"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Malam itu, gerbang besi raksasa kediaman keluarga Satrya terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit berat yang seolah memperingatkan siapa pun yang berani melintas. Mobil mewah Denis membelah kegelapan taman yang luas menuju bangunan utama yang bergaya kolonial modern. Di kursi penumpang, Calista menggenggam erat gaun hitam sutra yang diberikan Denis sebuah gaun yang terasa dingin dan berat, seperti baju zirah bagi jiwanya yang rapuh. Wajahnya dipoles riasan bold dengan lipstik merah gelap yang membuatnya tampak lima tahun lebih tua; matanya yang biasanya jenaka kini berubah menjadi sepasang kristal es yang tajam.
"Ingat," bisik Denis saat mobil berhenti sempurna. Ia menoleh, menatap Calista dengan intensitas yang menyesakkan. "Jangan biarkan mereka melihat celah sedikit pun. Jangan jadi gadis SMA yang malang. Jadilah wanita yang paling mereka benci, wanita yang akan merebut segalanya dari tangan mereka. Hancurkan harga diri mereka sebelum mereka sempat menyentuh ujung kukumu."
Calista hanya mengangguk kecil, meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. Ketakutannya telah ia kunci rapat di dasar hati, digantikan oleh keberanian nekat yang lahir dari keputusasaan demi nyawa Ibunya yang masih kritis di rumah sakit. Saat pintu kayu jati yang megah itu terbuka, aroma dupa cendana mahal yang menyesakkan dan ketegangan yang kental langsung menyambut mereka. Di ruang tamu yang luas dengan lantai marmer Italia, keluarga besar Satrya sudah berkumpul, duduk melingkar seperti sekelompok juri yang siap menjatuhkan hukuman mati.
"Denis, siapa perempuan ini? Kenapa kau membawanya masuk tanpa pemberitahuan resmi?" Suara tajam itu datang dari Susi, ibu tiri Denis yang selalu tampil elegan dengan deretan perhiasan berlian yang mencolok di leher, telinga, dan jemarinya yang lentik.
Denis tidak menjawab langsung. Ia merangkul pinggang Calista dengan posesif, sebuah gerakan yang terasa asing namun menguatkan bagi Calista. "Perkenalkan, ini Calista. Calon istriku. Kami akan menikah dalam waktu dekat, dan dia akan tinggal di sini sebagai nyonya rumah yang baru."
Ruangan itu seketika riuh oleh bisikan sinis yang tidak disembunyikan. Susi berdiri dengan anggun namun matanya menyala penuh kebencian. Ia menatap Calista dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan, seolah sedang melihat serangga yang tersesat di istananya. "Calon istri? Denis, kau pasti bercanda. Setidaknya carilah wanita yang memiliki silsilah yang jelas, bukan gadis ingusan yang sepertinya baru saja melepas seragam sekolahnya dan masih berbau kemiskinan."
Calista mengembangkan senyum tipis yang mematikan, sebuah senyum sinis yang sudah ia latih berulang kali di depan cermin apartemen tadi. Ia melangkah maju satu langkah, melepaskan diri dari rangkulan Denis, dan menatap langsung ke dalam manik mata Susi tanpa kedip sedikit pun.
"Silsilah?" suara Calista terdengar rendah namun tajam bak sembilu yang menyayat kulit. "Saya rasa silsilah yang panjang tidak menjamin kualitas otak atau kebersihan hati seseorang, Nyonya Susi. Lagipula, saya di sini hadir sebagai calon istri Mas Denis, bukan untuk memohon-mohon restu dari seorang ibu tiri yang... sepertinya jauh lebih sibuk menghitung jumlah karat berliannya daripada menghitung etika dasar saat menyambut tamu."
Susi terbelalak, napasnya tertahan di tenggorokan seolah tersedak kata-katanya sendiri. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menegang karena merasa terhina di depan para pelayan dan kerabat jauh yang hadir. "Kau! Berani-beraninya kau bicara begitu padaku? Aku adalah nyonya di rumah ini! Aku yang mengatur segalanya!"
"Rumah ini milik keluarga Satrya, peninggalan almarhum Tuan besar, bukan milik Anda pribadi secara mutlak," balas Calista dengan ketenangan yang mengerikan, namun setiap katanya menusuk tepat ke ulu hati Susi. "Dan jika saya resmi menjadi istri **Mas Denis**, posisi 'nyonya' itu mungkin akan segera mengalami pergeseran jabatan yang drastis. Sebaiknya Anda mulai membiasakan diri untuk tidak terlalu banyak bicara jika tidak ingin kehilangan panggung sandiwara Anda lebih cepat."
***
Ketegangan itu tidak mereda, melainkan berpindah ke meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah dari perak. Di sana duduk Puput, adik tiri Denis yang usianya hanya terpaut beberapa tahun di atas Calista. Puput, yang merasa kecantikannya tersaingi, mencoba menunjukkan dominasinya dengan sengaja menjatuhkan garpu peraknya ke arah piring Calista hingga dentingnya memekakkan telinga.
"Oops, tanganku licin sekali. Mungkin karena aku tidak terbiasa duduk satu meja dengan orang asing yang... murahan, tidak tahu kasta, dan sepertinya hanya mengincar harta kakakku," ejek Puput sambil tertawa kecil yang dibuat-buat, memancing tawa dari sepupu-sepupu lainnya.
Calista tidak menunjukkan amarah sedikit pun. Dengan gerakan yang sangat lambat dan anggun, ia justru meraih gelas kristal berisi air es di sampingnya dan menyiramkannya dengan tenang ke arah lantai, tepat di bawah ujung sepatu bermerek milik Puput yang harganya belasan juta.
"Maaf, tanganku juga tiba-tiba licin. Tapi menurutku, air dingin ini jauh lebih bersih dan menyegarkan daripada sampah yang keluar dari mulutmu yang tampaknya kurang didikan itu."
Puput tersentak, melonjak dari kursinya dengan wajah pucat karena kaget dan malu. Bajunya sedikit terkena cipratan, namun egonya yang paling terluka. "Mas Denis! Lihat calon istrimu! Dia gila! Dia benar-benar gila! Bagaimana bisa kau membawa monster ini ke rumah kita?"
"Dia tidak gila," potong Denis dengan nada sedingin es. Ia menyesap wine merahnya dengan santai, matanya menatap Calista dengan kilatan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan. "Dia hanya jujur. Dan kejujuran memang seringkali terasa seperti serangan mematikan bagi orang-orang yang selama ini hidup dalam kepalsuan dan kemunafikan seperti kalian semua."
Calista menoleh kembali ke arah Puput, tatapannya begitu hampa namun mengintimidasi hingga membuat nyali gadis itu menciut seketika. Calista mencondongkan tubuhnya ke arah Puput, membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar seluruh meja.
"Dengarkan aku baik-baik, Puput. Di rumah ini, aku tidak datang untuk menjadi teman bermainmu atau pelayanmu. Jika kau berani mengusikku lagi, atau bahkan hanya menatapku dengan cara yang salah, aku akan memastikan kau kehilangan semua kemewahan, tas-tas bermerek, dan kehidupan sosialmu itu dalam semalam. Aku punya kunci untuk itu, dan Mas Denis memberikannya padaku. Mengerti?"
Puput hanya mampu mengangguk pelan dengan bibir gemetar, tak sanggup membalas intimidasi yang begitu nyata dari gadis yang usianya lebih muda darinya. Atmosfer di ruang makan itu berubah menjadi sangat mencekam, seolah-olah Calista adalah predator puncak yang baru saja datang untuk mengklaim wilayah kekuasaannya.
Dalam hati, Denis berdecak kagum. Ia tidak menyangka Calista yang semula tampak begitu polos dan rapuh bisa bermetamorfosis menjadi 'wanita berbisa' yang sangat dominan ini bahkan aktingnya melebihi ekspektasinya yang paling liar sekalipun. Kesan pertama Calista pada keluarga Satrya benar-benar menyeramkan, meninggalkan luka lebam yang dalam pada ego mereka yang selama ini tak tersentuh. Malam itu, Calista bukan lagi korban yang meminta belas kasihan; ia adalah ancaman nyata yang siap menghancurkan dinasti Satrya dari dalam.