Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI RETAK
"Itu sebabnya kita harus terus memberinya penawar di dalam susunya, kan? Agar kekuatannya tidak meledak dan menarik perhatian makhluk-makhluk dari masa lalu," tanya Nyonya Arin khawatir.
"Iya. Tapi aku takut penawar itu tidak akan bertahan lama, apalagi setelah Xavier Valerius muncul, aku merasa pria itu punya kaitan dengan masa lalu yang tidak kita ketahui," jawab Tuan Thomas, pelan.
"Thomas, apa menurutmu Xavier tahu siapa Lyra sebenarnya?" tanya Nyonya Arin dengan nada cemas.
"Entahlah. Tapi keluarga Valerius punya catatan sejarah yang gelap, kita harus lebih waspada, jangan sampai Lyra tahu tentang identitas aslinya terlalu cepat. Biarkan dia menikmati hidupnya sebagai manusia biasa," jawab Tuan Thomas tegas.
Tiba-tiba, Lyra bergerak sedikit dalam tidurnya, dan bibirnya bergumam kecil.
"Lili..."
Deg
Tuan Thomas dan Nyonya Arin tersentak, mereka saling pandang dengan wajah pucat.
"Bunga lili, itu bunga yang dibawa wanita tua itu di dalam mimpi, kan?" bisik Nyonya Arin, suaranya hampir hilang karena takut.
"Sshhh... sudah, tidurlah, kita bicarakan lagi besok, jangan sampai dia terbangun dan mendengar ini," ucap Tuan Thomas sambil berdiri, mencoba menenangkan istrinya.
Nyonya Arin mengangguk pelan, dia merebahkan tubuhnya di samping Lyra, memeluk putrinya erat seolah-olah dunia akan merebutnya esok pagi.
Di luar sana, angin malam berhembus makin kencang, membawa aroma hutan pinus yang sangat asing di tengah kota besar itu.
Sementara itu, jet pribadi Xavier baru saja mendarat, Xavier turun dari tangga pesawat, disambut oleh deretan mobil hitam dan para pengawal yang menunduk hormat.
Xavier menatap langit malam Negara A, menghirup udara kota itu dengan rakus.
"Tuan, semua sudah siap, informasi tentang keluarga Wijaya sudah ada di meja kerja Anda," lapor Simon.
Xavier tidak menjawab, di dalam dadanya, jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang tidak pernah dia rasakan selama hidupnya sebagai manusia.
"Aku bisa merasakan mu, Lyra. Darahmu... aromamu... kau tidak bisa bersembunyi di balik nama Wijaya selamanya," gumam Xavier dengan mata kelabu yang kini tampak berkilat keperakan.
"Pasangan yang berjuang lima belas tahun untuk mendapatkan anak? Lalu tiba-tiba hamil setelah melakukan perjalanan ke pegunungan?" tanya Xavier, membacanya baris demi baris.
"Benar Tuan. Ada desas-desus di kalangan pelayan tua keluarga Wijaya, bahwa kelahiran Lyra diiringi fenomena alam yang aneh, langit berubah menjadi merah keunguan selama satu jam," tambah Simon.
Xavier meletakkan dokumen itu, sebuah seringai penuh teka-teki muncul di wajahnya.
"Merah keunguan, warna kelahiran sang bangsawan murni," gumam Xavier, dengan seringai tipis di bibir nya.
Xavier berjalan menuju balkon kamarnya, menatap ke arah rumah keluarga Wijaya yang terlihat samar dari kejauhan.
"Kau pikir kau bisa menyembunyikannya di balik tubuh manusia, wahai Nenek tua?" gumam Xavier sambil menatap bulan.
"Kau menyelamatkan jiwanya, tapi kau lupa bahwa takdir selalu punya cara untuk mempertemukan kembali apa yang sudah digariskan," lanjut Xavier, dingin.
"Lyra... kau tidak mati, kau hanya sedang tertidur di dalam raga cantik itu, dan aku akan menjadi orang pertama yang membangunkan mu," bisik Xavier, pada hembusan angin malam.
Simon yang berdiri di belakang hanya bisa menelan ludah nya kasar, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan bosnya, tapi dia tahu satu hal, seorang Xavier Valerius tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia mau.
Xavier masih berdiri tegak di balkon, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulitnya, pria yang terkenal kaku tanpa perasaan itu sama sekali tidak merasa terusik, seolah suhu rendah itu adalah kawan lamanya.
"Tuan, apakah perlu saya atur pertemuan formal dengan Tuan Thomas besok?" tanya Simon, memecah keheningan.
Sedari tadi Simon tetap berdiri di posisi semula, tidak berani melangkah lebih dekat ke arah Xavier yang auranya malam ini terasa sangat menekan.
Xavier tidak menoleh, matanya masih terpaku pada titik cahaya di kejauhan yang dia yakini adalah kediaman keluarga Wijaya.
"Tidak perlu," jawab Xavier singkat, dengan suara datar nya.
"Lalu, bagaimana Anda akan menemui Nona Lyra lagi Tuan? Thomas Wijaya sangat tertutup jika menyangkut putrinya," tanya Simon sedikit mengernyit.
Xavier memutar tubuhnya perlahan, cahaya bulan menyinari separuh wajahnya, menciptakan bayangan yang tajam dan misterius, dan hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya, bukan sebuah senyuman, melainkan ekspresi predator yang telah menemukan mangsanya.
"Dia yang akan datang padaku," ucap Xavier pelan.
"Maksud Anda?" tanya Simon tertegun.
Xavier tidak menjawab pertanyaan itu, justru dia melangkah masuk ke dalam kamar, melewati Simon begitu saja seolah asistennya itu adalah benda mati.
Di dalam kamar nya, Xavier mengambil sebuah kotak kayu tua berukir dari atas meja kerjanya.
"Persiapkan mobil, aku ingin melihat lokasi proyek pelabuhan itu sekarang juga," perintah Xavier dingin.
"Sekarang, Tuan? Ini sudah hampir tengah malam," tanya Simon terkejut, namun segera menyesali ucapannya saat melihat tatapan Xavier yang mendingin.
"Baik, segera saya siapkan," lanjut Simon, tidak berani protes lagi.
Simon segera berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru.
Sementara di dalam kamar, Xavier membuka kotak kayu itu, di dalamnya terdapat sebuah kelopak bunga lili yang sudah mengering, namun anehnya, bunga itu masih mengeluarkan aroma yang sangat kuat, aroma yang sama dengan yang dia rasakan saat di dekat Lyra waktu itu.
Xavier menyentuh kelopak kering itu dengan ujung jarinya.
"Tujuh belas tahun mereka berpura-pura, Lyra," bisik Xavier, matanya berkilat perak di kegelapan.
"Tapi darah tidak pernah berbohong, segel itu mulai retak, dan aku bisa mendengar detak jantungmu dari sini," lanjut Xavier, dingin.
Xavier menutup kotak itu dan kembali menyimpan nya, lalu beranjak mengambil jas hitamnya yang tersampir di kursi, berjalan keluar kamar dengan langkah tegap.
Setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban sejarah berdarah yang selama ini dia simpan sendiri.
Di bawah sana, deretan mobil hitam sudah menunggu, untuk mengawal sang bos besar untuk perjalanan malam ini.
Xavier masuk ke dalam mobil paling depan. Simon yang duduk di kursi kemudi segera menjalankan mesin.
"Ke arah pantai utara, Tuan?" tanya Simon memastikan.
"Hem"
Jawab Xavier bergumam lirih, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, dengan pikiran yang entah ada di mana.
Lyra Clarissa Wijaya!
Nama itu, bahkan wajah nya dan sorot mata nya, terus berputar-putar dikepala Xavier, membuat pria itu tidak bisa fokus pada pekerjaan nya.
"Jeda waktu tujuh belas tahun hanyalah sekejap mata bagi kita, Lyra," batin Xavier sambil mengepalkan tangannya.
"Nanti, kamu akan menyadari bahwa dunia mu saat ini hanyalah sebuah sangkar yang terlalu sempit untuk kekuatanmu," batin Xavier, lagi.
Malam itu, di dua tempat berbeda, rahasia besar mulai terkuak perlahan.
Satu pihak mencoba melindungi dengan cinta, pihak lain mencoba mengejar dengan obsesi, dan di tengah-tengahnya, Lyra masih terlelap, tidak menyadari bahwa dirinya adalah pusat dari pusaran takdir yang sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,