Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Warisan yang Tak Terbantahkan
Malam merayap masuk ke apartemen Chae-young, namun pikirannya masih tertinggal di butik, pada sepasang mata ice blue yang seolah sanggup menembus pertahanannya. Chae-young berdiri di depan cermin besar di kamarnya, melepaskan ikat rambutnya hingga rambut hitam pekat bermodel bronte waves miliknya jatuh terurai indah hingga ke pinggang.
Ikal alami itu adalah kebanggaannya, sama seperti mata honey brown miliknya—cokelat madu yang hangat dan terang. Namun, saat ia menatap pantulannya sendiri, ia mendesah panjang.
"Kenapa hanya Chae-rin yang mengambil rambutku?" bisiknya getir.
Ia teringat saat si kembar lahir. Chae-young sudah bersusah payah mengandung selama sembilan bulan, bertaruh nyawa di meja operasi, dan berjuang sendirian melawan stigma masyarakat.
Namun, saat ia pertama kali menggendong mereka, ia justru menemukan orang asing di pelukannya. Hanya rambut Chae-rin yang mewarisi ikal hitamnya, selebihnya—terutama mata biru yang mencolok itu—jelas-jelas bukan miliknya.
Chae-young merasa semesta sedang bercanda padanya. Ia yang berjuang, tapi pria asing itu yang mendapatkan hak cipta pada wajah anak-anaknya.
Melangkah ke ruang makan, Chae-young mendapati kedua anaknya sedang fokus dengan makanan mereka. Suasana hening, sebuah pemandangan yang tidak biasa untuk anak usia empat tahun.
Park Chan-yeol duduk dengan punggung tegak, memegang sendoknya dengan gerakan yang sangat teratur. Di depannya bukan buku dongeng, melainkan sebuah tablet yang menampilkan susunan balok digital rumit. Otak Chan-yeol sudah melampaui batas kepintaran anak seusianya, dia lebih suka menganalisis pola daripada bermain mobil-mobilan.
Sedangkan Park Chae-rin, si pemilik rambut ikal seperti ibunya, sedang mengunyah pelan sambil menatap pintu apartemen yang baru saja terbuka.
"Mommy sedang kacau ya?" tanya Chae-rin tiba-tiba. Suaranya kecil, tapi intonasinya sangat dewasa.
Chae-young tersentak. "Eh? Tidak, Sayang. Mommy hanya sedikit lelah."
"Bohong. Alis Mommy berkerut sepuluh derajat lebih rendah dari biasanya," sahut Chan-yeol tanpa mendongak dari tabletnya.
Chae-young hanya bisa menghela napas. Darimana semua kekuatan otak dan ketajaman intuisi ini berasal? Chae-young merasa dirinya bukan orang yang sedingin atau sepintar itu. Ia lebih lembut, lebih emosional. Namun anak-anak ini, mereka seperti memiliki benteng baja di dalam kepala mereka.
"Chan-yeol-ah, letakkan dulu tabletmu. Ayo habiskan makananmu dulu." Ucap Chae-young.
Tiba-tiba, suara bel pintu terdengar nyaring. Chae-young mengerutkan kening. Ia tahu siapa itu. Satu-satunya orang yang memiliki keberanian (atau ketidaksopanan) untuk bertamu malam-malam begini.
Pintu terbuka, dan masuklah Park So-hee, adik perempuan Chae-young yang usianya hanya terpaut dua tahun. So-hee masuk dengan gaya angkuh, menenteng tas branded terbaru. Di belakangnya mengikuti seorang pria yang seharusnya menjadi tunangan Chae-young lima tahun lalu—pria yang dengan cepat diambil alih oleh So-hee begitu skandal kehamilan Chae-young meledak.
"Wah, masih makan nasi dengan lauk sederhana? Kupikir butik Forever-Young sudah membuatmu kaya raya, Kak," ejek So-hee sambil menatap meja makan dengan pandangan merendahkan.
Chae-young hanya diam, ia sudah terbiasa dengan racun dari mulut adiknya sendiri. Sejak ayahnya meninggal, So-hee menganggap Chae-young adalah pembawa sial yang menghancurkan reputasi keluarga. So-hee dengan cepat mengambil posisi Chae-young, menikahi pria pilihan ayah mereka, dan hidup seolah-olah dia adalah putri satu-satunya.
"Kalau ke sini hanya untuk menghina makan malam kami, sebaiknya kau pulang, So-hee," ucap Chae-young datar.
"Aku hanya kasihan padamu. Hidup sebagai janda tanpa suami, membesarkan dua anak yang gak jelas asal usulnya dan bermata aneh—"
"Aunty Soo-hee," potong Chae-rin tiba-tiba.
Anak perempuan berusia empat tahun itu meletakkan sendoknya dengan suara denting yang sengaja dikeraskan. Ia menatap bibinya dengan mata birunya yang dingin, persis seperti tatapan Matteo di butik sore tadi.
"Jika tas yang Aunty bawa itu asli, seharusnya baunya tidak semenyengat parfum murah di baju Aunty. Dan jika pernikahan Aunty sangat bahagia, Aunty tidak akan punya waktu untuk datang ke sini hanya untuk melihat piring makan kami," ucap Chae-rin dengan mulut tajam yang mematikan.
So-hee terperangah, wajahnya merah padam. "Kau! Dasar anak tidak sopan!"
"Chae-rin hanya bicara fakta, Aunty. Bukankah orang dewasa suka fakta?" Timpal Chan-yeol dingin tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.
Chae-young hampir saja ingin tertawa di tengah rasa sesaknya. Ia tidak tahu dari mana anak-anaknya belajar bersikap seperti itu. Mulut tajam itu, sikap tenang yang menghancurkan lawan itu bukan miliknya.
Setelah So-hee pergi dengan kemarahan yang meluap-luap, apartemen kembali sunyi. Chae-young duduk di antara kedua anaknya, merasa asing sekaligus bangga. Di dalam benaknya, nama itu kembali muncul.
Matteo.
Pria dengan nama asing dan mata biru itu. Pria yang membuat hatinya bergetar karena takut sekaligus penasaran. Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa kehadirannya terasa seperti badai yang siap merobohkan seluruh pertahanan yang Chae-young bangun selama lima tahun ini?
"Mommy," panggil Chan-yeol. Suaranya datar, namun ada nada menuntut yang sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Ya, sayang?"
"Where is Daddy?" Tanya Chan-yeol.
Pertanyaan yang selama lima tahun ini paling ditakuti Chae-young akhirnya terlontar juga. Lidah Chae-young terasa kelu. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa ayahnya adalah seorang bayangan dari satu malam yang kelam? Bagaimana ia harus mengatakan bahwa ia sendiri tidak tahu siapa pria itu? Bahkan dimana dia tinggal.
"Sayang," Chae-young berusaha mengatur napasnya, ia meletakkan sendok dan meraih tangan kedua anaknya. "Untuk saat ini, Mommy gak tahu dimana ayah kalian tinggal, jadi nanti kalau sudah saatnya, Mommy akan ceritakan semuanya pada kalian berdua. Oke?"
Chan-yeol hanya diam, matanya yang cerdas seolah tahu bahwa ibunya sedang menyembunyikan sesuatu di balik kata-katanya. Ia tidak bertanya lagi, namun ia menyimpan rasa penasaran itu di dalam kepalanya yang jenius. Chae-young hanya bisa memeluk mereka erat-erat, seolah dekapan itu bisa membentengi mereka dari kenyataan yang mulai mengetuk pintu rumah mereka.
Keesokan paginya, di lantai teratas gedung M-Nexus, cahaya matahari musim semi masuk melalui jendela besar, menyinari meja kerja Matteo Adrian Reins Smith yang sangat rapi. Di hadapannya, sebuah dokumen laporan dari Soo-hyun tergeletak terbuka.
Matteo membacanya dengan kening berkerut. "Lulusan terbaik jurusan seni, desainer mandiri, brand Forever-Young." Matteo bergumam pelan, lalu matanya tertuju pada baris terakhir. "Ternyata dia sudah berkeluarga ya? Berarti anak yang tempo hari itu anaknya?"
Ada sedikit rasa aneh yang berdenyut di dadanya saat membaca fakta bahwa wanita dengan rambut bronte waves itu memiliki dua anak. Ia mengambil selembar foto hasil jepretan yang entah dimana Soo-hyun dapatkan tepat di depan galeri tempo hari. Matteo memicingkan mata, ia mendekatkan foto itu ke wajahnya, seolah ingin melakukan zoom manual pada gambar tersebut.
Benar saja. Bocah laki-laki di dalam foto itu postur tubuhnya, caranya berdiri, hingga tatapan matanya yang dingin—semuanya sangat mirip dengan Kendrick di Manila. Namun, ada satu perbedaan mencolok yang membuat jantung Matteo berdebar tidak karuan.
"Kendrick memiliki warna mata abu-abu terang seperti ibunya," bisik Matteo pada kesunyian ruangannya. "Tapi anak ini, warna matanya sama denganku."
Matteo merogoh saku jasnya, mengambil ponselnya dan membuka galeri foto. Ia menyejajarkan foto Kendrick yang sedang bermain di taman Manila dengan foto bocah laki-laki di trotoar Seoul itu.
"Soo-hyun!" panggil Matteo dengan suara bariton yang tegas.
Soo-hyun masuk dengan sigap. "Ya, Tuan?"
"Lihat ini." Matteo menyodorkan ponsel dan foto cetak itu sekaligus. "Berikan pendapatmu. Jujur."
Soo-hyun memperhatikan kedua gambar tersebut dengan teliti selama beberapa saat. Matanya membelalak kecil, ia menatap Matteo lalu kembali ke foto.
"Mirip, Tuan. Jika saya tidak tahu Anda memiliki kembaran bernama Tuan Mark, saya akan mengira anak ini adalah putra Anda."
Matteo mendengus sinis, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya.
"Tuan, setahu saya. Kita hidup didunia ini memiliki tujuh kembaran."
"Yang benar saja, aku tidak percaya mitos bodoh itu, Soo-hyun. Itu tidak masuk akal secara statistik."
"Tapi kemiripannya terlalu presisi, Tuan. Apalagi warna matanya," tambah Soo-hyun hati-hati.
Matteo terdiam, jemarinya mengetuk meja jati dengan irama yang teratur. Logikanya yang kaku mulai berperang dengan instingnya. Tiba-tiba ia teringat malam lima tahun lalu di Seoul. Malam di mana ia mabuk berat dan berakhir dengan seorang wanita asing yang menghilang sebelum matahari terbit.
Mungkinkah? Matteo menggelengkan kepalanya keras.
"Tidak. Itu mustahil. Kejadian itu hanya satu malam, dan wanita itu aku bahkan tidak ingat wajahnya."
Namun, rasa penasaran itu kini telah tumbuh menjadi obsesi. Matteo tidak bisa membiarkan sesuatu yang tidak logis berkeliaran di depan matanya. Apalagi wajah anak itu seolah-olah menuntut pengakuan darinya.
"Soo-hyun, siapkan pertemuan resmi dengan pemilik Forever-Young. Katakan M-Nexus tertarik untuk berkolaborasi dalam desain interior dan seragam eksklusif divisi premium kami," perintah Matteo dengan nada dingin yang tak terbantahkan.
"Baik, Tuan."
Setelah Soo-hyun keluar, Matteo kembali menatap foto Chan-yeol. Ia menyentuh permukaan foto itu tepat di bagian mata biru bocah tersebut.
"Jika kau benar-benar kembaranku yang ketujuh, maka ini hanyalah kebetulan. Tapi jika bukan..." Matteo menggantung kalimatnya, matanya berkilat tajam.
"Maka ibumu punya banyak hal yang harus dijelaskan padaku."
Di kejauhan, Chae-young yang sedang menjahit pola baju barunya tiba-tiba merasa merinding. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia anggap sebagai "Manusia Aneh" itu kini sedang bergerak menuju dunianya, siap membongkar setiap inci rahasia yang ia jaga dengan taruhan nyawa selama ini.