NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

“Bukan… Mama Mila, kan?” lanjut Sea pelan, suaranya semakin lirih.

Sekar memejamkan mata. Pertanyaan itu… lebih menyakitkan dari apa pun. “Ibu kamu cuma satu,” jawabnya akhirnya, lembut tapi tegas. “Dan itu Ibu.”

Sea diam sebentar. Tubuhnya sedikit lebih rileks di dalam pelukan Sekar, seolah jawaban itu adalah sesuatu yang selama ini ia butuhkan untuk merasa aman. Namun belum selesai. Dengan suara yang hampir tidak terdengar, Sea kembali bicara. “Sebenarnya… Sea nggak suka manggil Mbak Mila Mama…”

Sekar menegang.

“Tapi… Sea takut…”

Sekar menunduk sedikit, mencoba melihat wajah anaknya. “Takut kenapa?” tanyanya pelan.

Sea menelan ludah kecil. Matanya tidak berani menatap Sekar. “Takut mulut Sea dicabe…” Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa emosi berlebihan. Tanpa tangisan.

Justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih menyakitkan. Sekar membeku. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang sangat keras hingga ia kesulitan bernapas. Tangannya yang memeluk Sea refleks menguat, seolah ingin melindungi anak itu dari semua hal yang tidak sempat ia cegah selama ini. Air matanya jatuh lagi. Kali ini tanpa bisa ditahan sama sekali. “Maaf…” bisiknya lirih, suaranya pecah. “Maaf ya, Sayang… Ibu nggak ada waktu itu…” Ia mencium kepala Sea berulang kali, seperti ingin menghapus semua luka yang pernah ada, meski ia tahu itu tidak semudah itu. Sekar menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali berbicara. Ia tidak boleh terlihat hancur di depan Sea. Ia harus jadi tempat yang kuat. “Ibu janji…” ucapnya pelan, penuh tekad meski suaranya masih bergetar, “Ibu akan usaha… supaya kita bisa tinggal bareng. Ibu nggak mau kamu ngerasain itu lagi.”

Sea tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, mendengarkan, tubuh kecilnya tetap dalam pelukan Sekar. Lalu pelan-pelan, Sea mengangkat wajahnya. “Ibu…”

“Iya, Sayang?”

“Jangan benci Ayah, ya…”

Sekar terdiam. Kalimat itu datang begitu saja, tanpa peringatan.

“Sea masih sayang Ayah…” lanjutnya polos, jujur, tanpa beban.

Dan di situlah hati Sekar kembali diuji. Ia menutup matanya sejenak, menahan semua luka lama yang tiba-tiba muncul kembali pengkhianatan, penghinaan, semua yang pernah ia rasakan dari Aji. Tapi di depannya sekarang… bukan masa lalunya. Melainkan anaknya. Perlahan, Sekar membuka mata, lalu tersenyum kecil meski matanya masih basah. Ia mengusap pipi Sea dengan lembut. “Iya…” jawabnya pelan. “Sea boleh sayang Ayah.” Ia menarik Sea kembali ke dalam pelukan. “Dan Ibu… nggak akan larang itu.”

Suaranya tenang. Lebih tenang dari yang ia rasakan sebenarnya. Karena malam itu, Sekar sadar perjuangannya bukan hanya tentang mendapatkan Sea kembali. Tapi juga tentang menjaga hati kecil itu agar tidak ikut hancur oleh luka orang dewasa.

***

Pagi itu terasa jauh lebih berat dibandingkan pagi-pagi sebelumnya. Matahari tetap terbit seperti biasa, cahayanya masuk perlahan melalui jendela rumah baru Sekar, menyinari ruangan yang kini terasa hangat, terlalu hangat untuk sebuah perpisahan yang harus kembali terjadi. Sekar sudah bersiap sejak subuh. Ia melipat pakaian-pakaian kecil milik Sea dengan rapi, memasukkannya ke dalam tas satu per satu dengan hati-hati, seolah setiap lipatan adalah bentuk kasih sayang yang ingin ia titipkan. Tidak hanya pakaian—ia juga menyiapkan makanan, camilan, bahkan beberapa mainan yang kemarin dibeli.

Sebenarnya, jauh di dalam hati, Sekar ingin memberikan lebih. Lebih banyak lagi. Bahkan kalau bisa, ia ingin menyerahkan seluruh dunianya untuk Sea. Semua yang ia punya, semua yang ia mampu. Tapi Sekar tahu… ia belum bisa. Belum sekarang. Ada batas yang masih harus ia hormati, ada proses yang masih harus ia jalani. Maka ia menahan diri. Menyimpan keinginan itu dalam diam, sambil terus mengingatkan dirinya sendiri, bersabar. Sedikit lagi. Ia hanya perlu bertahan sedikit lagi sampai hak asuh itu benar-benar jatuh ke tangannya.

Perjalanan menuju rumah mantan mertuanya terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada ketegangan seperti saat ia datang pertama kali. Kali ini, ada Sea di sampingnya, duduk lebih dekat, lebih nyaman, meski masih dengan sikap yang belum sepenuhnya lepas. Mereka berbincang pelan sepanjang jalan. Awalnya ringan, tentang hal-hal kecil, tapi perlahan mulai mengalir lebih hangat.

“Ibu…” suara Sea terdengar hati-hati.

“Iya, Sayang?”

“Sea… pengen punya sepeda.”

Sekar menoleh, sedikit terkejut. Bukan karena permintaannya, tapi karena ini pertama kalinya Sea mengutarakan keinginannya secara langsung. “Sepeda?” ulang Sekar pelan, mencoba tersenyum. “Warna apa?”

Sea terlihat berpikir sebentar, lalu matanya sedikit berbinar. “Pink…”

Sekar mengangguk pelan, menahan sesuatu yang kembali menghangat di dadanya. “Iya,” jawabnya lembut. “Nanti Ibu beliin, ya. Ibu anterin sendiri ke rumah.”

Sea tidak langsung bereaksi berlebihan, tapi ada perubahan kecil di wajahnya. Dan bagi Sekar, itu sudah cukup untuk membuat perjalanan pagi itu terasa sedikit lebih ringan. Namun perasaan itu perlahan kembali berat ketika mobil mulai mendekati rumah yang tidak pernah benar-benar bisa ia anggap asing. Rumah yang dulu pernah ia tempati, tapi kini terasa seperti tempat yang harus ia hadapi, bukan ia miliki.

Pintu dibuka oleh mantan ibu mertuanya. Perempuan itu tampak sedikit terkejut melihat mereka datang sepagi itu, tapi segera mempersilakan masuk. “Ih, sudah datang,” katanya, mencoba terdengar biasa.

Sekar mengangguk sopan. Sea langsung masuk lebih dulu, sementara Sekar membawa beberapa tas dari mobil. Mereka sempat duduk di ruang tamu. Tidak ada Aji, tidak juga Mila.

“Aji sama Mila lagi ke dokter kandungan,” jelas ibu itu.

Sekar hanya mengangguk kecil. Ada jeda yang cukup lama setelah itu, sebelum akhirnya perempuan itu kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang berbeda lebih pelan, lebih berat. “Ibu… sebenarnya menyesal, Kar.”

Sekar menoleh.

“Perceraian kamu sama Aji…” lanjutnya. “Ibu nggak pernah nyangka akan sejauh ini.”

Sekar diam. Ia bisa merasakan arah pembicaraan itu, bisa menangkap harapan yang tidak diucapkan secara langsung. Harapan bahwa mungkin semuanya bisa kembali seperti dulu.

Tapi Sekar memilih tidak masuk ke sana. Ia hanya tersenyum tipis. “Semua sudah terjadi, Bu.” Jawaban itu cukup untuk membuat arah pembicaraan itu berhenti. Namun yang datang setelahnya… jauh lebih berat.

Perempuan itu menarik napas panjang, lalu berkata pelan, seolah akhirnya tidak sanggup lagi menyimpan semuanya sendiri. “Aji itu… main judi.”

Sekar membeku.

“Ia juga terlibat pinjol,” lanjutnya. “Makanya semua harta habis.”

Sunyi.

“Ibu kecewa sekali…” suaranya melemah.

Sekar menunduk sedikit. Hatinya terasa perih, tapi bukan karena luka lama yang kembali terbuka. Lebih karena… kenyataan yang semakin memperjelas kondisi tempat Sea dibesarkan selama ini. Ia ingin marah. Ingin menyalahkan. Tapi semua itu tidak akan mengubah apa pun. Dan yang paling penting itu bukan lagi urusannya.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!