Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Revan dan Sketsa Masa Depan
Esok paginya, sisa-sisa debar dari kedai Izakaya Blok M semalam masih tertinggal jelas di dadaku. Bahkan, saat aku sedang menyapu lantai kayu kedai yang berdebu, sentuhan ibu jari Arka di punggung tanganku seolah masih meninggalkan jejak panas yang tak mau hilang.
Tarik napas, Senja. Jangan senyum-senyum sendiri menghadap sapu ijuk. Kau terlihat seperti orang gila, rutukku dalam hati, meski gagal menyembunyikan lengkungan tipis di bibirku.
Di tengah lamunanku, Kedai Kala Senja kedatangan tamu tak terduga. Lonceng pintu tidak berbunyi pelan seperti biasanya, melainkan bergemerincing nyaring dan ceria.
Bukan Arka yang datang. Yang berdiri di ambang pintu adalah seorang pria muda memakai helm proyek kuning dan kemeja flanel merah kotak-kotak. Kemeja itu digulung asal, menampilkan lengan berotot yang sedikit kotor oleh debu proyek, namun gayanya tampak terlalu modis untuk ukuran pekerja lapangan biasa. Cowok itu menenteng tabung gambar arsitektur besar dari plastik hitam di punggungnya.
Begitu masuk ke kedai, cowok itu langsung membuka helm kuningnya dan mengacak-acak rambut kecokelatannya yang sedikit ikal. Matanya mengedari ruangan, lalu ia tersenyum lebar ke arahku.
Senyumnya luar biasa cerah. Jika aura Arka diibaratkan seperti malam badai yang sedingin kulkas, cowok ini memancarkan aura matahari pagi di musim panas. Hangat, terbuka, dan sama sekali tidak mengintimidasi.
"Pagi, Mbak Senja! Bener ini yang namanya Mbak Senja, kan?" sapa cowok itu dengan nada kelewat ceria, seolah kami sudah berteman sejak TK. Ia berjalan santai dan langsung mengambil tempat duduk di stool depan meja bar.
Aku mengernyitkan dahi, memegang gagang sapuku erat-erat sebagai tameng instingtif. "Iya, benar. Maaf, Mas ini siapa ya? Mau pesan kopi atau ada urusan sama proyek?"
Cowok itu tertawa renyah. Lesung pipi yang cukup dalam muncul di sebelah kiri wajahnya, membuatnya terlihat kekanakan namun sangat karismatik. Ia mengulurkan tangannya dari seberang bar.
"Kenalin, nama saya Revan. Arsitek kepala buat proyek Cipta Megah di area sini. Saya yang ditugaskan Bos Besar alias Pak Arka yang kaku itu buat merancang kubah kaca raksasa yang bakal melindungi kedai vintage nan cantik ini."
"Oh!" Mataku sedikit membulat dan raut wajahku langsung berbinar lega.
Ternyata Arka benar-benar membuktikan kata-katanya. Pria itu tidak hanya membual soal merombak desain mall. Aku buru-buru menyambut uluran tangan Revan. Tangannya terasa kasar, khas orang lapangan. "Salam kenal, Mas Revan. Panggil Senja aja, nggak usah pakai Mbak."
"Oke, Senja. Panggil gue Revan aja kalau gitu." Revan melepaskan tabung gambarnya yang berat, membuka tutupnya dengan bunyi 'pop' yang keras, lalu mengeluarkan gulungan kertas kalkir berukuran raksasa. Ia menggelarnya begitu saja di atas meja bar, tak peduli pada noda bubuk kopi di sekitarnya.
"Gue ke sini mau diskusi bentar," ucap Revan sambil mengetuk-ngetuk kertas yang dipenuhi garis cetak biru itu dengan pensil arsir. "Si Bos Besar minta gue bikin desain kubah yang vibes-nya nyatu sama kedai lo. Nah, gue butuh insight langsung dari si pemilik aslinya. Lo maunya gaya industrial klasik biar agak edgy, atau botanical garden yang banyak rambatan tanamannya biar adem?"
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, aku dan Revan sudah asyik mengobrol panjang lebar seolah kami adalah teman lama. Revan ternyata orang yang sangat easy-going, banyak omong, dan selera humornya receh namun pas ukurannya. Bau kertas kalkir dan tinta arsitektur menguar di udara saat kami menunjuk-nunjuk desain di atas meja.
"Sumpah, waktu Arka nyuruh gue merombak desain ini, gue kira dia udah gila gara-gara kebanyakan minum kopi pait," celetuk Revan, memicu tawa lebarku. Revan juga menceritakan kekonyolan beberapa kuli bangunan di belakang sana yang selalu salah memotong besi hollow, membuatku tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perut.
Tepat di tengah gelak tawaku yang cukup keras karena lelucon Revan, lonceng pintu kedai bergemerincing tajam.
Bukan berbunyi ceria seperti saat Revan masuk, melainkan nyaring dan menusuk.
Aku dan Revan menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Di sanalah dia. Arka Danadyaksa berdiri di ambang pintu.
Pria itu mengenakan setelan jas three-piece berwarna abu-abu gelap yang mempertegas wibawanya sebagai penguasa Cipta Megah. Namun, begitu mata kelamnya menangkap pemandangan di meja bar aku yang sedang tertawa lepas hingga bahuku berguncang, dan tangan Revan yang sedang bersandar terlalu dekat dengan lenganku di atas kertas desain suhu di dalam kedai ini seolah langsung anjlok dua puluh derajat.
Mati aku, batinku mencelos. Kenapa aku merasa seperti istri yang ketahuan berselingkuh? Padahal aku hanya membahas atap kaca!
Wajah Arka datar tanpa ekspresi, tapi urat di pelipisnya terlihat sedikit menonjol. Matanya menajam seperti elang yang melihat daerah teritorialnya dimasuki predator asing. Langkah kakinya terdengar sengaja dibuat berat dan berirama saat ia menghampiri meja bar, menyebarkan aroma sandalwood yang langsung mendominasi ruangan, mengusir wangi kertas kalkir Revan.
"Arka! Panjang umur lo, Bos," sapa Revan santai. Cowok ini benar-benar punya urat saraf baja, seolah tidak menyadari aura membunuh yang sedang dipancarkan atasannya itu. "Gue lagi brainstorming desain kubah nih sama Senja. Dia idenya brilian juga, lho. Otaknya nyambung sama arsitektur."
Arka sama sekali tidak menatap Revan. Tatapannya terkunci padaku, mengulitiku hidup-hidup. Aku mendadak merasa salah tingkah, refleks menarik tanganku menjauh dari kertas desain. Aku menunduk sebentar, merutuki diriku yang tiba-tiba merasa bersalah karena kepergok sedang asyik mengobrol dengan cowok lain padahal semalam kami baru saja makan malam berdua dan saling menautkan jari.
"Revan," panggil Arka.
Suara pria itu terdengar sangat berat, menggema di dada, dan kelewat dingin. Ia berdiri tepat di sebelah sang arsitek, menjulang tinggi dan memberikan tatapan intimidasi dari atas ke bawah yang bisa membuat ciut nyali direktur mana pun.
"Saya bayar kamu puluhan juta sebulan untuk mengukur struktur tanah dan menghitung daya beban fondasi bangunan saya," ucap Arka pelan, berbisa. "Bukan buat minum kopi dan godain tenant saya di jam kerja."
Revan terdiam sejenak. Ia mengerjap, menyerap kalimat pedas itu. Ia melirik ke arahku yang sedang menahan napas, lalu kembali menatap Arka yang rahangnya sudah mengeras sempurna.
Sedetik kemudian, sebuah senyum jahil yang sangat menyebalkan terbentuk di bibir Revan. Insting arsiteknya tampaknya bekerja dengan baik; ia langsung menangkap fondasi situasi sebenarnya di antara kami.
"Waduh, santai, Pak Direktur," kekeh Revan, sama sekali tidak terlihat takut. Ia menggulung kembali kertas kalkirnya dengan gerakan santai, lalu memasukkannya ke dalam tabung. Ia menepuk bahu Arka yang kaku seperti papan kayu. "Gue cuma research lapangan kok. Kopi di sini emang enak bikin betah. Pantesan lo rela bolak-balik."
Revan menyampirkan tabung itu ke punggungnya. "Gue cabut ke area proyek belakang dulu deh kalau gitu, takut singanya ngamuk beneran. Nanti budget kubahnya malah dipotong."
Sebelum benar-benar berbalik pergi, Revan menyempatkan diri mengedipkan sebelah matanya ke arahku secara terang-terangan. "Nanti kita lanjut lagi ya diskusinya, Senja. Siapin kopi yang paling enak buat gue."
Begitu pintu kedai tertutup dan Revan menghilang, ruangan ini kembali hening. Hanya menyisakan aku, Arka, dan ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau daging.
Arka mendengus kasar. Ia melepas jas mahalnya, menarik simpul dasinya hingga melonggar, dan melempar jas itu asal-asalan ke kursi terdekat. Ia kemudian duduk di kursi yang baru saja diduduki Revan. Matanya menatapku lurus-lurus. Tatapan yang sangat sulit diartikan, perpaduan antara kesal, lelah, dan... sesuatu yang sangat posesif. Rahangnya masih mengerat kaku.
Melihat tingkah pria dewasa berusia nyaris tiga puluh tahun yang sedang merajuk dalam diam itu, entah dorongan dari mana, mulutku tiba-tiba berkhianat.
"Kenapa? Cemburu?" godaku tanpa sadar.
Sialan! Senja bodoh! Kenapa mulutmu selalu bergerak lebih cepat dari otakmu?! jerit batinku panik. Aku langsung merutuki diriku sendiri. Harusnya aku diam saja meracik kopi!
Aku bersiap menerima bantahan dingin khas korporatnya, atau setidaknya dalih bahwa ia hanya peduli pada kinerja bawahannya.
Tapi Arka tidak mengelak. Sama sekali.
Pria itu justru meletakkan kedua sikunya di atas meja bar, lalu mencondongkan tubuh bagian atasnya ke arahku hingga wajah kami hanya berjarak sekian jengkal. Matanya yang gelap dan kelam menatapku lurus-lurus, menembus langsung ke dasar jantungku.
"Banget," jawab Arka lugas. Sangat straight to the point, tanpa keraguan atau basa-basi sedikit pun.
Napasku seketika tercekat.
"Lain kali," suara Arka melembut, namun penuh dengan nada kepemilikan mutlak yang membuat kewarasanku menguap, "kalau mau ketawa lepas sampai bahu lo bergetar kayak tadi, cukup di depan gue aja. Bisa?"
Jantungku seolah baru saja disetrum kabel bertegangan tinggi. Kupu-kupu di dadaku yang semalam baru saja mereda, kini bukan lagi sekadar mengepakkan sayap. Mereka sedang melakukan parade sirkus ugal-ugalan yang membuat lututku mendadak lemas bagai jeli.
Di bawah tatapan intens pria berpayung hitam yang sedang terbakar cemburu ini, aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍