NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingat Ini Cuma Akting!

Raymon memiringkan kepala, menatapnya dengan minat, lalu mendekat ke telinganya. “Gwen Ducker, kamu perempuan yang aneh.”

Suaranya saja sudah cukup membuat merinding.

“Mama aku juga bilang begitu. Katanya aku nggak bakal nemu laki-laki yang tahan sama aku, apalagi buat jangka panjang.”

“Mama yang sangat optimis.” Raymon mengulurkan tangan, mengusap bagian dalam lengan Gwen dari siku sampai ke telapak. “Kamu punya pacar?”

Hampir mustahil bagi Gwen untuk fokus saat jari Raymon terus menelusuri naik turun di sepanjang lengannya. Sentuhannya ringan, tapi rasanya seperti sedang menandainya.

“Kenapa kamu nanya kayak gitu? Kamu mau mempertimbangkan buat melepas aku dari kontrak kita?”

“Nggak.”

“Kalau gitu nggak penting.”

Raymon tetap menatap matanya, lalu menggenggam tangannya dan membawanya ke dekat bibirnya. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kemarin aku cari tahu tentang kamu,” katanya pelan, masih menahan jari-jari Gwen hanya beberapa sentimeter dari bibirnya. “Siapa sangka tangan sekecil ini bisa bikin karya yang… se-DARK itu.”

Gwen tersenyum, berusaha menyembunyikan seberapa besar pengaruh sentuhan dan kedekatan pria itu terhadapnya.

Raymon Frost mustahil untuk diabaikan, apalagi saat dia sengaja bersikap seperti ini.

“Kamu nggak suka?”

“Justru sebaliknya, Nona Ducker. Aku suka banget.”

Bibirnya menyentuh ujung jari Gwen, bertahan beberapa detik sebelum akhirnya menurunkan tangannya, tapi tetap menggenggamnya.

Tak disangka, Raymon memainkan perannya dengan sempurna. Berbahaya, licik, dan meyakinkan.

“Kamu mau melukis aku?” tanya Raymon.

Gwen menatapnya, agak terkejut. “Aku nggak nerima pesanan.”

“Ada alasan?”

“Aku nggak suka dipaksa bikin sesuatu yang aku nggak mau.”

Raymon pun tersenyum. Dia paham maksud itu.

“Kalau begitu, kita tukar aja. Kamu lukis sesuatu buat aku, aku kasih sesuatu yang kamu mau.”

“Apa aja?”

“Uang, perhiasan, apa pun.”

Menggiurkan. Tapi bukan itu yang Gwen inginkan.

“Aku mau jawaban dari satu pertanyaan,” kata Gwen. “Apa itu termasuk?”

Raymon terlihat sedikit terkejut. Tatapannya berubah, dan jelas dia tidak terlalu senang.

“Tergantung pertanyaannya.”

“Kalau gitu aku tolak, Tuan Frost.”

Raymon menatapnya beberapa detik, lalu tertawa. Beberapa orang di sekitar langsung menoleh.

“Kamu jago nawar, ya, Nona Ducker.” Dia mendekat, berbisik di telinganya. “Pertanyaanya!”

Gwen sempat ragu. Pria ini bukan tipe yang mengikuti aturan orang lain. Tapi sepertinya dia benar-benar menginginkan lukisan itu.

Gwen menegakkan kepala dan menatap matanya.

“Kenapa kamu butuh istri palsu, Raymon? Kamu tampan, kaya, berkuasa. Pasti banyak perempuan yang mau nikah sama kamu. Kenapa harus buang tiga juta dolar kalau kamu bisa dapet istri gratis?”

“Karena aku nggak mau yang permanen, dan kondisi bisnis sekarang mengharuskan aku punya istri selama enam bulan.”

“Kenapa enam bulan?”

Raymon pun tersenyum.

“Itu pertanyaan kedua. Kamu cuma boleh tanya satu.”

Gwen menghela napas dalam hati.

Dia terlalu cepat bertanya.

“Jadi, kamu mau aku lukis apa? Lanskap? Anjing kamu? Atau buah-buahan di meja?”

“Bukan. Aku punya ide lain.” Senyum licik itu muncul lagi.

“Aku mau lukisan potret diri kamu.”

“Potret diri aku?”

Gwen mengangkat alis.

Untuk apa dia butuh itu?

“Iya. Ada masalah?”

“Nggak. Ada permintaan khusus? Pose? Latar?”

Raymon condong ke depan sampai wajahnya sangat dekat. Dia mengangkat dagu Gwen dengan dua jari, memiringkan wajahnya sedikit ke atas.

“Cuma satu,” katanya pelan, matanya turun ke bibir Gwen. “Aku mau kamu telanjang!”

Mata Gwen melebar. Dia terlalu terkejut untuk langsung merespons.

“Kayaknya kita jadi pusat perhatian,” gumam Raymon, masih menatap bibirnya. “Siap, Gwen?”

Kedekatannya membuat pikiran Gwen kacau. Dan bau tubuhnya… Gwen sampai harus memaksa dirinya untuk tetap waras.

Dia penjahat.

Dia penjahat.

“Siap… buat apa?” bisiknya.

“Buat nunjukin seberapa bagus akting kamu.” Raymon tersenyum, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Gwen.

Semua pikiran hilang. Dalam satu detik, Gwen masih berpikir jernih. Detik berikutnya, semuanya lenyap. Yang tersisa hanya satu hal.

Lebih.

Lebih dari sentuhan itu.

Lebih dari aroma itu.

Lebih dari semuanya.

PRANKKKKK

Terdengar suara kaca pecah. Sesuatu yang basah pun mengenai kakinya.

Gwen membuka mata, perlahan kembali ke kenyataan. Wajah Raymon sangat dekat. Tangannya ada di tengkuk Gwen. Jari Gwen terjerat di rambut hitamnya.

“Itu penampilan yang bagus,” bisik Raymon. “Pecahan kacanya… hmm sempurna.”

Gwen segera melepaskan tangannya, lalu melihat ke bawah.

Gelas wine-nya pecah berkeping-keping di lantai. Cairan merah menyebar di lantai, sebagian mengenai kaki dan sepatunya. Raymon memutar kursi rodanya dengan cepat hingga berada tepat di depannya.

“Tukar posisi kakimu, Nona Ducker. Kanan di atas.”

Gwen menyipitkan mata, lalu menurutinya. Dia membuka silang kakinya, lalu menyilangkannya kembali dengan kaki kanan di atas kiri.

Raymon membungkuk, melingkarkan tangannya di pergelangan kaki Gwen, membuka kait sepatu, lalu perlahan melepaskan haknya. Gwen hanya bisa menatap tangannya saat pria itu membersihkan sisa wine di kakinya dengan serbet putih dari meja.

Setelah selesai, Raymon memasangkan kembali sepatu itu dan mengaitkannya. Tangannya masih menahan pergelangan kaki Gwen saat dia menurunkannya perlahan.

Gwen samar-samar menyadari ruangan menjadi sunyi. Semua orang memperhatikan mereka. Dia sendiri tidak benar-benar bisa memproses apa yang baru saja terjadi.

Itu… bukan sesuatu yang seksi. Tapi entah kenapa, itu terasa jauh lebih intens dari apa pun yang pernah dia alami.

“Kayaknya kita harus pergi,” kata Raymon, lalu memberi isyarat ke Troy yang bersandar di dinding tak jauh dari mereka. “Temui Papamu, bilang kamu ikut aku, pastikan ada yang dengar. Kita tunggu di mobil depan.”

Raymon langsung menggerakkan kursi rodanya menuju pintu keluar, Troy mengikuti beberapa langkah di belakang.

Semua mata mengikuti mereka, lalu beralih ke Gwen. Dia merasa seperti tontonan saat berjalan ke arah ayahnya dan mencium pipinya.

“Raymon minta aku ikut dia buat minum berdua,” katanya.

Bisik-bisik pun langsung pecah di sekitar mereka. Ayahnya tersenyum, tapi jelas dipaksakan. Gwen menepuk lengannya sebentar, lalu berjalan menuju pintu keluar.

Tatapan orang-orang seolah menembus punggungnya. Mungkin mereka menganggapnya murahan. Dia tidak peduli. Dengan kepala tegak dan senyum palsunya, Gwen keluar dari ruangan.

Sebuah mobil putih besar sudah menunggu di depan. Troy berdiri di pintu belakang dan membukanya saat Gwen mendekat.

Saat masuk, Gwen tidak bisa menahan diri untuk berpikir, Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!