Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 10 - Kamu Mau?
Aluna tidak mampu menjawab dan diamnya Aluna membuat Davion benar-benar menepati ucapannya. Dengan gerakan cepat jari-jari Davion melingkar di leher Aluna.
"Akh!" nafas Aluna tercekat.
Cengkraman itu tidak langsung sepenuhnya kuat, Davion masih menahan diri menunggu reaksi.
Menunggu perlawanan Aluna.
Menunggu Aluna menjadi manusia biasa.
Namun yang Davion dapatkan justru sebaliknya. Tubuh Aluna menegang seketika. Napasnya tertahan dan dadanya naik turun dengan cepat, namun ia tidak berontak.
Tidak menepis tangan Davion, tidak berusaha melepaskan diri.
Hanya berdiri diam di tempatnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan sesak yang perlahan menyiksa.
Wajahnya perlahan memerah.
Bibirnya sedikit terbuka, mencoba menarik udara yang semakin sulit ia dapatkan.
Namun tetap tidak ada perlawanan.
Davion mengeraskan cengkramannya sedikit demi sedikit. Rahangnya mengatup kuat dan matanya menatap tajam ke dalam bola mata Aluna, ingin membongkar sesuatu yang tersembunyi di sana.
“Ayo…” bisiknya pelan, nyaris seperti desakan. “Lawan aku.”
Namun Aluna tetap diam tanpa amarah sedikitpun. Yang ada hanyah penerimaan. Sebuah penerimaan yang justru membuat dada Davion terasa semakin panas.
Tangannya yang mencengkram leher Aluna mulai bergetar karena emosi yang tidak ia mengerti.
Davion tak tahu bahwa Aluna tidak melawan bukan karena kuat.
Melainkan karena ia merasa tidak berhak.
Detik berikutnya Davion mendorong tubuh Aluna menjauh dan melepaskan cengkramannya dengan kasar.
Aluna terhuyung tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Tangannya refleks memegang meja rias di belakangnya untuk bertahan. Begitu tekanan di lehernya hilang, ia langsung terbatuk-batuk hebat dan napasnya tersengal, seolah baru saja ditarik kembali dari batas yang hampir merenggutnya.
Namun bahkan dalam keadaan seperti itu ia tetap tidak mengangkat wajahnya untuk melawan.
Davion menatapnya melihat leher Aluna yang kini memerah, bekas cengkraman tangannya terlihat jelas di sana. Kulit putih itu ternodai warna merah yang kontras, menjadi bukti nyata dari apa yang baru saja ia lakukan.
“Kenapa?” tanya Davion, suaranya keluar lebih pelan dari yang ia duga. “Kenapa kamu tidak melawan?”
Aluna masih terbatuk pelan, tangannya kini berpindah ke lehernya, menyentuh bagian yang terasa sakit. Napasnya belum sepenuhnya stabil, namun ia berusaha berdiri tegak kembali.
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab.
“Karena…” Aluna berhenti sejenak, menelan sisa sesaknya. “Aku tidak punya alasan untuk melawan.”
Aluna akhirnya mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sedikit basah, namun tidak ada air mata yang jatuh. Ia menatap Davion bukan dengan kebencian melainkan dengan keikhlasan.
“Sejak awal…” lanjut Aluna pelan, “aku sudah tahu posisiku di sini.”
Tangannya perlahan turun dari lehernya.
“Kalau memang aku ada di sini karena sebuah kesepakatan, maka apapun yang terjadi setelahnya adalah bagian dari itu.”
Davion membeku.
Kata-kata itu tidak terdengar seperti pembelaan. Tidak juga seperti keluhan, melainkan seperti pengakuan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini terjadi, Davion benar-benar kehilangan kata-kata.
Ia ingin marah.
Ingin menyangkal.
Namun entah kenapa semua itu terasa sia-sia di hadapan wanita yang bahkan tidak mencoba melindungi dirinya sendiri.
Aluna menundukkan pandangannya kembali.
“Maaf,” ucapnya pelan, entah untuk kesalahan yang mana. “Jika sikapku membuatmu semakin kesal, tapi... Aku akan tetap disampingmu dan menjalani pernikahan ini."
Dan kalimat itu menjadi hal paling menyakitkan yang pernah Davion dengar.
Hari-hari setelah kejadian itu Aluna tetap menjadi Aluna yang sama.
Ia bangun pagi dan langsung melayani Davion meski tak pernah dihargai. Aluna selalu tampil anggun mengenakan pakaian brand ternama, lalu menjalani hari-harinya dengan sikap yang nyaris tanpa cela.
Dan yang paling mencolok adalah tidak pernah ada sedikit perubahan. Seolah-olah kejadian siang itu, saat lehernya dicekik oleh suaminya sendiri tidak pernah benar-benar terjadi.
Di sisi lain Davion justru semakin menjauh. Sikapnya menjadi lebih dingin dari sebelumnya, jarak yang benar-benar ia bangun dengan sengaja.
Davion jarang berada di kamar. Bahkan untuk sekadar bertatap muka dengan Aluna pun, ia seperti tidak memiliki keinginan.
Namun, anehnya Davion tetap memperhatikan. Setiap malam ketika rumah mulai tenggelam dalam kesunyian, Davion akan berada di ruang kerjanya. Menatap layar monitor menampilkan satu pemandangan yang sama berulang-ulang.
Aluna.
Melalui kamera CCTV yang terpasang di sudut kamar, Davion melihat dengan jelas bagaimana istrinya menjalani malam demi malam.
Aluna tidak pernah menyentuh ranjang besar yang seharusnya menjadi miliknya. Ia terus memilih tidur di sofa sudut ruangan. Tubuhnya meringkuk, terkadang hanya berbalut selimut tipis, terkadang bahkan tanpa itu.
Aluna benar-benar menjalani semuanya seperti seseorang yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Dan dalam satu bulan ini satu hal yang perlahan berubah adalah hubungan Aluna dengan Mommy Ivana.
Jika di awal Aluna hanya bersikap hormat, kini ada kedekatan yang tumbuh secara alami bahkan tanpa Aluna sadari.
“Mom,” panggil Aluna, kini mereka duduk berdua di ruang keluarga, menikmati teh hangat seraya menunggu Daddy Aston dan Davion pulang kerja.
Ivana menoleh, matanya langsung penuh perhatian. “Iya, Sayang?”
“Apa yang Mom inginkan dariku?” tanya Aluna tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Ivana sedikit terdiam.
Aluna melanjutkan, kali ini dengan suara yang lebih antusias dari sebelumnya. “Aku bisa melakukan apapun. Kalau ada yang kurang dari diriku, aku akan memperbaikinya. Kalau Mom ingin aku jadi lebih baik lagi, aku akan berusaha," jelas Aluna, dia bicara begini sebagai bentuk rasa terima kasihnya yang tak terkira.
“Aku akan melakukan apapun supaya Mommy senang," ucap Aluna lagi.
Mom Ivana tidak langsung menjawab. Dia lebih menatap Aluna cukup lama, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang baru saja ia dengar.
Perlahan Mom Ivana mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Aluna dengan lembut.
“Mommy tidak ingin apa-apa, Sayang,” ucap Ivana pelan.
Aluna terdiam, matanya sedikit membesar, seolah tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini mom Ivana sangat baik padanya. Seharusnya mom Ivana memintanya untuk melakukan sesuatu.
Namun kini Ivana hanya tersenyum penuh kasih. “Mommy hanya ingin kamu bahagia.”
“Bahagia?” ulang Aluna, hampir seperti berbisik saking terkejutnya mendengar jawaban tersebut.
“Iya, mommy tidak ingin kamu melakukan apa-apa. Mommy hanya ingin kamu bahagia."
Aluna terdiam.
"Sekarang mommy tanya, hal apa yang membuatmu paling bahagia? Mom akan melakukannya."
Aluna makin tergugu mendengar kalimat demi kalimat tersebut. Seharusnya tidak begini, seharunya bukan kata-kata ini yang ia dengar.
"Sayang, kenapa malah diam?" tanya mom Ivana, kini jadi dia yang antusias.
"Baiklah, baiklah, kalau kamu memaksa ingin mommy membuat keinginan maka dengarkanlah," kata mom Ivana lagi. "Mommy perhatikan bajumu berwarna putih semua, hanya beda model. Mommy ingin mulai sekarang kamu memakai semua warna. Bahkan warna merah seperti bunga mawar. Kamu mau?"
gua yg merasa sama-sama perempuan keknya diperlakukan seperti ini hina bgt, atuhlah tor.. tega bgt buat karakter Luna ky gini ga ada jiwa struggle nya utk memberontak kek.. gua gigit jugaa bi sendal 😭😭🥶🥶🤫🤫
huh.. abidin katro tgl bilang aj aku ketagihan aroma mu syg.. 🤭🤭