam kegelapan pondok.
Interior pondok itu ternyata jauh lebih luas dan megah daripada tampak luarnya, sebuah manipulasi ruang yang hanya bisa dilakukan oleh ahli sihir tingkat tinggi. Rak-rak kayu tinggi berjajar, dipenuhi botol porselen, toples berisi organ hewan mistis, dan akar-akar kering yang masih berdenyut.
Di tengah ruangan, di atas ranjang bambu kuning, Ayu Wulandari terbaring. Tubuhnya kaku, wajahnya sepucat rembulan, dengan napas yang begitu tipis hingga nyaris tak menggerakkan dadanya.
Namun, perhatian Rangga teralih pada sosok yang berdiri di samping ranjang.
Rangga terpaku. Jantungnya berdegup kencang karena keterkejutan yang murni.
Di hadapannya berdiri seorang wanita. Cantik. Sangat cantik hingga kata-kata seolah kehilangan maknanya. Wajahnya halus tanpa garis keriput sedikit pun, kulitnya putih bersih seolah memancarkan cahaya sendiri. Matanya jernih seperti telaga di puncak gunung, namun rambut hitamnya yang tergerai hingga pinggang memberikan kesan misterius yang pekat.
Secara fisik, ia tampak tak lebih dari dua puluh lima tahun. Namun, tatapannya… tatapan itu adalah tatapan seseorang yang telah menyaksikan pergantian zaman, kehancuran kerajaan, dan ribuan kematian.
“Sudah lama aku tidak melihat murid si gila itu,” wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak anggun sekaligus mematikan. “Dan ternyata… kau sedikit lebih menarik dari yang kubayangkan.”
Rangga segera memulihkan kesadarannya. Tangannya refleks menggenggam hulu pedang, hawa waspada terpancar dari tubuhnya. “Siapa kau? Di mana Nini Ruai?”
Wanita itu terkekeh pelan. Suara tawanya merdu seperti denting kecapi, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Rangga meremang.
“Anak muda… di tempat yang dikutuk ini, kau masih bertanya siapa aku?” Ia melangkah mendekat. Gerakannya sangat anggun, namun kakinya seolah tidak menyentuh lantai. Tak ada suara langkah kaki. “Orang-orang memanggilku… Nini Ruai.”
Rangga membeku. Nini Ruai? Legenda mengatakan Nini Ruai adalah wanita tua renta yang sudah hidup sejak tiga generasi lalu. Wanita di hadapannya ini terlalu muda, terlalu sempurna.
Nini Ruai seolah bisa membaca pikiran Rangga. Ia tersenyum tipis, lalu dengan satu hentakan napas, auranya berubah. Kecantikannya tidak hilang, namun seolah-olah tertutup oleh bayangan ribuan tahun. Untuk sekejap, Rangga melihat bayangan wanita tua renta dengan kulit keriput seperti kayu lapuk terpantul di matanya, lalu kembali menjadi sosok cantik itu lagi.
“Ilmu awet muda?” tanya Rangga dengan suara tertahan.
“Bukan sekadar ilmu,” potong Nini Ruai dingin. “Ini adalah kutukan. Harga dari kehidupan yang terlalu panjang dan perjanjian dengan lembah ini.”
Rangga menurunkan kewaspadaannya sedikit, fokusnya kembali ke Ayu. “Dia… masih bisa diselamatkan?”
Nini Ruai berbalik, tangannya yang halus menyentuh dada Ayu. Ia memejamkan mata sesaat, seolah sedang berkomunikasi dengan sisa roh yang ada di tubuh gadis itu. “Setengah langkah lagi menuju kematian. Rohnya sudah berada di jembatan penyeberangan.”
Kalimat itu menghantam jantung Rangga. Ia menundukkan kepala, suaranya melunak namun penuh penekanan. “Selamatkan dia. Aku mohon.”
Nini Ruai melirik dengan sudut mata yang tajam. “Seorang murid Naga Emas… merendahkan diri meminta bantuan pada dukun mayat?”
“Ini bukan perintah. Ini permintaan,” jawab Rangga tegas.
Nini Ruai tersenyum puas. “Akhirnya… harga diri si gila itu luntur di tangan muridnya.” Ia berjalan menuju rak, mengambil beberapa botol berisi cairan berwarna perak dan akar hitam yang melilit. “Luka gadis ini adalah hasil dari jurus Macan Peremuk Gunung. Organ dalamnya hancur, jalur energinya tersumbat racun hitam. Jika ia orang biasa, ia sudah membusuk di hutan tadi.”
Rangga menggertakkan gigi. “Ia bertahan karena aku menahan aliran darahnya dengan tenaga dalamku.”
“Benar. Kau menahan kematiannya, tapi kau tidak bisa mengusirnya,” timpal Nini Ruai. “Untuk menyelamatkannya, kita harus melawan racun dengan racun. Kau membawa Empedu Macan Putih?”
Rangga mengangguk dan mengeluarkan botol porselen hijau yang ia rebut dari Nini Suro.
“Bagus. Kau tidak datang dengan tangan kosong,” Nini Ruai mengambil botol itu, namun senyumnya mendadak berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. “Namun, empedu ini hanya bahan dasar. Untuk menyatukannya dengan tubuh yang sudah hancur, aku butuh sesuatu yang lebih besar.”
Ia melangkah mendekat hingga aromanya yang memabukkan memenuhi indera penciuman Rangga.
“Kau harus membantuku, Rangga Nata.”
“Apa pun. Katakan saja.”
Nini Ruai menatap mata Rangga sedalam-dalamnya. “Salurkan setengah tenaga dalam murnimu ke dalam tubuhnya saat aku melakukan ritual. Kau akan kehilangan separuh kekuatanmu secara permanen, dan kau akan menjadi sangat lemah selama beberapa hari ke depan.”
Rangga terdiam. Permintaan itu adalah vonis mati di dunia persilatan. Tanpa setengah tenaga dalamnya, ia bukan lagi Naga Emas yang ditakuti. Ia akan menjadi sasaran empuk bagi ribuan musuh yang mendendam padanya. Apalagi, Macan Hitam pasti sedang menyisir hutan ini.
“Aku tidak punya banyak waktu…” bisik Rangga, menatap Ayu yang semakin pucat.
“Kalau kau ragu, biarkan saja dia mati. Lembah ini akan dengan senang hati menerima penghuni baru secantik dia,” ucap Nini Ruai enteng, seolah nyawa Ayu tak lebih berharga dari daun kering.
Rangga menutup matanya. Ia teringat tawa Ayu, keberaniannya saat melawan pengawal istana, dan janjinya untuk selalu bersama. Ia membuka matanya kembali dengan sinar yang tak tergoyahkan.
“Ambil separuh nyawaku. Selamatkan dia.”
Nini Ruai tersenyum lebar, kali ini senyumnya tulus memuji keberanian Rangga. “Menarik. Ternyata cinta lebih gila daripada gurumu.”
Ia mengangkat tangannya, memulai mantra kuno yang membuat seluruh pondok bergetar. “Bersiaplah!”
Di luar pondok, angin mendadak mengamuk hebat. Kabut bergolak seolah ada naga hitam yang sedang mengamuk di dalamnya. Dan dari kejauhan, sebuah raungan yang sangat dikenali Rangga kembali memecah kesunyian malam.
“ROAAAARRRR!!!”
Macan Hitam telah sampai di gerbang Lembah Mayat. Waktu bagi Rangga dan Ayu benar-benar telah habis.
Bersambung…