Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi Dua Hati yang Terampas
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap. Namun di dalam ruang rawat inap VIP Rumah Sakit Darmawan. Kegelapan seolah merayap keluar dari sudut-sudut dinding marmer yang dingin.
Rizki Pratama masih berdiri di depan jendela besar. Menatap cakrawala kota yang berkelap-kelip. Namun, pemandangan gedung-gedung pencakar langit itu tampak buram di matanya.
Sesuatu yang aneh sedang terjadi di dalam dadanya. Tanpa ada peringatan, tanpa ada pikiran buruk yang mendahului, air mata Rizki menetes.
Satu tetes, lalu diikuti tetesan lainnya, membasahi pipinya yang kuyu. Ia tidak sedang memikirkan kondisi ayahnya yang baru saja melewati masa kritis. Ia juga tidak sedang memikirkan tekanan dari dewan direksi. Ia juga tidak sedang merasakan pelukan Nana yang malah tertidur sambil memeluknya.
Hatinya mendadak terasa pilu. Seolah-olah ada seutas benang halus di dalam sukmanya yang baru saja ditarik paksa hingga putus. Rasa sesak itu begitu menyesakkan paru-paru.
Sebuah kesedihan purba yang tidak bisa dijelaskan oleh logika medis atau hukum fisika. Rizki meremas dadanya sendiri. Mencoba menghirup oksigen yang terasa menipis.
"Kenapa... kenapa rasanya sesakit ini?" bisik Rizki pada sunyi.
Ia teringat pesan terakhir yang ia kirimkan kepada Yudha beberapa menit lalu. Sebuah pesan kepasrahan yang ia ketik dengan tangan gemetar dengan hati terguncang hebat.
“Yudha, kembalilah. Tarik semua orang. Jangan buat keributan di desa ibundaku. Mungkin... mungkin ini memang bukan jodoh.”
Kata bukan jodoh itu terasa seperti belati yang ia tancapkan sendiri ke jantungnya. Rizki merasa seolah ia baru saja menyerahkan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang seharusnya ia perjuangkan dengan seluruh harta dan kekuasaannya kepada kegelapan.
Di Ujung Desa: Kekalahan Sang Penjaga
Di pinggiran Desa Sukamulya, Yudha menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar. Di depannya, puluhan warga desa masih berdiri dengan obor yang menyala-nyala.
Menatapnya dengan penuh kecurigaan dan amarah yang salah sasaran. Yudha menghela napas panjang, sebuah napas kekalahan yang jarang ia rasakan selama bekerja untuk keluarga Darmawan dan kekalahan itu harus ia patuhi jua.
"Semuanya, balik kanan. Kita pulang ke Jakarta," perintah Yudha melalui handsfree. Kepada anak buahnya yang berada di mobil belakang.
Yudha menatap ke arah kejauhan, ke arah rumah Pak Tarno yang lampu-lampunya tampak berpijar terang. Ia tahu, di sana, kata Sah, baru saja dikumandangkan. Ia tahu, seorang gadis malang baru saja menyerahkan hidupnya pada seorang pria yang identitasnya pun masih menjadi misteri bagi tim investigasi mereka.
"Maafkan kami, Nona," gumam Yudha sebelum memutar setir mobilnya. Meninggalkan debu jalanan desa yang kini terasa lebih dingin dari biasanya.
Perjalanan Menuju Penjara Beroda
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru menderu pelan meninggalkan halaman rumah Pak Tarno. Di kursi kemudi, Bagaskara tersenyum lebar, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama lagu di radio. Ia merasa seperti raja yang baru saja memenangkan peperangan besar.
"Lihat ini, Laras," ucap Bagas sembari melirik ke samping, ke arah istrinya yang baru sah sepuluh menit lalu.
"Ini mobilku. Mewah, bukan? Di Jakarta, kita tidak akan lagi kepanasan atau kehujanan. Aku akan membawamu ke apartemen kita yang megah. Kau akan hidup seperti permaisuri."
Larasati tidak menjawab. Ia duduk menyamping, menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin. Tubuhnya masih mengenakan kebaya putih akad nikah. Namun jiwanya terasa seperti sudah mati. Ia menatap bayangan pohon-pohon pisang yang melesat di kegelapan malam.
Di dalam hati Laras, ada kehancuran yang tak terperikan. Ia merasa seolah dunianya baru saja runtuh dan terkubur di bawah fondasi rumah ayahnya sendiri.
Anehnya, rasa hancur itu bukan hanya karena ia harus meninggalkan orang tuanya. melainkan karena sebuah perasaan kehilangan yang asing dan ia masih belum mengerti akan itu.
Laras merasa ada seseorang, di suatu tempat yang jauh. Sedang memanggil namanya dengan penuh luka. Ia merasa ada sebuah hati yang sedang menangis bersamanya.
Setiap tetes air mata yang jatuh ke pangkuannya. Seolah-olah memiliki resonansi dengan air mata yang sedang menetes di sebuah rumah sakit di Jakarta dan itu kini begitu jauh dari sisinya.
Siapa kamu? Kenapa aku merasa sangat merindukanmu padahal aku tidak mengenalmu? batin Laras merintih.
Ia memejamkan mata, dan sekilas bayangan pemuda di sungai. Pemuda yang tidak membawa mobil mewah, pemuda yang tidak membawa orang tua palsu—kembali muncul.
Bayangan itu terasa lebih nyata daripada sosok Bagas yang duduk di sampingnya. Laras merasakan sesak yang sama dengan yang dirasakan Rizki. Sebuah penghalang besar berupa janji suci yang salah kini berdiri kokoh di antara mereka.
Kata bukan jodoh dan sudah sah. Menjadi tembok raksasa yang memisahkan dua jiwa yang sebenarnya diciptakan untuk saling melengkapi. Seolah-olah entah takdir atau ujian sedang bermain-main, mempermainkan nasib keduanya.
Jakarta: Janji di Balik Jendela
Rizki kembali menatap langit. Awan hitam berarak menutupi bulan. Seolah alam semesta pun sedang berduka. Nana, yang kini terlelap di sofa. Karena beberapa saat lalu Rizki sempat memindahkannya. Bergerak sedikit dalam tidurnya, namun Rizki tidak memedulikannya.
"Jika memang dia adalah titipan Ibu... kenapa jalan untuk menolongnya begitu tertutup?" Rizki bertanya pada bayangannya di kaca.
Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan pernikahan itu. Firasatnya sebagai seorang pemimpin bisnis yang tajam mengatakan bahwa Larasati sedang dibawa menuju bahaya.
Namun, hukum dan norma adat telah mengikat tangannya. Laras sudah menjadi istri sah orang lain. Secara hukum, ia tidak punya hak lagi untuk mencampuri hidup gadis itu.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rizki bersumpah.
"Jika suatu saat kau muncul di hadapanku lagi dalam keadaan terluka... aku tidak akan peduli pada kata bukan jodoh. Aku akan meruntuhkan dunia untuk membawamu kembali," ucap Rizki dengan nada rendah yang penuh otoritas.
Malam itu, dua hati yang terpisah ratusan kilometer sedang menangis dalam frekuensi yang sama. Mobil Bagas terus melaju menuju Jakarta.
Membawa Larasati menuju babak baru penderitaannya. Sementara di Jakarta, Rizki Pratama berdiri tegak, bersiap menghadapi badai di perusahaannya. Sembari menyimpan luka misterius di hatinya yang tidak akan pernah sembuh. Sampai ia menemukan kembali bunga dari masa lalu ibundanya.
Dua hati itu kini telah menyatu dalam kesedihan. Dipisahkan oleh sebuah kesalahan fatal bernama pernikahan tanpa cinta dan diikat oleh takdir yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Jakarta, kota yang kejam, akan menjadi saksi pertemuan mereka selanjutnya. Pertemuan yang tidak akan lagi dihalangi oleh katapel kayu. Melainkan oleh kekuatan gurita bisnis yang akan menghancurkan siapa pun yang berani menyakiti apa yang dicintai oleh seorang Tuan Muda Rizki Pratama Putra Darmawan.